
Sekolah
"Aku pulang sama Zet aja. Kebetulan dia ada perlu sama papa dirumah. Biar kamu nggak muter." Ujar Olive.
"Yaudah, jam 7 malam aku jemput ya." Ucap Alden dan Olive mengangguk.
"Kalian gimana?" Tanya Ryan.
"Kita ikut Olive aja. Biar nanti kalian bisa istirahat juga. Kan kalo ngantar kita muter pulangnya." Sahut Shakila.
"Yaudah Kalo gitu nanti kita juga jemput jam 7 malam." Jawab Rafa.
"Zet, kalo ada apa-apa kabarin ya." Ucap Alden.
"Baik tuan. Silahkan nona-nona mobil sudah siap." Ujar Zet.
Olive, Shakila dan Niesha masuk ke mobil yang di kendarai Zet.
"Kalian hati-hati juga di jalan!" Pesan Olive sebelum jauh.
Alden, Ryan dan Rafa pulang ke rumah masing-masing.
Rumah Nugraha
"Olive pulang. Mah, pah, kakak?" Panggil Olive tapi tidak ada sahutan.
"Nona. Biar kami periksa dulu. Tetaplah di ruang tengah." Usul Zet dan Olive mengangguk.
Para bawahan Zet memeriksa menyeluruh lalu Olive memasuki kamar kedua orang tua nya. Tiba-tiba Olive berteriak, Zet yang mendengar itu langsung berlari menghampiri Olive. Olive melihat darah di lantai kamar kedua orang tua nya, berusaha untuk menepis kemungkinan negatif. Zet meminta Olive untuk tidak masuk ke kamar itu. Lalu...
"Via!" Teriak Phia dari halaman belakang di susul Belden dan kedua orang tua nya
Badan Olive langsung terjatuh lemas karena pikiran negatif itu tidak terjadi. Phia yang melihat Olive terduduk di lantai begitu saja langsung berlari ke arah Olive disusul Belden.
"Via kenapa?" Ujar Phia yang berlari ke arah Olive bersender di pintu kamar orang tua nya.
Olive melihat ke lantai kamar, buat Phia dan Belden melihat ke arah yang sama. Mereka terkejut.
"Kalian beneran tidak terluka kan? Terus ity darah siapa hiks... hiks... jangan tinggalin aku sendirian Hiks.. hiks... " Tangis Olive pecah.
Phia langsung memeluk Olive dan menuntun nya duduk di ruang tengah.
"Periksa CCTV jangan ada yang terlewat. Perketat penjagaan lagi." Perintah Belden pada Zet dan bawahannya.
"Baik tuan." Sahut Zet dan bawahannya.
Mama papa masuk dari pintu halaman belakang kaget melihat Olive menangis dan langsung menghampiri nya.
"Kenapa sayang? Ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya mama panik.
"Dikamar kalian ada darah, Via kira itu darah salah satu dari kita." Ujar Phia yang masih menenangkan Olive di pelukan nya.
__ADS_1
"Darah? Pah, apa ada penyusup masuk? Tadi kita pergi lantai kamar bersih tidak ada apapun." Ucap mama.
"Periksa semua secara teliti jangan sampai terlewat." Perintah papa.
"Baik tuan!" Sahut bawahannya.
Semua para pengawal sibuk termasuk papa dan Belden. Entah kenapa sejak kejadian ambulans Olive seperti bukan Olive yang pemberani. Sering berpikir buruk, kejadian-kejadian buruk yang belum pasti terjadi. Apa yang salah dengan Olive?
Olive di antar Phia menuju kamar nya untuk beristirahat.
"Kak, jika sesuatu terjadi sama aku. Jangan di cari penyebabnya ya? Kakak nggak perlu balas dendam dan ikut jadi mafia seperti aku. Kakak janji kan?" Ucap Olive.
"Kamu ngomong apa sih dek. Sebelum kejadian buruk timpa kamu aku akan pastikan kamu selamat." Ujar Phia dengan cepat Olive menggeleng.
"Nggak kak. Jangan lakukan apapun, pokoknya kalo terjadi apapun ke aku. Tinggalin aja, kubur dalam-dalam dan jangan di angkat lagi berita nya." Mohon Olive.
"Kamu... "
"Kak... lebih baik aku yang pergi karena ini salah aku. Seharusnya aku nggak publish tentang aku anak pemegang saham. Aku buat kalian dalam bahaya jadi tolong banget ikutin permintaan aku. Aku mohon." Pinta Olive dengan mata berkaca-kaca.
"Baiklah. Tapi, usahakan kamu tetap prioritas kan keselamatan kamu. Paham?" Ucap Phia dan Olive mengangguk.
"Aku janji, kita akan bisa hidup normal. Bisa bebas kemana pun tanpa harus takut orang jahat. Aku udah siapin semua daftar tempat yang pengin aku kunjungin bareng kakak. Jadi aku akan pastikan semua aman." Kata Olive.
"Yaudah, kamu istirahat deh." Ujar Phia.
"Jam 7 Alden ajak jalan ke Bar kak Belden. Aku janji nggak akan pulang lewat malam. Ini cuman perayaan kecil karena tim basket sekolah yang di pimpin Alden menang." Jelas Olive tersipu.
"Kakak... " Rengek Olive.
"Hahaha.... yaudah, kalo gitu siap-siap dandan yang cantik kan mau dating sama calon suami ya kan Nyonya muda Fausta." Goda Phia.
"Kak Phia ish... jangan gitu." Rengek Olive membuat Phia gemas.
"Bye... " Ucap Phia meninggalkan kamar Olive dengan muka yang masih tersipu malu karena godaan dari kakak nya.
Olive mempersiapkan pakaian dan keperluan yang harus di bawa. Ponsel Olive berdering *Tanpa Nama* hanya nomor saja. Olive mengangkatnya.
Kak, kakak dimana huk.. uhuk!
Dirumah. Yak! Dimana kamu?
Aku ada di belakang bar kak Belden. Aku sekarat, tolong kak.
Hah? Emm... okay aku otw. Kamu jangan kemana-mana.
KAK JANGAN! Arrgh!
Telepon nya mati begitu saja. Olive merasa ada yang tidak beres. Suara awal tadi seperti bukan milik Robert. Tapi, suara terakhir nya... Olive langsung bebersih dan oake baju sesimple mungkin lalu menelepon Alden.
Bih, aku harus cari Robert. Ada yang tidak beres dengan nya.
__ADS_1
Kamu dirumah aja, aku jemput sekarang.
Nggak, tunggu aku di halte aja.
Tapi....
Ada kejadian aneh juga di rumah yang buat aku ganjal. Aku akan ceritakan semua nanti saat ketemu. Bye!
Alden menyiapkan segala keperluan nya di tas yang simple, bebersih secepat mungkin kemudian berangkat ke halte yang di arahkan oleh Olive. Olive keluar rumah tanpa sepengetahuan orang. Olive hanya meninggalkan pesan ke Zet untuk siap siaga di dekat bar karena mungkin Olive sangat butuh bantuan pengawalnya.
Olive berhasil keluar dari rumah kemudian, lewat jalan rahasia untuk sampai ke halte. Kurang dari 15 menit Olive sudah sampai di halte, tak sampai 10 menit Alden memarkirkan mobilnya tepat di depan halte. Olive langsung masuk ke dalam mobil Alden.
Olive menceritakan kejadian saat pulang sekolah tadi kemudian tiba-tiba mendapat telepon yang memiliki dua suara yang berbeda. Namun Olive sangat yakin jika yang teriak terakhir adalah Robert adiknya. Olive sangat panik, namun Alden menggenggam tangan Olive untuk menenangkannya.
"Tenang, jangan panik. Kamu tahu kan Robert nggak semudah itu tertangkapnya. Aku malah yakin kedua nya jebakan buat kamu. Percaya sama aku, eum?" Ucap Alden meyakinkan Olive.
Olive merasa sedikit tenang. Tiba-tiba ponsel Olive berdering tertera nama Robert dilayar. Olive langsung mengangkatnya.
Kakak kenapa tidak ada di rumah? Jangan bilang kakak dating sama kak Alden ya?
Kamu dimana?
Aku di ruang cctv rumah kak, lagi mantau kejadian lantai berdarah di kamar mama papa.
"Hentikan mobilnya." Pinta Olive.
Alden langsung meminggirkan mobilnya.
Kak, katakan padaku. Kakak dimana?
Aarrgh! Kenapa tiba-tiba aku nggak bisa membedakan mana adikku. Ada apa dengan ku!
Ada yang menyamar jadi aku? Ini benar aku kak Robert. Aku akan mengirimkan foto, kakak jangan pergi kemana pun.
Tak lama itu ponselnya berdenting, Olive melihat foto yang di kirimkan Robert. Robert bersama dengan para pengawal di ruang cctv.
'Lalu siapa dua orang yang menyamar itu? Kenapa suara mereka juga tidak jauh berbeda dengan Robert dan Hei! Yang tahu Robert masih hidup hanya Aku, Alden, Zet, Nel, dan orang-orang tertentu saja. Arrgggh! Kepala ku sakit memikirkan teka-teki ini.' Bathin Olive.
Halo? Kak? Helo?
Emm... iya. Aku sedang menuju ke bar kak Belden. Ada yang mengatasnamakan kamu seperti sedang sekarat kemudian seperti melarangku ke sana. Tapi, ternyata kamu ada di rumah. Sedangkan yang tahu kamu masih hidup hanya kita.
Ey... kakak masih ceroboh ternyata. Aku akan meminta Zet untuk mengecheck keadaan disana. Kakak tetaplah dulu di mobil sampai aku beri kabar lagi. Kakak ipar, tolong tenangkan kakak ku ini. Sepertinya kak Via harus segera pensiun dan menyerahkan semua padaku wle...
Kau... wah! Kau benar-benar Robert. Baiklah aku akan tunggu kabarnya. Cepatlah!
Baik kakak ku sayang, kakak ipar ku titip yaaa. Jangan sampai kakak ku terluka.
Robert...
Telepon langsung mati secara sepihak.
__ADS_1
Bersambung.....