Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 112 - Klarifikasi Paman Tio


__ADS_3

Bisakah kita ganti suasana nya? Keluarga kita tidak cocok melow seperti ini, asal kalian tahu saja.


Semua pun tertawa karena celotehan Robert sambil menghapus airmata di ujung mata nya.


Tio, saran oma kamu tidak perlu datang kesini. Itu juga akan bahayakan nyawa mu, lebih baik kita main aman dibelakang musuh dan membuat perangkap untuk mereka.


Apa yang dibicarakan oma benar adanya, baiklah. Setelah keadaan stabil aku akan berkunjung kesana dan menjadi saksi pernikahan kedua ponakanku.


2 ponakan? Siapa yang akan menikah selain kak Phia paman? Aku tidak.


Bukan kamu, tapi si kembar.


Apa yang paman bicarakan, aku belum ingin menikah. Aku ingin fokus belajar dahulu dan mencapai cita-cita ku membuka cafe dengan hasil kerja ku sendiri.


Bukankah kamu bisa melakukan kedua nya sayang? Buka cafe dan menikah. Kamu bisa bekerja dari rumah dengan mengamati para pegawaimu sambil mengurus anak.


Tidak Tidak. Aku tidak akan bisa melakukan itu.


Baiklah. Adlan dia sangat mirip denganmu, mendahulukan pelajaran dan cita-cita di banding dengan cinta nya. Kau berhasil mendidiknya.


Kamu benar juga, tapi ini karena kami berdua berprinsip seperti itu walaupun agak telat tapi kami berharap bisa melihat cucu segera.


Dengar tidak anak-anak...


Papa!


Semua tertawa karena teriakan si kembar, Belden dan Robert karena di goda oleh papa nya serta paman mereka. Mereka pun berlanjut membicarakan tentang rencana kedepannya dengan baik hingga tidak sadar sudah masuk jam makan malam dan di tempat Tio Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam.


Kamu tidurlah sekarang, kamu kebiasaan lupa waktu jika sudah mengobrol dengan kami.


Lupa waktu? Ah, astaga. Baiklah aku akan tidur sekarang dan akan membicarakan ini setelah penggeledahan semua selesai karena aku yakin di rumah dan kantor banyak mata-mata musuh yang berhasil menyusup tanpa sepengetahuanku selama ini.


Berhati-hatilah. Jika butuh bantuan katakan pada kami lewat nomor rahasia, kamu mengerti?


Aku mengerti pah, kalo begitu selamat menikmati makan malam kalian. Bye semua!


Bye!


Tio mengakhiri telepon nya.


"Ayo, kita makan malam bersama." Ajak Oma.


"Ya, ampun aku melupakan sesuatu." Ujar Olive menepuk kening nya dan langsung berlari ke lantai 2 menuju kamarnya.


"Hei, sayang kok malah ke atas?" Tegur Opa.


"Aku menyusul!" Teriak Olive lalu menutup pintu kamar.


Olive segera mengeluarkan ponsel yang tadi sudah di kembalikan oleh Zet lalu menelepon Vina.


Halo?


Vin, kamu udah di Bar kak Belden?


Baru akan berangkat setelah makan malam. Apa terjadi sesuatu?


Hufft! Syukurlah, tidak ada yang terjadi. Aku hanya mengira kamu sudah disana dan menunggu lama. Aku juga akan makan malam dulu.


Malam ini hanya kita berdua kan?


Tentu saja. Hanya kita berdua saja tidak ada pasangan sayang, hanya kamu dan aku.


Baiklah. Kabari aku jika kamu sudah ingin berangkat, ke nomor ini saja.


Oke, see you beb!


See you!


Saat Olive sedang memilah baju untuk di pakai pergi ada yang mengetuk pintu kamarnya,


"Dek, ayo makan. Nanti lagi aja urusannya kesehatan nomor satu." Ucap Belden.


"Iya kak, sebentar atau duluan aja makan nya aku nyusul. Janji nggak lama kok." Sahut Olive.


"Kamu lagi ngapain sih?" Tanya Belden.


"Pilih baju kak, mau pergi bentar ke Bar ketemu Vina." Jawab Olive.


"Ouh, yaudah bareng aja nanti ya perginya. Kakak juga mau ke Bar ada yang harus di kasih dokumen ke Kevan." Tutur Belden.

__ADS_1


"Siap bos!" Sahut Olive.


Saat Olive sudah menetapkan akan memakai baju apa dan ingin keluar kamar ponsel nya berdering, tertera nama My Alden di layar.


Halo?


Kamu udah di Bar?


Belum, kenapa?


Kamu yakin nggak perlu aku ikut atau aku temenin?


Nggak Alden, Vina juga nggak ajak Liam. Sabtu aja, kita double date gimana?


***Double date? ***


Iya, pasti bakal seru deh. Ah, aku lupa belum ngenalin kamu ke Liam. Segera deh, aku kenalin kalian tapi sekarang aku harus turun untuk makan malam. Jadi, kita lanjut ngobrol besok setelah kamu pulang sekolah ya?


Ouh ya, kamu besok belum boleh sekolah. Yaudah, jaga diri baik-baik. Kalo ada apa-apa jangan sungkan buat telpon aku ya. Ingat itu.


Siap bos, for information aja. Kak Belden yang antar aku ke Bar katanya sekalian mau antar dokumen gitu ke kak kevan. Sudah terjamin aman dan gak bakal bisa pulang lewat malam, apalagi sama oma disuruh tetap nginep di mansion bukan di rumah. Jadi, kamu bisa tenang sekarang.


Cukup tenang, Have fun sayang...


Bye... jangan lupa makan.


Baiklah. Bye!


Bye...


Ada yang mengetuk pintu kamar Olive lagi,


"Kakak, ayo makan... udah setengah jam nggak turun-turun deh." Ajak Robert.


"Iyaya.... ini turun." Sahut Olive bangun dari duduk di kasur membuka pintu kemudian menyusul Robert yang sudah turun lebih dulu.


Lalu tiba-tiba Robert berhenti di pertengahan tangga membuat Olive bingung,


"Kamu kenapa tiba-tiba berhenti gitu sih?" Tanya Olive.


"Kak, aku mau cerita tapi kakak jangan simpulkan apa-apa sebelum aku selesai. Okay?" Ujar Robert membuat Olive penasaran.


"Jadi kemarin aku ke tempat jualan Bakso Reina kak, pas aku mau keluar dari mobil. Tiba-tiba ada sekelompok orang datang masuk ke dalam tempat Reina. Menurut kakak mereka siapa? Kenapa datangin Reina kak?" Tanya Robert.


"Bagaimana kelanjutannya? Apa lagi yang kamu lihat? Kalau dari cerita ini saja, kakak dapat menyimpulkan bahwa mungkin Reina dalam bahaya atau mungkin Reina bekerja sama dengan seseorang untuk mencelakai seseorang yang lainnya." Jelas Olive.


Robert terdiam.


"Sudahlah. Kamu bisa meminta tolong ke Zet atau Prass dan kamu juga bisa mengutus mata-mata untuk mengawasi Reina jika kamu khawatir. Sekarang, kita makan dulu jangan fikirkan apapun bisa habis kamu sama oma." Ucap Olive sambil merangkul Robert turun tangga.


Robert hanya menganngguk kecil.


'Aku akan mengawasinya sendiri.' Bathin Robert.


"Robert! Olive! Kemana anak dua itu lama sekali datang nya." Kata Opa.


Siapa yang mereka tiru? Ujar Oma melirik Opa.


Papa, mama, Belden dan Sophia tertawa melihat Opa yang langsung terdiam. Tak lama itu, Robert Olive datang duduk di kursi yang bersampingan.


"Kalian habis ngapain sih? Kok lama banget turunnya?" Tanya Oma.


"Nggak ada oma, aku kan belum terlalu lancar jalan jadi Robert tuntun aku dengan pelan. Aku nggak mau pake tongkat, ribet." Sahut Olive melirik Robert yang tersenyum kikuk.


"Oalah, Oma lupa kamu habis operasi masih sulit jalan. Mau pindah ke kamar bawah aja biar nggak naik-naik tangga?" Tawar oma.


"Nggak ah oma, Hitung-hitung biar latihan jalan juga nanti jadi lebih enak jalannya." Jawab Olive.


"Sayang, kamu mau pergi sama Belden ke Bar ngapain? Ketemu siapa?" Tanya mama.


"Ketemu sama Vina mah, Dia mau nikah sama Liam kebetulan mereka lagi ada disini dan mau ketemu sama aku juga." Sahut Olive.


"Ikut dong kak, aku juga bosen di rumah." Pinta Robert.


"Yah, masa aku sendirian lagi di rumah." Keluh Phia.


"Yang ada kalo aku dirumah, aku bakal jadi nyamuk tau. Itu ada kak kevino, masa mau di anggurin aja." Goda Robert.


"Oh iya, kamu jangan pulang kemalaman. Aku takut, kamu di cari sama kelompokan Clarke gimana di jalan." Khawatir Phia.

__ADS_1


"Kamu tenang aja. Karena Kevino sudah jadi bagian dari Nugraha pasti pengawalan di perketat." Ujar Oma.


"Oma nggak perlu repot-repot, aku juga udah ganti system pengamanan Wiyata. Semua udah di rombak ulang jadi ada sebagian mata-mata Clarke selama ini di Wiyata mereka sudah ada di markas dan akan segera di introgasi mungkin kita bisa dapat informasi tentang siapa orang dibalik semua ini." Ujar Kevino.


"Bisa jadi karena orang-orang itu Reina jadi harus ngejauh." Gumam Robert tiba-tiba.


"Kenapa dek?" Tanya Phia membuat Robert tertegun.


"Hah? Nggak, nggak apa kak." Sahut Robert tertawa paksa.


'Apa yang kamu rencanain Robert Nugraha.' Bathin Olive.


"Jangan melakukan tindakan bahaya sendiri, Oma udah omongin ini di awal ya. Apapun masalahnya minta saran ke oma atau opa sebelum mengambil tindakan itu dan pasti kami akan bantu. Ingat anak-anak?" Perintah Oma.


"Iya Oma." Jawab Belden dan 3 adiknya bersamaan.


"Kamu juga nak, jangan sungkan untuk minta bantuan dari Nugraha. Hitung-hitung untuk membayar balas budi karena masih membela kakek Nugraha." Ucap Papa.


"Iya om." Sahut Kevino.


"Kok manggilnya om sih? Papa dan mama aja kan sebentar lagi bakal jadi satu keluarga juga." Ujar Mama.


"Iya Mah Pah." Sahut Kevino dengan canggung.


Yang lain hanya tertawa dan mereka mulai makan malam bersama. Sementara itu,


"Kamu yakin nggak mau aku temenin? Kalo di jalan ada apa-apa gimana?" Khawatir Liam.


"Liam, stop it! Aku udah minta pengawalan ketat sama Olive, kak Kevan, kak Cenan, kak Bara dan kak Firo. Bahkan mereka yang maksa aku, sebenarnya aku nggak merasa ada bahaya di sekitarku. Kalau ada apa-apa kamu pasti langsung tau aku dimana, aku selalu taruh pengintai lokasi di kalung dan tas ku itu terhubung ke ponsel kamu." Ujar Vina.


"Baiklah. Tapi, kalau ada apa-apa bener langsung kabarin aku ya." Tutur Liam menyerah.


"Kamu lupa jika aku pergi dengan Olive, dia bahkan akan lebih siaga dibanding kamu. Sudah, jangan berpikiran atau membuat firasat yang buruk akan terjadi. Aku akan pulang sebelum jam 12 malam." Ucap Vina.


Tiba-tiba ada suara ketuk pintu seperti sandi morse dan hanya Vina Olive yang tahu sandi morse itu. Sebelum membuka pintu untuk berjaga-jaga Vina membalas ketukan Olive. Lalu tidak lama kemudian, ada balasan ketukan pintu sandi morse lagi. Setelah itu, Vina mengintip dan benar saja Olive sudah ada di depan pintunya. Vina langsung membuka pintu.


Olive Vina langsung saling berpelukan dan mengatakan maaf satu sama lain.


"Bagaimana kamu bisa tahu aku di apartemen ini?" Tanya Vina.


"Aku bukan ahli IT tapi aku punya pasukan yang ahli di bidang itu. Aku meminta bantuan mereka untuk melacak lokasi kamu dan aku tebak kamu pasti hampir tidak boleh pergi karena Liam." Ujar Olive yang langsung menyindir Liam.


Vina tertawa sekaligus mengangguk.


"Ya, silahkan bersenang-senanglah kalian. Aku tidak ingin beradu debat dengan 2 perempuan cantik keras kepala. Ingan sayang, pulang sebelum jam 12 malam." Pesan Liam.


"Aku akan mengantarnya kembali kepadamu secara utuh seperti ini. Aku hanya memiinjam calon istrimu tidak seharian Liam, oh ayolah." Goda Olive.


"Baiklah, selamat bersenang-senang girls!" Ucap Liam memberikan tas kecil ke Vina kemudian mendorongnya agar segera keluar lalu menutup pintu.


Vina Olive pun segera turun ke lobby dan masuk ke dalam mobil Belden.


"Hai kak!" Sapa Vina.


"Hai Vin, lama nggak temu nih. Sudah tidak ada yang tertinggalkan?" Tanya Belden.


"Sudah kak, ayyo jalan." Sahut Olive.


Mereka pun pergi ke Bar Candelaria milik Belden dan Kevan. Sejak keluar dari apartemen Vina, Olive terus diam-diam menengok kebelakang karena merasa di ikuti.


"Kak, bisa ambil jalan pintas nggak?" Pinta Olive.


"Kenapa dek? Tanya Belden.


"Ada yang ngikutin kita." Sahut Olive.


Robert yang tadi bersembunyi di kursi belakang muncul membuat Vina terkejut.


"Siapa kak?" Tanya Robert.


"Hei!" Protes Vina.


"Hai kak Vin, Makin cantik aja hehe..." Ucap Robert.


Vina hanya tersenyum polos dan sangat ingin memukul Robert yang masih suka iseng kepadanya.


"Tunggu, bukankah... Robert?" Bingung Vina.


"Ceritanya panjang, Kak via akan menceritakan nanti di Bar." Sahut Robert dengan santai.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2