
Kemudian tiba-tiba ada ponsel Olive berdering. Olive pun melihat tertera di layar Oma Sayang menelepon. Olive langsung mengangkat teleponnya.
Ya Oma.
Kamu dimana sayang?
Aku? Di sekolah. Ada apa?
Bisakah kamu datang ke markas. Ada sesuatu yang ingin oma bicarakan.
Apa sangat penting?
Ya. Ini mengenai Pengawal baru yang sepertinya terlihat tidak asing.
Pengawal? Aku saja tidak tahu kita punya pengawal baru.
Ada. Nama nya Ronathan.
Olive yang mendengar nama samaran Robert terdiam.
Oma tunggu ya, mumpung orang nya juga ada di markas. Bukan, di penjara markas.
Penjara? Oke Aku ke markas sekarang.
Siap! Oma tunggh sayang.
Olive langsung berdiri dari pangkuan Alden.
"Ada apa? Kenapa panik?" Tanya Alden.
"Sepertinya Robert ketahuan. Aku di minta ke markas sekarang." Ujar Olive.
"Aku antar ya. Tapi aku nggak bisa bantu kamu, aku harus kembali ke sekolah untuk latihan." Sahut Alden.
"Tidak apa. Kamu fokuslah pada latihanmu jika nanti sempat aku akan kesini lagi. Kamu nggak perlu antar, aku akan minta Zet aja." Ucap Olive langsung menelepon Zet.
Ya Nona.
Jemput aku di gerbang, Oma minta aku ke markas sekarang.
Apa tuan kecil ketahuan?
Sepertinya begitu. Cepatlah atau nanti Robert ketahuan.
Baik nona kebetulan saya dekat dengan sekolah. Saya segera kesana.
Olive mematikan sambungan teleponnya.
"Jika nanti memang tidak sempat kamu nggak perlu memaksakan untuk datang. Masih ada hari esok." Ujar Alden.
"Aku mengerti. Kamu jangan terlalu di paksa latihan ya, nanti sakit. Aku duluan." Ucap Olive tapi seperti tidak ingin melepas genggaman tangannya dari Alden.
"Pergilah. Tolongin Robert aku nggak apa." Sahut Alden sambil mengelus lembut rambut Olive.
__ADS_1
"Maaf aku nggak bisa tontonin kamu latihan. Besok pasti aku nonton, berdoalah semoga penjaga perpus besok masuk agar aku bisa menontonmu berlatih." Kata Olive.
"Jangan meminta maaf. Cepatlah pergi, kasihan Robert disana." Pinta Alden.
Cup!
Olive mencium pipi Alden lalu melepas genggaman tangannya dan menuju pintu.
"Tolong kunci perpustakaan nya dan berikan pada satpam." Ucap Olive dan Alden mengangguk.
"Aku tahu. Pergilah atau kamu ingin aku menahanmu disini?" Goda Alden.
"Baiklah. Bye!" Pamit Olive meninggalkan sekolah bersama Zet.
Di Markas Nugraha
"Siapa kamu sebenarnya?" Ujar Opa.
"Saya Ronathan tuan." Jawab Robert.
"Kenapa wajahmu sangat mirip dengan mendiang cucuku? Kamu kenal dia?" Tanya Opa.
"Tidak tuan. Saya tidak mengenalnya, saya sangat baru disini. Saya bahkan belum bertemu siapa pun selain tuan dan nyonya besar." Sahur Robert.
Terdengar suara pintu utama terbuka.
"Sayang, akhirnya kamu datang juga." Ucap Oma.
"Dimana orang itu Oma? Kenapa oma mengurung orang yang tidak bersalah." Ujar Olive.
Oma dan Olive memasuki ruangan yang disana sudah ada Opa juga robert.
"Apa oma yang merekrutnya untuk jadi pengawal disini?" Ujar Olive.
"Iya. Oma yang interview dia, jawabannya persis seperti Robert ketika di tanya. Oma jadi kesal karena mungkin saja dia mata-mata musuh kita." Ucap Oma.
"Opa juga curiga, setiap opa ingin golf pasti dia akan bawel persis seperti Robert. Jangan-jangan Robert masih hidup dan menjadi tawanan musuh disana. Terus mereka tanya-tanya jawabannya agar terlihat mirip dengan robert." Curiga Opa.
"Opa sama Oma lihat sendiri kan kalo Robert udah mati delapan tahun yang lalu? Kalian juga lihat sendiri Robert di timbun tanah. Kalian juga denger kan apa yang di bilang dokter franklin kalo robert tidak bisa tertolong ketika di perjalanan menuju rumah sakit. Itu sudah bisa membuktikan kalo Robert udah bener-bener nggak ada. Oma sama Opa pasti lelah karena bekerja terus, lebih baik kalian beristirahatlah biar Yovi, Zet dan aku yang mengurusnya." Jelas Olive.
"Aoa yang di bilang nona muda benar tuan. Mungkin tuan dan nyonya lelah lalu mengira bahwa saya adalah cucu kalian. Kalian sudah bekerja bertahun-tahun lama nya, sebaiknya kalian beristirahat atau nanti akan sakit." Sambung Robert.
"Aku akan meminta pelayan untuk mengantar obat untuk kalian. Yovi, tolong antar oma dan opa ke kamar. Aku akan mengurus ini dengan Zet." Pinta Olive.
"Kamu benar. Sepertinya kita memang sudah harus pensiun mah, konsentrasi kita sudah mulai terganggu sampai membayangkan Robert kita. Maafkan kami nak." Ucap Opa.
"Iya pah, sebaiknya kita bicarakan ini dengan Adlan nanti. Oma dan Opa akan beristirahat." Sahut Oma.
Setelah Oma, Opa dan Yovi benar-benar pergi dari ruangan itu. Olive langsung memukul kecil Robert.
"Aww! Kak sakit... aduh!" Bisik Robert sambil menghindar.
"Kau gila hah? Kenapa ada disini?" Ujar Olive.
__ADS_1
"Aku rindu pada Oma Opa kak. Aku ingin menjaga mereka, aku merasa bersalah melakukan ini. Tapi, jika aku tidak melakukan ini kalian akan bertambah dalam bahaya karena aku." Sahut Robert membuat Olive terdiam.
"Sebenarnya apa yang kamu lakukan?" Tanya Olive.
"Tadi aku sedang melihat foto-foto kita di lemari kenangan besar di ruang tamu. Tiba-tiba saja opa memergoki aku dan langsung membawaku kesini." Jelas Robert.
"Kita harus keluar dari sini lebih dulu sebelum Oma Opa berubah fikiran. Temui aku di Cafe depan." Pinta Olive.
"Baiklah." Sahut Robert menurut.
Olive, Robert, Zet dan Prass tiba di Cafe tidak jauh dari markas Nugraha.
"Ceritakan padaku secara detail apa yang sebenarnya terjadi padamu dan mau sampai kapan kamu bersembunyi seperti ini?" Ujar Olive.
"Aku memiliki musuh kak, mereka sedang mencariku. Jika aku tidak menyamar dan mengunjuk diri pada kalian. Kalian bisa dalam bahaya." Ucap Robert.
"Musuh? Siapa?" Tanya Olive.
"Ini bukan masalah mafia kak, ini karena iri bisnis. Aku mempunyai perusahaan di pusat kota di bidang property. Satu hari orang ini seperti mengirim mata-mata ke dalam perusahaanku. Aku baru tahu dari Prass saat melihat cctv, lalu aku masih mengurungnya hingga sekarang di bawah tanah. Karena suruhannya nggak kembali mereka mengancam dengan berbagai alasan. Aku tidak pernah memancing musuh untuk datang seperti dirimu kak, aku mencintai cara yang damai kakak tahu itu kan?" Jelas Robert.
"Tunjukkan pada ku foto nya." Pinta Olive.
Robert mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan orang yang terkurung di ruang bawah tanah entah dimana. Olive membelalakan kedua matanya karena tahu itu siapa.
"Dia anak buah Wiyata dek, dia penembak jitu dan yang nabrak kamu dulu. Apa Wiyata tahu jika kamu masih hidup?" Ujar Olive.
"Tidak mungkin kak, aku menutupnya dengan sangat rapat. Aku yakin orang ini bekerja pada dua kubu." Yakin Robert.
"Lalu apa rencana mu? Kamu tahu ini sangat berbahaya. Jangan khawatirkan kami. Kamu tahu kan jika Nugraha sudah memiliki pengawalan sampai luar negeri? Mereka pasti akan membantu jika pusatnya bermasalah." Ucap Olive.
"Kakak benar. Tapi, itu akan membuat aku tidak tenang dan bersalah karena menyangkut pautkan dengan kalian. Bagaimana bisa aku mengorbankan kalian. Itu tidak akan pernah terjadi, aku janji akan kembali segera mungkin." Janji Robert.
"Baiklah jika itu jalan pilihanmu. Kalo ada apapun minta saran telepon kakak ya." Kata Olive.
"Baiklah aku mengerti calon Nyonya muda Fausta." Ledek Robert.
"Robert... Ish! Kau ini. Yasudah aku mau kembali ke sekolah, kamu selidiki yang membuatmu curiga ingat tetap harus waspada. Mengerti?" Pesan Olive.
"Siap kakak ku sayang. Pergilah calon suami mu sudah menunggu mu untuk melihatnya latihan."Goda Robert.
"Tunggu. Darimana kamu tau aku--- Ya, dimana kamu memasang cctv hah?" Ujar Olive namun cepat-cepat Robert pergi begitu saja menghindar dari amarah sang kakak.
Olive pun kembali ke sekolah dengan membawa coffee dari cafe tadi untuk teman-teman nya dan tentu saja untuk Alden juga. Sampainya di sekolah Olive langsung di sapa satpam.
"Lho, Nona kok balik lagi?" Ujar Satpam.
"Iya pak, teman-teman aku masih di dalam." Ucap Olive.
"Ouh Tuan Alden dan yang lain maksudnya? Iya, mereka masih latihan Non. Mau di panggilkan?" Tawar satpam.
"Nggak pak, biar aku aja yang kesana." Sahut Olive.
Diperjalanan menuju arena basket....
__ADS_1
Bersambung...