
Pagi hari pun tiba, Olive bangun sekitar jam lima pagi tadi. Namun, Olive hanya diam menghadap keluar jendela yang menampakkan sinar Mentari pagi yang mulai muncul. Fikirannya kosong, entah terbang kemana. Setelah lama melamun selama tiga jam tak lepas memandang luar jendela. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Olive tahu jika Alden menemaninya di kamar tamu itu. Datanglah suster yang ingin mengganti air infusan karena sudah habis dan sekalian melepas gips leher, tangan dan kaki Olive.
"Nona, waktu nya pemeriksaan." Ujar suster itu.
"Silahkan suster." Jawab Olive tersenyum.
"Hari ini gips nya bisa di lepas. Tidak ada pantangan untuk makan dan minum." Ucap suster.
"Ah sungguh? Apa dokter Tomi belum datang? Biasanya ada dokter Tomi yang di temani suster-suster." Kata Olive sambil sedia pisau belati di tangan kanannya.
'Semoga Alden tidak bangun dari tidur nya.' Harap Bathin Olive.
"Dokter Tomi belum datang, dia pulang larut semalam. Dia juga meminta ku untuk menyuntikkan ini untukmu." Ujar suster itu.
Setelah melepaskan Gips, suster itu siap untuk menyuntikkan obat.
"Apa isi obat suntikan itu?" Tanya Olive untuk memastikan badannya bisa bergerak lagi dengan bebas.
"Ini. Ini obat, untuk membuatmu lumpuh!" Ucap Suster itu.
Untungnya Olive segera menghindarkan tangannya. Olive tersenyum kesal merutuki dirinya.
"Ouh ayolah, kita tidak seimbang. Biarkan aku sembuh dan kita akan bertarung Yumi Clarke." Tebak Olive.
"Bagaimana kamu tahu nama askiku?" Tanya Yumi.
"Hahaha! Mana mungkin aku tidak mengenali musuhku dengan baik. Ku kira kau ikut terbakar saat itu. Mengapa bisa kau masih hidup? Ingin membayar perbuatan kakak mu kepada kembaranku juga kah yang seperti orang lapar membabi buta memperkosa orang?" Ucap Olive melepas paksa infusan dan turun dari kasur.
"Sialan! Kau---"
"Sut! Kalau kau berteriak lagi, kau bisa membangunkan ayah nya Alta nanti." Peringatan Olive yang berhasil membuat Yumi terpancing emosi.
Srakkk!
Prang!
Suara suntikan di lempar ke arahku dan mengenai vas bunga hingga jatuh karena Olive menghindar. Alden yang mendengar itu langsung terbangun dan membuka pintu.
"Ada ap---"
"Masuklah, biar aku yang mengurusnya." Perintah olive.
"Apa kamu gila?" Ujar Alden.
Alden melihat kamar yang mulai berantakan.
"Jika kamu tau perempuan ini gila mengapa kamu membela nya bodoh?" Kata Yumi.
Yumi masih melempar asal barang ke arah Olive.
__ADS_1
'Sial! Kaki ku apakah aku sudah pernah di suntik di sebelumnya? Ouh ayolah Olive ini bukan waktu yang tepat.' Bathin Olive.
"Mengapa? kau sudah merasakan lemas pada kaki mu? Ahh, obat itu bereaksi? Aku mengoleskan minyak tadi di kaki mu agar kau ingat saja." Ucap Yumi yang mulai menyerang Olive dengan pisau belatinya.
Alden khawatir jika kaki Olive tidak bertahan lama. Alden segera memanggul dokter dan Zet. Tak membutuhkan waktu lama kedua orang itu datang memasuki kamar Olive.
"Nona!" Panggil Zet.
Olive membalikan kondisi dan menyerang juga namun sebelah kanan kaki nya sangat tidak bersahabat. Olive segera menyudahinya dengan menggores di beberapa titik. Itu membuat Yumi mundur beberapa langkah dan Alden menopang tubuh Olive yang sudah tidak bisa di ajak melanjutkan perang.
Zet langsung menahan Yumi yang ingin menyerang Olive kembali, di waktu yang sama Alden segera membawa Olive keluar dari kamar diikuti dokter Tomi.
"Akhhhh! Sakit! Kak kaki aku sakit banget!" Rintih Olive.
"Segera ke ruangan saya tuan." Ucap Dokter Tomi.
"Bertahanlah." Ujar Alden.
Mereka memasuki ruang Dokter tomi, Alden meletakkannya di kasur pemeriksaan. Dokter Tomi mengeluarkan cairan yang bisa menetralisir sakit pada kaki kanan Olive. Olive merasa panas di kaki nya semakin panas. Rasa ingin menggaruk kaki nya tinggi, namun kedua tangannya di tahan Alden.
"Suntikkan obat penenang dulu!" Pinta Alden.
Dokter menyuntikkan obat penenang di tangan Olive, tak lama itu Olive lebih tenang. Suntikan kedua adalah biusan, si suntikkan pada kaki kanan Olive. Dokter Tomi melanjutkan mengobati kaki Olive dengan cairan itu. Olive sudah tidak merasakan panas di kaki nya.
"Kita tunggu reaksi nya 10 menit tuan. Jika nona masih merasakan panas berarti orang itu berhasil mencampurnya dalam makanan atau minuman nona kemarin." Jelas Dokter dan Alden mengangguk.
Olive seperti mandi keringat. Padahal yang merasa panas hanya bagian kaki, tapi yang berkeringan sekujur tubuhnya. Alden mengelap keringat yang mengucur di dahi Olive. Nafas Olive yang tadinya bergebu kencang sudah mulai normal kembali.
"Apakah sudah berakhir?" Tanya Alden.
"Sudah tuan. Ini resep khusus yang harus di balutkan untuk kaki nona beberapa hari ke depan. Campur obat itu dengan air hangat lalu rendam kaki nona muda kedua di dalam nya." Jelas Dokter.
Olive sudah mulai tersadar kembali dari obat penenangnya.
"Kak, kaki aku kenapa? Apa lumpuh? Harus amputasi kah?" Ujar Olive takut.
"Tidak. Hanya beberapa hari kedepan di lakukan secara rutin rasa panas itu akan hilang. Apa kamu ada terluka? Sejak kapan perempuan itu masuk?" Khawatir Alden.
"Setengah jam yang lalu kak, aku kira benar suster tapi aku melihat seperti ada pisau belati di kantung kanan nya. Lalu untuk apa suntikan yang dia maksud?" Tanya Olive.
"Suntikan itu untuk membuat nona lumpuh secara total, karena dia hanya berhasil mengoleskan pada satu kaki nona saja. Apakah nona dapat suntikan itu?" Ucap Dokter.
"Tidak. Aku berhasil menghindari nya, aku mencopot---"
"Ada apa?" tanya Alden.
"Kak, aku pernah melawan nya sekali dulu saat melakukan pelarian menyelamatkan diri dengan kak Phia. Lalu, aku mendengar suara ledakan dari rumah itu setelah aku keluar dari hutan bersama tim penyelamat Nugraha. Jika Yumi bisa berhasil lolos berarti keluarga nya yang lain tidak benar-benar mati." Jelas Olive.
"Berarti mereka berhasil kabur sebelum rumah itu meledak." Tebak Alden.
"Apa yang membuat nya meledak nona?" Tanya Dokter.
__ADS_1
"Ahhh, ini gila! Saat aku menaiki mobil ambulance kemarin aku mencium bau minyak yang sama dan hari ini yang di oleskan ke kaki ku memiliki aroma yang sama. Berarti---"
Alden langsung menggunakan walkie-talkie untuk memberitahu tim pengawal bahwa kita siaga 3 karena ada bahan peledak entah itu di simpan di mana di dalam rumah sakit ini.
"Dokter aku butuh telepon." Pinta Olive.
"Silahkan." Sahut Dokter.
Olive menelepon ke rumah namun tidak ada yang mengangkat. Kerumah oma nya tidak ada orang yang mengangkat juga. Olive panik jika keluarga nya sudah dalam perjalanan ke rumah sakit. Hanya nomor kak Belden yang Olive hafal. Olive menelpon dan tak berhenti berdoa.
Halo?
Kak jangan ke rumah sakit. Kembalilah ke rumah, sekarang.
Ada apa? Kami sedang mampir mini market untuk membawakan cemilan untukmu. Tunggu, mengapa kamu menelepon menggunakan---
Kak tolong dengarkan aku menjauhlah dari rumah sakit. Kembali ke rumah atau berkumpul di rumah oma. Okay? Jangan bertanya lagi.
Ada apa sebenarnya beritahu saja.
Yumi Clarke dia masih hidup. Aku akan menceritakan nanti secara detail opa sekarang kalian harus berkumpul jadi satu mau di rumah oma atau di rumah opa. Aku tutup telepon nya.
Olive lanjut menghubungi shakila.
Halo? Siapa ini?
Ini Olive. Lu dimana?
Lagi perjalanan ke rumah sakit, ada yang mau di titip. Ada Ryan Rafa dan Niesha juga.
loudspeaker
Itu suara Alden. Shakila langsung mengaktifkan loudspeaker.
Ya, kalian pergi menjauh dari rumah sakit. Bawa mereka ke rumah Fausta. Berlindunglah disana sampai ada perintah dariku lagi.
Apa kami berdua perlu kesana?
Tidak. Rumah sakit bisa meledak kapan saja. Jadi, jangan ada yang kesini. Tutup.
"Kak gimana?" Tanya Olive yang sepertinya sudah kelewat oanik hingga tidak bisa berfikir dengan baik.
"Tenangkan dirimu." Ujar Alden yang menggenggam pundak Olive yang gemetar.
"Akan banyak korban jika rumah sakit ini meledak terus---"
"BELINDA OLIVIA NUGRAHA! Tenangkan dirimu dan berfikirlah dengan jernih. Tarik nafas dan hembuskan perlahan. Tidak akan terjadi apa-apa. Okey?" Kata Alden menatap lurus manik mata Olive.
Olive mengangguk dan mulai tenang mengikuti arahan Alden.
Bersambung...
__ADS_1