Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 51 - Menahan Amarah


__ADS_3

"Opa, denger Olive. Tadi Olive sudah ancam orang itu, jadi opa tenang aja ya. Olive---"


"Alden, jawab dengan jujur. Siapa yang melakukan hal ini kepada Olive ku." Tanya Oma yang ikut marah.


Alden melirik Olive yang menunduk sambil menggeleng. Lalu tiba-tiba Zet masuk markas.


"Zet, siapa yang menembak Olive?" Tanya Opa.


"Opa, Olive hanya telat sedikit menghindar. Begini, Aku akan di hukum tidak membawa senjata apapun selama seminggu. Tapi, Olive mohon kalian jangan marah lagi Oke?" Ujar Olive.


"Alden, Zet apa kalian akan tetap diam?" Tanya Oma.


"Kalo begitu salah satu nya ada di orang tadi kan?" Tebak Opa.


"Dia, yang menabrak tuan muda kecil lalu yang menculik nona waktu itu." Jawab Zet menunduk karena sudah pasti Tuan dan Nyonya besar nya akan marah besar.


"Apa kau bilang?! Kenapa baru memberitahu ku? Bawa orang itu kesini sekarang! Aku akan membunuhnya!" Tekad Oma.


"Oma... Oma... Oma, please no. Kalo Oma serang sekarang rencana kita akan gagal. Oma ingatkan? Oma please, Opa Please." Mohon Olive menggenggam kedua tangan opa oma nya.


"Opa Oma, Kalian tenang aja. Aku dan keluarga Fausta pasti akan membantu kalian juga. Kita bisa kerja sama. Aku tidak akan membiarkan mereka hidup dengan tenang." Janji Alden.


Olive memeluk Oma nya yang mulai merasa sesak hingga menangis. Olive berusaha untuk menahan airmatanya agar tidak turun. Ini bukan saat nya untuk menangis. Olive menenangkan Oma nya, mengelus punggung Oma nya menghantarkan ke hangatan.


Olive melepas pelukannya.


"Oma dan Opa harus janji jangan cerita ke mama, papa atau pun kakak. Aku sudah berusaha untuk menahannya tadi agar rencana kita berhasil nanti. Jika aku masih Olive yang dulu, sekarang aku sudah berada di markas musuh dan membantai mereka habis-habisan tanpa ampun. Kalian kan tau, aku paling susah untuk hal robert karena robert benar-benar nyata di depan aku saat itu. Dia bahkan tersenyum saat menyebrang dan memanggil aku. Sesaat kemudian dia terpental dan---"


Oma dan Opa memeluk Olive yang sudah gemetar menahan tangisnya. Alden ikut merasakan sakit di hati nya mendengar perkataan Olive.


"Aku benci diri aku yang nggak bisa berbuat apapun saat orang itu tepat di depan ku. Hiks... hiks... karena aku---Aku sudah janji dengan robert tidak membunuh orang Hiks... hiks... " Tangis Olive pecah.


Bukan hanya Oma, opa, Olive, Zet dan Alden yang merasakan emosi saat mendengar itu. Pasukannya pun sudah siap mengangkat senjata untuk menyerang balas dendam untuk kematian tuan kecil nya.


"Tuan, Nyonya. Kami juga akan berjuang untuk membalaskan dendam kematian tuan kecil. Kami rela gugur demi tuan kecil. Kami akan berlatih untuk menunggu saat yang tepat untuk menyerang." Ucap Pasukan itu.

__ADS_1


"Tuan kecil selalu bisa menghibur kami saat kami merasa bosan di markas. Tuan kecil juga pernah berkata bahwa sebenarnya dirinya yang harus melindungi kakak-kakak nya dari orang jahat. Dia bahkan sempat belajar pedang dengan kami." Ujar pasukan itu.


"Kalian sudah ikut kami dari Belden masih bayi, tentu kalian juga merasakan emosi ini. Kita akan melatih kemampuan kita untuk menyerang pada waktunya. Siap?" Teriak Opa.


"Siap Tuan Besar!" Sahut para pasukan kompak.


Oma menghapus airmata Olive.


"Zet, kawal mereka sampai markas fausta. Sekolah di seorang oleh clarke. Aku akan serahkan hal kecil ini pada kalian. Pastikan untuk membuat mereka terkepung dan kehabisan pasukannya agar tidak meremehkan kita lagi." Perintah Oma.


"Baik Nyonya besar." Sahut Zet.


"Kalian pergilah, Alden titip Olive ya." Pesan Opa.


"Siap Opa." Ujar Alden.


Alden Olive pun pamit untuk ke markas fausta.


"Arrgggh! Kenapa aku menangis, nanti apa alasannya saat bertemu mereka. Menyebalkan." Kesal Olive.


"Eh, kok berhenti?" Tanya Olive.


"Bentar. Kamu suka rasa apa? Vanila, Strawberry, coklat atau yang lain?" Ujar Alden.


"Strawberry coklat. Buat apaan sih kak?" Sahut Olive.


"Tunggu disini, awas kalo keluar dari mobil." Ucap Alden yang langsung keluar dari mobilnya.


Tak menunggu lama, Alden datang masuk ke mobil sambil memegang dua eskrim cone. Olive tertawa.


"Memangnya aku anak kecil apa, di kasih beginian?" Ujar Olive.


"Yaudah kalo nggak mau---"


"Mau... " Rengek Olive sambil merebut es krim di tangan kiri Alden.

__ADS_1


Alden menggelengkan kepala nya lalu kembali menjalankan mobilnya. Tak lama kemudian mereka sampai di markas fausta. Seperti biasa pengawal dan pasukan memberi hormat ketika Alden Olive lewat. Saat Alden buka pintu mempersilahkan Olive untuk masuk lebih dulu. Olive langsung di tarik ke pelukan Shakila dan Niesha.


"Ya! Ada apaan sih?" Ujar Olive.


"Biarin aja Liv, dari tadi mereka bolak balik depan pintu udah kayak setrikaan nungguin lu doang." Sahut Ryan.


"Uhh... sayang, kan gua udah janji nggak bakal ke sekolah walaupun gue pengin banget. Inilah dunia gua sha, Kil kalian harus siap terima apapun kabar tentang gua nanti saat turun perang." Jelas Olive.


"Nggak. Kita nggak bakal ngizinin lu buat turun kalo untuk Robert adik lu. Clarke cuman bikin lu tersiksa perlahan. Hari ini tangan kiri lu, besok bisa aja tangan kanan. terus jadi kaki. Ntar lu jadi susah lawan mereka. Kita siap dengan resiko nya asal lu emang bener-bener nyerang ketua nya bukan abal-abal kayak clarke mereka cuman mempermainkan lu." Sahut Niesha.


"Gua juga ngerasa gitu sih. Cuman kalo gua diam, target mereka bisa ganti jadi kak Phia lagi. Atau mungkin kalian yang bakal jadi target. Pokoknya kalian tenang aja, selain Zet sama Yovi mereka bertiga nggak bakal biarin gua perang sendiri apalagi---"


"Kak Alden!" Kata Shakila dan Niesha.


"Salah. Apalagi sekarang senjata gua udah di sita sama oma. Jadi, ya gua harus extra hati-hati sih. Kalian jangan curiga gitu, kompak banget lagi jawab nya huuu." Sahut Olive.


"Lah, biasanya emang begitu. Eh, mata lu kenapa bengkak? Masa gegara senjata lu di sita bisa sampe nangis gitu lu." Ujar Shakila.


"Ahh, biasalah. Habis kena hukuman karena lokasi tadi sebenernya terlarang hehe... Jadi, gua terima amukan oma. Sama dapet bonus nya juga gitu 🙄" Ucap Olive.


"Bonus?" Ujar Ryan.


"Ahhh, ciuman." Tebak Rafa membuat Alden terbatuk.


"Ciuman sama sapu pukulan oma maksud gua. Kenapa lu bos?" Tanya Rafa.


"Nggak. Tadi makan es krim masih ada yang nyangkut aja." Alasan Alden.


"Terus gimana situasi sekolah?" Ujar Olive mengalihkan pembicaraan.


"Mereka sudah pergi nona dan tidak ada korban. Kami mengamankan lewat jalan rahasia agar mereka pulang dengan aman." Sahut Pasukan itu.


"Syukurlah." Ucap Olive.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2