
Olive selesai merekap data tepat lima menit sebelum perpustakaan dibuka. Olive mengecheck ponsel nya karena sejak tadi pagi sengaja ia silent. Ada pesan dari Niesha.
[Olive, kita di lapangan lagi nonton latihan. Tuh, gua kirimin foto pacar lu biar lu semangat di perpus.]
Olive yang mendapat pesan begitu beserta Alden pada saat lompat untuk memasukkan bola tersenyum.
[Kalian bersenang-senang lah. Aku akan di perpustakaan sampai jam istirahat. Penjaga perpus tidak masuk, jadi beliau meminta aku yang menggantikannya. Nanti kita ketemu di kantin ya. Oh, sampaikan salam semangat gua untuk pacar yang lagi latihan.]
Olive tersenyum geli, kemudian ia menuju pintu untuk memasang penanda jika perpustakaan hanya akan buka sampai jam istirahat pertama. Sementara Niesha yang mendapat balasan chat dari Olive langsung tersenyum.
"Ya, lihatlah teman kita sangat bucin." Ujar Niesha yang menunjukkan pesan Olive kepada Shakila.
"Biarkan mereka bahagia. Kita jadi nggak ikut pusing kalo Olive galau ya kan hahaha." Ucap Shakila.
"Bener banget. Semoga mereka bisa langgeng ya sampai jenjang pernikahan bahkan sampe jadi oma opa kiw!" Sahut Niesha.
Ryan Rafa menuju tempat Shakila dan Niesha untuk minum.
"Olive mana? Nggak nonton bos latihan?" Tanya Rafa.
"Nggak. Dia jadi penjaga perpus sementara, pasti sekarang lagi sibuk banget soalnya cuman buka sampai istirahat pertama." Jawab Shakila.
"Kalian nggak nemenin, kasihan kerja sendiri." Ujar Ryan.
"Olive nggak mau di bantuin. Nanti juga ketemu di kantin." Sahut Niesha.
Ponsel Niesha getar, ada pesan masuk.
[Salah satu dari kalian bisa ke perpus nggak? Sebentar aja. Thanks!]
Pesan Olive. Niesha pun pamit ke perpus sebentar, saat sampai benar saja perpustakaan lumayan ramai. Niesha langsung menghampiri Olive.
"Liv, ada apa?" Ujar Niesha.
"Titip dong hehe... Tadi gua pesen online. Gua juga minum, ah ada suratnya." Sahut Olive.
"Siap bu bos. Semangat ya, kayak nya lu harus tambah waktu deh buka perpus nya." Usul Niesha.
"Iya nih, gue kira nggak bakal sebanyak ini. Paling nanti gua tambah sepuluh menit an, jadi kemungkinan gua bakal telat ke kantin." Jawab Olive.
"Mau dibantu nggak?" Tawar Niesha.
"Nggak usah. Lu nemenin Kila aja nonton yang latihan. Sore, mereka latihan lagi kok." Tolak Olive.
"Oke, kalo gitu gua balik ke lapangan. Semangat!" Ucap Niesha sambil meninggalkan perpus membawa minuman dan sepucuk surat untuk Alden.
Olive kembali sibuk mencatat buku yang di pinjam dan di kembalikan. Lalu nanti baru di rekap di komputer esok pagi. Sementara Niesha udah sampai lapangan kembali, kebetulan Alden lagi gabung duduk sama yang lain.
"Kak, dari penjaga perpus." Ujar Niesha.
"Uwuu... Bu bos so sweet euy.. lagi sibuk masih bisa mikirin yang latihan. Special pula minum nya, eh ada pucuk surat juga." Goda Rafa.
"Apaan sih, thanks ya." Sahut Alden menerima botolnya dan surat.
*Dear Alden,
__ADS_1
Semangat ya latihan nya, ini tadi aku pesan pas banget kamu keluar dari perpus hehe... Di minum ya, tenang aja aku juga beli buat aku juga. Nanti kayak nya aku bakal telat ke kantin karena perpus lumayan banyak peminatnya di luar dugaan aku. Kamu sarapan duluan aja, nanti aku nyusul kalo udah selesai. Semangat sayang ❤️*
Alden yang membaca surat itu tersenyum. Detak jantung nya berasa lebih cepat dari biasanya. Alden melihat jam Setengah jam lagi waktu istirahat pertama, Alden akan menyelesaikan latihannya.
"Widih! Bos senyum-senyum berarti kabar baik tuh wahaha... " Goda Ryan.
"Sudah yuk lanjut latihan lagi." Ajak Alden kemudian meminum botol yang tadi diberikan Olive.
Akhirnya tim Basket mulai latihan lagi. Sampai Gitta dan Ilona datang diikuti beberapa anak kelas lainnya.
"Alden semangat!" Teriak Gitta.
Yang tadinya lapangan cuman ada tim basket, Niesha dan Shakila sekarang mulai ramai anak murid lain berdatangan. Shakila dan Niesha yang melihat kedatangan pasukan heboh cuman diam.
"Eh, kemana perempuan ******? Kok nggak nonton sih?" Ujar Gitta.
"Sudah di Drop Out kali Git sama kepala sekolah. Kan dilarang bawa senjata tajam." Sambung Ilona.
Shakila dan Niesha tidak menanggapi malah bertepuk tangan ketika tim basket berhasil memasukkan bola nya. Merasa di abaikan Gitta tidak terima.
"Woi! Gua lagi ngomong lu berdua nggak punya kuping hah? Mentang-mentang lu punya teman anak yayasan terus lu mau jadi sok jagoan juga?" Kesal Gitta.
"Kakak nggak punya mata ya, kita lagi nonton tim basket latihan. Satu lagi, kita berdua nggak kenal sama yang kakak sebut perempuan ****** karena kita nggak punya teman yang begitu." Jawab Shakila.
"Lu---"
"Satu lagi, kita bukan sok jagoan temenan sama anak yayasan kak. Tapi, emang derajat temenan kita sama kakak tuh beda. Cara kita memperlakukan orang tuh jauh banget. Jadi, tolong jangan berisik hargai tim basket yang latihan buat tanding." Lanjut Niesha.
Karena tidak terima dengan jawaban Shakila Niesha. Gitta menjambak rambut Niesha membuat tim basket hilang konsentrasi terutama Ryan. Ryan langsung berlari untuk melerai dan menjauhkan Niesha dari Gitta.
"Apa-apaan lu hah? Datang-datang bikin ribut aja." Emosi Ryan.
"Lu duluan yang mancing emosi mereka. Emang dikira dari tadi gua nggak denger apa!" Teriak emosi Rafa.
"Kalian aneh banget sih setelah kenal mereka. Nggak kayak dulu tau nggak." Kesal Gitta.
"Sikap lu yang semakin keterlaluan. Lu masih beruntung Olive nggak ada di sini, kalo Olive sampe tau temen nya di bully sama lu. Lu bisa tebak apa yang bakal Olive lakuin ke lu kayak kemarin." Ucap Alden.
"Gua nggak takut! Cepat atau lambat pasti Olive juga bakal menderita lebih dari gua." Emosi Gitta.
Alden emosi langsung menatap Gitta dan Ilona tajam bergantian.
"Gua, nggak akan biarin lu buat nyakitin Olive bahkan sentuh Olive sedikit pun dan gua pengin banget nampar wajah kalian berdua. Itu udah gua lakuin di otak gua. Mulai detik ini nama lu berdua bakal di coret alias di larang masuk ke lapangan basket kecuali pertandingan. Pengawal! Usir mereka dari tempat ini." Teriak Alden membuat Gitta Ilona takut.
Empat pengawal langsung menyeret Gitta Ilona keluar dari arena lapangan basket. Lalu Alden juga memerintahkan pengawal untuk menjaga Olive, jangan sampai ada yang menyakiti Olive.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang lima menit, tetap Perpus masih penuh murid sekolah berdatangan. Olive nggak keteteran tapi dia capek aja perlu istirahat karena tadi juga nggak sarapan yang cukup. Olive memasang tanda tutup di depan pintu perpus, artinya tidak menerima murid masuk lagi.
"Kak, aku pinjam buku ini." Ucap siswi itu.
"Oh oke. Seminggu ya." Ujar Olive.
"Siap kak. Aku ngga ada denda atau buku yang belum di kembaliin kan kak?" Tanya Siswi itu.
"Coba aku check dulu. Emm... nggak ada. Eh, kok manggil kak? Aku kelas sepuluh juga. Olive aja." Sahut Olive.
__ADS_1
"Hehe... oke Liv. Makasih ya, semangat!" Ucap siswi itu.
Olive hanya senyum dan melayani murid lainnya. Perpustakaan semakin sepi, satu persatu para murid mulai meninggalkan perpustakaan. Tiba-tiba ada yang masuk.
"Maaf, perpustakaan nya sudah tutup. Datang lagi besok ya." Ucap Olive.
Tidak ada sahutan. Tapi, kresek berisi makanan di letakkan di atas meja.
"Di perpustakaan nggak boleh ba--Alden. Kamu ngapain?" Ujar Olive yang sadar kalo orang baru masuk adalah Alden.
"Nungguin kamu di kantin nggak datang juga. Jadi aku beli aja bawa kesini." Sahut Alden.
"Masih ada siswa." Bisik Olive.
"Biarin aja." Jawab Alden.
"Yaudah kamu tunggu disana. Tinggal lima murid lagi." Ujar Olive menunjuk di pojok tempat tadi pagi.
"Ng---"
"Suttt! Nggak ada penolakan." Pinta Olive.
Alden pun menuruti perkataan Olive. Tak sampai sepuluh menit perpustakaan kosong tersisa Olive Alden saja. Olive mengunci pintu perpus kemudian menyusul ke tempat Alden. Namun tidak ada. Olive, mencari keberadaan Alden.
"Alden? Kamu dimana? Al---aaa!" Teriak Olive kemudian terdiam.
Alden ketika Olive sudah mendekat tiba-tiba langsung di tarik dan ***** bibir Olive. Olive terbuai ikut hanyut menikmati setiap lumayan Alden. Olive mengalungkan tangannya ke leher Alden dan menutup matanya. Alden menempelkan Olive pada tembok, melepas ******* nya.
"Capek ya kerja sendiri? Maaf nggak bisa bantu, aku latihan." Ujar Alden.
"Nggak apa. Capek aku hilang pas lihat foto kamu yang di kirimin Niesha." Ucap Olive.
Alden memberi kecupan di leher jenjang Olive. Membuat Olive mendesah dan melenguh menyebut nama Alden.
"Alden... Hentikan. Jangan buat lagi." Keluh Olive namun tidak menolak.
"Rasanya aku ingin membawa mu ke kamar sayang." Bisik Alden dengan suara serak basah membuat Olive merinding.
"JangAanh... Hentikan." Mohon Olive.
Alden meninggalkan bercak merah di leher jenjang Olive tepatnya di bawah telinga. Alden akhirnya menghentikan kejailannya. Tatapan mata Olive sedikit ada rasa kecewa namun Olive tau jika mereka juga masih sekolah.
"Jangan menatapku seperti itu sayang. Aku bisa lepas kendali kapan saja. Aku tidak ingin merusak dan menyakitimu." Ucap Alden mencium kening Olive.
"Maaf. Aku nggak tau kenapa fikiran ku jadi seperti ini. Aku tidak akan menatapmu seperti itu lagi." Ujar Olive.
"Jangan meminta maaf, aku yang melakukannya padamu dan membuatmu meminta itu tapi aku tidak bisa melakukannya." Sahut Alden.
"Aku tahu. Terima kasih udah menahan itu, aku membuatmu tersiksa." Ucap Olive.
"Tidak. Tidak apa, sekarang kita makan. Muka kamu sudah mulai pucat karena nggak sarapan yang sesuai. Aku beli nasi goreng." Ujar Alden.
"Kok cuman satu? Kamu nggak makan?" Tanya Olive.
"Berdua." Sahut Alden tersenyum.
__ADS_1
Akhirnya mereka makan nasi goreng satu untuk berdua. Kemudian...
Bersambung...