Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 33 - Serangan Dadakan


__ADS_3

Alden memilih untuk duduk di sofa yang terletak tidak jauh dari kasur pasien dan sambil memainkan ponselnya. Sementara Olive melihat keluar jendela, hari sudah hampir gelap. Tiba-tiba ponsel Olive berdering, di layar tertulis *Zet* Olive langsung mengangkat telepon itu.


Lapor Nona muda, kami sudah membereskan rumah persembunyian. Tapi, sepertinya sebelum saya tiba ada yang masuk menggeledah karena berantakan tadi.


Em... aku mengerti. Kalian lanjutkan rencana seperti semula dan aku minta kirim kan data gadis kecil cantik itu secara detail ke email.


Baik nona akan kami laksanakan.


Ah, satu lagi. Untuk sekarang biarkan rumah persembunyian berantakan. Ambil saja barang-barang yang kemarin oma bilang ingin pindahkan.


Baik, saya mengerti.


Olive mematikan ponselnya dan kaget melihat Alden sudah menatapnya tajam. Olive merutuki dirinya yang lupa akan kehadiran Alden di ruang kamarnya ini.


"Kamu benar-benar sangat keras kepala." Ucap Alden.


"Aku hanya meminta mereka untuk mengawasi setiap pergerakan kak Phia bukan musuh. Aku tidak akan memulai peperangan seorang diri." Ujar Olive.


"Kamu meminta asisten kepercayaan mu untuk menjaga Phia. Lalu kamu sendiri bagaimana? Suster, Dokter ataupun pengawal disini tidak menjamin tidak lengah dengan setiap gerakan musuh. Seharusnya Phia juga aman karena tidak akan ada yang bisa menembus pertahanan rumah keluarga Nugraha. Kamu yang sedang di luar yang membutuhkan pengawalan." Jelas Alden.


"Aku tidak apa. Aku bisa menjaga diri dengan baik, tentang ambulance itu aku sengaja. Daripada aku benar-benar kehilangan kak Phia lebih baik aku yang terluka." Jawab Olive.


"Bagaimana cara mu melindungi diri jika kamu dalam keadaan di gips dan perban seperti itu? Ah, sudahlah. Kamu sangat keras kepala." Sahut Alden kemudian keluar dari ruang kamar rawat Olive.


Olive hanya berusaha untuk menjadi keras kepala agar Alden menjauhi dirinya. Olive tidak ingin Alden ikut mengorbankan diri untuk menyelamatkan dirinya yang tidak penting ini.


'Hanya dengan cara ini kakak jauhin aku. Maaf kak, kita harus kembali ke tempatnya semula. Aku tidak ingin menaruh harapan lebih jauh lagi ke kakak.' Bathin Olive.


Sementara Alden yang masih emosi jalan di lorong koridor bergulat gumam dengan dirinya.


"Dia kenapa jadi keras kepala seperti itu? Tidak seperti biasanya. Apa yang salah dengan nya? Bukankah seharusnya dia menuruti perkataanku seperti sebelum-sebelumnya?" Gumam Alden.


Alden berhenti dan duduk asal di bangku lorong itu. Lalu mengecheck ponselnya berharap ada pesan dari Olive. Namun ternyata tidak ada pesan itu. Ada rasa kesal dan menyesal secara bersamaan. Kesal karena tidak ada pesan dari Olive untuk meminta nya kembali ke kamar. Menyesal karena merasa terlalu menekan Olive dengan egois.


"Ah! Nggak tau lah." Gumam kesal Alden berjalan menuju ruang dokter Tomi.


Dokter tomi bingung dengan Majikan muda nya satu ini. Ada apa dengan majikan muda nya yang terkenal dingin dan bodo amat kepada siapapun.


"Tuan?" Sapa Dokter Tomi.


"Diamlah. Kerjakan saja pekerjaanmu, aku tidak akan mengganggu mu." Ujar Alden yang tiduran di sofa ruangan milik dokter Tomi.

__ADS_1


Dokter Tomi langsung diam tidak berbicara apapun. Membiarkan anak majikan nya ini mengistirahatkan otak nya. Dokter Tomi melanjutkan pekerjaan nya merekap data pasien yang ia pegang termasuk Nona muda kedua keluarga Nugraha. Namun, dari cctv monitor nya terdapat kericuhan di halaman rumah sakit.


Dokter Tomi mengurung niat ingin memberitahu Alden, ia memilih melindungi Nona muda kedua keluarga Nugraha dengan caranya sendiri. Dokter Tomi keluar dari ruangan nya perlahan agar tidak mengganggu istirahat Alden. Kemudian langsung menuju kamar Olive.


"Dokter? Ada apa?" Tanya Olive kaget karena melihat Dokter Tomi tiba-tiba masuk kamar.


"Di luar rumah sakit ada kericuhan nona, seperti nya dari orang yang sama seperti tadi sore." Ujar Dokter Tomi.


"Lalu apa yang harus kita lakukan? Aku tidak bisa apa-apa dalam keadaan seperti ini." Sahut Olive.


"Ikutlah dengan saya ke ruang direktur. Hanya ruangan itu yang paling aman. Saya akan meminta izin ke Tuan besar Fausta untuk memakai ruangannya." Jelas Dokter Tomi dan Olive mengangguk.


Olive langsung di bantu pindah ke kursi roda dan menuju lift khusus untuk ke lantai ruangan direktur. Disana harus menggunakan sebuah kartu. Hanya Dokter Tomi dan seluruh keluarga Fausta secara inti yang memiliki kartu itu.


Dokter Tomi dan Olive memasuki ruang direktur. Dokter Tomi menelepon Tuan besar Fausta.


Tuan Besar, lapor. Di depan rumah sakit terjadi kericuhan, saya membawa nona muda kedua keluarga Nugraha untuk ke ruang direktur.


Apa?! Lalu bagaimana keadaan disana? Apakah ada korban?


Belum tahu tuan untuk sekarang karena tadi terakhir saya lihat pasukan kita masih melawan.


Yasudah, dimana Alden? Kenapa dia tidak bersama Olive?


Dasar anak itu, bukan saat nya untuk tidur. Tapi, biarkan saja dia istirahat. Pastikan bahwa Olive tetap aman ya.


Baik tuan saya mengerti.


Tuan Besar Fausta langsung menutup telepon nya. Dokter Tomi pun berinisiatif meninggalkan Olive diruangan Direktur.


"Nona saya harus kembali kebawah untuk mengecheck keadaan. Karena dokter-dokter UGD pasti kewalahan dibawah jika banyak korban." Ucap Dokter Tomi.


"Dokter tunggu, tadi dokter bilang kak Alden terluka?" Tanya Olive.


"Iya nona, kedua telapak tangan nya berdarah karena mungkin saat memecahkan kaca ambulance untuk membuka pintu nya menolong nona." Jelas Dokter Tomi.


"Tapi, tidak ada yang serius kan dokter? Maksudku luka selain di bagian tangan." Ujar Olive.


"Tidak ada nona. Apa ada yang ingin dipertanyakan lagi? Jika tidak saya izin pamit ke bawah." Jawab Dokter Tomi.


"Turunlah. Terima Kasih telah membantuku." Sahut Olive.

__ADS_1


Dokter Tomi pun pergi menuju ruang UGD, situasi nya terkendali. Malah kebanyakan pasukan musuh yang mendapat perawatan. Tiba-tiba Alden datang seperti orang kepanikan.


#Ruang Dokter Tomi


Alden terbangun dan melihat sekeliling. Alden berfikir mungkin Dokter lagi ada urusan memeriksa pasien. Alden pun iseng menuju meja monitor cctv dan ia terkejut jika ada kericuhan di halaman rumah sakit. Tanpa berfikir panjang ia langsung ke ruang kamar Olive untuk mengecheck, namun ia dibuat terkejut untuk kedua kali nya karena kamar itu kosong.


Alden bingung harus kemana, jadi Alden asal berlarian memanggil nama Olive. Sampai akhirnya dia berfikir untuk ke ruang UGD siapa tahu dia menemukan Dokter Tomi di sana. Setelah sampai disana mata nya mengelilingi ruangan hingga Alden menemukan Dokter Tomi berada.


Alden memegang pundak Dokter Tomi sambil ngos-ngosan dan keringat mengucur lumayan deras.


"Tuan?" Ucap Dokter.


"Apa dokter melihat Olive? Di---Dia tidak ada di kamar." Ujar Alden.


Dokter Tomi mengeluarkan ponsel dan menulis di sebuah Note, memberitahu Alden bahwa Olive ada di ruang direktur. Dokter Tomi juga mengkode bahwa banyak anak buah musuh yang pada menjadi korban atas kericuhan di depan.


"Siapa yang menyuruh kalian?" Tanya Alden pada salah satu pasien musuh.


"Tidak Tahu tuan." Jawab pasien itu.


"Tidak mungkin. Bilang sama bos kalian, kalo berani satu lawan satu jangan keroyokan seperti pengecut seperti ini!" Marah Alden.


"Tuan sabarlah." Ucap Dokter.


"Hey kalian, setelah mengobati mereka pastikan untuk membuang mereka ke pulau terpencil seperti biasa. Kasihan Alta belum dapet makan lezat setahun ini." Perintah Alden.


"Baik tuan!" Sahut Pasukan Fausta dan Nugraha.


"Informasi aja buat kalian. Alta itu binatang buas milik Tuan Alden. Bisa di bilang dia seekor singa yang sudah di rawat oleh Tuan Alden sejak kecil." Pesan Dokter.


Alden pergi meninggalkan ruang UGD diikuti Dokter Tomi dengan suara teriakan *Ampun Tuan!* Namun di biarkan oleh Alden. Alden menuju lift khusus ke ruang direktur. Saat pintu lift akan tertutup ada tangan yang menahannya.


Alden mendongakkan kepala dan tersenyum smirk ke arah orang itu.


"Lu lagi om lapar?" Ujar Alden.


"Ya. Gua lagi kenapa? Jangan membawa anak buah saya ke pulau terpencil." Ucap Orang itu.


"Anda siapa? Nyuruh-nyuruh saya. Hahaha!" Tawa Alden berjalan keluar dari lift.


Orang itu mengeluarkan pisau belatinya dan mengarahkan ke Alden.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2