Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 138


__ADS_3

"Jika aku pindah maka kalian semua yang akan menerima ganjarannya. Aku tidak akan bisa menerima hal itu terjadi pada kalian. Aku harus melakukan sesuatu agar dia berani untuk unjuk diri di hadapan sekarang." Ucap Olive berdiri kemudian berjalan ke pintu utama dan menggedornya.


"Hei... kamu sudah janji sama Alden untuk tetap di sini bukan membahayakan diri." Tahan Luna.


"Kak, mereka dalam bahaya jika tidak tahu kalau ada jebakan disana yang dibuat oleh orang ini. Bagaimana jika dia muncul tiba-tiba saat Alden atau yang lain lengah? Kak aku nggak bisa diam aja." Ujar Olive lanjut berjalan ke arah pintu yang ternyata pintu itu di kunci dari luar oleh zet.


"Olive..."


"Zet, buka pintunya. Zet!" Panggil Olive.


"Maaf nona, tuan Belden meminta saya untuk menguncinya." Sahut Zet.


Olive berjalan ke arahh pintu yang tembus ke markas. Itu juga di kunci, Olive segera menelepon dengan telpon genggam ke markas.


Ya Nona kedua...


Buka pintunya. Kenapa aku tidak boleh ke markas?


Aku yang memerintahkan mereka untuk mengunci pintu.


Robert, buka pintunya. Alden dan yang lain butuh bantuan kita, mereka dalam bahaya.


Kak, stop it! Kakak berpikir nggak kalo dia bisa aja jadi penyusup disini?


Kamu mencurigai seseorang?


Benar. Aku sedang mencurigai seseorang dan aku sedang mengamati gerakannya sekarang. Jadi, bisakah kakak tenang jangan membuat semua rencanaku menjadi berantakan? Kakak hanya memikirkan rencana kakak saja tapi tidak menghargai rencanaku dan yang lainnya.


Baiklah. Lakukan apa yang harus kau lakukan dan aku akan melakukan yang bisa aku lakukan disini.


Olive langsung menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Robert lagi. Olive memikirkan rencana nya sendiri.


"Dek, kamu memikirkan apa?" Tanya Luna.


"Kak, sebaiknya kita diam saja disini. Biar Robert dan yang lain melindungi kita." Ujar Reina.


"Aku tidak bisa hanya berdiam melihat mereka dalam bahaya. Aku memang janji untuk tidak keluar dari Mansion atau markas tapi aku tidak menjanjikan bahwa aku hanya diam saja melihat mereka." Sahut Olive.


"Lalu apa rencana kakak? Kita seperti di kurung disini, tidak ada yang bisa kita lakukan." Ucap Reina.


"Kalian berdua tetap disini saja mengawasi sekitar biar aku yang bertindak. Aku janji ini tidak akan membahayakan diri. Aku juga akan ada disini bersama kalian, sekarang yang aku butuhkan adalah informasi tentang Audreymayna." Gumam Olive.


"Aku bisa membantumu mencari informasi tentang itu, Reina kita keluarkan kemampuan kita." Ajak Luna.


"Oke kak." Sahut Reina mengikuti Luna menuju kursi dan mulai berkutit dengan komputer kecil.


"Kalau begitu aku akan ke tahanan bawah tanah untuk menanyakan langsung pada Viera." Kata Olive.


"Berhati-hatilah. Jika ada apa-apa cepat kabari kami." Ucap Luna.


"Siap kak, kalian juga waspada jangan lengah jika bunyi sesuatu yang mencurigakan. Segera periksa atau panggil Zet saja di depan. Kamu bisa panggil Robert, kode Markas samping 0128 nanti langsung tersambung ke kantor Robert." Ujar Olive.


"Baik kak, aku mengerti.


Sementara Olive menuju ruang bawah tanah di tengah hutan...


Tim 1~

__ADS_1


Yeta berhenti dan waspada melihat setiap sisi hutan.


"Ada apa Yeta? Kita sudah dekat dengan mereka?" Tanya Belden.


Yeta mengelus tangan Belden dengan kepala nya. Tak lama itu bunyi suara gemeresik dari rerumputan membuat semua waspada. Belden memberi kode untuk bersembunyi, tak berselang lama Ibrano, Rio dan Sam muncul.


"Kak, sepertinya ada yang mengawasi kita." Ucap Sam.


"Hanya perasaanmu saja. Mereka mungkin sudah mengepung Quira dan Yumi karena kita benar-benar tersembunyi tidak mungkin ada yang  tahu." Sahut Rio percaya diri.


"Kau masih meremehkan kemampuan dari kekuatan Nugraha yang sekarang bergabung dengan Fausta dan Wiyata kak?" Kesal Sam.


"Bukan aku meremehkan. Tapi mereka gampang tertipu, jika bukan karena bantuan dari audreymayna kita tidak akan bisa sampai disini dan tadi di telepon pun gadis itu percaya jika kita masih di hutan pulau." Jelas Rio.


"Terserah kakak saja. Tapi, ingat kak jika tiba-tiba ada penyerangan anak buah kita tidak akan bisa melawan mereka yang mungkin jumlah nya bisa 2x atau bahkan 3x lipat." Kata Sam.


"Kalian selalu saja tidak sampai pada satu pemikiran. Kau tidak lupa kan apa yang dikatakan Olive bahwa di hutannya sangat di jaga oleh binatang kesayangannya." Ujar Ibrano.


"Kita memiliki senjata, tinggal di tembak saja susah sekali. Kau menyukai binatangnya atau majikannya seperti tidak tega begitu." Goda Rio.


"Kau terlalu memandang nya sebelah mata dan menganggap kita paling kuat, terserah padamu saja." Sahut Ibrano.


Belden dan mengumpat dibalik rerumputan mendengar pembicaraan itu menjadi punya perasaan tidak enak tentang orang yang di Mansion ataupun Markas. Belden mengisyaratkan untuk keluar bait pertama yaitu Belden dan Alden yang seakan-akan sedang berjalan di hutan itu.


Tiba-tiba Alden muncul lebih dulu dari semak-semak.


"Sepertinya kalian membicarakan kami?" Tanya Alden membuat ketiganya terkejut dan menjaga jarak.


"Kenapa lu..." Kaget Rio.


"Xaviera..."


"Tenang. Gua jamin adek lu aman kok di markas Nugraha cuman gua nggak tau apa yang bakal terjadi karena tadi adik lu bener-bener mancing amarah Olive." Ucap Alden.


"Kalau sampai terjadi sesuatu ke viera, lu yang harus tanggung jawab!" Tukas Rio sambil mengeluarkan belati di susul Sam, Ibrano dan beberapa bawahannya.


"Santai. Kalian mau keroyokan gini sih? Pengecut lah kalau begini." Ucap Alden.


Tiba-tiba Yeta muncul membuat Ibrano dan yang lainnya mundur. Yeta melindungi Alden di depannya menatap tajam pada lawannya.


"Kak, itu Cheetah." Kata Sam sambil gemetar ketakutan.


"Yang bilang itu anak kucing emang nya siapa, Hah?" Kesal Rio yang juga mulai takut.


"Yeta!" Panggil Belden yang muncul dari semak-semak.


Yeta langsung menghampiri Belden dan berdiri didepan antara Belden juga Alden.


"Kalian sedang apa disini?" Tanya Belden.


"Mereka lagi cari jalan pulang kak. Sepertinya tersesat di hutan ini, benar begitu?"Ujar Alden.


"Kita mau selamatin nona Viera." Sahut sam gemetar kemudian di senggol oleh Ibrano.


"Nona Viera? Ah, maksud kalian Viera Gardapati? Kita sudah kirim kok ke negara kalian, kenapa kalian masih disini?" Tanya Belden.


"Kirim? Maksud anda apa?" Tukas Rio mulai emosi.

__ADS_1


"Kirim abu Nona Viera. Bukankah itu yang kalian inginkan? Kalian tidak menyadari keberadaan Viera di sekitar kalian selama ini, untuk apa sekarang mencarinya?" Jawab Alden.


"Kalau sampai Viera..."


"Lu, sebagai kakak sulung dari keluarga Gardapati gimana pertanggung jawaban lu terhadap adik? Selama ini yang lu fikirkan cuman cara menghancurkan Nugraha, menghancurkan kelompok mafia baik, terlebih bermain perempuan. Gimana pertanggung jawaban lu?" Tanya Belden.


Rio gemetar menyadari perbuatannya.


"Lu yang nabrak Robert, Lu yang nyuruh bawahan Clarke buat culik adik kembar gua dan nyebabkan salah satunya trauma, satunya lagi di pukul dengan menjani kehidupan menyalahkan diri. Lu pernah nggak berfikir sekali aja gimana lu di posisi gua sekarang? Adik perempuan lu satu-satunya ada di tangan gua, Gimana setelah lu tahu kalo adek lu di salah gunakan sama bawahan gua? Sakit gak? Marah nggak?" Murka Belden akhirnya setelah bertahun-tahun menahannya membuat Yeta sedikit takut.


"Tidak apa sayang. Jangan takut, anak baik."  Ujar Alden mengelus Yeta dengan penuh kasih sayang.


"Adik?" Gumam Ibrano.


"Lu belum kenal gua? Gua kakak dari Olive, kalaupun lu mau nikah sama dia gua bakal jadi orang terdepan buat gak setuju. Karena lu juga termasuk dalam komplotan dia." Jelas Belden masih dengan emosi nya.


Sementara itu...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2