Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 100 - Mencerna Situasi Keadaan


__ADS_3

Di Mobil


"Nona, kita kemana?" Tanya Zet.


Olive yang tersadar dari lamunannya pun meminta berhentikan mobil, meninggalkan ponsel dan peralatan lain hanya membawa ponsel cadangan dan dompet saja.


"Jangan mencariku beberapa hari ke depan. Bilang saja sama oma, aku refreshing sendiri." Ucap Olive lalu turun dari mobil tanpa menunggu balasan dari Zet.


Olive menyebrangi jalanan yang berlawanan arah kemudian berhentikan taksi dan pergi. Kebetulan jalanan lagi macet jadi, Zet juga tidak bisa langsung putar balik. Terlebih mendapat perintah untuk tidak mencari nona nya.


Sementara di sekolah, Alden langsung meminta Liam dan Elvina pergi menyusul Olive sesegera mungkin. Sedangkan dirinya menuju mobil nya sambil terus menelepon Olive berharap jika Olive tidak berpikir macam-macam.


Elvina melihat mobil Olive berhenti tidak jauh dari kemacetan di pinggir jalan. Segera turun dan datangi mobil itu meninggalkan Liam.


"Olive!" Panggil Elvina sambil mengetuk kaca jendela.


Zet membuka pintu dan turun dari mobil. Bungkuk badan memberi hormat pada Elvina.


"Kemana Olive." Tanya Elvina.


"Maaf nona, saya tidak tahu. Tadi kebetulan lagi macet lalu nona turun begitu saja dan meninggalkan semua barang-barang nya disini. Kami tidak bisa melacak." Sahut Zet.


"Apa yang sebenernya terjadi?" Tanya Elvina bingung.


"Tuan Alden adalah pacar nona Olive. Saat pertama kali kenal dengan nona, Tuan Alden sempat mengatakan bahwa dia tidak akan bisa jatuh hati pada nona karena sedang menunggu Cinta pertama nya yaitu Nona Vina." Jelas Zet.


"Aku?" Bingung Elvina.


"Ya, semenjak hari itu Nona Olive dan Tuan Alden menjalani hubungan yang tarik ulur. Hari ini, saat nona kedua mengetahui itu mungkin jadi pukulan untuk hatinya." Ucap Zet.


Tak lama Zet menjelaskan semua itu, Alden datang di susul sahabat-sahabat nya yang tak kalah khawatir.


"Olive mana?" Tanya Alden memeriksa mobil tapi tidak ada Olive.


"Lu udah memulai semua dengan kesalahan Al, Kenapa lu gak kasih tau gua dari awal? Oh bukan, kalian sama-sama menghindari untuk beritahu gua. Lu juga, gua kan udah pernah bilang kalo kita murni sahabat gak akan bisa lebih. Sekarang gimana nih?" Kesal Elvina.


"Ini salah gua, gua minta maaf tapi pertama kita pikirin dulu kemana Olive pergi. Dia masih belum sembuh total terlebih banyak musuh yang mentargetkan dia, gua takut terjadi apa-apa sama dia." Ujar Alden.


"Lu belum kenal Olive juga kak. Olive bakal benar-benar menghilang dalam beberapa hari ke depan. Kita gak akan pernah bisa lakukan apapun untuk temuin Olive. Lihat, ini ponselnya dan ini alat pelacak kalian. Kita benar-benar kehilangan arah sekarang." Kata Shakila.


"Zet, dia bilang sesuatu gak sebelum pergi?" Tanya Alden yang belum putus harapan.


"Nona kedua cuman bilang, jangan cari dia beberapa hari tuan. Tidak ada lagi." Sahut Zet.


"Kamu yakin?" Tanya Liam.


"Ya tuan, hanya itu saja." Jawab Zet.


"Tidak membawa apapun? Pergi dengan tangan kosong?" Tanya Rafa.


"Tidak, nona kedua membawa dompetnya. Hanya dompet." Kata Zet sedikit berbohong.


"Ke arah mana Olive pergi?" Tanya Ryan.


"Ke sana tuan, berlawan arah dengan jalan pulang." Sahut Zet.


"Kamu sudah bertahun-tahun dengan Olive, beritahu kita kemana biasanya dia pergi." Ucap Elvina.


"Saya sudah menghubungi Villa tempat yang nona beli di beberapa tempat. Tapi, mereka bilang tidak ada tanda nona datang kesana dan ada beberapa villa yang nona beli tanpa sepengetahuan dari saya. Kemungkinan besar nona kedua akan pergi ke sana tapi masalahnya saya tidak tahu kemana." Jelas Zet.


"Ayo Liam kita pergi, kita akan temukan cara sendiri untuk mengetahui keberadaan Olive. Kalian berjuanglah dan buat Lu Al gua harap sebelum masalah ini clear dan Olive tahu semua tentang kita jangan pernah ketemu dulu untuk sementara waktu." Ujar Elvina.


"Tidak bisakah kita bersatu untuk mencari Olive?" Tanya Niesha.

__ADS_1


"Aku tidak ingin ada kesalahpahaman lagi dan ini merusak persahabatan aku dengan Olive. Jika ada kabar, kita bakal kasih tahu kalian." Sahut Elvina.


Semua mengangguk, Alden menunduk merasa bersalah. Elvina dan Liam pergi. Sementara itu Olive sudah sampai di satu tempat.


"Pak, berhenti disini saja. Ini uang nya, kalo ada yang mencari saya bilang aja tidak tahu." Ucap Olive.


"Baik nona, Terimakasih." Sahut supir taksi.


Supir taksi itu pergi menghilang di tikungan, Olive berjalan memasuki semua komplek villa mewah yang baru beberapa tahun belakangan ini dia beli dengan hasil nabung nya tanpa sepengetahuan siapa pun.


Sampai di depan sebuah villa yang sederhana namun terbilang mewah, Olive mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu untuk membuka pintu villa itu. Olive masuk, lalu melihat ke arah halaman belakang yang sudah mulai gelap.


Tadi Olive juga sempat belanja keperluan untuk beberapa hari kedepan.


"Hari sabtu aku akan kembali ke markas untuk 2-3 malam ini aku akan tidur disini untuk memahami situasi yang terjadi." Gumam Olive.


Sementara di Markas Nugraha, Alden datang kesana untuk menanyakan keberadaan Olive. Mendengar Olive tidak bersama Alden buat Oma dan Opa memutuskan bahwa cucu nya sedang bermasalah.


"Apa ada masalah di antara kalian?" Tanya Oma.


Alden diam tidak menjawab, Alden takut tidak boleh bertemu lagi dengan Olive jika mengatakan kejadian yang sebenarnya. Namun, tiba-tiba...


"Kak Olive, Kak Alden dan Kak Vina adalah sahabat. Kak Via adalah sahabat kak Vina begitupun Kak Vina yang biasa di panggil Kak El adalah sahabat kak Alden juga. Mereka sama-sama tidak tahu jika mereka saling terhubung. Lebih mengejutkan lagi adalah Cinta pertama yang di sembunyikan kak Alden adalah kak Vina. Jadi, saat tadi mereka bertiga bertemu... bisa di simpulkan bahwa kak Via sudah merasa di khianati oleh kak Alden karena tidak bercerita jika kak El dan kak Vina adalah orang yang sama sedangkan kak Alden juga tidak tahu jika kak Vina yang di maksud oleh kak Via adalah kak El si Cinta pertama nya." Jelas Robert.


"Kalo begitu oma opa dan keluarga tidak akan ikut campur, kalian harus selesaikan sendiri. Bicarakan baik-baik, tapi untuk beberapa hari ini biarkan Olive untuk menenangkan dirinya. Mungkin, dia juga lelah dengan kehidupan yang ia jalani sekarang." Ucap Oma.


"Oma benar, beri waktu untuk Olive memahami situasi kalian ini dengan kepala dinginnya. Tidak akan lama, percayalah." Bujuk Opa.


"Kalau begitu, aku juga tidak akan membantu. Biasanya 2-3 hari kemudian kak via baru pulang. Jangan khawatir, kak via akan berada di tempat yang aman." Ujar Robert.


Alden masih ingin berusaha, sekedar ingin tahu dimana keberadaan dari Olive.


"Kamu tenang saja, Olive akan mengambil keputusan dengan sangat bijak setelah mendengar penjelasan darimu. Sekarang hanya beri waktu sedikit untuknya menyusun kata dan mencerna situasi yang terjadi sekarang." Kata Oma.


"Aku sudah peringatkan kakak kemarin. Tapi, aku tahu ini bukan kakak yang minta bertemu. Kakak sudah membatalkannya, memang takdir kalian jangan terlalu senang dahulu saat berada di atas. Kak Via ada di sebuah villa, kak Alden tenang saja. Kalau kakak tanya itu dimana, maaf aku tidak bisa beritahu. Aku akan beri kak Via waktu, aku jamin tidak akan lama." Ucap Robert meyakinkan.


Akhirnya, Alden memutuskan untuk kembali ke rumah Fausta. Lagi-lagi Delia, bunda dan ayah di buat bingung dengan tingkah Alden.


"Kakak!" Panggil Delia dari ruang makan berhasil buat Alden menengok.


"Hah? Ada apa?" Tanya Alden.


"Kamu kenapa lagi? Kenapa ekspresi nya begitu?" Tutur Ayah.


"Nggak apa ayah, aku mandi bebersih dulu setelah itu baru nyusul makan." sahut Alden lanjut menaiki tangga menuju kamarnya.


Ayah, Bunda dan Delia saling tatap satu sama lain kemudian angkat bahu. Setengah jam berlalu, Alden turun untuk makan. Alden makan dalam diam.


'Olive dimana ya, dia udah makan belum jam segini? Dia beneran ada di villa kan? Apa dia di tangkap sama musuh?' Bathin Alden.


"Kak, Ajak kak Olive main dong ke rumah. Udah hampir sebulan pacaran masa belum pernah ajak kak Olive ke rumah." Pinta Delia.


"Olive lagi kabur. Nanti ya kalo udah balik, coba kakak bujuk." Sahut Alden buat ketiganya bingung.


"Kabur? Maksudnya gimana? Kamu bikin kesalahan kah?" Tanya Bunda.


"Ya begitulah bunda. Ternyata El itu adalah sahabatnya Olive juga. Olive biasa manggilnya Vina. Tapi aku udah pernah bilang sama Olive kalo El datang aku bakal tetap pilih Olive apapun yang terjadi. Tapi, kemarin Olive lihat aku pelukan sama El. Aku hanya melepas kangen aja, tidak lebih dari itu. Hati aku murni buat Olive." Jelas Alden.


"Yaudah, kalo kak Olive bisa merasakan kegelisahan kakak dan khawatirnya kakak sekarang. Berarti dia percaya sama kakak dan kakak gak perlu khawatir. Aku yakin kak Olive tidak akan memutuskan dalam keadaan gegabah begini. Coba kasih waktu beberapa hari buat dingin in otak kalian masing-masing, biar kalian sama-sama enak jelasinnya." Saran Delia.


"Kamu kecil-kecil udah paham cinta-cintaan begini. Bahaya nih bunda, perketat penjagaan Delia." Pinta ayah.


"Ish! Ayah ini. Aku kan cuman ngasih saran doang. Lagi pula, aku bukan anak kecil lagi." Ucap Delia.

__ADS_1


Sementara itu, di villa. Olive sedang menonton drama-drama korea favorite nya.
































Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2