
Alden menatap Olive lekat. Olive bingung.
"Ada apa? Apa ada yang ingin kau tanyakan lagi?" Ujar Olive dan Alden menggeleng.
"Aku merasa menjadi pria yang beruntung yang berhasil mendapatkan dirimu. Kamu bisa melindungi diri kamu sendiri, baik hati, tegas, selalu memikirkan orang lain dulu ketimbang dirinya dan setelah kamu menjadi pendampingku. Aku yang akan melindungi mu, menjaga mu, menemani mu dan aku harap hanya aku yang kamu fikirkan." Ucap Alden.
"Emm... aku ingin menanyakan sesuatu lagi padamu." Kata Olive.
"Apa itu?" Tanya Alden.
"Apakah kamu pernah berciuman sebelumnya?" Ujar Olive.
"Tidak. Aku belum pernah melakukannya. Kamu adalah yang pertama untukku. Bagaimana denganmu?" Ucap Alden.
"Kamu yang pertama." Sahut Olive malu.
"Aku merasa tersanjung menjadi orang yang pertama mendapatkan nya." Kata Alden.
"Apa kita tidak akan pulang?" Tanya Olive.
"Kamu tidak ingin pulang? Aku akan menemanimu." Goda Alden.
Olive mencubit kecil tangan Alden dan mereka tertawa. Alden menurunkan Olive dari pangkuannya agar berdiri. Kemudian mereka pulang ke Markas Fausta. Lebih tepatnya, Mansion Alden.
Alden mengantar Olive sampai depan kamar. Mereka seperti tidak ingin melepas genggaman tangan mereka.
"Masuklah, selamat beristirahat." Ucap Alden.
"Kamu juga, selamat beristirahat." Sahut Olive.
Dengan berat hati mereka melepaskan genggaman itu dan Olive masuk kamar menutup pintu. Saat Alden baru membuka gagang pintu kamar nya tiba-tiba Olive menahan tangannya membuat Alden menengok.
Cup!
Kecupan tepat di bibir Alden dan Olive tersenyum malu. Kemudian langsung lari masuk ke kamar dan mengunci nya. Alden sedikit terkejut, kemudian tersenyum senang sambil memasuki kamar nya.
Kali ini, Alden Olive sedang di mabuk Cinta. Mereka bebersih diri kemudian pergi untuk tidur. Olive juga memajang buket yang di berikan Alden di meja nakas samping tempat tidur nya. Sebelum memejamkan matanya, Olive tersenyum dan masih merasa semua nya adalah mimpi untuk dirinya.
Keesokkan harinya, Olive bangun jam tujuh pagi. Yang di lihat pertama kali adalah buket pemberian Alden. Olive tersenyum, padahal mereka belum secara resmi di nyatakan sebagai pasangan kekasih.
Olive memeriksa ponsel nya, tidak ada kabar dari Zet dan markas mengenai pergerakan musuh. Olive ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok giginya. Setelah selesai, Olive turun kebawah langsung menuju taman belakang Mansion.
"Pagi Nona." Sapa setiap Pelayan dan Anak buah Alden yang lewat.
"Pagi." Sahut Olive sambil tersenyum.
Olive mencari Alden, apakah dia belum bangun? Ini sudah lumayan siang. Matahari sudah cukup tinggi.
__ADS_1
"Permisi, apakah Alden sudah bangun?" Tanya Olive pada salah satu pelayan.
"Tuan muda? Tuan muda jika hari sabtu dan minggu biasanya akan bangun siang nona." Sahut Pelayan itu.
"Ah, dia belum bangun. Terimakasih." Ucap Olive lalu masuk ke dalam mansion lagi.
"Pagi nona muda kedua." Sapa bibik.
"Pagi bik, Alden biasanya bangun jam berapa bik?" Tanya Olive.
"Kadang jam sepuluh, kadang jam dua belas, kadang bisa juga jam dua siang non. Kami tidak berani membangunkan tuan muda ketika hari libur sabtu dan minggu." Ujar bibik.
"Apa sudah ada yang pernah melakukannya?" Tanya Olive.
"Sudah. Tuan muda akhirnya membuat peraturan untuk tidak membangunkannya di hari libur atau tuan muda akan mengamuk. Tapi, sepertinya kalo nona yang membangunkan akan berbeda." Sahut bibik.
"Apakah pintu nya terkunci saat tidur?" Tanya Olive.
"Kadang di kunci dan kadang tidak nona. Nona ingin mencoba nya?" Ujar Bibik.
"Akan aku coba." Ucap Olive.
Olive naik ke lantai dua berdiri tepat di depan pintu kamar Alden. Olive memegang gagang pintu yang Olive pikir terkunci, ternyata tidak. Olive perlahan masuk kekamar Alden tanpa bersuara kemudian menutup nya lagi.
Olive melihat Alden tertidur di kasurnya, Olive menghampiri Alden dan menatap Alden yang masih berada di alam mimpi. Kemudian tersenyum. Olive menyentuh sedikit garis wajah Alden dari kening nya hingga hidung nya yang mancung.
"Tuan bangun." Ucap Olive sedikit merubah suaranya.
"Tuan, Nyonya besar ada di bawah menunggu." Ucap Olive.
"Katakan pada oma aku masih sangat mengantuk. Aku akan bangun nanti. Sampai kan saja pada Nel." Protes Alden.
"Tuan---"
"Berhentilah---Selamat pagi nona." Sapa Alden yang masih membuka mata nya sedikit.
"Kamu sudah mengusir ku tiga kali tuan muda. Aku akan pergi." Ujar Olive.
Tiba-tiba tubuh olive di tarik oleh Alden jauh di atas kasur. Alden memeluk Olive erat.
"Aku masih mengantuk nona. Aku akan tidur sebentar seperti ini." Ucap Alden.
"Alden, bagaimana jika ada yang masuk?" Ujar Olive.
"Tidak akan. Mereka tidak berani, hanya kamu yang akan berani melakukan hal ini." Sahut Alden.
"Bagaimana jika Oma tiba-tiba datang beneran?" Ujar Olive.
__ADS_1
"Aku akan katakan pada nya bahwa setelah aku bangun aku akan segera menikahi mu saat kamu lulus sekolah nanti." Sahut Alden.
"Bagai--"
Cup!
"Biarkan aku tidur atau aku mungkin akan tidak membiarkanmu pergi nanti." Ucap Alden.
Olive mengerti maksud dari ancaman Alden. Seperti kejadian semalam saat Olive keceplosan memanggil Alden dengan sebutan Kakak Olive tidak akan di biarkan pergi. Namun Jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa centi saja.
Olive mendekatkan wajahnya menempelkan hidung nya dengan hidung Alden kemudian menggeseknya. Saat Alden membuka matanya Olive langsung menempelkan bibir mereka.
"Kamu yang memintanya." Bisik Alden.
Alden langsung mencium bibir ranum Olive, menggigit kecil bibir Olive untuk bisa ******* masuk kedalam mulutnya. Alden mengambil posisi yang nyaman untuk Olive, Alden berada di atas Olive yang membuat Olive refleks mengalungkan tangannya ke leher Alden.
Bunyi setiap kecupan mereka memenuhi kamar Alden. Bahkan, terdengar desah dan lenguhan kecil dari olive karena setiap sentuhan yang diberikan Alden. Mereka terbuai dan hanyut dalam kenikmatan itu.
Mereka menyudahi ciuman panas mereka saat kedua nya kehabisan Oksigen. Deru nafas mereka saling memburu. Olive tersenyum malu yang membuat Alden semakin gemas. Alden menciumi kening, pipi dan hidung berulang-ulang membuat Olive merasa geli. Terakhir, Alden memberikan ******* yang dalam. Memainkan lidah mereka bertukar saliva.
Bibir Olive cukup bengkak karena ulah Alden. Alden mengusap bibir Olive dengan jemari nya.
"Morning Kiss." Bisik Alden membuat bulu Olive merinding.
Cup!
"Bangun dan bersiaplah. Jangan lupa kita akan pergi ke taman hiburan." Ucap Olive.
"Aku rasanya tidak ingin bangun dan ingin memelukmu terus seperti ini." Kesal Alden.
Cup!
"Bangun tuan, aku akan kembali ke kamar dan mandi kita bertemu di bawah jam sembilan." Ujar Olive melepaskan diri dari Alden.
"Kamu tidak ingin mandi bersama saja?" Goda Alden yang duduk di pinggir kasur.
"Alden... " Rengek Olive.
"Benarkah?" Goda Alden.
Olive berjalan keluar dari kamar Alden.
"Sungguh?" Teriak Alden yang membuat Olive membalas berteriak.
"Diamlah, tuan muda." Sahut Olive menutup pintu kamar tamu dan mengunci nya.
Alden yang mendapat balasan itu tertawa. Alden menutup pintu kamar nya dan pergi ke kamar mandi untuk mandi. Bibik, para pelayan dan Anak buah Fausta yang mendengar tuan muda nya berhasil bangun tanpa marah pun tersenyum. Mereka tau jika Nona muda kedua Nugraha memang cocok untuk Tuan muda nya.
__ADS_1
Olive ke kamar mandi dan bediri di depan kaca. mengusap bibirnya yang masih cukup terasa dan terbayang bagaimana Alden **********. Wajah Olive langsung memerah semu. Olive harus segera menyingkirkan fikiran itu dan mandi.
Bersambung...