
"Kak aku mau kesana." Pinta Olive.
"Diam. Nggak boleh. Masih untung kamu selamat dan cuman kena goresan. Padahal dia mentargetkan untuk---"
"Mengenai jantungku. Aku tahu kak, tapi aku harus memastikan sesuatu." Paksa ku.
"Baiklah, hanya sebentar. Janji?" Ujar Alden.
"Janji. Ah, bawa kak Gitta juga. Jadi, lebih baik jangan di markas banget. Cari tempat lain." Sahut Olive.
"Gitta? Kok bawa-bawa Gitta?" Tanya Ryan.
"Udah turutin aja." Ucap Alden.
Mereka berkumpul di satu tempat. Di sebuah gudang yang cukup besar.
"Mau apa kalian membawaku kesini?" Protes Gitta.
"Diam! Turutin aja, Alden mau ngajak lu dinner. Lu mau nolak?" Ujar asal Rafa.
"Di tempat begini? Nggak ada yang bagusan apa? Restorant atau cafe gitu. Nggak level banget sih di tempat begini." Keluh Gitta.
"Berisik! Lu tinggal terima aja kenapa? Nggak usah banyak protes." Kesal Ryan.
Mereka pun sampai.
"Ini bos. Sesuai permintaan." Ujar Rafa.
"Lepaskan penutup kepala nya." Perintah Alden.
"Alden? Jadi beneran kamu ngajak aku dinner? Di tempat begini?" Tanya Gitta.
"Sebelum lu ngomong begitu, lu lihat dulu rekaman ini. Baru lu bilang sama diri lu, kalo lu nggak akan pantas bersanding sama gua." Tekan Alden.
Alden memutar video nya, dimana Gitta secara diam-diam bertemu pembunuh bayaran untuk membunuh Olive dengan harga yang sangat tinggi. Kemudian, video saat dia bertemu dengan Kevino Bram Wiyata.
"Apa sih video itu? Ah, kalian curiga itu gua? Ya nggak mungkinlah hahaha... ngapain juga gua bunuh anak yayasan." Ucap Gitta.
"Wah! Hebat ya. Bisa tau kalo perempuan itu dirinya terus hebat juga langsung tau tujuannya bunuh anak yayasan." Ujar Ryan.
"Gokil bos! Padahal kita belum ngomong apa-apa. Hahaha... tapi dia gali kuburannya sendiri." Tawa Rafa.
Penembak jitu itu panik melihat Olive memasuki ruangan bersama kedua sahabatnya.
__ADS_1
"Wah hebatnya, aku merasa reunian. Satu karena aku bertemu dengan anak pak Firman lagi dan satu lagi, orang yang menabrak adik ku, robert." Ucap Olive membuat kedua orang itu merinding ketakutan.
Alden terkejut dengan perkataan Olive terakhir, penembak jitu ini adalah tersangka yang menabrak adiknya hingga meninggal, pantas saja dia sangat memaksa untuk bertemu.
Olive mengeluarkan pisau belatinya dan memainkannya sambil mengelilingi penembak jitu.
"Ah, aku ingat sekarang. Kau membuatku harus menyiksa orang tak bersalah dulu, aku hampir saja membunuhnya setelah menyayat. Sekarang, apa kau sudah bosan hidup dan menyerahkan dirimu padaku untuk di perlakukan dengan cara yang sama dengan orang yang salah ku siksa dulu?" Ujar Olive sangat dingin dan menakutkan.
"Ak--Aku hanya menjalankan perintahnya. Aku tidak tau ada masalah apa di antara kalian. Ta---tapi dia memintaku untuk menabrak anak kecil itu hingga tewas. Bahkan, ka---kami tidak tau jika kau ada di sana. Sungguh." Sahut penembak jitu itu.
"Ahh, begitu. Kau fikir aku akan percaya!" Ucap Olive tiba-tiba mengarahkan pisau tepat di leher penembak jitu dan membuatnya gemetar ketakutan.
"Olive, tenanglah. Ingat janjimu?" Kata Alden mengingatkan.
"Aku ingat. Zet, berikan ponselnya dan telepon orang itu." Perintah Olive.
"Baik nona." Sahut Zet.
"Lagi pula, tidak seru jika aku membunuh tangan kanan nya sekarang. Btw, terimakasih telah mengingatku." Ucap Olive menyimpan Belatinya.
Telepon terhubung.
Halo?
Bos! Saya berhasil menembaknya.
Iya, tapi sedikit meleset mengenai tangannya. Maafkan saya bos.
Tidak apa, yang penting dia tertembak. Kau bersembunyilah beberapa hari ini aku akan memberimu tempat persembunyian di dalam hutan.
Lalu Olive tertawa.
Wah Wah Wah! Jadi seperti ini caramu Kevino? Btw, aku sudah dekat dengan markas mu apakah perlu kita bertarung sekarang? Tanganku sangat gatal ingin menguliti mu dan memberimu hadiah lagi, kali ini di kaki yang sebelahnya. Bagaimana?
Kevino terdiam mendengar ucapan Olive.
Ouh tidak! Kak Gitta, lihatlah. Orang yang kakak percayai untuk bersengkongkol denganmu sepertinya sedang ketakutan disana. Bagaimana rasanya jika rencana mu langsung gagal dua dua nya seperti ini.
Aku memang mengirim penembak jitu itu, tapi perempuan itu sangat tidak sabar dan ingin segera kau mati di tangan tujuh orang sekaligus. Dia memulainya sendiri tanpa izin dariku.
Hemm... begitu. Kau kira aku percaya dengan orang yang merencanakan ini dengan sangat baik. Dulu seharusnya kau mendapat kiriman paket seseorang dariku. Yang aku sangka telah menabrak adikku hingga mati di tempat. Sekarang, aku ingat jelas bahwa wajah itu ada di tanganku sekarang. Apa aku salah?
Ya. Kau benar, dia yang aku suruh untuk menabrak bocah keci dan dia juga yang aku suruh untuk menculik mu bersama kembaranmu ke rumah Clarke.
__ADS_1
Emosi Olive semakin memanas.
Tapi, aku tidak meminta mereka untuk melakukan itu pada kakakmu. Aku hanya ingin menitipkan sanderaan ku. Tapi, mereka ternyata haus akan hasratnya. Hingga sampai membuat kakak mu koma tiga tahun.
Olive tidak bisa menahan emosi nya dan mengeluarkan senjata api menembaknya ke sebuah papan yang tertempel wajah Kevino disana.
DORRR!
Semua orang yang di dalam ruangan itu berteriak takut. Kevino bahkan terkejut mendengar suara tembakan itu, apa yang tertembak adalah orang suruhannya. Olive tau jika Kevino disana juga kaget mendengar itu karena terdengar suara gelas pecah disana. Bahkan ia tau jika Alden tidak menyangka jika aku juga menyimpan senjata api. Alden menggeleng ke arah Olive dan mengode untuk mengakhiri kegilaan ini.
Aku baru saja menembaki kepalamu. Headshoot! Aku akan menantikan saat itu dan aku yang akan melakukan itu. Ah, aku juga akan mengirimi mu tujuh abu di tambah satu abu suruhan mu. Apa abu kak Gitta harus ku kirim juga padamu? Haha...
Dasar perempuan gil---
Olive langsung mematikan sambungan itu. Olive menarik nafas dan menenangkan kepala dan hatinya yang panas.
"Zet, lakukan seperti biasa. Ah, untuk perempuan satu itu kirimkan dia ke rumahnya saja. Disana sudah ada yang menunggu dengan panik. Sampai bertemu besok lagi kak di sekolah. Aku harap kakak belajar dari sini untuk tidak menganggap remeh aku ataupun orang lain lagi. Aku tau kakak sudah lama berkuasa di sekolah itu, aku tidak akan merebut itu. Karena derajatku lebih tinggi dari itu." Ucap Olive kemudian mengeluarkan senjata api dan Pisau belatinya.
"Olive!" Teriak kedua sahabatnya dan Alden.
Zet menghampiri mereka dan memberi hormat. Olive memberikan kedua senjata itu kepada Zet.
"Tenanglah. Aku tidak akan melakukan itu, Zet simpan kembali senjataku. Aku akan kembali ke sekolah, kau tidak perlu ikut dan urus saja mereka. Pastikan rencana kita ini berhasil." Ucap Olive dan memberi perintah kepada Zet.
"Baik nona. Tapi, sebelum kembali ke sekolah sebaiknya nona mampir dulu ke markas untuk menurunkan emosi nona dengan benar." Ujar Zet.
"Baiklah. Aku akan mampir dengan kak Alden, kalian kembalilah ke sekolah." Pinta Olive.
"Berjanjilah segera kembali." Kata Shakila.
"Aku janji." Sahut Olive tersenyum.
Mereka pun pergi dan Zet serta beberapa pasukan membereskan tugasnya. Sementara Kevino sedang menggila di markasnya karena emosi terhadap Olive. Di sisi lain, mobil Alden.
"Kamu sangat sulit di tebak ya... Aarrgh! Benar-benar membuatku takut saja." Ujar Alden.
"Maaf kak, aku benar-benar kepancing emosi saat dia bilang bahwa dia yang menyuruh orang untuk menculikku dan kak Phia. Setelah melakukan itu kepada robert, selama ini aku mencari orang yang menculikku siapa. Tidak mungkin Clarke, karena mereka tidak ada kekuatan untuk itu pasti ada dalang nya yang lebih tinggi dan benar saja. Dia yang melakukan itu." Jelas Olive.
"Tapi, kamu keren karena masih bisa menahan emosi mu dengan baik. Mungkin kalo aku jadi kamu, mereka sudah benar-benar habis di tanganku." Ucap Alden.
"Tadinya aku berencana begitu, tapi karena ada Shakila, Niesha, kak Rafa, ka Ryan dan kak Gitta khususnya tidak jadi." Sahut Olive yang mendapat tatapan tajam dari Alden.
"Berjanjilah untuk tidak mengulangi nya walaupun tidak ada mereka. Kamu akan menceritakan semua nya terlebih dahulu kepadaku." Kata Alden dan Olive mengangguk.
__ADS_1
"Aku janji kak." Sahut Olive sambil tersenyum.
Bersambung...