
"Mau jadi keluarga apa aku nanti punya istri gak ada tata sopan santun begitu." Gumam Alden.
"Cih! Daripada anak-anak nya nakal semua jadi mafia." Balas Gumam Gitta.
"Hahaha! Lebih baik nakal jadi mafia daripada nakal sama cowo atau suami orang. Ngerti gak? Mau gua tambahin lagi selama kemarin kita jadi sepasang King Queen sekolah? Lu keluar masuk Club malam yang beralkohol. Jangan di kira gua gak tau sikap dan sifat buruk lu selama ini. Cih! Bikin peraturan baru nggak boleh ada yang ke club beralkohol tapi anaknya sendiri pergi ketempat begitu diam aja. Pantesan aja hasilnya begini." Ketus Alden.
Pak Firman menundukkan kepalanya. Alden merasa semakin jijik dengan sikap Gitta yang semakin terbuka. Pram langsung membawa Firman dan Gitta keluar dari kantor kepala sekolah untuk masuk ke satu mobil.
"Lihat aja! Gua nggak akan tinggal diam. Jangan harap kalian bakal bahagia, gua bakal lakuin apapun itu! Aaakhhh!" Berontak Gitta.
Satu sekolah melihat Firman dan Gitta dibawa dalam mobil. Berita ini sampai di telinga Ilona yang masih duduk terdiam di kelas.
"Woi! Lu nggak ikutin sahabat lu? Kemarin nurut banget disuruh bunuh orang. Kok sekarang gak ikutan?" Ucap Ryan.
"Katanya sahabat kok ketuanya susah diam aja. Nyeselkan lu? Gua udah bilang sama lu dari awal kita kenal di MOS tapi lu gak denger. Oercuma mau tobat juga, orang-orang yang pernah kena bully lu pada pindah dan gua lihat mereka lebih bahagia ketimbang waktu sekolah disini." Sambung Rafa.
"Kita bukan bermaksud nekan lu nih. Gua sama Rafa cuman mau lu sadar kalo perbuatan lu itu salah. Apalagi lu sampe hampir bunuh orang. Bukan gaya lu banget lon. Ilona yang gua kenal gak begitu. Tapi itu hak lu sih, balik lagi lu yang punya hak buat lakuin apa yang lu suka. Gua harap lu terima resikonya." Ujar Ryan.
Ilona pun menyadari semua perbuatan jahatnya. Ilona juga merasa jika hidupnya tidak tenang setelah melakukan hal itu. Ilona merasa di hantui oleh sesuatu intinya hidupnya tak tenang. Bukan hanya dirinya tapi semua keluarganya. Seperti, dirinya harus melakukan hal yang jahat untuk Olive.
Sementara itu dikelas Olive, Niehsa Shakila merasa kesepian tidak ada Olive. Kedua sahabat ini berharap jika Olive segera siuman. Tapi, tidak ada kabar apapun dari Kak Belden ataupun Phia mengenai keadaan Olive.
Di Markas Nugraha~
Phia dengan lembut menseka kembarannya seperti yang dilakukan Olive juga. Oma, Opa, Belde, papa dan mama juga bolak balik masuk ke dalam ruangan rawat Olive namun tidak ada tanda bahwa Olive akan bangun. Sekarang waktunya pemeriksaan dokter.
"Permisi nona, saatnya pemeriksaan." Ujar Dokter Franklie.
"Silahkan dokter." Jawab Phia.
Dokter Franklie memeriksa secara keseluruhan keadaan Olive. Semuanya membaik, tapi kenapa belum bangun juga.
"Dokter apakah harus disuntikkan lagi?" Tanya suster.
"Tidak. Dosisnya hanya sekali suntikan. Kita akan tunggu 2 jam kedepan, jika belum sadar juga maka kita suntikan lagi dengan dosis yang lebih rendah." Tutur Dokter.
Tiba-tiba Olive menggerakkan jemarinya yang di lihat oleh dokter dan Phia.
"Dek!" Panggil Phia.
"Akhirnya Nona kedua." Ucap Dokter Franklie.
Olive pandangannya masih lurus ke atas, melihat ke sekeliling. Apakah dirinya ada dirumah sakit lagi? Mereka siapa?
"Kalian siapa?" Tanya Olive pelan.
Deg!
"Tidak apa Nona. Ini gejala awal, tidak akan lama hanya beberapa jam saja. Paling Mentok satu jam setelah itu nona kedua akan merasakan pusing kemudian perlahan mengingat memori nya satu persatu." Jelas Dokter Franklie.
"Kamu dengan dek. Hanya satu jam kamu boleh ngelupain aku, awas aja kalo sampai di tambahin. Aku Sophia, kembaran kamu. Kamu biasa panggil aku kak phia." Ucap Phia.
"Oh. Ini dimana?" Tanya Olive.
"Markas Nugraha, sayang. Keluarga kita lengkap disini, kamu mau ketemu mereka?" Tawar Phia.
Olive menggelengkan kepala.
"Nanti mereka kecewa aku tidak mengingat mereka. Aku tidak mau mereka bersedih." Ujar Olive.
"Bagaimana dengan pacar kamu? Kamu mau dengar suaranya?" Tawar Phia lagi.
"Aku punya pacar?" Tanya Olive dan Phia mengangguk.
"Namanya Alden. Dia lebih tua 2 tahun dari kamu." Jawab Phia.
"Bolehkah?" Tutur Olive.
Phia langsung menelepon Alden yang berada di sekolah. Alden yang sedang di kantin bersama ryan dan Rafa buru-buru keluar dari tempat ramai.
Halo Phia? Gimana kabar Olive? Udah siuman?
__ADS_1
Olive sudah lebih baik Alden.
Apakah ada sesuatu? Aku perlu kesana? Percuma aku sekolah jika pikiran aku tidak tenang.
Olive yang mendengar itu merasa sangat bahagia hatinya. Olive mencoba memanggil Alden.
Alden?
Alden yang mendengar suara Olive langsung terkejut sekaligus senang bahkan sampai menitikkan airmata.
Alden di sekolah aja. Jangan bolos, kamu udah mau ujian kelulusan. Aku hanya tau nama kamu untuk sekarang, tapi aku akan coba ingat kenangan kita. Maaf--
Jangan Minta maaf, ini bukan salah kamu. Aku tahu efek dari suntikan itu, aku akan menunggu dan terima kamu apa adanya. Ingat itu.
Kamu menangis?
Ti--tidak. Hanya sedikit di ujung mata. Aku bahagia, terima kasih sudah kembali.
Terima kasih sudah mau mananti.
Terdengar suara bel masuk.
Sudah bel masuk setelah istirahat. Nanti aku berkunjung setelah sekolah, ingat kamu harus makan.
Em... semangat belajarnya. (Diam sesaat) Sayang.
Alden yang mendengar itu semakin bersemangat.
Em.. kamu juga sayang. Semangat buat sembuh. Aku tutup ya, bye!
Bye!
Alden langsung memeluk kedua sahabatnya bergantian membuat Rafa dan Ryan bingung. Tanpa di sadari Niesha dan Shakila melihat itu, mereka tahu jika Olive sudah siuman.
"Syukur deh kalo Olive udah siuman." Gumam Shakila.
"Iya, kita jenguknya besok aja. Biarin hari ini luangkan waktu buat keluarga Olive." Ucap Nisha.
"Setuju. Lagian Olive juga belum sepenuhnya sembuh dan kayaknya Promnight di undur juga." Ujar Shakila.
"Betul sekali. Promnight bakal tetap berlangsung dan semua kembali normal. Tadi Gitta cuman di pulangkan aja. Tapi mulai hari selasa dia kena diskors ditambah sepulang sekolah beresin kelas 3 dan buat Ilona kayaknya gak lama lagi dia bakal milih pindah daripada harus jadi pesuruhnya Gitta. Dia juga cerita kalo sebenernya dia kurang setuju sama idenya Gitta soal bunuh membunuh. Dia juga udah bilang itu ke Gitta. Tapi, Gitta gak dengerin." Jelas Rafa.
"Ta--Tadi bukannya kalian ada dibawah? Kok bisa disini?" Ujar Niesha.
"Lupain aja soal itu. Gua---em... aku cuman tanya ini sekali doang. Kil, kamu mau gak jadi pasangan promnight aku?" Tanya Rafa.
"Hah? Aku? Bukannya kakak udah ada pasangannya ya?" Ucap Shakila.
"Nggak ada. Jadi, kamu mau gak?" Tutur Rafa.
Shakila bingung dan melirik ke Niesha meminta tolong. Namun, Niesha pura-pura tidak tahu.
"Kamu juga Nis, mau gak jadi pasangan promnight aku besok?" Tanya Ryan.
"Hah? Aku juga ehh maksudnya kakak gak salah nih nanya begitu?" Bingung Niesha.
"Kalian belum ada pasangannya kan? Kita nggak terlambat kan buat tanyain hal ini?" Tanya Rafa.
"Belum kok kak, cuman masalahnya kalo Olive gak datang kita juga rencana gak mau datang." Sahut Shakila.
"Tenang aja. Olive pasti datang kok." Ujar Ryan.
"Kakak yakin? Olive butuh bedrest lho." Jawab Niesha.
"Yaudah, kalo kalian nolak gak apa kok." Ucap Rafa.
Rafa dan Ryan beranjak pergi. Namun...
"Ehhh! Kita mau deh." Sahut Shakila.
"Nggak terpaksa kan?" Tanya Ryan.
__ADS_1
"Nggak kok suer ✌️" Jawab Niesha.
"Yaudah sampai ketemu besok sore ya. Ahh! Kalian nggak perlu terlihat cantik banget kok. Natural dan senyaman kalian aja.' Ucap Rafa.
Kila dan Niesha mengangguk malu-malu. Akhirnya mereka masuk kelas, sementara itu di markas keluarga Wiyata. Kevino sedang berkomunikasi dengan bawahannya di negara S untuk membawa Zaylee kembali.
"Bos! Kami tidak bisa menemukan Nona kecil." Ujar salah satu bawahan Wiyata.
"Kau yakin? Sial! Dimana gadis itu menyembunyikan Zaylee. Kita harus bergegas sebelum gadis itu sadar sepenuhnya karena dokter terpercayanya sudah menemukan penawar yang tepat untuk gadis itu sembuh total." Kesal Kevino.
"Saya akan cari sekali lagi tuan. Siapa tahu saya melewatkan---"
BUGGH!
"Apa terjadi sesuatu disana? Mengapa komunikasinya putus tiba-tiba seperti itu." Gumam Kevino.
Ponsel kevino bergetar. Ada pesan beberapa foto dan membuat kevino sangat terkejut. Pertama, foto 10 bawahannya terkapar di lantai dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Kedua, ada sepatu kecil disana. Kevino berfikir tidak mungkin jika yang membunuh bawahannya semua adalah anak kecil. Lalu ada pesan masuk.
[BERHENTILAH MENGIRIM SESEORANG DAN TINGGALKAN AKU SENDIRI. KITA SUDAH TIDAK ADA HUBUNGAN APAPUN! KAMU PEMBUNUH SEDANGKAN AKU PEMBASMI. KITA TIDAK BERADA DI JALAN YANG SAMA, SAMPAI KAU MENGIRIM LAGI AKAN KU PASTIKAN KAU MENDERITA.]
Kevino terpaku di tempat. Pesan itu dari Zaylee-nya, apakah gadis kecilnya sudah tahu semuanya? Apakah dia pura-pura tidak tahu bahwa yang kevino celakai adalah keluarga Nugraha yang melindunginya sekarang? Banyak pertanyaan yang terlintas di pikiran Kevino hingga membuat hatinya sakit.
Bersambung...
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Terimakasih atas dukungan nya 🙏
Terus baca karya ku dan support juga ya...
Jangan lupa Like+Vote+Comment 🙂
__ADS_1
Kalo ada masukan / saran / kritik bisa tulis di comment ya!
Terimakasih ❤️