Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 54 - Bunga


__ADS_3

Aura tuan muda nya berbeda dengan sebelumnya, tidak biasanya Alden akan berbicara lembut. Alden biasanya akan dingin dan membalas seperlunya. Bibik menggelengkan kepala dan tersenyum kemudian menyiapkan sarapan seperti perintah tuan muda nya.


Alden duduk di teras halaman belakang, Alden membuka ponsel nya dan memeriksa laporan terbaru dari Nel. Segera Alden membalas dan memberi perintah kembali. Olive, yang sadar jika Alden sudah duduk di teras pun menatapnya.


Namun, saat Alden melihat Olive. Olive akan berpura-pura untuk tidak melihat Alden. Alden sadar akan hal itu dan tersenyum serta tertawa kecil.


"Nona, samperin tuan." Bisik pelayan satu.


"Nggak. Aku sama kalian aja." Jawab Olive.


"Cieee nona, malu tapi mau nih. Non, itu tuan lihatin kesini terus lho." Bisik pelayan dua.


"Jangan di lihatin balik, biarin aja." Sahut Olive.


Alden yang tau jika Olive sedang salah tingkah hanya dengan melihatnya saja merasa gemas. Pelayan datang membawa minum.


"Tuan muda, ini minum nya." Ujar Pelayan.


"Makasih, ah tolong panggilkan nona. Bilang ada lemon tea gitu." Perintah Alden.


"Baik tuan." Jawab Pelayan.


Pelayan itu menghampiri Olive.


"Permisi nona, di panggil tuan. Katanya ada lemon tea untuk nona." Ucap pelayan ketiga.


"Ouh ya, makasih." Sahut Olive.


"Uhhh.... nona, tuan muda perhatian banget. Sudahlah nona cepat samperin daripada nanti tuan muda yang kesini. Ayo, sana." Ujar pelayan satu di setujui pelayan dua.


"Ish! Awas ya kalian." Ucap Olive sambil tersenyum malu akhirnya Olive pun berdiri.


"Semang---"


Olive balik badan dan menabrak sesuatu. Itu adalah Alden, seketika para pelayan langsung kabur.


"Aduh, kok tiba-tiba nab--- hehe... kak Alden. Baru bangun kak?" Ujar Olive.


"Bukannya kamu udah lihat dari tadi? Ayo, di minum lemon tea nya abis itu sarapan terus kita pergi." Jelas Alden.


"Pergi kemana?" Tanya Olive.


"Rahasia. Sudah ayo, nanti keburu siang." Sahut Alden.


Alden menggandeng tangan Olive menuju teras. Olive wajahnya langsung bersemu merah, pelayan yang tadi mengobrol dengan nya terlihat menggodanya dari jauh.


Sampai di teras, Alden meminta Olive untuk duduk. Setelah Olive duduk, barulah Alden duduk. Alden menyeruput kopi nya.


"Gimana udah merasa lebih baik?" Tanya Alden.


"Sudah kak. Semalam, makasih kak." Ujar Olive.


"Aku nggak melakukan apapun. Beruntung karena cuacanya mendukung semalam jadi kamu bisa luapin semua. Aku cuman sebagai pendengar aja. Aku mau memberi saran pun takut kita tidak sependapat." Ucap Alden dan Olive menggeleng.


"Nggak, kakak selalu bisa buat kasih saran ke aku. Kakak bahkan melewati pertandingan basket kakak demi aku." Sahut Olive.


"Kata siapa? Pertandingan di undur. Karena kemarin kebetulan bukan dari pihak kita aja berhalangan hadir tapi dari pihak lawan juga ada jadwal bentrok. Jadi, basket adalah pertandingan penutup sebelum acara Inti nya di hari sabtu." Jelas Alden.

__ADS_1


"Ahhh, syukur deh kalo gitu." Ucap Olive.


Bibik datang.


"Tuan, sarapan sudah siap." Ujar bibik.


"Oke bik, makasih. Sebentar lagi kita masuk." Sahut Alden.


"Baik tuan." Jawab bibik.


Bibik kembali masuk ke dalam mansion.


"Luka kamu gimana? Masih sakit?" Tanya Alden.


"Iya kak, lumayanlah baru kerasa sakit pegal perih nya tadi pas bangun tidur." Jawab Olive.


"Yaudah, kita sarapan. Setelah itu mandi aku tunggu di lantai bawah jam setengah sebelas." Ucap Alden.


"Kak, tapi aku nggak ada baju." Ujar Olive.


"Tadi Zet antar baju ganti kamu. Kalo kamu kurang nyaman sama baju nya, kamu bisa pilih model lain di wardrobe." Sahut Alden.


"Tapi---"


"Kita sarapan dulu. Nanti keburu dingin. Ayo!" Ajak Alden sambil menggandeng tangan Olive lagi.


Alden menarik kursi untuk Olive duduki, Olive duduk. Lalu Alden duduk di sebrang nya. Olive langsung berdiri untuk mengambil piring dan mengambil nasi kemudian di berikan kepada Alden. Alden pun menerima nya dan tersenyum. Kemudian Olive mengambil untuk diri nya sendiri.


Olive bingung, kenapa Alden tidak mengambil lauk nya.


"Kakak makan nggak pake lauk?" Tanya Olive.


Olive muka nya memerah malu dan tersenyum. Olive mengambil kan lauk yang di tunjuk oleh Alden. Alden hanya menatap fokus ke Olive.


"Kak, berhentilah melihatku." Ucap Olive sambil menendang kecil kaki Alden.


Alden tersenyum kemudian dia pun makan.


"Mulai detik ini kalo kita cuman berdua jangan memanggil ku Kak Cukup dengan nama ku Alden, kau mengerti?" Ujar Alden.


"Tidak mau. Itu tidak sopan tau." Sahut Olive.


"Anggaplah kita seumuran. Aku serius mengatakan ini. Oke?" Kata Alden sambil menatap lurus manik mata Olive.


"Baiklah, akan ku coba. Kamu yang meminta nya." Jawab Olive.


Alden mengangguk dan tersenyum. Mereka melanjutkan sarapannya. Tanpa mereka sadari para pelayan dan anak buah keluarga Fausta menikmati moment langka ini. Mereka berharap jika tuan muda dan Nona muda kedua Nugraha bisa segera bersatu.


"Aku berharap Nona bisa menjadi Nyonya muda Fausta. Ah, pasti sangat ramai mansion ini." Gumam berbisik pelayan itu yang di angguki oleh yang lainnya.


Alden dan Olive selesai sarapan. Mereka naik ke lantai dua, masuk ke kamar masing-masing. Tak lupa Olive mengunci kamarnya. Lalu ia segera mandi, tak membutuhkan waktu yang lama Olive selesai mandi dan memakai pakaian yang dibawakan Zet.


Olive bingung. Sebenernya Alden ingin mengajaknya kemana. Olive memoleskan bedak tipis dan lipbalm untuk pertama kali nya. Olive memakai baju coklat lengan panjang yang memperlihatkan pundaknya dan celana jeans di atas lutut.


Sambil menunggu jam setengah sebelas, Olive mengelilingi kamar tamu itu. Iseng membuka laci dan menemukan sebuah foto Alden bersama seorang perempuan terlihat bahagia. Dibawah foto perempuan itu ada tulisa El. Bukankah egois jika memaksakan kebahagiaan ini? Olive kembali mengingat perkataan Alden saat bertemu di Bar.


Sementara Alden memakai baju coklat tangan panjang namun ia tarik sedikit dan celana jeans panjang. Alden sudah menunggu Olive duduk di sofa. Tak lama kemudian suara terbuka pintu kamar terdengar. Olive menggunakan wedges coklat senada dengan baju.

__ADS_1


Bibik mengode Alden untuk melihat ke arah kiri nya. Saat Alden menengok, Olive sangat cantik. Bahkan Alden tidak mengalihkan pandangan dari Olive. Olive berjalan mendekati Alden dan mencubit lengan Alden kecil.


"Ayo kita pergi." Ujar Olive.


Alden sadar dari lamunan nya. Lalu dia meminta agar Olive duduk lebih dulu. Alden memegang tangan Olive yang di perban, di buka perlahan dan di bersihkan kemudian di pasangkan plester. Alden memperlakukan hal yang sama pada kedua kaki Olive. Alden tahu jika tidak nyaman bepergian dengan perban.


"Ayo berangkat." Ajak Alden menggandeng tangan Olive keluar dari Mansion menuju mobil nya yang sudah siap di depan.


Alden membukakan pintu untuk Olive, setelah olive sudah benar masuk kedalam Mobil Alden menutup pintunya dan berjalan memutari mobil untuk masuk di pintu pengendara. Alden memakai sabuk pengaman lalu menengok ke Olive, Olive langsung memakai sabuk pengamannya juga.


Mereka pun pergi membelah jalanan kota. Alden berhenti di toko bunga.


"Kamu mau ngajak aku kemana sih?" Tanya Olive.


"Kita akan menjenguk Robert, Apa kamu lupa?" Ujar Alden.


"Ya Ampun, tanggal ini. Lalu kenapa berhenti di toko bunga?" Ucap Olive.


"Turun dengan ku, pilih satu jenis bunga untuk kamu kasih ke robert. Tunggu sebentar, aku akan membukakan pintu untukmu." Sahut Alden langsung keluar dari mobil mutar dan membukakan pintu untuk Olive.


Alden menggandeng tangan Olive memasuki toko bunga itu. Olive mengikuti Alden memasuki toko bunga itu. Olive kagum dengan cantik nya bunga, Alden membiarkan Olive untuk berkeliling.


"Mbak, tolong siapkan bunga sesuai dengan daftar ini menjadi buket. Jangan sampai perempuan itu tau. Jika sudah, berikan pada pria yang berdiri diluar. Pembayarannya terpisah." Perintah Alden.


"Baik tuan." Sahut penjual bunga nya.


Daftar Bunga :


Tulip merah


Mawar (Ungu, merah, putih, kuning) Pilih Ungu dan Merah


Agapanthus


Pelayan toko itu kagum dengan pilihan bunga Alden, karena memiliki arti yang sangat mendalam untuk perempuan yang dicintai oleh pria seperti Alden.


Alden menghampiri Olive yang berada di bagian bunga lily. Olive tersenyum sendu, ia tidak mungkin memberikan bunga duka pada adiknya.


"Sudah memutuskan ingin memberi nya bunga apa?" Tanya Alden dan Olive mengangguk.


"Sepertinya bunga Mawar putih, aku akan mengambil delapan tangkai saja sesuai dengan waktu kepergian nya sudah delapan tahun." Jelas Olive.


"Mbak! Tolong buketkan delapan bunga Mawar putih." Pesan Alden.


"Baik tuan." Sahut pelayan toko itu.


"Kamu tunggu di mobil saja. Aku akan segera menyusul." Ucap Alden dan Olive mengangguk.


Olive keluar dari toko langsung di bukakan pintu mobil oleh Nel. Bunga pesanan Alden masuk di mobil yang di bawa Nel dan anak buahnya. Alden membayar secara terpisah. Alden kembali ke mobil dengan membawa pesanan Olive.


Mereka pun berangkat ke pemakaman keluarga Nugraha. Sampai di tempat Robert beristirahat, Olive meletakkan buket Mawar itu.


"Kita impas sekarang, Kamu memberi kakak Mawar merah dan kakak memberikan kamu Mawar putih. Bagaimana rasanya selalu di tengok dengan seseorang yang kamu sukai dek? Reina sangat merindukanmu. Aku? Tidak, aku tidak merindukanmu. Aku hanya rindu kamu selalu mengganggu ku ketika sedang latihan. Jika aku tidak fokus mungkin aku bisa melukaimu. Aku telah melanggar janji untuk tidak menangis. Kamu pasti menertawakan kakak disana. Berbahagialah disana dengan kakek dan nenek. Ah, aku sampai lupa memberi bunga untuk mereka. Berhubung waktu nya sama, anggaplah delapan bunga ini untuk kalian bertiga. Sudahlah, kakak pamit pulang." Ucap Olive.


Tiba-tiba ada suara yang mirip dengan Robert memanggil nama Olive.


"Kak Via." Panggil seorang anak muda.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2