
Alden baru saja tiba di rumah di antar oleh Rafa. Alden lagi malas membawa kendaraan ke sekolah. Karena merasa aneh dengan anaknya ayah memanggil Alden sebelum naik ke atas menuju kamarnya.
"Alden, kita bicara sebentar." Ucap Ayah.
"Iya yah, ada apa?" Tanya Alden yang langsung menuruti perkataan ayahnya. Biasanya Alden akan mengabaikannya atau memprotesnya.
"Kamu lagi kenapa sih? Beberapa hari ini kok aneh banget?" Tanya ayah.
"Emm... nggak tau yah." Jawab Alden.
"Nggak tau apa? Kamu fokus nggak sih? Ada masalah di sekolah? Atau ada masalah sama Olive?" Tanya Bunda.
"Nggak ada. Normal aja kok, udah ya aku capek mau istirahat. Bangunin aku pas makan malam seperti biasa." Sahut Alden seperti tidak ada semangat.
Alden menaiki tangga memasuki kamarnya. Alden bebersih diri dengan asal kemudian tidur. Hingga waktu makan malam tiba. Delia yang seperti biasa akan iseng membuka pintu kamar Alden yang ia ketahui pasti di kunci. Namun, ternyata tidak. Delia cukup kaget saat pintu kamar Alden terbuka.
"Aaaa!" Teriak Delia lari menuju ruang tengah.
"Ada apa sayang?" Tanya Bunda.
"Bun, kamar kakak kebuka. Biasanya selalu di kunci, apa kakak lagi ada masalah? Kakak menakutkan jika aneh begini bunda." Adu Delia.
"Bunda juga nggak tau sayang, biarin aja nanti juga kembali normal." Ucap bunda.
Akhirnya bibik yang membangunkan Alden. Alden langsung bangun dari tidur dan turun ke meja makan. Biasanya mereka akan menunggu hingga hampir sejam, tapi belum ada lima menit Alden sudah turun ke meja makan.
"Ayah, anak mu kenapa sih? Untung bunda nggak ada sakit jantung. Bisa kena serangan berkali-kali." Ucap Bunda.
"Iya bunda, ayah juga gitu." Sahut Ayah.
Alden bahkan tidak protes di bicarakan di meja makan. Biasanya Alden akan bawel protes.
Sementara itu, di rumah keluarga Nugraha. Bibik menuju kamar Olive untuk memberitahu waktu makan malam. Ternyata Olive tidak tidur, dia hanya melamun menatap jendela kamar mengarah ke halaman belakang rumah.
"Non, bangun. Makan malam sudah siap, di tunggu tuan dan nyonya." Ucap bibik.
"Oke bik." Sahut Olive.
Olive berusaha seperti tidak terjadi apapun untuk hari ini hingga minggu. Dirinya harus berfikir positif agar operasi kecilnya nanti berhasil. Olive menuju ruang makan, mama dan bibik memasak makanan kesukaan Olive.
"Wah! Ada apa nih, kok makanan kesukaan aku semua?" Kagum Olive.
"Mama denger kalo kamu lagi capek banget karena kejar target belajar. Jadi, anggap aja kamu charger diri kamu dengan makan semua ini." Sahut mama.
"Makasih mah. Olive pasti bakal belajar giat lagi, oiya oma mana? Tinggal di Mansion bareng opa?" Tanya Olive.
"Iya, di ajak tinggal bareng mereka nggak mau. Katanya nggak bisa pacaran di gangguin mulu." Sahut papa.
Mereka pun makan, sejak memulai makan Olive menahan rasa pusing di kepala nya. Olive tetap tersenyum ketika kedua orang tua nya melihat ke arahnya.
Keesokkan harinya,
Olive maupun Alden hanya di kamar mereka masing-masing. Olive sudah bolak balik kamar mandi sebanyak tiga kali. Semua isi sarapan nya sudah keluar pagi hari itu juga. Rasanya Olive tidak ingin ikut acara makan malam. Tapi, ada opa fausta disana. Tidak sopan jika tidak datang.
__ADS_1
Alden hanya bolak balik antara ruangan nya dan kamar. Dikamar dia diam melihat keluar jendela, di ruangan nya dia Gym namun kekuatannya tidak seperti biasanya.
Waktu terus berjalan hingga waktu acara makan malam tinggal dua jam lagi.
Belinda Olivia Nugraha
Alden Camilo Fausta
Mereka pun berangkat dari rumah mereka masing-masing menuju restoran yang sudah di pesan. Mereka tiba pada saat yang bersamaan, Alden turun dari mobil bergandengan dengan Delia. Kemudian mobil Olive tiba, setelah orang tua olive turun dari mobil ada kak Belden turun lalu mengulurkan tangan untuk membantu Olive turun.
Para orang tua sudah ramai mengobrol dan memasuki restoran.
"Dek kamu yakin nggak mau pulang aja? Muka kamu mulai pucat." Ujar Belden.
"Aku udah janji kak. Sebentar aja, kalo emang aku nggak kuat aku bakal pamit duluan. Aku juga bawa obat sementara." Sahut Olive.
Saat Olive mengedarkan pandangan di lobby ternyata sudah sejak tadi Alden memandangi Olive dengan tatapan terpesona. Begitu pun, Olive ia sangat kagum dengan ketampanan Alden.
"Kakak olive!" Panggil Delia berlari ke arah Olive.
Olive menekuk kaki nya dan memeluk Delia.
"Kamu juga cantik. Eh, kita pake warna gaun yang sama juga." Ucap Olive.
"Wah! Iya kak, yaudah kita masuk yuk. Oma Opa pasti juga udah datang. Ayo kak!" Ajak Delia.
Olive dan Delia masuk ke restoran. Saat Alden ingin masuk juga di tahan oleh Belden.
"Ada apa kak?" Tanya Alden.
"Tolong awasi Olive, gue nggak bisa awasi dia sendiri." Tutur Belden.
"Memang olive kenapa kak?" Tanya Alden.
"Awasi aja. Dia nggak apa kok." Ucap Belden yang mengurung niat untuk memberitahu Alden.
Belden memasuki restoran kemudian Alden pun ikut masuk. Dimeja para orang tua sedang asyik mengobrol. Sampai tidak sadar jika anak dan cucu mereka datang.
"Oma Opa." Sapa Olive dan Delia di ikuti Belden dan Alden.
"Wahh, malam ini cucu kita sangat cantik dan tampan. Ayo duduk." Ucap Oma Fausta.
Saat Olive berjalan ke arah kursi nya sakit kepala nya menyerang membuat jalan nya sedikit oleng seperti ingin jatuh namun dengan sigap Alden menopang nya dan membantu Olive duduk.
Makan malam pun di mulai, mereka asyik mengobrol canda dan tawa. Tiba-tiba saja Olive merasa ingin muntah segera dia lari ke arah toilet. Belden pun khawatir, Alden merasa ada yang tidak beres pun izin ke toilet juga.
__ADS_1
Olive menangis di toilet, Olive merutuki dirinya mengapa ia menjadi selemah ini. Setelah membasuh muka nya, Olive pun berjalan keluar. Olive melihat Alden disana, tapi badan nya sangat lemah hingga akhirnya pandangan Olive tiba-tiba menjadi gelap.
Dengan sigap Alden menopang Olive dan mengguncang tubuh olive, Alden Khawatir dia panik. Segera ia mengangkat Olive untuk di bawa ke mobil menuju rumah sakit.
Para orang tua, Belden dan Delia yang melihat Alden menggotong Olive pun kaget.
"Olive!" Teriak Belden panik lari mengikuti Alden.
Para orang tua pun ikut menyusul dengan Delia menggunakan mobil menuju rumah sakit Fausta.
"Kak sebenarnya Olive kenapa?" Tanya Alden khawatir.
"Nanti lu akan tahu, gue nggak bisa kasih tau lu detail nya. Telepon tomi sekarang." Pinta Belden.
Ya tuan.
Saya menuju rumah sakit, siapkan ruang untuk Olive. Dia pingsan, sebelum pinsan dia sempat muntah di toilet. Cepat!
Baik tuan. Akan saya persiapkan.
Alden menutup telepon nya, ia memandangi wajah pucat Olive yang cantik namun terlihat sangat pucat.
'Kamu kenapa Liv, kenapa kamu bikin aku khawatir setengah mati begini? Kamu minta aku jangan khawatir tapi kamu selalu berhasil bikin aku khawatir sama kamu. Aku akan minta penjelasan sama kamu nanti, bukankah kamu bilang luka mu baik-baik saja? Apakah kamu membohongiku? Kenapa? Mengapa sangat banyak pertanyaaan di otakku tentang kamu. Kenapa kamu selalu bikin aku memikirkan kamu Liv.' Bathin Alden.
Sesampainya di rumah sakit, bukan membawa Olive ke ruang UGD melainkan ke ruang Operasi.
'Ruang Operasi? Apa tomi sudah gila?' Bathin Alden.
"Maaf tuan silahkan tunggu di luar kami akan melakukan yang terbaik." Ucap Dokter Tomi lalu masuk ke ruang operasi.
Tak lama Olive di bawa masuk, para orang tua datang. Awalnya mereka ke arah UGD namun sepi hingga mereka bertanya ke suster tapi mereka di tuntun ke ruang operasi. Mereka terkejut apa yang terjadi dengan Olive.
Mereka pun menunggu selama dua jam, lampu ruang operasi akhirnya mati. Dokter Tomi pun keluar dari ruangan.
"Tom, gimana keadaan cucuku?" Tanya Oma Nugraha.
"Operasi pengangkatan tumor di otak secara menyeluruh berhasil nyonya." Jawab Dokter Tomi to the point.
"Apa maksud kamu?" Tanya mama.
"Sebenarnya, hari rabu tuan Alden dan nona Olive datang ke rumah sakit untuk pengecekan mengenai luka di leher pundak. Ini CT Scan nya. Tulang nona mengalami keretakan karena mungkin pukulannya meleset tidak tepat sasaran. Saya sudah menyarankan untuk terapi seminggu tiga kali. Lalu hari jum'at saya periksa lagi hasil CT Scan secara detail. Ternyata nona ada tumor di otak, untungnya masih stadium satu dan tadi sudah pengangkatan secara menyeluruh. Jadi, tinggal menunggu hasilnya saja." Jelas Dokter Tomi.
Alden yang mendengar itu menyesal tidak selalu berada di samping Olive. Namun seperkian detik dia sadar, memang dirinya siapa? Namun detik berikutnya Alden merasakan sakit hati saat mengingat Olive menangis tadi menahan rasa sakitnya seorang diri.
Belden merasa tenang setelah mendengar penjelasan dari dokter. Para orang tua juga tetap berdoa untuk pemulihan Olive. Tiga puluh menit setelah Olive selesai di operasi dan kondisi nya di nyatakan stabil. Olive pun di pindahkan ke kamar rawat VVIP di lantai sepuluh.
"Oma, Opa, mama, papa, om dan tante sebaiknya pulang beristirahat. Biar aku dan Alden yang menunggu Olive hingga siuman." Ucap Belden.
"Delia mau disini nungguin kakak Olive." Ujar Delia yang masih terlihat habis nangis mata sembab.
"Kamu pulang dan istirahat dirumah. Jagain bunda sama ayah buat kakak. Lihat mata kamu juga merah karena mengantuk. Besok kamu bisa datang jenguk." Pesan Alden.
"Beneran kak? Tapi, kakak Olive pasti bangun kan?" Tanya Delia.
__ADS_1
"Pasti sayang, Olive anak yang kuat." Sahut Bunda yang matanya juga sembab.
Bersambung...