
Baru akan bersiap menyuap makanan, ponsel Olive kembali berdering tertera dilayar Oma sayang Olive langsung mengangkat dan loudspeaker.
Olive? Kamu dimana? Kamu udah nggak mogok bicara lagi kan? Kamu nggak nekat buat nyerang kan? Olive? Halo?
Olive terdiam sambil tersenyum. Alden sudah mengode agar Olive menjawab Oma nya. Namun Olive malah menggelengkan kepala.
Kalo kamu berhenti mogok bicara kayak gini, oma bakal kasih kamu pinjem senjata oma yang kamu penginin sejak lama. Olive?
Olive kaget dan mata berbinar-binar kemudian tersenyum kemenangan. Alden langsung merebut ponsel Olive.
Malam Oma ini Alden, Olive nya masih nggak mau bicara. Kayaknya nggak tertarik lagi sama senjata yang di tawarin.
Ouh gitu, tapi dia angkat telepon nya ini?
Iya Oma setiap ada yang telepon pasti di angkat, Aduh!
Rasain. Oma beneran aku boleh pake senjata Oma? Itu tadi kak Alden iseng.
Kamu udah nggak mogok bicara? Secepat itu?
Iya, ish. Kakak diam dulu. Oma jadi boleh kapan aku pake?
Heum! Nanti Oma kabarin secepatnya.
Yes! Makasih oma, love oma.
Tunggu! Tadi oma ke markas Fausta kalian nggak ada di sana. Kata nya kalian pergi. Kalian nggak---
Oma? Halo? Oma? Disini sinyalnya jelek. Halo?
Halo? Olive? Ya! Kamu---
Olive memutuskan sambungannya.
"Ya! Kamu, matiin panggilan oma begitu saja?" Ujar Alden.
"Ahh, itu kalo di lanjutin bisa ketahuan. Lebih baik aku matiin. Sudahlah makan lagi." Sahut Olive.
Saat Olive ingin menyuap, ponsel Olive berdering lagi.
"Wah! Benar-benar siap--"
Olive langsung mengangkat telepon itu lalu loudspeaker
Ada apa kak? Kak Phia sakit?
Phia hanya perlu di infus saja. Dia demam semalam.
Demam? Tapi, aman kan?
Aman. Ini kamu udah nggak mogok bicara? Alden kamu ngapain Olive kok cepet banget belum seminggu udah ngomong lagi.
Olive Alden terbatuk.
Ng--nggak di apa-apa in kak. Cuman aku sengaja pancing ke halaman belakang markas kebetulan ada bukit. Aku cuman denger dia teriak-teriak aja ngelampiasin amarahnya.
Ouh, gitu doang. Syukur deh sama kamu ampuh. Soalnya gua pake cara itu nggak ampuh tuh. Cuman Robert sama kamu doang. Beruntung banget kamu ya.
__ADS_1
Kak, bisa nggak bahas yang lain aja.
Yang lain mana? Kejadian di kantor direktur rumah sakit atau lift atau lagi mau nyerang sempat-sempatnya pacaran?
Olive yang lagi minum tiba-tiba tersedak. Sedangkan Alden lagi minum nyembur ke samping. Rahasia nya, terbongkar begitu saja. Alden memberikan Olive air putih.
Kakak kalo ngomong bisa nggak sih yang bener dikit. Keselek, sampe ke hidung tahu. Huk.. huk...
Maka nya kalo mau kayak gitu tau kondisi, cari yang gak kena kamera. Untung cuman kakak yang peka. Kalo sampe oma tahu bisa langsung di bawa ke kantor sipil kalian.
"Nggak adek nggak kakak, nyebelin semua. Ish!" Gerutu Olive.
Adek? Kamu kan udah nggak punya adek, robert udah meninggal. Kamu berhalusinasi ya? Kakak jemput ya, kamu dimana?
Olive langsung menepuk kening nya dan menutup mulutnya.
Ahhh, nggak kak. Maksudnya Olive, dia ngebayangin mungkin kalo robert masih hidup dia bakal senyebelin kakak. Mungkin juga efek dari makam juga kak. Kalo nggak salah kan tepat tanggal ini robert meninggal.
Oh ya? Ya Ampun! Kalian datang ke makam? Haduh, kakak lupa banget fokus jagain Phia. Nanti deh kakak cari waktu buat kesana bareng Phia.
Ouh ya kak, besok aku mau ajak kakak sama kak Phia ke taman hiburan. Bisa kan? Sekali ini aja kak. Aku udah pesan tiket. Ya? Kakak tau kan, papa mama nggak pernah ajak kita ketempat begitu. Aku pengin banget kesana, sekalian biar kak Phia nggak bosen dirumah.
Hemm... boleh deh. Jam berapa?
Seriusan kak? Yes! Jam sepuluh kak, langsung ke taman hiburan nya aja.
Oke! Btw, kamu tidur dimana? Kok nggak pulang? Ini udah mau jam setengah sebelas Olivia. Tunggu, kalo kalian di markas. Kalian tidur bareng?!
Olive langsung mematikan loudspeaker nya.
Kak, nanti aku telepon lagi ya. Oke bye kak luv luv!
"Ke---Kenapa lihat-lihat?" Ujar Olive.
"Nggak apa. Lihat aja, kamu cantik kalo lagi salah tingkah gemesh aja." Sahut Alden membuat Olive semakin salah tingkah.
Olive hanya diam dan memakan makanan nya. Alden pindah duduk di samping Olive, Olive baru sadar jika posisi mereka duduk ada di pojok restoran. Jarang di lalui orang atau pelanggan.
"Apa lagi?" Tanya Olive.
"Pengin lihat kamu lebih dekat aja. Lanjutin makan nya." Sahut Alden santai.
"Kak--Ah. maksud aku, kamu bisa nggak sih bersikap kayak biasa? Jangan berubah terlalu cepat gini." Ujar Olive.
"Biasakan dong. Ntar tiap hari kan kita bakal begini terus." Jawab Alden santai sambil tersenyum.
Olive kembali memakan suapan terakhirnya. Kemudian menyeruput minumannya.
"Kita pulang kan? Kamu antar aku ke rumah atau ke markas?" Tanya Olive.
"Kamu mau nya kemana?" Ujar Alden.
"Emm, udah jam segini ke markas aja deh." Sahut Olive.
"Maksud kamu markas Oma Nugraha atau Mansion aku?" Tanya Alden.
"Hemm, terserah kamu aja." Jawab Olive dan Alden mengangguk.
__ADS_1
Alden mengambil tissu dan mengelap pinggir bibir Olive, Olive kaget memundurkan wajah nya. Namun Alden malah memutar kursi Olive agar menghadap diri nya. Olive tersentak kaget.
"Kak---"
Cup!
"Jika sekali lagi aku mendengar kamu memanggilku dengan sebutan itu. Aku benar-benar akan mencium-mu di sini." Ucap Alden melanjutkan membersihkan sisa makanan yang berada di pinggir bibir Olive.
Olive diam menatap lekat pada Alden.
'Dia benar-benar memperlakukan ku dengan baik dan lembut. Aku merasa nyaman dengan setiap perlakuannya kepadaku. Tapi, ini belum cukup untukku. Aku senang Cinta ku terbalas, tapi apakah benar hati nya untukku? Apa dia benar-benar sudah melupakan sahabat kecilnya yang dia tunggu selama ini? Aku hanya bisa menunggu sampai saat itu. Saat perempuan itu kembali, Apakah dia akan tetap memilihku atau memilih perempuan itu. Aku hanya bisa menunggu.' Bathin Olive.
"Apa yang sedang kau fikirkan?" Ujar Alden.
"Ti--tidak ada. Aku hanya senang hari ini, Kakak mengajakku ke makam, lalu menemani ku bertemu robert mendengarkan ceritanya dan mengajakku makan malam seperti ini. Terimakasih kak." Ucap Olive yang kemudian sadar dengan ucapannya.
"Apa tadi kamu memanggilku dengan sebutan Kakak lagi?" Kata Alden.
"Ka---Kamu pasti salah dengar. Aku tidak memanggilmu itu." Jawab Olive gugup.
Alden menarik Olive untuk duduk di pangkuan nya. Membuat Olive terkejut secara refleks Olive mengalungkan tangannya di leher Alden. Wajah mereka sangat dekat.
"Benarkah? Tapi, aku mendengar kamu mengucapkan nya sebanyak dua kali tadi." Bisik Alden.
"Aku---"
Cup!
Alden mencium bibir Olive. Olive refleks sedikit menjambak rambut Alden dan refleks memejamkan matanya. Alden menggigit kecil bibir bawah Olive membuat Olive membuka mulutnya. Alden memanfaatkan untuk ******* Olive lebih dalam. Alden juga menekan tengkuk leher Olive.
Alden maupun Olive terhanyut disana, hingga Alden mendengar ******* kecil dari Olive. Olive merutuki dirinya yang bukan melawan tapi malah menikmatinya. Olive merasa nyaman dan tidak ada paksaan dengan ini. Alden Akhirnya menyudahi itu, bibir Olive sudah cukup bengkak karena ulahnya.
Olive perlahan membuka matanya, memberi jarak antar wajah mereka. Alden tersenyum menatap Olive.
"Aku sudah lama ingin menanyakan hal ini padamu?" Ujar Alden.
"Apa yang ingin kamu tanyakan padaku." Ucap Olive.
"Diantara kejadian di kantor Opa dan di lift. Apakah kamu marah kepadaku saat aku melakukan itu padamu?" Tanya Alden dan Olive menggeleng.
"Aku tidak merasa marah padamu. Aku merasa bingung dan butuh penjelasan mu saat itu. Tapi, aku takut mendengar jawabanmu." Sahut Olive.
"Apa kamu masih ingin mengetahui nya?" Ujar Alden dan Olive mengangguk.
"Aku mencintaimu Nona Olivia Nugraha." Sahut Alden mengusap bibir Olive dengan jempol nya.
"Aku juga ingin menanyakan sesuatu padamu." Ucap Olive.
"Katakan padaku. Aku akan menjawabmu dengan jujur. Aku tidak ingin ada rahasia di antara kita. Jadi tanyakan padaku dan jangan sungkan. Apa itu?" Ujar Alden.
"Bagaimana jika perempuan sahabat kecilmu kembali. Apa kamu akan bersamaku atau kamu akan memilihnya?" Tanya Olive.
"Tentu saja aku akan memilihmu. Apa itu yang kamu fikirkan tadi?" Tebak Alden dan Olive mengangguk.
"Tapi, aku merasa lega karena kamu sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selalu memutar dalam otakku." Sahut Olive.
"Maafkan aku membuatmu jadi tambah beban fikiran." Ucap Alden menyesal dan Olive menggeleng.
__ADS_1
"Tidak apa. Sekarang, itu bukan beban pikiran untukku lagi." Jawab Olive tersenyum.
Bersambung...