
Sementara itu,
Di rumah Reina di dalam kamarnya dia menangis dan menangis. Reina sedikit merasa bersalah karena sudah berbohong kepada Robert orang yang sejak dulu ia cintai.
'Robert maafin aku, Aku harus berbohong saat mengatakan di taman tidak ada kamera pengawas. Maafkan aku Robert karena kamu saat ini benar-benar dalam bahaya. Aku benar-benar menjaadi pengkhianat keluarga Nugraha yang selama ini selalu melindungi aku Hiks... hiks...' Bathin Reina.
Tok Tok Tok
Reina segera tiduran membelakangi pintu kamarnya dan menghadap jendela.
"Dek, bisakah kita berbicara?" Ucap Reno.
Reno setia menunggu beberapa menit mengira jika Reina mungkin akan menyahut ucapannya. Karena tidak ada sahutan dari Reina setelah menunggu hampir 10 menit akhirnya Reno pergi. Namun baru balik badan, pintu kamar Reina terbuka seperti mempersilahkan Reno masuk ke dalam kamarnya. Reno berjalan masuk dan melihat adik nya duduk di kasur menghadap jendela, ia tahu adiknya sedang menangis.
Reno melihat sekeliling ruangan Reina lalu berjalan ke arah rak buku milik Reina kemudian mengambil barang kecil yang Reno tahu itu adalah penyadap yang di pasang oleh orang yang menawan keluarganya. Reno duduk di meja belajar Reina dan membongkar penyadap itu seperti mereset kembali. Reina yang penasaran karena ada suara berisik dari arah meja belajarnya memutar badannya dan terkejut.
Reina melihat Reno membongkar penyadap milik kelompok ular itu dan lupa jika di kantung cardigan yang ia pakai tadi masih ada milik Robert yang sudah tersambung.
"Apa yang kakak lakukan? Bagaimana jika mereka tahu?" Takut Reina.
"Mereka tidak akan tahu, kamu tenang saja." Jawab Reno yang masih pasang kembali penyadap suara itu.
"Bagaimana kakak tahu mereka tidak akan tahu kalo penyadap nya di bongkar?" Tanya Reina.
"Kamu tidak perlu tahu. Yang kamu cukup tahu adalah kakak mu yang bernama Reno ini hanya pengecut yang kabur meninggalkan keluarga nya menderita." Ucap Reno masih sambil konsentrasi.
Reina terdiam.
"Apa maksud kakak mengatakan hal seperti itu? Sebenernya kakak pergi kemana?" Tanya Reina.
"Jalan-jalan dan melakukan hal lainnya." Sahut Reno sambil tersenyum.
Reno sudah selesai bongkar pasang dan merasa puas dengan usaha nya selama beberapa tahun ini di luar negeri.
"Kak... "
"Sudah selesai, mereka hanya tahu penyadap nya di kamar kamu tapi kakak hilangkan rekaman suara nya jadi mereka tidak akan tahu apa yang kita bicarakan di kamarmu. Kakak juga sudah melakukannya di ruang tamu kemudian kamar ayah ibu. Tinggal bagian dapur yang belum kakak bongkar pasang setelah itu kakak bongkar juga bagian toko." Jelas Reno memutar bangku nya menatap sang adik.
"Kakak cari mati dengan mereka? Kakak melakukan hal yang berbahaya asal kakak tahu aja." Kesal Reina yang sejak tadi bertanya tidak mendapatkan jawaban.
"Kalo kakak nggak melakukan ini akan terasa sia-sia apa yang udah kakak lakukan di luar negeri. Sekarang kakak bisa melindungi kalian walaupun agak telat sih, tapi semoga ini bisa berhasil." Ujar Reno.
"Bukankah kakak berfoya-foya keluar negeri? Apa yang sia-sia? Kakak melakukan apa?" Penasaran Reina.
"Kamu tidak perlu tahu, sekarang pergilah tidur dengan tenang. Kamu tidak perlu khawatir lagi mau nangis, mau marah kesal bisa kamu lakukan dengan bebas. Kakak pergi dulu." Pamit Reno sambil mengelus kepala Reina lembut.
"Kak! Kakak..."
Reno sudah menutup pintu kamar Reina. Reina bingung apa yang kakak nya lakukan di luar negeri, yang dirinya tahu kakak nya pergi bersenang-senang dengan teman kuliah tongkrongannya yang kaya raya itu.
***Flashback On **{*Agak panjang ya :) }
Dihari para kelompok ular datang untuk pertama kali ke toko berjualan bakso milik Reina 7 tahun silam. Tiba-tiba ada 7 mobil hitam sedan mewah berhenti berderet tepat di seberang toko bakso milik Reina. Reina yang melihat itu bingung, mengira jika itu adalah dari keluarga Nugraha.
__ADS_1
"Siapa sayang? Kok rame banget?" Tanya Ibu.
"Nggak tahu bu, kayak nya Nugraha nggak sampe narik perhatian gitu tapi nggak tahu deh kalo oma Nugraha yang datang." Jawab Reina.
Orang-orang itu mulai turun dari mobil dan mobil yang berada di tengah di bukakan oleh pengawalnya. Turun lah seorang pria sekitar umur 30 tahun menggunakan jas hitam rapi dan memakai kacamata hitamnya. Reina melihat di tangan pengawal nya yang berbadan besar dan kekar ada tato ular disana. Sudah di pastikan itu bukan dari Nugraha, siapa mereka?
"Bukan bu, sepertinya kkita akan mendapatkan masalah." Gumam Reina.
Ibu melihat ke arah Reina dengan tatapan takut dan Khawatir sekaligus bingung. Sementara itu, Reno dan Bapak datang dari arah dapur karena mendengar ada banyak mobil yang berhenti juga. Kemudian orang-orang itu berjalan memasuki toko Reina.
"Ada yang bisa saya bantu tuan? Ingin pesan bakso yang bagaimana dan untuk berapa orang?" Tanya Bapak siap menyatat pesanan.
"Geledah tempat isi, jangan ada yang terlewat." Perintah orang yang berbaju jas yang diyakini dia adalah bos mereka.
"Baik Bos!" Sahut para pengawal bawahan itu langsung masuk menggeledah toko Reina.
"Hei! Apa-apaan kalian ini?" Protes Reina.
"Tahan mereka dan lanjutkan geledah sesuai perintah." Perintah bos berbaju jas itu.
"Lepaskan! Hei!" Protes Reina.
"Tuan apa salah kami? Lepaskan kami tuan. Kami hanya berjualan saja, tidak ada yang mencurigakan." Ujar Bapak.
"Kalian salah, karena berpihak pada musuh kami. Nugraha." Sahut bos itu.
"Jika kalian memiliki masalah dengan Nugraha, serang saja mereka. Kami tidak ada sangkut paut sama sekali." Kesal Reno.
"Menyerang Nugraha sama saja mencari mati kak, mereka hanya pengecut yang bisa menghardik orang seperti kita." Ketus Reina.
Reina di tampar namun malah semakin marah dan melotot ke arah bos yang menampar nya itu. Tatapannya sangat mematikan dan membuat bos itu sedikit menciut.
"Hei nona kecil! Perhatikan kata-kata mu dengan baik, kami tidak takut dengan Nugraha." Ucap bos itu mendekatkan wajahnya ke Reina.
Reina meludahkan wajah bos itu.
"Pengecut tetaplah jadi pengecut tidak usah bersembunyi!" Marah Reina hingga berhasil lepas dari pengawal yang memegangnya dan melakukan perlawanan dengan menonjok hingga jatuh lalu menendang mereka.
Bos itu terkejut dan Reno Bapak Ibu juga terkejut mengetahui Reina bisa beladiri. Namun Reina kalah jumlah dan kurang konsentrasi hingga tidak tahu ada yang memegang penyetrum sampai akhirnya Reina pingsan tergeletak di lantai. Sebagian pengawal bos itu sudah babak belur karena Reina. Reno merasa jika dirinya juga berontak bisa-bisa membahayakan nyawa kedua orang tua nya. Jadi dirinya hanya bisa memendam kemarahannya saja.
Setelah kelompok ular itu selesai menggeledah dan memasang penyadap diam-diam mereka mengatakan bahwa mereka akan datang setiap waktu sampai Reina sekeluarga berpindah pihak dari Nugraha dan siap mengkhianati Nugraha. Lalu orang itu pergi begitu saja setelah mengatakan hal itu.
"Apa maksud..." Protes Bapak namun ditahan oleh Reno.
Reno mengambil kertas dan pulpen lalu menulis bahwa mereka meletakkan penyadap suara. Bapak terdiam, kemudian membantu Reno menggotong Reina ke kamar nya. Setelah 5 jam lama nya, Reina tersadar dari pingsannya merasa tubuhnya pegal-pegal. Lalu setelah mengingat itu, Reina langsung lari keluar dari kamar istirahat di toko dan mendapatkan hanya kedua orang tua nya saja yang ada disana.
"Kemana kakak pergi? Mereka membawa kakak?" Tanya Reina takut.
Kedua orang tua Reina menggelengkan kepala. Ibu menunjukkan apa yang ditulis Reno tadi, membuat Reina semakin marah. Kemudian menulis juga,
(Lalu kakak pergi kemana?) Tulis Reina.
(Dia bilang ingin menemui teman nya sebentar.) Tulis Bapak.
__ADS_1
(Sudah berapa lama kakak pergi?) Tulis Reina.
(3 jam yang lalu. Kamu pasti lelah, pulanglah dulu ke rumah dan beristirahat kita akan tutup lebih awal.) Tulis Ibu.
Reina tidak membalas dan pergi keluar toko begitu saja berniat untuk melaporkan ini ke Olive. Namun saat sudah sampai di depan gerbang, Reina hanya terdiam ragu apakah pilihan nya tepat atau tidak. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk menyusul ke tongkrongan kakak nya. Namun, tidak ada Reno disana.
"Dimana kak Reno?" Tanya Reina.
"Reno? Dia belum datang kesini, apakah ada masalah?" Tanya teman Reno.
"Tidak ada. Terimakasih." Sahut Reina kemudian berlari pergi kembali ke rumah.
Benar tebakannya jika Reno sedang membobol celengan milik nya kemudian menghitung lalu sibuk mencari di selipan yang munggkin ada uang yang pernah di simpan disana.
"Kakak? Apa yang kakak lakukan?" Tanya Reina bingung.
Reno tidak menjawab malah keluar dari kamarnya dan masuk ke dalam kamar Reina.
"Dek, pinjam uang nya." Ucap Reno.
"Buat apa? Katakan dulu apa yang mau kakak lakukan?" Tanya Reina.
'Reina nggak boleh tahu kalo aku mau pergi ke Germany menemui pakar beladiri sekaligus mafia disana.' Bathin Reno.
"Sudah berikan saja padaku nanti akan aku ganti, cepat!" Ujar Reno.
Reina pun langsung berpikir bahwa kakak nya akan kabur.
"Kakak akan kabur meninggakan kami?" Tebak Reina.
"Iya! Aku tidak ingin menjadi tawanan kelompokan itu, aku harus lari sebelum mereka benar-benar membunuhku. Cepat berikan padaku." Sahut Reno membuat Reina seperti tidak mendapatkan udara untuk bernafas.
Reina hanya diam tak merespon apapun. Akhirnya Reno berlari keluar menuju celengan keluarga nya dan membobol celengan yang sudah mereka kumpulkan sejak awal pertama kali mendapatkan uang jajan. Reina mengikuti Reno dan berusaha untuk menahan agar Reno tidak mengambil uang itu.
"Kak jangan lakukan ini! Kak ini uang ibu dan bapak! Kak!" Protes Reina.
"Jangan ikut campur. Hiduplah kalian disini, jangan pernah mencariku lagi." Ucap Reno setelah mendapatkan uang itu.
Reno pergi ke kamarnya dan memasukkan baju ke dalam tas kemudian menyimpan uang nya sebaik mungkin di dalam tas itu. Kemudian pergi begitu saja tanpa memperdulikan Reina yang sudah menangis karena kelakuan Reno pada ibu bapak dan dirinya.
"Kakak!" Panggil Reina membuat Reno menghentikan langkahnya.
"Jika kakak melangkah satu langkah lagi, aku akan benar-benar menganggap bahwa aku tidak memiliki saudara kandung sepertimu. Ak... Aku akan membencimu seumur hidupku. Aku akan minta tolong kak Olive kak, jangan tinggalkan dan bawa uang itu Hiks... hiks... hanya itu yang kita punya kak. Aku mohon." Pinta Reina sambil menangis.
Reno menahan airmatanya dan menatap lurus kedepan lalu memantapkan langkah nya meninggalkan Reina yang tangisnya semakin deras. Sementara Reno datangi teman-temannya dan memberikan beberapa uang kepada Reno yang awalnya Reno menolak namun teman-teman Reno tetap memaksanya. Bahkan mereka mengantarkan Reno ke bandara.
"Bro, kalo Reina datang bilang aja gua pergi jalan-jalan. Jangan bilang gua..."
"Iya, kita paham kok. Lu tenang aja, Adik dan keluarga lu bakal kita pantau terus kalo keadaan semakin parah gua bakal hubungin lu ke nomor terbaru lu." Ujar Agus.
"Thanks bro! Jaga diri kalian masing-masing, gua pasti bakal bayar kalian lagi nanti." Sahut Reno.
Bagaimana kelanjutan dari Flashback nya? Apakah Reno akan baik-baik saja selama di Germany meninggalkan keluarganya menjadi tawanan? Bagaimana dengan nasib Reina?
__ADS_1
Bersambung...