
Mansion Clarke ☠️
"Bagaimana kondisi pasti di lokasi Sera sekarang? Sudah di mana anak kecil itu?" Tanya Seorang Pria itu.
"Sejauh ini, hanya Robert yang menuju kesini tuan. Kita belum berhasil merentas keberadaan yang lainnya apakah keluarga Nugraha bergerak atau tidak." Sahut Jer.
"Cari tentang anak kembar itu. Aku berfirasat buruk dia melakukan tindakan awal, jangan sampai posisi kita ketahuan atau semua akan mati." Perintah pria itu.
"Baik tuan akan saya lakukan. Lalu, tuan tentang nona Sera..."
"Lupakan saja. Dia akan tertangkap basah oleh suaminya, Tio karena melakukan hal ini kepada keponakannya. Perempuan itu sangat ceroboh, hapus semua kerja sama antara kita dan Sera jangan sampai ada bukti yang mengarah pada kita. Semua akan sia-sia jika ketahuan." Pinta pria itu.
Tiba-tiba seseorang memasuki ruang pria itu...
"Kakak! Kenapa datang tidak kabari aku?" Tanya Yumi.
"Tidak ada hal penting yang akan aku lakukan sekarang. Aku hanya memantau gerakan Nugraha dari dekat saja. Bagaimana kabar kamu dan Quira?" Tanya Pria itu.
"Oh, kak Quira sedang dalam perjalanan kesini dengan kak Sam. Mereka akan segera tiba." Sahut Yumi.
"Aku tidak menanyai pria ceroboh itu. Bagaimana dia tidak bisa membedakan Wiyata asli dan Palsu, sebelumnya bukankahh sudah aku beritahu." Kesal pria itu.
"Kak Ibrano tahu jika Wiyata yang bersama kami adalah palsu? Kenapa tidak ada yang memberitahuku juga?" Bingung Yumi.
"Jer, apakah kita menginfokan kepada orang yang salah? Kenapa mereka tidak tahu seperti ini? Celaka! Apa kita juga ketahuan jika berada di Negara dominan Nugraha Fausta?" Tebak asal pria itu.
"Saat itu, kita benar mengabari mereka tuan. Saya meminta bawahan terpercaya untuk terbang ke negara ini, setelah itu tidak ada kabar lagi bahwa dia kembali ke markas pusat sama sekali." Jawab Jer.
"Kamu yakin?" Tanya Ibrano.
"Sangat yakin tuan, Bahkan jika dia terbunuh oleh musuh seharusnya kita tahu hal itu. Tapi coba saya akan pastikan lagi apakah dia benar masih hidup atau sudah mati tuan." Ujar Jer.
__ADS_1
"Tidak perlu. Lupakan saja dulu, Kita urus masalah anak kecil itu, bagaimana apakah kalian sudah mendapatkan lokasi dari anak kembar itu?" Tanya Ibrano.
"Belum ada terdeteksi pergerakan apapun tuan." Sahut pengawal yang mencoba merantas keberadaan keluarga Nugraha ataupun Fausta.
"Sepertinya itu tidak mungkin. Biar aku saja yang merantasnya, kalian benar-benar tidak berguna." Kesal Ibrano.
Ibrano mulai berkutat mencari sendiri keberadaan musuhnya. Namun, Nugraha dan Olive sangat pintar dalam melindungi datanya. Sejak kejadian kematian Robert sang cucu dulu, Nugraha memperketat keamanan nya berkali-kali lipat agar tidak kehilangan orang yang berharga untuk mereka lagi. Jika bukan karena orang dalam, Bibi Sera semua akan aman. Setelah tahu bahwa Sera benar ada dibalik kecelakaan yang menghilangkan nyawa adik dari Vino. Nugraha kembali memperketat penjagaan lagi terhadap keluarganya.
"Si*al! Tidak mendapatkan apapun." Marah Ibrano.
Tiba-tiba ada yang datang tanpa mengetuk pintu itu membuat Ibrano semakin naik pitam dia segera berdiri dan mengarahkan ke pintu. Di ambang pintu berdirilah Quira dan Sam sambil mengangkat kedua tangannya karena pistol mengarah kepada mereka.
"Kak tenanglah. Itu kak Quira dan kak Sam, Kakak juga yang meminta kami untuk berkumpul." Ucap Yumi untuk menenangkan Ibrano.
"Kak kenapa?" Tanya Quira pelan.
Ibrano menurunkan pistolnya dan meletakkan di meja.
"Kakak bisa bertanya pada perempuan tua itu. Bukankah dia ada di gudang terbengkalai untuk menjebak tuan muda kecil Nugraha disana?" Tutur Sam.
"Kamu benar juga." Jawab Ibrano.
Disatu sisi situasi dari Robert yang sedang beristirahat di sebuah penginapan kecil masih daerah kekeuasaan Wiyata.
"Tuan. Jangan lakukan hal ini, saya mohon tuan. Saya sudah mendapatkan kabar jika Tuan Tio segera sampai ke lokasi Nyonya Sera berada. Biarkan dibicarakan secara kekeluargaan terlebih dahulu. Kita tidak tahu apa yang Tuan Tio punya untuk membujuk Nyonya Sera menyerahkan Nona Reina berhasilkan? Kita harus menantikan itu, Jika memang tidak berhasil biarkan saya ikut mengorbankan nyawa saya untuk menyelamatkan Nona Reina." Pinta Prass.
"Kau sudah bosan menjadi asisten kepercayaanku?" Tanya Robert dengan setengan ngambek.
"Bukan begitu tuan. Tapi, saya juga tidak tega melihat Nyonya Tuuan besar jika mereka mendapatkan anak dan cucu nya ikut perang ini." Jelas Prass.
Tiba-tiba telepon Prass berbunyi. Telepon masuk dari Zet.
__ADS_1
APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1