Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 32 - Kejadian sebenarnya


__ADS_3

Untuk kali ini, ini terakhir Alden mengabaikan rasa di hati nya dan menuruti fikirannya. Mereka sudah menunggu satu jam setengah, tiba-tiba tangan yang di genggam Phia jemari Olive bergerak.


"Mah, panggil dokter." Pinta Phia.


Mama yang duduk di sisi sebrang Phia segera menekan tombol. Tak lama itu, dokter datang memeriksa Olive keseluruhan.


"Gimana dokter?" Tanya Phia.


"Semua aman. Nona Muda kedua keluarga Nugraha sudah siuman dari pasca setelah operasi." Jelas dokter.


Semua merasa lebih tenang.


"Syukurlah." Gumam Phia yang tersenyum menatap Olive.


"Jika ada keluhan apapun, beritahu kami. Tekan tombolnya dan kami akan memeriksa itu." Ujar dokter.


Olive mengangguk. Olive masih harus menggunakan selang yang menusuk hidung nya dan infus. Dokter pun pamit undur diri. Sejujurnya Olive merasa tidak nyaman dengan gips tapi apa boleh buat kalo dia protes yang ada malah di omelin.


"Olive, setelah kamu merasa lebih baik ceritakan semua nya secara detail kepada kami. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa kamu sudah tau jika ambulance itu sudah di pasangi alat peledak?" Ujar Opa dan Olive mengangguk.


"Kamu mengorbankan diri walaupun tau itu akan terjadi seperti ini?" Tanya Oma dan Olive mengangguk lagi.


"Jika kalian sadar, aku selalu membelakangi monitor atau menutupi monitor. Karena tepat saat itu sedang ada yang memasang peledak di dalam mobil ambulance diam-diam lalu supir beserta perawat yang mambawa juga bukan aslinya." Jelas Olive.


"Lebih perketat keamanan rumah sakit ini. Jangan sampai kebobolan untuk kedua kalinya. Aku tidak terima cucu ku menderita seperti ini, aku harus membuat perhitungan dengan orang itu." Tegas Oma memberi perintah.


"Tidak perlu, kita memiliki apa yang paling dia sayangi sekarang. Selama itu di tangan kita semua akan terkendali." Ucap Olive.


"Bagaimana kamu bisa tau itu dek, jika kamu sebelumnya sudah mengancam pasti dia tidak akan sampai berbuat seperti ini padamu." Sahut Belden.


"Kakak benar. Tapi---"


"Untuk sekarang kamu fokuslah untuk sembuh dulu. Lihat badan kamu, penuh perban bahkan harus pakai gips. Jangan memikirkan apapun, biar Opa papa om Gibran kak belden dan Alden yang mengurus ini." Potong Phia.


"Tapi kak---"


"Beberapa jam yang lalu aku merutuki kamu, kalo sampai akhirnya kamu yang ninggalin aku di dunia ini bukankah kamu sangat jahat padaku? Setelah aku pulih malah kamu yang pergi." Kesal Phia.


"Baiklah, aku akan fokus untuk sembuh." Sahutku menyerah berdebat dengan kak Phia.


"Kalau begitu kami akan pulang untuk memberimu ruang istirahat total. Nanti malam aku dan kak belden akan datang mengantar beberapa pakaian untuk beberapa hari kedepan." Ujar Phia dan Olive mengangguk.

__ADS_1


"Kamu nggak apa kan sendiri?" Tanya papa.


"Nggak apa pah, lagian kalian nggak mungkin pyur ninggalin aku sendirian sekarang pasti ada pengawal bayangan." Ucap Olive.


"Wah! Kamu seperti membaca fikiran oma sayang. seratus buat kamu." Ledek Oma.


"Sudah, kalian pulang dan beristirahatlah sekarang. Jika ada apa-apa pasti Dokter juga akan memberitahu kalian." Ujar Olive.


Akhirnya satu persatu semua pulang. Namun tidak dengan Alden, saat sudah di parkiran.


"Bun, aku disini aja ya. Aku akan pulang ketika kak belden dan Phia datang nanti." Izin Alden.


"Baiklah, jaga diri kamu baik-baik ya." Sahut Bunda.


Setelah semua pulang, Alden hanya duduk di lorong luar kamar. Sebenarnya ia tadi juga melihat ada gerak-gerik aneh dari beberapa suster di sini. Ia hanya ingin lebih memastikan bahwa Olive benar-benar aman.


Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Tiba-tiba ada sekelompok datang seperti ingin menuju kamar rawat Olive. Saat orang itu ingin membuka gagang pintu.


"Hey bung! Siapa anda?" Tanya Alden.


"Saya kawan dari saudari Via." Jawab orang itu.


"Saya lupa, tapi kami sangatlah dekat. Tidak bisa di pisahkan." Jawab orang itu di luar topik.


"Kalo anda ingin masuk lewati dulu mayat saya, om lapar." Tebak Alden dan dia terkejut.


Dalam sekejap sekelompok itu sudah dalam kepungan pengawal gabungan keluarga Fausta dan Nugraha.


"Atas dasar apa lu larang-larang gua buat jenguk orang?" Tanya Orang itu sangat emosi.


"Hahahah! Tentu saja saya punya hak. Memangnya om tidak baca ini rumah sakit milik siapa? Apa anda tidak mengenali saya? Ah, mungkin anda pernah mengenal nama samaran ini *Malaikat kematian* apa itu cukup?" Ucap Alden berjalan mendekati orang itu yang mulai berjalan mundur karena sadar siapa lawannya.


Alden tersenyum smirk melihat tubuh gemetar musuhnya.


"Bawa mereka pergi dari sini dan singkirkan nama suster perawat yang akan aku kirimkan. Mereka memiliki mata-mata disini." Perintah Alden tegas.


Olive yang merasa penasaran pun menelepon Alden. Dia khawatir. Alden yang mendapat telepon itu segera membuka pintu kamar rawat takut terjadi apa-apa dengan Olive.


"Ada apa? Ada yang sakit?" Tanya Alden.


"Seharusnya aku yang menanyakan itu, ada apa ribut-ribut di depan kamar? Siapa yang datang kak?" Ujar Olive.

__ADS_1


"Om lapar dan anak buah nya." Jawab Alden


Jawaban Alden seketika membuat bulu merinding Olive berdiri. Jujur saja, sebenernya Olive agak trauma dengan kejadian ambulance kali ini. Tapi, tetap harus menjadi tameng untuk melindungi kembaran nya.


Alden tau jika kali ini, kecelakaan itu membuat ada trauma untuk Olive. Hatinya mengatakan untuk selalu melindungi Olive mulai sekarang.


"Kenapa dia datang?" Tanya Olive.


"Dia bilang mau jenguk kamu." Jawab Alden.


"Berarti dia tahu kalo aku selamat dan rencana nya gagal?" Ujar Olive dan Alden mengangguk.


"Otomatis dia akan membuat rencana yang lebih ekstrim lagi dari ini. Jadi, kamu harus lebih kuat." Sahut Alden.


"Apa dia sudah pergi?" Tanya Olive.


"Kita tunggu saja laporan dari pasukan pengawal di rumah sakit ini." Jawab Alden.


Walkie-talkie Alden berbunyi.


"Tuan lapor. Situasi sudah kembali aman, apakah orang tadi adalah musuh nona muda kedua?"


"Ya, mulai hari ini dia menjadi musuh untuk kita juga jadi. Kalian harus ingat wajah orang-orang tadi jangan sampai mereka lolos masuki rumah sakit ini. Mengerti?"


"Baik tuan. Akan kami laksanakan!"


"Kak, seharusnya kakak bawa aku ke rumah sakit keluarga aku saja agar tidak menyangkut pautkan kakak dengan pria itu." Ucap Olive merasa bersalah.


"Aku sudah bilang berkali-kali, jangan sungkan dengan masalah apapun. Orang tua kita adalah kerabat dekat. Sudah seharusnya rumah sakit ini ataupun milik keluarga mu itu sama saja. Jangan di fikirkan lagi, kamu fokuslah untuk segera sembuh. Sebentar lagi acara utama Promnight sekolah kita harus hadir di acara itu." Kata Alden.


'Aku yang merasa tidak nyaman karena secara tidak langsung kakak seperti menerima aku sepenuh hati. Padahal tidak begitu, aku benci selalu berharap pada harapan yang kosong hampa seperti ini.' Bathin Olive.


Olive hanya mengangguk tanpa merespon lebih. Alden merasa tidak puas dengan respon Olive, karena tidak seperti biasanya.


'Apa yang sedang ia fikirkan? Kenapa respon nya seperti itu tidak ada protes seperti biasanya. Apa aku terlalu menekan nya? Apa ada yang salah dengan ucapan ku?' Bathin Alden.


'Sudahlah buat apa memikirkan nya. Olive singkirkan harapan kosong mu itu, kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan nya. Untuk sikap nya ini, anggap saja ia seperti itu kepada semua perempuan yang di tolong nya. Tidak ada yang special.' Bathin Olive.


Mereka berdua sibuk dengan fikiran masing-masing sehingga ruang kamar terasa sangan sunyi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2