Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 86 - Kamar Rawat


__ADS_3

Alden izin untuk keluar bertemu dengan nel. Ingin dibawakan baju.


"Aku ketemu sama nel bentar ya, kamu gak apa kan sendiri?" Tanya Alden.


"Kamu cuman keluar pintu itu aja, bukan pulang kerumah." Sahut Olive.


"Maksud kamu, aku gak boleh pulang kan?" Goda Alden.


"Ish! Mulai deh. Sana temuin Nel dulu, kalo ada kak phia bilangin aku minta di seka gitu." Ucap Olive.


"Yaudah tunggu sebentar." Jawab Alden.


Saat Alden buka pintu ternyata para keluarga sudah berdiri di depan pintu. Alden Olive saling tatap salah tingkah.


"Ka--kalian sejak kapan datang?" Tanya Olive.


"Baru kok. Baru banget ya kan?" Sahut Bunda.


"Iya baru sejam yang lalu." Lanjut Oma Fausta.


Wajah Olive memerah karena malu.


"Kakak, kakak kenapa? kok merah? kakak demam?" Tanya Delia menghampiri Olive.


"Hah? Ahh... Hahaha." Kikuk Olive sambil menatap Alden meminta pertolongan.


"Dek, temenin kakak ke kantin yuk." Ajak Alden.


"Nggak ah. Aku mau jagain kak Olive. Kak, kok kakak bisa sih berlawanan sama perempuan jelek semalam. Bukan level kakak, kakak tuh ada jauh di atas dia. Jangan temenan sama dia lagi ya? Kakak jadi luka gini." Ucap Delia.


"Emm... iya." Jawab Olive.


"Kak Alden juga, masa gak peka sih kalo ada yang targetin kak Olive. Gimana kak olive bisa jadi kakak ipar aku kalo kakak gak bisa jaga." Kesal Delia.


"Kemarin aku juga kecolongan kok. Habis masalah kevino kepala aku agak pusing karena belum bener sembuh, aku gak ngerasa ada orang mencurigakan masuk. Aku kira Zet atau bawahan yang lain. Ternyata pas balik badan ya gitu deh." Jelas Olive.


"Kita udah lihat rekaman cctv ruangan itu. Semua udah di serahkan juga ke kantor polisi buat ditindaklanjuti. Jadi sekarang kamu aman, udah gak ada yang bisa sakitin kamu lagi." Ujar Opa Nugraha.


"Opa kasih kesempatan buat dia sekali lagi. Umurnya masih terlalu muda buat masuk penjara, nanti gimana masa depannya?" Tolak Olive.


"Sayang, semalam dia itu sama sekali gak ada rasa bersalah dibawa ke kantor polisi juga. Ngapain kamu belas kasihan sama dia. Yang ada kamu bisa hilang nyawa kalo lawan orang begitu. Darah kamu udah ke kuras lho, coba dari awal kamu kekurung di gudang terus bolak balik masuk rumah sakit sampai koma. Demi kebaikan kamu, ya?" Jelas mama.


Olive akhirnya setuju. Olive tidak ingin keluarga nya terus menerus khawatir. Toh masa depan Gita juga bukan urusannya, karena dia sendiri yang bikin masalah.


"Kamu mau seka kan? Aku siapin dulu air hangat nya, kata dokter yang luka belum boleh sama sekali kena air." Tawar Luna.


"Iya kak." Sahut Olive.


"Nah, yang lain bisa keluar sebentar. Biar Olive nyaman di seka. Alden, kamu pulang gih mandi nanti sore baru ke sini lagi. Bunda udah minta tolong bibik buat masak." Pinta Ayah.


"Iya Yah. Kalo gitu, Alden pulang sama Nel gak apa kan?" Tanya Alden.


"Tentu aja. Jangan lupa bawa baju biar gak pulang. Kayak nya gak tega banget ninggalin Olive." Goda Belden.


"Kakak... " Rengek Olive.


"Yaudah kalo gitu Alden pergi dulu." Pamit Alden.


"Ehh, kok gak pamitan sama ayank." Goda Oma Fausta.

__ADS_1


"Oma... " Rengek Alden dan Olive bersamaan.


"Tuh kan barengan." Goda Opa Nugraha.


Olive pun diam kemudian Alden pergi. Tersisa di dalam ruangan Olive hanya Luna. Luna menseka Olive dengan lembut.


"Gimana rasanya?" Tanya Luna.


"Rasa apa kak?" Tanya Olive balik.


"Di suapin." Sahut Luna membuat Olive melotot dan pipi nya memerah.


"Wah! Kalian... Kalian... Ahh! Kak, semua nya denger? Nggak kan? Kakak aja kan?" Panik Olive.


"Semua nya lah. Kan datang nya janjian di waktu yang sama, eh ternyata dapat kejutan tak terduga." Ujar Luna.


"Ish! Kakak serius? Oma sama Opa nggak marah kan? Astaga, maksud aku--"


"Mereka malah senang banget. Jadi, gak sia-sia harus deketin kalian buat terima perjodohan. Alden mantu terbaik Nugraha pokoknya." Ledek Luna.


Olive menutupi wajahnya yang memerah malu sedangkan Luna tertawa melihatnya. Selesai Luna menseka Olive, mengganti baju rumah sakit. Olive terlihat lebih fresh.


"Dek, ini kenapa bisa berdarah gini? Kamu ngapain tadi?" Tanya Luna.


"Aku bingung. Tadi Alden sempet ngambek tapi itu bukan darah kok. Kayaknya betadine deh kak." Jelas Olive.


"Bisa nggak sih jangan banyak gerak dulu? Kamu itu baru bener-bener operasi kemarin lho dek. Diam dirumah sakit kan gak lama, rabu kamu bisa pulang kalo gak banyak gerak." Ucap Luna.


"Iya kak, maaf." Sahut Olive.


"Aku serius lho dek, kalo kamu terus-menerus kayak gini aku bakal minta persetujuan oma biar kamu dikirim ke negara H aja. Disana udah bener wilayah kita. Nggak ada permusuhan apapun kayak disini. Dengan sikap kamu yang masih labil kayak gini, oma mungkin bakal setuju banget. Kamu ngerti?" Ujar Luna.


Setelah selesai, Luna mempersilakan yang lain untuk masuk menjenguk Olive. Kali ini, Olive menurut hanya diam dikasur dan tidak banyak gerak seperti janjinya pada Luna. Setelah banyak mengobrol, sudah waktunya Olive untuk makan siang dan minum obat.


"Oma, Opa, Mah, Pah, Bunda, Ayah pulang aja. Kesehatan kalian juga penting, kalo kalian sampe sakit karena kurang istirahat aku bakal salahin diri aku nih." Ucap Olive.


"Jangan gitu dong sayang, kita masih betah kok disini." Sahut Opa Fausta.


"Kalian juga butuh istirahat. Sekarang udah gak perlu takut apa-apa lagi. Kan Wiyata ataupun Clarke udah di tangkap. Aku sendiri juga gak apa dirumah sakit. Kalian juga harus makan, kalo telat makan kalian bisa sakit." Jelas Olive.


"Apa yang di bilang Olive ada benarnya. Kalian kan masih harus ngurus dokumen buat perpindahan jabatan ketua mafia. Itu butuh energi yang banyak." Ujar Belden.


"Nggak perlu khawatir keadaan aku, disini ada suster dan pengawal kalian. Apalagi pesta semalam, kalian pasti masih capek kan? Aku beneran gak apa." Jelas Olive.


"Yasudah kalo gitu, besok oma bisa jenguk lagi. Kamu juga pasti butuh istirahat full biar bisa cepet pulang dan bisa kejar ketertinggalan pelajaran sekolah kamu." Kata Oma Nugraha.


Akhirnya semua pulang, tinggal Olive sendiri. Tetapi, Zet dan beberapa pengawal berjaga di depan ruangan. Suster masuk mengantar makanan dan dokter tomi juga menjelaskan obat yang harus diminum Olive.


"Dokter, bisa gak obatnya yang cair aja. Pahit gak apa, tapi jangan bentuk tablet ataupun capsul. Aku janji bakal habis, tapi jangan bentuk itu. Lebih pahit menyiksa gapapa dokter." Kata Olive.


"Yaudah, nanti saya buatkan ya nona. Kebetulan ada obat sekali minum, obat herbal gitu tapi ini pahit banget." Ucap Dokter.


"Nggak apa dokter. Beneran gapapa, aku malah suka nya yang begitu." Sahut Olive.


"Tapi efeknya mungkin kuat nona, bisa sampai mual." Ujar Dokter.


"Nggak apa dokter. Seriusan, gak apa." Jawab Olive.


"Yaudah nanti saya minta salah satu pengawal buat bawain ke nona." Ucap Dokter dan Olive mengangguk.

__ADS_1


Olive memakan makanannya yang hambar. Sebenernya Olive agak hilang nafsu makan karena selalu mendapat makanan yang sama dan hambar. Olive ingin makan nasi atau bubur lain. Tapi apalah daya, memang ini yang di anjurkan dokter.


Di rumah Fausta~


Alden baru selesai mandi, setelah ngobrol di gym dengan Rafa Ryan. Lalu melihat keluarganya pulang pun bingung.


"Bunda, kok udah pulang? Olive sama siapa?" Tanya Alden.


"Sendirian. Maksudnya ada Zet sama beberapa pengawal." Jawab Bunda.


"Emang gapapa begitu? Kok gak ngabarin Alden sih? Kan Alden bisa berangkat lebih awal." Ucap Alden.


"Biarin Olive istirahat. Kalo ada kamu yang ada Olive nya ngobrol, nanti aja jam 5 kamu baru ke rumah sakit." Sahut Oma.


"Tapi, gimana kalo---"


"Olive pasti aman, kan wiyata sama clarke udah di penjara. Udah nggak ada yang bisa sakitin Olive lagi, percaya sama opa." Kata Opa.


"Iya, kamu istirahat aja tidur dulu. Nanti jam 4 di bangunin." Ujar Ayah.


Akhirnya Alden menuruti usulan keluarganya. Alden ke kamar dan berusaha untuk tidur, tapi fikirannya tidak tenang. Terus memikirkan keadaan Olive, saat ingin menelpon Alden ingat jika ponsel Olive di sita.


Sementara dirumah sakit~


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2