Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 29 - Olive sebenarnya


__ADS_3

Alden tidak mengira jika Olive akan lebih killer di banding diri nya, pantas saja para orang tua tadi sangat melarangnya.


"Telepon orang itu dan sambungkan pada nya aktifitas gadik kecil cantik kesayangannya ini." Perintah Olive.


Olive mengambil tempat seperti berada di sebuah kantor. Dia Video call.


Hai om lapar? Apa kamu benar anak nya om lapar itu? Mengapa jelek sekali?


Punya nyali juga kamu Video call saya. Lihat apa yang saya pinta lakukan kepada anak buah saya.


Video itu menampakkan bahwa anak buahnya sudah mengepung rumah yang sekarang sedang di datangi oleh Olive.


Hooh! Ihhh... takut om. Tapi aku juga punya hadiah menarik buat om. Tampilkan!


Olive menampilkan kamera yang mengamati setiap gerakan gadis cantik kecil disana. Tiba-tiba ada seorang pria mendekati gadis itu.


Jangan! Hentikan itu sekarang!


Ouh? Belum juga mulai kok sudah minta mundur om? Om tau kan keluarga om sudah menculik dan membuat salah satu keluarga Nugraha harus kehilangan seseorang. Om lapar dengar berita itu kan? Jangan curang dong om.


Oke! Gua bakal tarik mundur pasukan gua. Jauhin gadis kecil itu. Sekarang!


Weits! Galak amat om. Tadi mau nembak saya kok sekarang menciut? Kaget ya om, gadis yang waktu itu di culik keluarga om lapar ternyata selicik ini? Terima kasih pujian nya om.


Cuih! ****** tetap aja ******! Kali ini gua mungkin mundur tapi nggak ada lain kali.


Hemm... kalo begitu ucapkan selamat tinggal pada gadis kecil cantik mu itu untuk selamanya. Bye om lapar!


Olive menutup telepon itu.


"Kamu nggak akan membunuh gadis kecil itu kan?" Tanya Niesha.


"Tak akan. Via nggak akan melakukan itu." Jawab Phia tiba-tiba.


Olive segera berlari ke kasur menggenggam tangan kakak nya dengan mata berkaca-kaca.


"Dokter! Ya! Dokter!" Teriak Olive.


Dokter Ritter datang beserta suster nya untuk memeriksa keadaan Phia. Dokter sedang memeriksa keadaan Phia sedang Olive dan yang lain menunggu di luar.

__ADS_1


"Apa keluarga mu tahu tentang ini?" Tanya Alden dan Olive menggeleng.


"Seharusnya kak Phia di rawat di rumah sakit Nugraha di negara S sana. Bareng dengan Opa dan Oma. Namun, karena aku tidak tenang jadi aku membawa nya kesini diam-diam. Karena om lapar itu ada di negara S waktu itu." Jelas Olive.


"Lalu sekarang gimana kamu memberitahu keadaan ini dengan orang tua mu?" Tanya Alden.


"Aku akan menjelaskan secara detail ke mereka beserta alasannya. Besok atau Lusa aku akan membawa kak Phia ketemu mereka." Sahut Olive.


"Secepat itu?" Tanya Alden.


"Iyalah kak, dia nggak mungkin memundurkan pasukannya semua. Dia itu licik kak. Aku nggak bisa melindungi kak Phia jika sudah siuman seperti ini. Terlebih, trauma kak Phia akan muncul kapan pun di mana pun pada waktu yang tidak tertentu." Jawab Olive.


"Maksud kamu?" Tanya Alden.


"Kak, kak Phia itu sudah hancur separuh hidup nya. Luka di bagian sana lumayan cukup parah karena pemerkosaan paksa itu. Terlebih dia adalah anak di bawah umur. Kak Phia bukan orang normal seperti kita lagi, bisa di katakan jika kak Phia sudah setengah Gila." Jelas Olive.


Alden dan yang lain terkejut mendengar penjelasan Olive. Tak lama itu dokter keluar dari ruangan.


"Gimana dok?" Tanya Olive.


"Stabil untuk sekarang, nona muda." Sahut Dokter Ritter.


Alden di tarik oleh kedua teman nya.


"Bos, lu yakin mau ninggalin perempuan hebat kayak gitu? Gila sih bos, dia perempuan tegar banget. Kalo gua di posisi dia gua udah nangis walaupun gue laki. Malu sih bos, tapi perjuangannya itu lho sampe hampir 3th koma. Dia pasti pengin banget nangis bos, apalagi ini saudara kembar yang bisa saling merasakan satu sama lain." Bisik Rafa.


"Iya bos, jangan sia-siakan perempuan sehebat dan setegar ini. Walaupun kalo marah tetap sih sereman perempuan. Tapi, kalo udah jadi nyonya bos kan pasti menyurut tuh."Bisik Ryan.


Alden yang mendengar itu menggelengkan kepala. Alden melototi kedua temannya.


"Gua akui kalo lu hebat bisa sefeminim itu. Tapi, lu bakal keluar tameng ketika orang yang lu sayang di sakiti. Sahabat gua the best, gua nggak nyesel kenal lu." Kagum Niesha.


"Bener tuh, mau lu ungkap atau nggak tentang keluarga lu. Gua sama Niesha bakal selalu support apapun yang lu lakuin karena gua tau lu udah fikirkan dengan matang. Walaupun nanti ada penyesalan datang tapi gua yakin pilihan lu terbaik dan tepat." Ucap Shakila.


"Gua juga bakal berusaha buat jaga kalian berdua. Karena secara nggak langsung kalian ter expose dan mereka tahu kalian bagian dari orang yang gua sayang. Gua nggak akan gegabah memilih keputusan. Semoga." Sahut Olive.


Olive dan yang lain masuk kembali ke dalam kamar Phia.


"Kak, gimana keadaannya?" Tanya Olive

__ADS_1


"Seharusnya kakak yang tanya itu, kamu nggak apa kan? Ini udah tahun ke berapa kakak ninggalin kamu sendiri di dunia kejam ini? Hem?" Ujar Phia dan Olive menggeleng.


"Kakak nggak salah, jangan salahin diri kakak ya. Aku beneran baik-baik aja sekarang. Mau kakak tinggalin aku selama apapun juga nggak apa yang penting raga kakak masih ada walaupun aku berharap supaya kakak cepat sadar tapi aku nggak mau kakak menderita lagi. Cukup aku aja kak." Jawab Olive gemetar menahan air mata nya.


Phia mencubit hidung Olive dengan telunjuk dan jari tengah nya.


"Adik siapa ini yang cengeng. Kamu boleh menangis dek, jangan di tahan lagi. Nanti fisik dan bathin kamu semakin tersiksa kakak ikut sedih. Kamu mau bikin kakak sedih?" Ucap Phia dan akhirnya tangis Olive pecah di pelukan Phia.


"Maafin aku kak, maafin aku nggak bisa lindungin kakak hiks... hiks... maafin aku." Kata Olive di pelukan itu.


"Ssuut! Jangan salahin diri kamu. Kamu adik nya Phia dan kak Belden yang paling kuat. Tapi, kamu harus ingat untuk melepaskan rasa sakit itu. Tidak baik untuk hati kamu sayang. Jadi, kapan kakak bisa ketemu sama mama papa dan kak Belden?" Ujar Phia.


"Ish kakak... hiks... hiks... kan aku kangen juga kok nggak di sebutin." Ambek Olive melepas pelukannya.


"Lho, ini kan udah ketemu sama kamu. Kita bakal lebih sering ketemu di rumah. Jadi kapan?" Tanya Phia.


"Hari ini, mereka sedang dalam perjalanan." Jawab Olive.


"Bukankah kamu bilang ke dokter besok atau lusa? Kenapa maju lagi?" Tanya Niesha.


"Salah satu suster itu adalah mata-mata keluarga clarke. Aku baru tahu tadi ketika dia merespon melihat anak kecil yang di monitor. Setelah ini aku akan serahin semua sama oma opa papa dan kak belden. Mereka pasti bakal jaga kakak dengan benar-benar baik sekarang. Seperti mereka menjaga aku selama 3th ini. Makasih kak sudah bertahan dan melewati masa kritis. Walaupun aku harus menunggu lama. Maaf... "


"Sekali lagi kamu bilang maaf kakak bilang ke oma kalo kamu naksir sama orang. Dia kan orangnya?" Bisik Phia.


Phia tersenyum ke arah Alden yang sedang asik mengobrol dengan Rafa Ryan, Olive mengikuti arah tatap mata Phia.


"Ouh! Kakak selama koma mendengar semua nya?" Tanya Olive langsung menutup wajah nya malu.


"Hahaha! Tentu saja. Kakak masih bisa mendengar dengan jelas walaupun tidak melihat. Lagi pula, kita kembar jadi frekuensi kita pasti terhubung." Sahut Phia mengacak poni Olive.


Tok! Tok! Tok!


"Nona muda, Nyonya besar dan keluarga anda sudah di depan." Lapor zet.


"Oke. Kak, ayo ketemu mereka. Sini aku bantu ke kursi roda." Ujar Olive.


Olive mendorong Phia yang di kursi roda keluar dari kamar di ikuti Alden dan yang lain. Pengawal sudah berbaris di depan pintu. Olive, menekan tombol di ponsel nya untuk mengaktifkan buka pintu otomatis. Saat pintu terbuka, mama dan Oma terkejut melihat Phia nya.


"Phia!" Teriak Mama dan Oma bersamaan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2