
Sementara itu di markas Nugraha, Oma Opa sedang menelusuri keberadaan Bik Sera dan Paman Tio tanpa diketahui anak dan cucu nya melalui mata-mata di negara sana. Tiba-tiba ada sebuah folder mencurigakan terdapat di laptop yang kemarin Robert gunakan. Opa membuka folder itu karena rasa penasaran berdua dengan oma kemudian melihat dengan teliti lalu seketika kaki mereka terasa lemas tidak menyangka jika anaknya akan melakukan hal kotor seperti ini.
"Pa, apa yang akan kita lakukan? Oma sebenernya sudah tidak setuju sejak awal hubungan Tio dengan Sera. Ini tidak akan terjadi jika kalian mendengarkan perkataanku dulu." Protes Oma.
"Opa juga tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Dulu mereka benar-benar baik ma, kita bahkan kirim orang untuk mengikuti mereka sebelum menikahkan keduanya." Ujar Opa.
"Dia anak kesayanganmu. Oma mau tindakan ini harus di akhiri sebelum nyawa cucu kita benar-benar lenyap." Pinta Oma.
"Bagaimana dengan awak media mah? Ini akan menjelekkan citra keluarga kita sebagai mafia yang baik." Kata Opa.
"Bagaimana mafia yang baik, jika kita sudah kelepasan dengan kelakuan buruk anak kita yang satu ini. Kita akan berhenti meneruskan apa yang sudah di turunkan dari nenek moyang kita. Sudah tidak bisa di perbuat apapun, kita benar-benar terjebak. Karena anak kesayanganmu itu." Ucap Oma mulai marah.
"Dia juga anakmu. Jangan menyalahkan aku karena kasih sayang seperti itu. Kamu juga lebih menyayangi Adlan." Sahut Opa tidak ingin kalah.
Tiba-tiba pintu terbuka, ternyata ada Robert. Dengan cepat Opa menekan tombol untuk menghapus jejak folder apa yang telah dibuka kemudian menutupnya. Robert berdiri bingung di depan pintu, karena dia hanya mendengar teriakan tapi tidak tau apa yang Oma Opa bicarakan.
"Apa yang terjadi? Kenapa kalian berantam?" Tanya Robert.
"Ada apa dek?" Tanya Belden yang baru saja datang.
"Ini, Opa Oma berdebat kak dan aku tidak tau apa yang mereka perdebatkan. Hanya suara teriakan mereka saja." Jawab Robert.
"Kalian berdebat? Ada apa Oma Opa?" Tanya Belden.
"Tanyakan saja pada Opa mu. Oma ingin ke kamar jangan ada yang mengganggu." Ucap Oma pergi begitu saja.
"Oma!" Panggil Robert namun tidak ada sahutan.
"Jika kak Olive dan kak Phia tahu kalian berdebat begini, mereka akan sangat sedih." Lanjut Robert.
"Opa akan pergi keluar. Kalian jaga Oma dengan baik, Opa ada urusan mendadak." Perintah Opa kemudian pergi.
"Opa!" Panggil Belden.
Ponsel Robert bergetar mendapat pesan sebuah gambar, gambar Olive sedang tertawa bahagia dengan Alden. Robert tersenyum dan memperlihatkan foto kepada Belden.
"Kak, lihatlah. Mereka terlihat sangat bahagia bukan?" Tutur Robert dan Belden mengangguk.
"Ya, mereka sangat bahagia. Tapi, sepertinya itu tidak akan bertahan lama dek melihat Oma Opa sedang berselisih seperti ini." Sahut Belden.
"Hah! Kakak benar, apa yang harus kita lakukan kak? Perasaan ku tidak enak, sebenernya apa yang mereka lihat sampai ber---"
Robert langsung membuka laptop dan mengerahkan kemampuannya apakah Opa Oma telah melihat folder rahasia nya. Robert mengepalkan tangannya dan memukul meja membuat Belden kaget dan bingung.
"Kamu kenapa dek?" Tanya Belden.
"Kak, aku harus menyusul Opa. Jaga Oma untukku, aku akan beritahu nanti saat keadaan sudah normal. Ok?" Ujar Robert kemudian berlari mengejar Opa nya yang terdengar sudah menyallakan mesin mobil.
__ADS_1
Belden hanya terdiam di tempat. Karena merasa bingung Belden menyusul ke kamar Oma.
"Oma kira Opa yang datang." Ucap Oma.
"Opa sedang inginn pergi, sepertinya robert menahan Opa agar tidak pergi." Jelas Belden.
Dengan gerakan cepat Oma berlari menyusul Robert.
Garasi
Robert berdiri di depan mobil Opa, menghalangi jalan.
"Robert sayang, minggirlah. Opa sedang buru-buru." Pinta Robert.
"Tidak akan. Aku tahu apa yang akan Opa lakukan, aku tidak ingin opa pergi. Kita selesai kan ini dengan kepala dingin. Temui Oma ya, aku mohon." Mohon Robert.
"Kalian tahan tuan muda kecil dan jangan biarkan dia menyusulku." Perintah Opa.
Seketika para pengawal membawa Robert dan menahannya di pinggir, Saat Opa benar-benar ingin pergi. Oma muncul dan menahan mobil opa membuat Opa harus mengerem mendadak.
"Apa yang kau lakukan?" Marah Opa.
"Berhentilah bertindak bodoh. Turun dari mobil, lebih baik aku tertabrak olehmu daripada aku harus kehilanganmu di negara lain." Marah Oma tak kalah.
"Aku akan melaporkan Tio ke kantor polisi pusat. Kau ingin melarangku?" Ujar Opa membuat Belden,Oma dan Robert terkejut.
Tidak ada yang menjawap perkataan Opa.
"Tuan, jangan melakukan hal yang gegabah. Pikirkan baik-baik apa yang akan terjadi dengan kalian setelah semua ini terjadi." Kata Yogi.
"Apa maksudmu?" Tanya Opa.
"Hal ini yang diinginkan tuan Tio agar tuan nyonya besar menyerahkan kekayaan kalian kepada mereka. Setelah mereka mendapatkannya mereka akan membuat kelompokan mafia yang jahat berkumpul menjadi satu. Mereka bisa membeli kelompok-kelompok mafia baik untuk di jadikan budak." Jelas Yogi.
"Itukah rencana mereka?" Tanya Oma.
"Iya nyonya besar, saya sudah menaruh mata-mta di rumah tuan Tio untuk memberitahu apa saja rencana nya dan kurang lebih laporannya adalah seperti itu. Jika tuan besar melaporkan ini kepada polisi kemudian kepolisian akan menarik izin kita untuk tidak menjadi bagian dari kellompok mafia lagi lalu kita tidak akan bisa berbuat apapun untuk melawan mereka." Lanjut Yogi.
Opa marah dan memukul klakson mobil dengan penuh amarahnya.
"Oma Opa hari ini beristirahatlah. Jika kak Olive datang dan yang lain mengetahui tentang hal ini keadaan akan semakin rumit. Kak Olive baru saja mendapatkan kebahagiaannya dengan kak Alden, kita tidak bisa menghancurkan kebahagiaan itu begitu saja." Pinta Robert.
"Kamu benar sayang, maafkan Opa hampir saja melakukan hal bodoh ini. Jika Opa melaporkan ini kepolisi kalian bisa semakin dalam bahaya, Opa tidak bisa melindungi kalian lagi. Ma, kita harus pikirkan cara lain untuk masalah ini. Bagaimana kalau kita jalan-jalan keluar negeri untuk healing?" Tawar Opa.
Oma pun melempar sendal rumah ke arah Opa.
"Kau ini. Masuk ke dalam, bukan waktunya untuk healing. Kita temukan dulu jalannya untuk menyelesaikan masalah ini sampai ke akarnya. Jangan meninggalkan jejak dendam ke cucu kita." Ucap Oma.
__ADS_1
Opa pun turun dari mobil masuk ke dalam Mansion diikuti Oma, Robert dan Belden. Mobil yang sudah Opa keluarkan di kembalikan Oleh pengawalnya kedalam garasi. Tak lama mereka masuk, Mama papa dan Phia datang ke Mansion untuk menemui Oma Opa.
Di ruang keluarga,
"Apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita beritahu Adlan juga?" Tanya Opa.
"Aku pikir jangan beritahu, Kamu tahu Adlan sangat dekat dengan Tio. Dia pasti merasa di khianati setelah melihat rekaman video kemarin dengan dia tambah tahu rencana ini itu akan memperkeruh keadaan." Ujar Oma.
"Aku setuju dengan Oma. Tapi, tidak mungkin kita menyembunyikan ini terus dari mereka terutama Olive. Bisa-bisa dia nekat untuk menghampiri Paman Tio jika tau rencana tentang ini." Sahut Belden.
"Apa yang sedang kalian bicarakan? Sepertinya serius sekali sampai tidak menyadari kedatangan kami." Ucap Phia.
"Tidak ada sayang, kami hanya mengkhawatirkan kembaranmu yang nekat pergi berdua dengan Alden tanpa memberitahu kita." Bohong Oma.
"Ah, tentang itu tidak perlu khawatir. Via sudah menghubungiku dan mengatakan mereka akan kembali hari ini. Mereka tidak berdua, ada Zet dan Nel disana bersama beberapa pengawal. Sepertinya semalam Kevino palsu dan Sam mencegat mereka di jalan. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu." Jelas Phia.
"Kakak tenang saja, lihat aku dikirimi foto oleh Zet. Mereka sedang bermain di pantai, biarkan mereka bahagia sebelum melawan kerasnya dunia lagi. Maksudku, besok hari senin mereka akan bersekolah." Kata Robert.
"Wah! Mereka pergi ke pantai tanpa memberitahuku. Dek, kamu tidak berjaga di Markas?" Tanya Phia.
"Aku juga ingin beristirahat kak. Mata ku tidak bisa selalu melotot meelihat layar seharian, benar kan kak?" Ujar Robert.
"Biarkan dia beristirahat dek, dia habis jalan juga sama Reina." Tutur Belden buat Robert kaget.
"Kakak mengirim orang untuk mengikutiku hem? Bagaimana kakak tahu?" Tanya Robert.
"Kamu lupa, kak Belden banyak mata-mata untuk mengawasi kita. Aku merasa memiliki 6 kakak tahu bukan hanya kak Belden saja." Kata Phia.
"Ah, kak Phia benar juga. Informan kak Belden mengalahkan milikku dan milik kak Via." Sahut Robert.
"Kalian salah. Buktinya mereka masih kelabakan dengan mengawasi Via. Butuh waktu hampir seharian Firo mencari lokasi keberadaan Via kemarin. Kalo bukan karena Alden, mungkin bisa membutuhkan waktu lebih panjang lagi." Jelas Belden.
"Bagaimana kabar Reina? Apakah dia bahagia mengetahui kamu masih hidup?" Tanya Phia.
"Entahlah. Aku merasa Reina berubah sikap kepadaku, seperti menghidariku. Bukan hanya Reina tapi kedua orang tua nya juga." Kata Robert.
"Benarkah? Apakah ada yang kamu tidak ketahui tentang latar belakang keluarganya atau hal lain? Karena saat Via berkunjung kesana Reina terlihat bahagia jika dari telepon. Aku tahu dia menyukai kamu dan begitupun kamu, Tapi apa yang menjadi alasannya Reina menghindar darimu?" Tanya Phia.
"Aku tidak tahu kak. Apakah aku pernah melakukan salah padanya? Sepertinya juga tidak." Ujar Robert bingung.
"Ah, Reina juga suka datang ke rumah ataupun ke depan Markas tapi terlihat hanya mengamati sesuatu. Kakak juga tidak tahu kenapa dia tidak masuk ke dalam saat itu. Padahal Olive selalu di rumah setiap saat." Sambung Belden.
"Benarkah? Cukup mencurigakan." Tutur Robert.
"Kalian bertiga asyik sekali mengobrolnya, sampai melupakan kami ber empat disini sayang?" Ucap Mama.
"Tahu. Opa seperti mendengar cerita misteri tentang kisah cinta Robert dan Reina." Goda Opa.
__ADS_1
"Opa diamlah." Rengek Robert.
Bersambung...