
Di layar terhubung telepon dengan seseorang. Ketika telepon itu di angkat.
Bagaimana?
Stabil nona. Jika ada keajaiban mungkin tuan besar akan siuman dalam waktu dekat. Tadi sempat merespon gerakan tangan. Dokter bilang itu perkembangan yang Bagus.
Sudah berapa lama kakek di rumah sakit?
10 tahun nona. Tidak ada anggota keluarga Wiyata dan Clarke yang tau bahkan dunia pun tidak tahu jika tuan besar masih berjuang di antara hidup dan matinya.
Mengapa kamu mendatangiku beberapa bulan lalu?
Karena nona mengikuti ajaran yang seharusnya. Sebenarnya Wiyata dan Nugraha dulu adalah teman. Ini adalah perkataan tuan besar dulu saat pertama kali saya bekerja di wiyata group.
Untuk informasi aja. Aku sedang bertemu dengan om kevino, Tante Quira, Om sam dan Tante yumi yang hadir di acara promnight sekolah keluarga Nugraha dan Fausta. Mereka berniat untuk memberika minum beracun kepada kak Olive. Bagaimana?
I--Itu. Itu tidak seharusnya terjadi nona. Jika tuan besar tahu mungkin akan sangat marah.
Baiklah, sudah cukup. Aku akan ke sana menengok kakek. Akan aku kabari ketika sudah sampai.
Tentu nona.
Zaylee mematikan sambungan teleponnya. Semua terlihat bingung dan terkejut.
"Ini udah kelewat terlalu kak, aku nggak bisa tinggal diam. Aku harus menghentikan ini sebelum terlambat. Sekarang mereka sudah tahu jika kakek masih hidup di negara sana. Kakak tidak apa kan?" Ucap Zaylee.
"Aku kira kamu sudah kembali. Aku tidak apa, pertolongan yang sangat tepat waktu. Tadinya aku berniat mengeluarkan senjata yang sudah aku persiapkan ini. Tak di sangka kamu menggagalkan itu." Sahut Olive sambil mengeluarga senjata api dan memainkannya membuat semua terkejut.
"Wah! Aku merasa di khianati. Kakak bilang tidak boleh membawa senjata. Tahu begitu aku akan membawanya tadi." Kesal Robert.
"Tunggu. Tapi seharusnya itu kena sensor---Kamu benar-benar." Ujar Firo.
"Kau meragukan adikku berotak licik em?" Ucap Luna.
"Aku tidak menyangka jika dia sudah menyimpan di loker sekolah." Sahut Cenan.
"Berikan pada oma senjata itu." Pinta Oma.
Olive malah memberikan senjata itu pada Zet.
"Zet periksa Olive, ada senjata apalagi yang dia bawa." Perintah papa nugraha.
"Tidak ada nyonya. hanya ini saja. Tapi, jika nyonya membuka loker nona mungkin akan lebih terkejut. Nona kedua membawa granat." Sahut Zet.
Semua orang terkejut namun Olive hanya tersenyum santai.
"Dek, kamu---" Ujar Phia terputus.
"Aku tidak akan menggunakannya kak. Aku hanya antisipasi saja, Zet baru mencari di loker belum di tempat rahasia ku yang lainnya. Tenang saja, aku tidak akan gegabah. Tugasku membuat mafia jahat kapok setelah Robert dan kak Phia dinyatakan hidup kembali. Sekarang lihat raut wajah mereka sangat pucat, lebih pucat dari mayat. Kalian sudah menyiapkan diri menjadi mayat em?" Kata-kata Olive sangat membuat semuanya merinding.
__ADS_1
Olive berjalan mendekati Yumi. Yumi gemetar ketakutan.
"Ma--Maafkan aku. A--A--Aku salah." Ucap Yumi membuat Olive tertawa.
Olive melihat ke arah layar dan menunjuknya.
"Sudah masuk kadaluarsa. Gua nggak nyangka ternyata lu bakal nusuk kayak gini. Gua kira lu beneran orang yang tulus baik mau temenan sama gua. Ouh! Gitu caranya gua baru paham." Gumam Olive.
"Awalnya aku benar tulus ingin berteman denganmu. Aku bersum--"
"Tidak usah bersumpah, itu tidak akan merubah penderitaan yang sudah aku lalui. Selama ini aku selalu ngirim bukti bahwa Nugraha tidak bersalah atas kejadian itu. Aku nggak akan pernah serendah itu berpikir untuk membunuh orang, aku lebih suka menyiksanya. Tapi, aku tidak akan melakukannya. Dek, ini masalah keluarga kamu. Aku tidak akan ikut campur lagi. Tugas aku sudah selesai." Jelas Olive.
"Aku benar-benar minta maaf kak, hiks... hiks... Kakak bisa melakukan apapun pada mereka. Jangan lihat aku disini, penderitaan yang kakak lalui dan sakit hati yang kakak tahan harus terbalaskan. Jangan pikirkan aku, aku juga akan membunuh mereka jika aku menjadi kakak." Tangis Zaylee.
Olive menekuk kedua kaki nya dan memeluk Zaylee.
"Jangan nangis. Aku memang sangat ingin membunuh dan menyiksa mereka. Tapi, keluarga aku tidak mengajarkan cara ini. Jika perang itu situasi yang berbeda, itu adalah pesan kakek saat aku koma baru-baru ini. Jika bukan karena kakek dan nenek, aku tidak akan kembali ke dunia ini. Disana lebih Indah, tapi lagi-lagi aku mendapat amanah yang besar yaitu jaga orang yang aku cintai. Sekarang, aku serahi semua ke kamu. Ingat, harus tegas." Ucap Olive sambil mengusap lembut rambut Zaylee.
"Akan sangat beruntung jika aku benar menjadi adik kandung kakak. Kakak sangat mencintai keluarga kakak bahkan rela mengorbankan diri untuk mereka. Jika aku jadi kakak, mungkin aku lebih memilih bunuh diri." Sahut Zaylee cemberut.
Olive menyentil kening Zaylee. Zaylee langsung tersenyum.
"Jaga kata-kata mu. Walaupun dulu aku sempat berpikir begitu, untungnya aku pindah ke sekolah yang tepat dan bertemu dengan orang-orang yang baik. Aku rasa jika aku tidak melalui semua itu aku tidak akan bertemu dengan mereka." Ujar Olive.
"Hem... maksud kakak teman yang bener teman. apa temen yang berubah jadi pacar nih?" Goda Zaylee.
"Kak Alden. Jangan sakiti kak Olive ya, sampai aku dengar kak Olive nangis karena ulah kakak. Jangan harap di masa depan kakak bisa lihat kak Olive lagi." Ancam Zaylee.
"Lihat? Sekarang kamu percayakan bukan cuman aku yang khawatir. Tepatin janji kamu tadi." Ucap Alden sambil menoel hidung Olive.
"Emmm... aku nggak akan ganggu lagi. Bawa mereka pergi ke markas. " Perintah Zaylee.
"Baik!" Sahut bawahan Zayle membawa Kevino dan yang lain pergi.
"Tunggu!" Teriak Olive mendekati Kevino.
Zet mendekati Olive sambil membawa sebuah box kecil. Olive mengeluarkan sarung tangan plastik, menuangkan air yang sudah dibawa kevino tadi dan basahi sarung tangan.
"Ini ada sedikit kado kecil dari aku. Setidaknya kalian harus merasakan gimana terbakar nya tubuh kalian. Lalu gimana rasanya tubuh kalian merasa tersentuh dengan orang terdekat kalian, tapi kalian berada di rumput padang pasir yang besar. Kalian harus merasakan gimana tersesat di pikiran sendiri. Tadinya aku ingin meminta kalian untuk meminum ini, tapi aku tahu efeknya akan lebih keras alias bisa membunuh kalian. Lihat, betapa baiknya aku." Jelas Olive setelah mengoleskan di beberapa anggota tubuh.
"Ini aku setuju kak." Ucap Zaylee.
"Minta obat penawarnya ke Zaylee. Berkat Zaylee aku bisa sembuh seperti ini hanya dalam semalam." Ujar Olive.
"Aku tidak akan memberikannya. Kakak tenang aja." Sahut Zaylee.
Zaylee dan rombongannya pergi. Acara Promnight sekolah di mulai kembali. Namun, ada satu musuh lagi yang menyelinap di acara itu. Olive memilih untuk duduk sebentar karena kakinya sakit terlalu lama berdiri.
"Kamu berkumpulah bersama mereka. Aku istirahat disini, tenang aja. Semua udah selesai. Tidak akan terjadi apa-apa lagi." Pinta Olive.
__ADS_1
"Kamu mau telepon selingkuhan kamu hem?" Cemburu Alden.
"Astaga. Aku nggak ada handphone gimana mau telepon kamu ada-ada aja. Sudah sana, kamu berhak buat senang-senang jangan ikutin aku terus." Ucap Olive.
Alden melirik kanan kiri kemudian mencium bibir Olive sekilas.
"Aku segera kembali." Ujar Alden di angguki Olive.
Setelah Alden bergabung dengan yang lain. Olive tiduran di bangku tunggunya (Tau kan bangku yang biasa di pake artis buat nunggu giliran syuting). Olive memijat kepala nya yang sedikit pusing sampai tidak menyadari jika ada seseorang yang mendekatinya. Olive berdiri berjalan ke arah meja untuk mengambil minum, saat berbalik badan. Olive terkejut dengan munculnya Gita sambil membawa belati mengarahkan pada Olive. Olive sekuat tenaga menahan itu hingga menjatuhkan gelas yang di pegangnya.
Robert yang sedang melewati ruangan istirahat Olive dan mendengar itu langsung masuk kemudian berteriak.
"Mati! Lu harus mati!" Teriak Gita histeris.
"Kakak!" Teriak Robert.
Olive sudah tidak kuat lagi menahannya. Tak lama itu Alden masuk dan ikut bingung bersama Robert.
"Aku gak kuat lagi." Gumam Olive.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1