Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 78 - Keadaan Olive


__ADS_3

Sementara di sekolah, sudah waktu nya bel pulang berbunyi. Saat Shakila dan Niesha ingin jalan keluar gerbang di post satpam sudah ada Ilona. Ilona menghampiri kedua nya membuat keduanya berhenti berjalan.


"Tunggu." Tutur Ilona.


"Ada apa kak?" Tukas Shakila.


"Gua. Gua mau ngomong sesuatu sama kalian." Ujar Ilona.


Shakila dan Niesha saling pandang bingung. Dikejauhan Alden, Ryan dan Rafa melihat Kila Niesha seperti di tahan untuk pulang. Mereka pun menghampiri ketiganya perlahan.


"Mau ngomong apa kak? Ngomong disini aja gak apa kok." Ucap Niesha.


"Gua---Gua mau minta maaf." Tutur Ilona.


"Kak, salah kakak nggak seberapa ke kita berdua. Tapi, sahabat kita Olive yang selalu berjuang mati-matian buat tetap nepatin janji supaya hidup. Memang bukan salah kakak juga, ini sama kak Gitta. Jadi, kakak nggak perlu minta maaf juga ngewakilin kak Gitta. Semua yang udah terjadi nggak bakal bisa di putar balik lagi kak." Jelas Shakila membuat Ilona menunduk.


"Kakak nggak perlu khawatir. Kita yakin, semua yang udah terjadi kemarin bakal ada balasannya sendiri. Aku harap kakak nggak salah lagi pilih teman. Itu pesan aja sih kak terserah kakak mau jalanin kayak gimana itu hak kakak. Jangan sampai kakak jatuh ke lubang yang sama." Sambung Niesha.


"Kalian baik banget. Olive beruntung punya sahabat kayak kalian selalu Setia di sampingnya apapun keadaannya." Ujar Ilona.


"Salah kak. Kita yang beruntung punya sahabat kayak Olive, dia mungkin terlihat sangat hebat di luar. Bisa bela diri, tau kapan waktu untuk menyerang atau berlindung. Tapi, aslinya Olive sangatlah rapuh. Ya siapa sih yang nggak rapuh lihat saudara kembarnya di perkosa saat masih dibawah umur depan matanya. Pasti Olive terpukul banget, bahkan Olive sering bilang kalo dulu dia bisa gantiin posisi kakaknya dia bakal gantiin. Cuman kakak nya dulu minta dia sembunyi apapun yang terjadi, akhirnya dia gak bisa berbuat apapun selain menangis." Jelas Niesha.


"Tapi, gua pikir kalian saling menguntungkan. Kalian bener-bener saling melindungi satu sama lain apapun keadaannya." Sahut Ilona.


"Tunggu, kakak ngomong begini bukan mau pindah kan? Nanti kak Gitta sendirian kalo kakak pindah." Ujar Shakila.


"Tanggung juga kak kalo pindah. Bentar lagi ujian terus lulusan, setahun nggak nyampe kak." Sambung Niesha.


"Iya sih, tapi gua nggak bisa buat satu sekolah bareng psikopat kayak Gitta. Seiring berjalannya waktu pasti gua bakal ikutan nyakitin perasaan orang lagi. Itu bikin hidup gua gak tenang." Jawab Ilona.


"Kakak nggak perlu khawatir soal itu. Kak Gitta nggak punya kuasa apapun lagi buat keluarin kakak atau apapun itu. Cepat atau lambat bakal ada kepala sekolah baru. Kakak tahan sebentar lagi, jarang ada sekolah yang mau terima anak pindahan di kelas 3 begini kak." Ucap Niesha.


"Iya juga sih. Duh, sorry ya jadi nahan kalian pulang. Tahu bakal ngobrol lama gua ajak di cafe depan aja. Intinya, gua mau minta maaf aja sama kalian." Tutur Ilona.


"Santai aja kak, yaudah kakak kayaknya udah di jemput tuh daritadi." Ujar Shakila.


"Oh ya. Makasih ya, eh kalian mau bareng gak?" Tawar Ilona.


"Nggak kak. Kita mau ke perpus dulu, kakak duluan aja." Sahut Niesha.


"Okay!" Sahut Ilona.


Shakila Niesha pergi ke perpus. Mereka sibuk mencari sesuatu.


"Duh, gua lupa lagi si Olive taruh dimana. Apa senin aja kali ya sekalian pas ada Olive nya?" Tanya Shakila.

__ADS_1


"Tapi senin kita udah masuk kelas biasa. Pulang juga sore, Olive juga kayaknya gak di perpus lagi. Cari dulu deh kalo bener gak ada berarti udah di bawa Olive kemarin." Ucap Niesha.


Setelah 20 menit mencari tidak ketemu juga, sampai tidak sadar jika Ryan, Rafa dan Alden ada di dalam perpus juga memperhatikan mereka.


"Kalian cari apa sih?" Ujar Rafa membuat Kila dan Niesha terkejut.


"Astaga! Sejak kapan kalian disitu? Ini kita cari buku yang meneliti tentang minyak bahaya itu. Ada penawar khususnya, tapi lupa di foto ataupun di catat. Sekarang bukunya hilang." Jelas Kila.


"Oh ya? Kok bisa ada disini?" Tanya Ryan.


"Cerita singkatnya itu buku Olive ambil dari markas musuh dulu waktu dia di culik sama Phia. Terus dia simpan di sini, tapi sekarang nggak ada berarti---"


"Udah di amankan sama nona muda kedua. Katanya tidak perlu di cari lagi." Ucap Zet.


"Zet? Selama ini tahu tentang buku itu kenapa nggak bilang?" Kesal Alden.


"Maaf tuan, bukan bermaksud begitu. Tapi, setiap malam nona muda kedua tidak pernah berhenti berpikir dan terus berusaha mengingat kalau dia pernah ada buku itu dan sekarang buku itu sudah ada di tangan dokter Franklie jadi kalian tidak perlu khawatir lagi." Jelas Zet.


"Hufft! Syukur deh kalo udah berada di tangan yang tepat. Oh ya, gmana keaadaan Olive sekarang?" Tanya Niesha.


"Nona kedua masih tidak mau bertemu selain dengan nona Phia. Keadaannya semakin membaik." Sahut Zet.


"Apakah Promnight di undur?" Tanya Shakila.


"Belum ada pemberitahuan lebih lanjut dari tuan dan nyonya besar. Mereka benar-benar fokus ke nona Olive." Jawab Zet.


"Nona tenang saja, Nona Olive sudah siuman hanya saja masih harus mengumpulkan memory ingatannya. Semoga besok sudah lebih membaik, nona Olive juga tidak ingin bertemu siapapun kecuali dokter dan nona Phia." Jelas Zet.


"Syukurlah kalo begitu. Tidak masalah Olive tidak ingin bertemu karena memang harusnya dia bedrest alias istirahat total. Tolong di pantau terus ya Zet." Pinta Kila.


Zet tiba-tiba menerima telepon


Iya tuan muda kecil, ada yang bisa saya bantu?


Bagaimana keadaan kakak?


Nona Olive sudah membaik tapi tidak ingin bertemu siapapun. Tuan muda kecil dimana?


Aku? Aku sedang di laboratorium bersama dokter Franklie.


Tuan Muda kecil bisa bertanya kepada dokter lebih detailnya.


Oh ya aku lupa hahaha... oh ya Zet. Oma dan Opa bilang besok Promnight tetap dilaksanakan tapi tidak sesuai jadwal kemarin. Jadi, mulai jam 8 malam sampai selesai.


Oh sudah selesai rapatnya. Baik tuan nanti saya akan umumkan ke forum sekolah.

__ADS_1


Satu lagi Zet, aku tahu kamu sedang bersama sahabat kak Olive termasuk kakak ipar. Sampaikan pada mereka bahwa kak Olive sudah mengingat mereka hanya saja masih terputus-putus memori nya. Lalu, kata dokter kakak hanya perlu suntik vitamin beberapa kali dan besok sudah bisa beraktivitas normal kembali.


Baik tuan muda kecil, akan saya sampaikan.


Zet menyimpan kembali ponselnya di saku celananya. Saat ingin menceritakan pesan dari Robert, ponsel Olive yang di simpan Zet berbunyi. Tidak ada nama di layar, itu sudah terjadi sejak kemarin lusa.


"Siapa yang menelepon? Bukankah itu ponsel Olive?" Tanya Alden.


"Benar tuan. Ini ponsel Nona Olive, saya menyimpannya sejak hari nona jatuh pingsan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Sejak saat itu nomor ini menelepon terus tapi tidak aku angkat." Jelas Zet.


"Biar kami yang angkat." Ucap Kila.


Kila mengangkat Telepon itu dan menyalakan loudspeaker di letakkan di atas meja.


Ternyata kau masih hidup? Hebat juga. Aku akan menyelamatkanmu, temani aku malam ini.


Siapa ini?


Oh kamu hilang ingatan? Biar aku ingatkan. Aku orang di atas wiyata, yang menyuruh bawahan wiyata untuk membunuh adik kecil lalu yang menyuruh keluarga Clarke untuk memper---apa bahasa halusnya? Tidur dengan kembaranmu?Hahaha!


Oh! Ternyata manusia lemah yang hanya bisa memerintah. Tidak menarik, sampai jumpa.


Kila mematikan panggilan itu, membuat lawan bicara nya marah emosi memuncak.


"Cih! Siapa dia, hanya bisa memerintah tanpa turun berperang. Sahabat gua udah bolak balik masuk rumah sakit, stress dan lainnya dia asyik nonton." Kesal Kila memberikan Ponsel Olive kembali pada Zet.


"Zet, lacak nomor itu. Kalo dia telepon lagi, jangan di angkat. Jangan sampe Olive tau orang itu telepon dia selama dia masih dalam masa penyembuhan. Dimatikan total aja terus besok perketat keamanan untuk Olive, aku yakin dia marah dan akan menyusun rencana." Jelas Niesha.


Ryan, Rafa, Alden hanya diam. Bukan. Mereka kagum dengan kedua perempuan ini karena bisa menahan emosi nya. Cara Kedua nya memancing amarah musuh sama seperti Olive jadi musuh tidak akan curiga bahwa itu adalah Kila.


"Wah! Dalam sebulan kalian sudah seperti Mafia sungguhan. Kalo tadi gua yang angkat udah sumpah serapah yang keluar. Kalian? Bisa menahan itu, hebat!" Ucap Ryan tepuk tangan diikuti Rafa.


Kila dan Niesha saling tatap kemudian mengangkat bahu mereka.


"Justru, Olive belajar dari kita. Hahaha! Sampai ketemu besok guys!" Ujar Kila lalu keluar diikuti Niesha.


"Kalian diam doang? Nggak di antar pulang tuh? Sana anterin." Suruh Alden.


"Boleh nih bos?" Ragu Rafa.


"Yakin mau di sia-sia in perempuan hebat kayak mereka? Udah sana. Gua bisa pulang sendiri kali." Tutur Alden.


"Oke!" Sahut Rafa dan Ryan bersamaan keluar dari perpus.


Alden dan Zet hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan mereka.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2