
Robert dan Oma hanyut dalam pelukan itu.
"Mah, siapa dia? Apa yang terjadi? Jelaskan semua ini." Pinta mama.
Robert melepas pelukannya dari Oma. Robert juga melepas topi yang dia pakai untuk menutupi wajahnya dan kacamata hitam.
"Tuan muda kecil maafkan saya, sebenarnya ini sudah ketahuan sebelum tuan muda tinggal di rumah saya. Sebenarnya Nyonya besarlah yang meminta saya untuk menyembunyikan tuan lebih dulu. Maafkan saya tuan, saya salah." Ucap Dokter Franklie mengakui.
"Oma---"
"Bodoh. Oma sangat tahu kamu tidak mudah berbohong. Mana ada orang mati tangannya bergerak. Kamu meremehkan Oma yang mantan mafia ini huh? Ceritakan pada mereka, siapa kamu sebenernya." Tutur Oma.
"Opa, mama, papa, kak Belden dan kak Phia. Aku minta maaf, ini aku Robert." Jujur Robert.
"Apa?" Ujar mereka yang tak tahu identitas asli Robert.
"Inti ceritanya, saat aku tertabrak dan dibawa ke rumah sakit. Aku langsung di masukkan ke ruang ICU, pemeriksaan dan perawatan berjalan dengan lancar. Ada satu anak seusia ku saat itu yang datang bersama denganku. Karena aku siuman lebih awal dan dia tidak berhasil di selamatkan. Jadi, aku minta untuk menukarnya. Selama ini aku sangat dekat dengan kalian. Aku merindukan kalian. Aku---"
Phia langsung menjewer kuping Robert dan Robert mengaduh.
"Aaaa!!! Kak Phia sakit... Oma... huhu... Kakak sakit." Kata Robert mengaduh.
"Dasar kamu ya! Kamu---" Ucapan Phia berhenti berganti jadi sebuah pelukan.
Disusul dengan Belden yang memeluk kedua adiknya. Robert tidak bisa membendung airmatanya dan menangis di pelukan kedua kakaknya. Tidak hanya itu, Phia dan Belden juga menangis mereka merindukan adik kecilnya ini. Sangat merindukannya.
"Hiks... Hiks... kalian tahu betapa tersiksanya aku saat kita pergi ke taman hiburan. Aku tidak bisa bermain dekat dengan kalian hiks... hiks... Aku merindukan kakak hiks... hiks... " Tangis Robert.
"Siapa ini yang menangis? Berhentilah menangis sekarang. Peluk mama dan papa setelah itu bersiaplah untuk di pukul Opa." Ucap Phia.
Robert tersenyum saat Phia menghapus airmata Robert. Robert melihat ke arah kedua orang tuanya dengan mata sendu. Mama papa membuka tangan mereka agar Robert segera datang pada mereka memberikan pelukan. Tanpa berpikir lagi, Robert berlari memeluk kedua orang tua nya yang sangat ia rindukan.
Mereka menangis. Setelah 8th tidak bertemu, akhirnya mereka benar-benar melepas rindu. Tidak, rasanya robert tidak ingin melepas pelukan ini begitupun orang tua nya. Mama menciumi Puncak kepala Robert dan pipi Robert.
Sementara di kurungan bawah, Olive terus berontak sampai akhirnya tidak sadarkan diri. Zet yang bingung berusaha untuk mengecek secara teliti. Zet memerintahkan bawahannya untuk memanggil dokter Franklie untuk memeriksa nona nya.
Pengawal bawahan zet langsung ke lantai dasar untuk mengatakan kepada Tuan dan Nyonya besar. Namun betapa kagetnya jika ternyata tuan kecil Robert sudah berada di pelukan Nyonya dan Tuan Muda. Tapi, Nona Kedua lebih penting.
"Tuan Franklie, bisakah ikut saya." Ucap Pengawal itu.
"Ada apa?" Ujar Dokter Franklie.
"Ini sangat darurat tuan. Ikutlah dengan saya ke ruang bawah." Pinta pengawal itu.
Pengawal itu berjisik jadi tidak ada yang curiga, namun ternyata salah. Kenan curiga ada apa-apa terjadi.
"Dokter Franklie ada apa?" Tanya Kenan membuat semua orang jadi berfokus pada dokter itu dan pengawal.
"Ini tuan, sepertinya ada sesuatu terjadi di ruang bawah." Jawab Dokter Franklie.
Oma yang mendengar itu langsung turun diikuti yang lain. Betapa kagetnya Zet bahwa mereka semua datang padahal yang dimintai datang hanya dokter saja.
"Olive! Ada apa ini Zet? Franklie periksa Olive sekarang." Perintah Oma.
"Baik Nyonya." Sahut Dokter Franklie.
"Jelaskan pada kami Zet." Pinta Phia.
__ADS_1
"Nona muda kedua terus berontak sejak awal dibawa kesini Nona. Sampai akhir nya dia tidak sadarkan diri." Jelas Zet.
"Kenapa Olive di ruang ini Zet apa yang sebenernya terjadi?" Tanya Papa.
Zet menceritakan kejadian di sekolah. Itu membuat mereka marah seperti yang dirasakan oleh Olive, merasa di permainkan.
Kenan, Cenan, Firo dan Barel saling tatap kemudian mereka menelpon kepercayaannya untuk menjalankan misi. Karena sudah keterlaluan, jika sampai adiknya kena mental dan bathin bersamaan mungkin mereka berempat akan mengamuk ke markas musuhnya saat ini juga.
Dokter memeriksa keadaan Olive, detak jantungnya sangat lemah. Olive harus mendapatkan perawatan intensif.
"Nyonya sebaiknya membawa nona kedua ke ruang intensif. Detak jantungnya sangat lemah. Saya akan memanggil beberapa perawat kepercayaan saya untuk pemeriksaan lebih lanjut kesini." Ucap Dokter.
"Cepat bawa sekarang. Lakukan apapun, aku tidak ingin kehilangan cucu ku. Disaat semua sudah berkumpul tetapi malah ada satu yang di ambang kematian." Pinta Oma.
"Opa, tenang saja. Kakak nggak akan ninggalin kita, kak Via udah lewatin semua sendirian. Aku yakin, kak Via bisa melewati ini." Tutur Robert pada Opa nyabyang masih belum paham dengan keadaan sekarang.
Kemunculan Robert sudah membuat kaget sekarang di tambah dengan kondisi Olive yang sekarat. Opa Nugraha benar-benar dibuat pusing dengan keadaan sekarang ini.
"Opa, marahi Robert saja. Jangan marah pada kakak, waktu itu opa dan oma juga sempat membawa Robert ke ruang ini. Tapi, Robert tidak ingin saat itu identitas robert ketahuan karena kondisi Robert dalam bahaya. Robert tidak ingin membuat kali lebih-lebih dalam bahaya lagi. Maafkan Robert Opa." Jelas Robert.
"Jadi waktu itu, beneran kamu Robert? Via, dia udah tau?" Kaget Opa dan Robert mengangguk.
"Kak Via berbohong demi Robert. Kami bertemu di pemakaman Palsu Robert. Aku kira tidak ada yang ingat dengan hari kematian palsuku. Ternyata kak Via yang selalu datang dengan bunga melati nya." Ucap Robert terharu.
"Sudah. Ini bukan waktu yang tepat untuk bahas seperti itu. Kita harus lihat kondisi Olive dulu." Ujar Oma.
Olive sudah di ruang intensif dan di tangani oleh dokter Franklie serta beberapa perawat kepercayaannya. Keadaan Olive sangat mengkhawatirkan, seharusnya di rawat dirumah sakit namun keadaan tidak memungkinkan Olive di bawa kerumah sakit. Oma takut jika kejadian sebelumnya malah buat keluarga Nugraha harus kehilangan Olive.
Mereka menunggu di ruang tamu. Semua dengan perasaan sangat khawatir. Tibalah Alden dan teman-teman nya di mansion. Mereka tak kalah terkejutnya jika Robert sudah di antara keluarga Nugraha secara terang-terangan. Tapi, Alden bukan itu yang penting sekarang. Dimana Olive? Apa yang terjadi sekarang?
"Kakak kenapa lama sekali datangnya? Kakak Olive ada di ruangan itu dengan dokter. Mereka sedang memeriksa keadaan kak Olive, karena---"
"Tuan dan Nyonya semua nya, sepertinya Nona kedua harus dibawa ke rumah sakit. Kita kekurangan alat." Ujar suster yang tiba-tiba keluar.
DEG!
"Yogi, siapkan apapun yang di minta aku tidak mau Olive di rawat di rumah sakit. Aku tidak ingin kecolongan lagi untuk yang kesekian kali nya. Kali ini aku yang akan turun tangan menjaga keluargaku dengan sangat teliti." Perintah Oma.
"Baik Nyonya." Sahut Yogi.
Yogi dan bawahannya mempersiapkan dengan baik, alat-alat kedokteran yang terjamin dan di impor dari luar negeri. Semua sudah di rencanakan oleh oma dengan natang untuk mengantisipasi jika kejadian ini terjadi. Terdengar suara dokter Franklie mencoba memacu jantung Olive saking lemahnya di monitor.
"100 Joule! Shoot!" Ucap Dokter Franklie.
"180 Joule!" Shoot!" Ucap Dokter Franklie lagi.
Olive merespon dengan baik. Detaknya mulai normal sedikit demi sedikit. Dokter Franklie langsung menyuntik obat penelitiannya.
"Nona semoga ini bereaksi. Disini kami menunggu nona, ini pertama kalinya. Aku mohon kembali nona." Gumam doa Dokter Franklie.
Di alam bawah sadar Olive, Olive terbangun di sebuah rumah di tengah ladang.
"Aku dimana? Zet? Oma? Opa? Alden? Kenapa tidak ada sahutan?" Gumam Olive.
"Kamu sudah bangun nak." Ucap Ibu paruh baya.
"Nenek! Nenek kenapa disini? Aku dimana? Kok ada nenek?" Tanya Olive.
__ADS_1
"Sayang, lihat cucu kita tingkahnya masih sama. Keingintahuan yang tinggi." Ledek Pria paruh baya.
"Kakek? Via ada dimana sebenernya. Kenapa kalian disini?" Ujar Olive bingung.
"Sayang, kamu harus kembali ke dunia. Kamu di ambang kematian, semua mengkhawatirkan kamu." Ucap Nenek.
"Aku? Diambang kematian? Maksudnya koma?" Tanya Olive lagi.
"Iya sayang, Karena minyak itu sudah terlalu sering ada disekitar kamu sehingga kamu tidak sadar akan hal itu. Minyak itu jika dijadikan aromatherapi perlahan akan mengikis kekuatan kita. Setelah kejadian suster yang oleskan kamu minyak di kaki, mereka sudah menyiapkan orang untuk menyamar menjadi pembantu kamu di rumah. Sekarang efeknya sudah hilang, walau belum semua. Ini berkat dokter yang sekarang tolongin kamu." Jelas Kakek.
"Tapi, bisakah aku disini saja dengan kalian? Di sana terlalu kejam untukku." Ucap Olive menunduk.
"Sayang, hanya kamu satu-satunya yang bisa menjaga keluarga kita. Kamu juga yang bisa peluk mama mu demi kami. Kami menyesal pergi terlalu cepat tapi kami tidak bisa menolak takdir. Kembalilah, laagi pula ada seseorang yang menantimu." Tutur Nenek.
"Via kangen sama kakek dan Nenek. Via mau sama kalian aja." Gumam Olive.
"Kamu lihat itu, disaat nathan udah berkumpul masa kamu tega mereka harus kehilangan kamu. Lihat betapa bahagianya mereka setelah mengetahui bahwa nathan masih hidup. Lalu lihat, dia sangat khawatir denganmu." Ucap Kakek.
"Alden... " Gumam Olive.
"Kembalilah, sekarang semua akan berjalan sesuai keinginan kamu sayang. Hem?" Bujuk Nenek.
Olive memeluk kakek dan neneknya bergantian dengan sangat erat.
Bersambung...
*
*
*
*.
*
*
*
*
*.
*
*
*
*
*
*
Terimakasih sudah membaca karya aku, jangan lupa untuk Vote (Like) dan Comment ya 🙏
__ADS_1