
Keesokkan harinya, Alden bangun awal seperti kemarin. Setelah jam 6 kurang dia memilih untuk berangkat ke sekolah. Seperti tebakkan nya sekolah masih sepi bahkan sangat sepi. Akhirnya dia mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan.
[Gimana keadaan nya? Hari ini nggak usah ke sekolah, istirahat aja. Jangan lupa minum obatnya sama olesin salep di leher yang lebam minta tolong teman kamu. Aku udah di sekolah.]
Begitulah laporan pagi Alden hari ini ke Olive. Olive yang mendengar karena ponselnya berbunyi ada pesan terbangun dan duduk perlahan. Olive membaca pesan itu tersenyum, kemudian ia tersadar kalo kak Alden nggak mungkin dia miliki. Tapi, Olive akui bahwa dirinya bahagia mendapat pesan dari Alden.
[Iya kak, Makasih ya udah tolongin aku semalam. Maaf aku ngerepotin kakak. Semangat sekolahnya.]
Alden langsung melihat ponselnya begitu berbunyi dan tanpa sadar tersenyum mendapat balasan pesan dari Olive. Ditambah hatinya menghangat karena dapat semangat dari Olive juga.
[Aku udah tanya sama Dokter Tomi, kamu udah bisa pulang nanti jam 2 siang. Coba kamu tanya kak Belden sibuk nggak jam segitu. Kalo sibuk aku bisa antar kamu pulang, hari ini sekolahnya setengah hari.]
Olive langsung melihat ponselnya saat berbunyi ada pesan masuk. Dia tersipu malu karena mendapat perhatian dari Alden. Lalu hatinya juga menghangat ketika di tawari untuk di antar pulang. Jika tidak ada kedua sahabatnya yang masih tertidur mungkin dirinya sudah teriak senang akan hal ini.
[Oh iya kak, nanti aku kabarin istirahat pertama. Aku coba tanya dulu ke kak Belden.]
Alden membuka ponselnya dan tersenyum sampai tidak sadar jika para murid sudah mulai berdatangan. Tiba-tiba saja.
"Astaga!" Ucap Ryan di depan pintu kelas berhenti mendadak.
"Aduh! Eh kalo berhenti tuh tau tempat nabrak kan gue jadinya. Ada apa sih?" Kesal Rafa dan Ryan menunjuk ke arah Alden yang tersenyum melihat ponselnya.
"Bos kayak nya udah gila deh. Gue libur dulu ah duduk sama dia, lu aja." Ujar Ryan.
"Eh, gue juga takut duduk sama dia. Lu aja deh, kan biasanya lu yang duduk sama bos." Jawab Rafa.
"Samperin deh." Ajak Ryan sambil dorong-dorongan menuju meja Alden.
"Pag-Pagi bos." Sapa Rafa.
"Pagi kalian berdua." Sapa balik Alden sambil tersenyum membuat kedua nya kaget.
Alden tidak pernah sekali pun menyahut sapaan pagi sahabat nya dan yang paling menakutkan adalah Alden tidak pernah tersenyum. Alden tersenyum jika ada guru itu juga terpaksa. Tapi, kali ini senyum itu bukan seperti senyum paksa.
"Bo-Bos, kenapa hari ini?" Tanya Ryan.
"Mood gue lagi Bagus aja." Sahut Alden.
[Nggak usah buru-buru yang penting sebelum jam 12 siang kabarin aja. Nanti di sambung ya udah mau bel masuk.]
Balas Alden. Kedua sahabatnya mengintip bos nya itu lagi chattingan dengan siapa dan mereka kaget ternyata itu adalah Olive. Calon Bu bos nya. Olive yang mendengar denting notifikasi langsung membuka ponselnya dan tersenyum. Mungkin pipi nya memerah karena tersipu malu sekarang.
__ADS_1
"Nanti ke kantin, gue bakal bayarin yang jajan di kantin." Ujar Alden.
"Beneran bos?" Tanya Rafa.
"Iya. Buruan duduk bentar lagi bel masuk. Mau berdiri aja lu berdua belajarnya?" Ucap Alden.
Kedua sahabatnya itu langsung duduk di tempat nya lalu tiba-tiba seketika mood baiknya hilang begitu melihat dalang dari kecelakaan semalam memasuki kelas sambil tertawa seakan tidak terjadi apapun. Ryan dan Rafa merinding melihat tatapan membunuh Alden.
[Ingat ya janji kakak, jangan gegabah mengambil keputusan. Aku udah membaik kok, lebam nya juga udah tinggal dikit lagi. Fokus belajar ya kak, kita lihat dulu apa yang musuh perbuat. Ikutin dulu aja alurnya. Semangat!]
Alden yang mendengar notifikasi ponsel nya berbunyi langsung melihat layar dan hatinya kembali menghangat. Aura membunuh Alden perlahan menghilang begitu saja, itu yang di rasakan Ryan dan Rafa.
[Iya, aku janji. Jangan lupa sarapan ya. Semangat juga,semoga lekas sembuh.]
Olive yang mendapat perhatian dari Alden melalui pesan langsung menutup wajahnya karena sudah dipastikan merah seperti tomat matang, malu dan tersipu malu.
Gitta yang melihat Alden sudah di kelas pun semangat menghampiri nya.
"Alden. Nanti kan sekolah nya setengah hari, kamu mau kan temenin aku jalan-jalan ke mall? Buat persiapan Promnight nanti, aku mau kamu jadi orang yang pertama lihat sebelum aku pake ke acara." Ajak Gitta.
Kalo bukan karena janjinya pada Olive mungkin dia udah menggebrak meja dan sangat marah hingga memberantakkan kelasnya.
"Gue nggak bisa, ada urusan yang lebih penting." Jawab Alden dingin.
"Nggak bisa. Gue mau ke Bandung sama keluarga gue." Bohong Alden dingin.
"Alden! Kenapa sih sikap kamu berubah gini semenjak itu perempuan ****** deketin kamu." Kesal Gitta.
Alden langsung menatap tajam ke arah Gitta, membuat Gitta mundur dua langkah.
"Sekali lagi gue denger lu ngomong gitu, habis lu hari ini juga!" Geram Alden.
"Ke-Kenapa? Palingan dia juga udah mati kekurangan oksigen di ruang berdebu tertutup gitu. Cih!" Ucap Gitta keceplosan.
"Git, lu gila ya sampe keceplosan gitu." Bisik Ilona takut.
'Kena lu, masuk jebakan gue!' Bathin Alden.
"Apa lu bilang? Siapa yang mati?" Tanya Alden.
"Ng-Nggak. Lu salah dengar kali." Jawab Gitta gugup.
__ADS_1
"Lu ngebunuh orang di sekolah ini? Lu mau ngerusak nama baik bokap gue? Bokap gue salah apa sama lu? Lu itu berurusan sama gue ya lu bikin gue sengsara aja nggak usah bawa-bawa bokap gue. Kenapa?" Ujar Alden.
Kedua sahabatnya tersenyum karena pendramaan pagi hari ini yang di dalangi oleh bos nya sendiri.
"Gue nggak bunuh orang. Kamu salah dengar, aku nggak mungkin cari masalah di sekolah ini." Sahut Gitta.
Alden mendekati Gitta sampai dia terpentok meja Ryan lalu berbisik.
"Jangan berlindung dibawah tangan kepala sekolah yang ternyata bokap lu." Bisik Alden tersenyum smirk membuat Gitta gemetar ketakutan.
"Oh salah dengar. Kirain beneran." Ucap Alden santai lalu duduk kembali.
Setelah itu pelajaran pun di mulai, Gitta seperti tidak nyaman karena takut ketahuan nya. Dia memutuskan untuk nanti ke rooftop mengecek apakah anak baru alias Olive sudah mati, jika benar ia berencana untuk membuang mayat nya ke laut. Tapi ia butuh perlindungan papa nya. Dia tidak ingin masuk penjara.
Sementara itu di rumah sakit, Olive masih tersenyum dan membaca ulang terus menerus pesan Alden. Sepertinya Olive merasakan jatuh Cinta untuk pertama kalinya. Olive terus tersenyum sesekali tertawa kecil, dirinya sangat bahagia. Sampai tak sadar jika kedua sahabatnya terbangun.
Shakila dan Niesha sudah tau penyebab Olive bahagia sekali pagi ini, karena mendapat laporan dari Rafa di group mereka ber empat. Niesha juga melaporkan jika Olive pun begitu, rencana mereka mungkin akan segera berhasil untuk membuat kedua nya resmi pacaran. Dengan begitu, mereka tidak perlu menolak dengan perjodohan lagi.
"Ehem! Pagi Liv." Sapa Shakila.
"Pagi. Kalian sejak kapan bangun?" Tanya Olive.
"Baru saja. Kamu mau ke toilet buat mandi nggak? Atau seka." Tawar Niesha.
"Nanti aja, kalian cari-cari sarapan gih." Ujar Olive.
[Aku lupa bilang, aku minta ke pihak kantin buat sedia in sarapan buat teman kamu. Jadi, nggak perlu cari-cari keluar dari rumah sakit. Minta aja atas nama Alden. Eh, udah ada bu Lisa. Nanti di lanjut.]
Setelah mengirim pesan itu, Alden fokus lagi belajar. Olive yang mendapat notifikasi langsung membuka nya. Olive tersenyum tanpa di sadari.
"Sut! Kenapa senyum gitu?" Tanya Shakila.
"Nggak apa, ada pesan dari kak Alden katanya sarapan kalian udah di siapin di kantin. Nanti bilang aja atas nama dia." Jawab Olive.
"Cieee! Pagi-pagi udah saling laporan aja. Daritadi senyam senyum karena chatting an kan sama kak Alden. Hayo ngaku." Tebak Niesha dan Olive mengangguk malu.
"Cieee! Duh, senang nya dengar kalian kayak gitu. Semoga secepatnya kalian resmi pacaran." Ucap Shakila yang di setujui Niesha.
"Ehh... Kalian apaan sih. Nggak mungkin. Kak Alden, udah pernah bilang waktu di bar kalo dia cuman mau sampai sebatas teman aja. Jadi, aku juga nggak mau berharap lebih. Yaudah, kalian bebersih gih setelah itu sarapan." Sahut Olive yang membuatnya sadar dan ada kecewa disana.
"Nggak apa, seenggaknya lu udah berusaha. Mau nanti lu bener jadi sama kak Alden atau nggak kita bakal selalu support apapun pilihan lu." Ucap Niesha membuat Olive tersenyum.
__ADS_1
"Yaudah, kita bebersih dulu." Ujar Shakila.
Bersambung...