
"Kok gak bangunin aku?" Rengek Olive.
"Sengaja. Aku mau kamu benar-benar istirahat dan soal besok ke sekolah aku udah izin tadi sama oma. Kata oma kamu boleh kesekolah, asalkan selalu dalam pantauan aku. Mengerti?" Ujar Alden memutar badannya dan mengelus hidung Olive dengan jarinya.
"Serius? Kok gampang banget sih kamu dapetin hati oma? Kalian saling tukar informasi ya? Oma cerita apa?" Tanya Olive curiga.
Alden mencubit hidung Olive gemas membuat Olive memanyunkan bibirnya.
"Kan aku udah bilang, kita itu udah kayak keluarga. Tapi Oma nitip pesan sih ke aku sebelum diizinin masuk kamar." Ucap Alden.
"Pesan? Pesan apa?" Tanya Olive.
"Kata Oma, Hati-hati jangan sampai lewat batas. Kalo sampai lewat batas nanti langsung di nikahin hari ini juga." Kata Alden.
Olive memicingkan matanya. Olive mencubit perut Alden.
"Maksudnya aku yang bahaya gitu buat kamu, hem? Kamu harus hati-hati sama aku. Ada juga aku yang harus waspada, berdua doang sama kamu satu kamar." Kesal Olive dan Alden tertawa.
"Aku bercanda sayang. Oma cuman bilang jangan lama-lama besok kan kamu mau ke sekolah jadi harus banyak istirahat. Oma takut kamu kecapean, apalagi kamu jalan masih pake bantuan tongkat." Sahut Alden.
"Tadinya aku minta dibangunin sama bibik jam 4 an. Aku mau berenang, tapi pas kamu ngomong begitu yang ada aku tenggelem ya hehe... Aku lupa." Ujar Olive terkekeh.
Alden mengacak rambut Olive gemas.
"Tuh kan. Eh, kamu belum makan ya?" Tebak Alden dan Olive mengangguk.
"Iya aku belum makan. Tadi ditawarin sama bibik jam 2 itu cuman aku ngerasa masih kenyang. Sekarang lapar, kita makan di luar yuk?" Ajak Olive.
"Kamu mau makan apa? Aku buatin." Tanya Alden.
"Kamu mau masakin aku? Emang nya bisa?" Tanya Olive.
Tiba-tiba Alden menggendong Olive buat Olive terkejut, kemudian memberikan tongkat ke Olive untuk di pegang. Lalu Alden turun menuju dapur sambil menggendong Olive. Mendudukan Olive di kursi Bar dapur, membuat pelayan seisi rumah terkejut.
"Tuan, nona ada yang bisa bibik bantu?" Tanya Bibik.
"Apa bibik punya bahan untuk buat spageti?" Tanya Alden balik.
Olive masih terdiam bingung tidak percaya.
"Oh ada tuan. Mau bibik buatkan?" Tawar bibik.
"Nggak bik, aku yang masak." Sahut Alden.
"Sebentar bibik siapkan bahannya." Ujar bibik.
Setelah bibik menyiapkan bahan semua. Alden memakai celemek dapur lalu sedikit menggulung lengan bajunya dan mulai memasak. Olive tersenyum melihat ketampanan Alden yang semakin bertambah.
Alden mulai memasak airnya, sambil menunggu mendidih. Alden memotong topping untuk spageti nya. Lalu Alden memasukkan mie spageti ke air mendidih. Alden memainkan api nya agar matangnya rata. Kemudian memotong tomat. Setelah mie matang, alden menyaringnya kemudian menaruh di wadah yang sudah ada bumbu spageti. Kemudian Alden mengaduknya hingga rata. Lalu menata di piring dengan sangat cantik. Diberi topping dan selesai.
Alden menata makanannya dengan rapih seperti tatanan makanan restoran. Alden menaruh piring tepat di depan Olive, namun Olive terlihat masih melamun dan mengira Alden masih memasak. Tiba-tiba opa datang...
"Eh ada nak Alden. Masakin makan buat Olive nih ceritanya?" Ujar Opa.
"Iya Opa." Sahut Alden.
Opa yang sadar cucu nya masih melamun sambil senyum-senyum pun memiliki ide jahil.
__ADS_1
"Aduh! Aduh! Olive Olive Markas kita di serang Sam. Aduh!" Teriak Opa.
Olive langsung sadar dan melihat Opa terduduk di lantai sambil memegangi lengan kanannya agar dikira tertembak.
"Hah? Apaan opa?" Tanya Olive sadar.
"Itu... Sam nyerang markas. Opa tertembak. Aduh!" Teriak Opa.
"Alden ambilin senjata itu... cepet.. ayo." Pinta Olive namun tidak ada respon dari Alden.
Olive bingung kok ada penyerangan sepi, cuman opa doang yang rame. Seperkian detik Opa langsung kabur dengan gesit sebelum cucu nya mengamuk.
"Opa Nugraha! Ish Nyebelin." Panggil Teriak Olive.
Opa tertawa diikuti Alden.
"Maka nya jangan ngelamun, di kerjain kan. Hahaha..." Tawa Alden.
"Ish! Kamu juga ketawa aja." Ambek Olive.
"Udah jangan ngambek. Ayo di cobain, nanti keburu dingin." Ucap Alden.
"Kalo kakak gak suka bisa buat aku, aku ndak nolak." Ujar Robert tiba-tiba muncul.
"Main muncul aja nih anak satu. Nggak ada." Kesal Olive.
"Nanti aku bikin buat kamu. Jangan berebutan, ayo di makan dulu itu." Kata Alden.
Olive pun mulai memakannya dengan lahap. Mata Olive berbinar menatap Alden yang tersenyum senang.
"Ini enak banget." Puji Olive.
"Kakak ipar aku juga mau." Rengek Robert yang mendapat tatapan tajam dari Olive.
"Baiklah aku buatin, sebentar ya. Jangan berantem, awas lho." Pinta Alden.
Alden memasak dengan lihai seperti sudah biasa memasak sendiri. Olive tersenyum sesekali melihat Alden memasak, karena ketampanan Alden seperti bertambah. Setelah bergelud di dapur membuat spageti pun selesai. Robert langsung memakannya dan menatap Alden.
"Wah! Kakak ipar... Aaargh!" Ngaduh Robert karena kakinya di tekan dengan ujung tongkat.
"Maksud aku, kak Alden ini sangat enak. Suatu kehormatan aku bisa mencicipi masakan special kakak." Ucap Robert lagi.
"Terimakasih atas pujiannya Nona kedua dan Tuan kecil. Habiskan makanannya setelah itu ada yang mau aku omongin ke kamu robert." Ujar Alden.
"Mau ngomongin apa?" Tanya robert.
"Ngomongin rencana lamar Olive." Ungkap Alden membuat Olive dan Robert terbatuk.
"Uhukk.. uhukkk! Kamu... "
"Bercanda sayangku. Aku tau kamu masih sekolah, tenang aja." Sahut Alden memberikan 2 gelas air putih kepada mereka.
"Aduh, kakak ipar bikin kaget aja. Masa iya ngomong begitu di depan orang nya sih. Yaudah, nanti setelah makan kita ngomongin di kantor aja." Jawab Robert.
Alden hanya mengangguk dan tersenyum. Olive manatap penuh curiga ke Alden, Alden langsung mengusap muka Olive dengan tangannya dari atas kebawah.
"Tidak usah cemburu begitu. Ini masalah pekerjaan nona, aku juga akan memberitahumu jika kesehatanmu sudah benar pulih seutuhnya. Mengerti?" Ucap Alden.
__ADS_1
"Jangan menakutiku. Apa ini terkait dengan Kevino dan Kak Phia? Atau apakah Bik sera dan om tio?" Tanya Olive.
"Bukan keduanya, sayang. Aku belum mendapatkan info apapun tentang yang kamu takuti sekarang. Jadi, tenanglah." Sahut Alden.
"Baiklah. Tapi, janji segeralah memberitahuku." Ujar Olive.
"Tentu saja. Besok sepulang sekolah kamu akan tahu itu." Jawab Alden.
Robert telah menyelesaikan makan nya, kemudian mengajak Alden pergi menuju kantor nya. Ruang yang kedap suara, saat Alden pergi dengan cepat Alden mencium bibir Olive.
"Hemm... spagetinya enak." Kata Alden sambil pergi meninggalkan Olive yang mematung di tempat.
"Alden...!" Rengek Olive namun tersenyum malu.
Sementara Robert dan Alden berbicara di kantor. Olive memilih untuk menonton TV diruang tamu. Tak lama kemudian, oma dan opa keluar dari kamarnya.
"Tumben kamu nurut akhir-akhir ini. Berarti oma gak salah pilih menantu buat cucu oma kan?" Ucap Oma.
"Apa sih oma. Kan aku pengin cepet sembuh, terus kebetulan tadi Alden datang hehe... " Sahut Olive.
"Ah benar, mana nak Alden? Kok gak bareng kamu? Sudah pulang?" Tanya Opa.
"Belum. Lagi ngobrol sama Robert, opa." Jawab Olive.
"Nggak usah cemburu sama adek sendiri gitu dong... " Goda Oma.
"Nggak. Oiya, Aku beneran besok boleh ke sekolah kan? Janji kok gak akan kenapa-napa." Ucap Olive.
"Boleh. Satu lagi, soal Phia oma dan opa susah memutuskannya." Kata Opa.
"Ya atau Tidak?" Tanya Olive.
"Ya. Kami menyetujui hubungan mereka, bukan soal menikah. Kita harus persiapkan pernikahan dengan matang." Sahut Oma.
"Oma dan Opa yakin? Kak Phia juga memiliki impian yang tidak beda dengan aku bahkan kak Phia gak sempat meneruskan sekolahnya. Apa kalian yakin?" Tanya Olive.
"Kami tau maksud ketakutan kamu. Tapi, kami sudah menelusuri bahwa nak Kevino benar anak yang baik. Dulu kakek Nugraha juga menitipkan ini ke opa, di dalam surat ini tertulis nama Kevino Wiyata. Kakek Nugraha dulu selalu memuji Kevino, sekarang Opa ingat itu. Jadi, kamu tidak perlu khawatir." Jelas Opa.
"Lalu bagaimana dengan... "
"Impian Phia dan Impian kamu akan tetap terwujud. Oma jamin itu sayang. Oma juga cuman bisa menjodohkan saja antara kamu dan Alden. Masalah kalian nanti cocok atau tidak itu urusan kalian. Kalo kalian memilih tidak bersama pun tidak apa, semua keputusan kembali pada kalian." Jelas Oma.
Olive memeluk Oma dan Opa bergantian.
"Aku janji. Tidak akan mengecewakan kalian, kalian udah jagain aku selama ini sekarang beri aku kesempatan untuk menjaga kalian. Kali ini, aku akan membuat kalian bahagia." Ucap Olive.
"Baik-baik Nona Kedua. Satu hal lagi, sebentar." Ujar Oma pergi ke arah kamar.
"Oma mau ngapain opa?" Tanya Olive.
"Opa juga gak tau sayang." Sahut Opa.
Oma keluar dari kamar membawa senjata yang selama ini jadi inceran Olive. Olive matanya berkaca-kaca dan bergantian menatap senjata dan juga Oma. Oma memberikan senjata itu, Olive menerimanya dan memeluk Oma erat.
"Oma serius? Ini beneran aku yang pegang?" Tanya Olive sangat senang.
"Iya. Tapi ingat harus di pake kalo keadaan mendesak aja. Kamu tau kan resikonya apa tentang senjata ini." Pesan Oma.
__ADS_1
"Aku benar-benar janji akan pake alat-alat ini sebaik mungkin. Oma Makasih!" Ungkap Olive memeluk dan mencium pipi Oma.
Bersambung...