Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 71 - Pinta Izin


__ADS_3

Alden menatap lurus ke arah wajah olive yang tampak kelelahan. Alden menyisihkan rambut yang menghalangi wajah cantik Olive. Alden benar-benar terpesona dengan kecantikan Olive. Sampai akhirnya Olive terbangun karena pegal badannya. Olive sempat terkejut melihat Alden duduk di lantai menghadap dirinya, namun kemudian tersenyum malu menutupi wajahnya dengan kedua tangan membuat Alden gemas dengan tingkah Olive yang salah tingkah.


"Sudah tidur nya?" Tanya Alden.


"Emm... apa aku tidur lama?" Ujar Olive dan Alden menggeleng.


"Tidak. Hanya satu setengah jam. Kamu sering kabur dan tidur disini ya? Hem." Tebak Alden.


"Ng... nggak. Kalo nggak di rumah ya di markas... tapi pernah sih waktu itu numpang tidur gegara mindahin kak Phia. Ponsel aku di pake pelacak kalo oma sampai tau aku tidur di rumah itu bisa di omelin aku." Cerita Olive.


"Hemm... mulai sekarang tambahin list kamu buat kamu kabur." Ucap Alden.


"Kemana?" Tanya Olive.


"Mansion aku." Sahut Alden membuat pipi Olive bersemu merah.


"Mesum." Bisik Olive senyum tapi di tahan sambil memukul kecil Alden yang tertawa.


Alden membantu Olive duduk dan melampirkan jaketnya di pundak Olive. Lalu yang lain datang.


"Dek, kasihan tuh kakak nya cemberut aja daritadi nggak ada yang merhatiin. Kan pacarnya jauh." Kata Firo yang langsung kena lempar bantal dari Belden.


"Fir, diam deh lu." Protes Belden.


"Kok kalian pada belum pulang sih? Udah larut lho ini. Aku kira tinggal pemilik Bar nya doang." Ucap Olive.


"Sama Alden." Kompak semua kecuali Alden Olive yang langsung salah tingkah.


"Ish! Nyebelin ya kalian... " Kesal Olive.


"Ya nggaklah dek. Kamu kan tahu sendiri kalo kita kumpul mana bisa cuman hitungan jam, kurang dari 10 jam pula. Mustahil sayang." Ujar Luna.


"Iya juga sih... Nah kalian kenapa masih disini?" Tanya Olive.


"Gua sama Kila harus pastiin kalo lu bener-bener nggak nekat. Setiap kita pulang duluan ada aja yang terjadi sama kalian terutama lu, Liv." Sahut Niesha di setujui Shakila.


"Bener banget. Lu itu kelihatannya aja nggak mikir apapun tapi kenyataannya lu selalu pikir gimana caranya lindungin kita. Please Liv, jangan khawatirkan kita sebelum diri lu sendiri. Yang ada lu nyesel kayak kemarin hampir sebulan di rumah sakit karena kecelakaan ambulans itu. Lu sendiri yang akhirnya gak bisa lindungin diri sendiri saat lu sendirian." Jelas Shakila.

__ADS_1


"Iyaya, gua janji nggak akan mikirin apapun buat musuh. Kalian beneran bisa jaga diri kan?" Tanya Olive lebih memastikan.


"Lu tenang aja Bu Bos, mereka akan aman sama kita berdua." Ujar Rafa.


"Yaudah, kalian sekarang pulang gih. Udah malam nih, besok sekolah tau. Oiya, besok ke mall ya kan kemarin gak jadi." Usul Olive.


"Siap!" Sahut Niesha dan Shakila.


"Kita ikut ngantar kan?" Tanya Ryan.


"Nggak. Kita pergi bertiga aja, eh maksudnya sama Zet jadi berempat. Nggak berempat juga sih, pasti ada pengawal bayangan. Ya pokoknya kalian bertiga nggak perlu ikut. Sehari doang kak pinjem ya Olive nya. Nanti kalo pada ikut kan nggak suprise hehe... " Ucap Shakila.


Alden langsung menatap Olive minta persetujuan untuk ikut. Tapi, Olive menggeleng.


"Aku setuju sama Kila. Lagian kan lusa kita bisa ketemu lagi. Kalian juga jadi punya waktu bertiga lagi buat ngobrol tanpa kita." Ujar Olive.


"Kalau gitu, kak izinin Olive buat tidur di mansion ya malam ini?" Izin Alden ke Belden dan para sahabatnya.


"Sekamar?!?" Kaget Luna.


"Nggak kak. Aku punya banyak kamar, boleh?" Tanya Alden.


"Yaudah boleh, tapi ingat ya kalian nggak boleh lewat batas. Kalian masih sekolah dan harus kuliah dulu." Pesan Belden.


"Lu nggak tau aja Belden, adik lu ini udah selangkah lebih maju dari lu hahaha... " Ledek Firo.


"Kak Firo... " Rengek Olive menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Yaudah sana kalian pada bubar, yeee anak sekolah datang ke bar aja. Bubar-bubar." Ujar Cenan.


"Bye kak!" Pamit Olive di ikuti yang lain.


Saat Alden ingin menyusul Olive di tahan oleh Belden.


"Jagain adek gua, jangan sampai dia kabur. Keluarga gua emang ada di markas Cenan dan aman tapi bukan berarti musuh nggak bisa tembus. Lu tau sendiri berapa lapis pertahanan rumah gua, ternyata masih bisa di tembus. Ngerti?" Pesan Belden.


"Pasti kak. Aku nggak akan biarin Olive buat selangkah lebih dulu lindungin aku. Tapi aku yang bakal selalu memimpin buat lindungin dia. Ah, bukan di depan tapi di setiap sisi nya. Aku bakal jagain sebaik mungkin." Janji Alden.

__ADS_1


Belden memeluk Alden. Lalu Alden pamit meninggalkan Bar. Masing-masing mereka diikuti ketat oleh pengawal bayangan oma untuk memastikan bahwa mereka baik-baik saja terutama Olive.


Dalam perjalanan Olive bingung kenapa Alden jadi diam.


"Kamu kenapa?" Tanya Olive.


"Ada hal penting yang mau aku omongin sama kamu. Tapi, di rumah aja. Aku takut malah terjadi apa-apa dijalan kalo aku nggak fokus." Ujar Alden.


"Tentang apa? Apa kak Belden sama yang lain tekan kamu ya tadi maka nya kamu keluar terakhir?" Tebak Olive.


"Bukan. Mereka sangat baik kepadaku, aku akan memberitahumu di mansion." Ucap Alden.


"Jangan bikin aku takut Alden. Rumah kamu juga di kedapatan musuh? Jangan bikin aku penasaran." Sahut Olive dengan suara yang seperti takut.


Alden meminggirkan mobilnya kemudian melepas seatbelt lalu memeluk Olive.


"Bukan berita buruk yang mau aku omongin ke kamu. Aku cuman mau bilang kalo kamu cukup banyak perubahan. Kamu jadi gampang negatif think sama orang, kamu jadi lebih takut, terus kamu juga gampang tidur. Aku takut ada apa-apa sama kamu, kamu beneran gak ngerasa apa-apa kan? Jujur sama aku." Jelas Alden.


Olive diam dan memandang lurus manik mata Alden.


"Aku nggak merasa apapun. Tapi, apa yang kamu bilang benar terjadi dan aku nggak akan sadar kalo bukan kamu yang kasih tau aku. Aku cepat lelah, aku seperti gampang hilang fokus. Aku nggak tau kenapa ini terjadi, yang pasti mungkin ini pengaruh dari minyak itu. Aku akan coba buat minta penelitian efek samping dari minyak itu selain kulit terasa terbakar. Maafin aku, kalo aku berubah. Aku juga merasa ini bukan diri aku." Sahut Olive.


"Jangan meminta maaf sayang, ini bukan salah kamu. Kamu adalah korbannya dan aku akan selalu lindungin kamu. Tanpa kamu minta aku udah minta tolong Zet dan peneliti terbaik dunia buat teliti minyak itu. Kita akan tau hasilnya hari sabtu. Bertahanlah sampai saat itu, mengerti?" Ucap Alden.


"Tegur aku jika melakukan hal aneh. Terimakasih." Ujar Olive.


Alden yang terpesona dan tersentuh oleh Olive langsung mencium bibir lembut Olive. Olive pun tidak menolak itu, Olive ikut terhanyut dalam setiap ******* Alden. Alden menekan tombol setir otomatis yang mengarah ke Mansion. Tak lama mereka sampai di Mansion, Alden menyudahi itu.


Alden menuntun Olive keluar dari mobil, saat Olive ingin membuka pintu utama Mansion. Alden menahan dan mencium bibir lembut ranum milik Olive. Tanpa melepas pangutan ciuman mereka hingga tiba di dalam kamar Alden. Nafas mereka saling memburu.


"Apa kamu keberatan tidur sekamar denganku? Aku tidak akan melakukan apapun, aku tidak akan menyakitimu." Bisik Alden dengan suara berat yang menggoda.


Olive mengangguk dan tersenyum.


"Tapi, aku ingin ganti baju dulu. Kita juga harus bebersih, jangan sampai sakit." Ucap Olive.


"Baiklah, aku akan menunggumu disini." Sahut Alden.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2