Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 42 - Musuh yang sesungguhnya


__ADS_3

Olive sudah selesai mandi berendam obat. Kedua kakak nya bingung, Olive paling tidak suka obat namun tiba-tiba. Mereka langsung bisa menebak apa yang membuat adiknya bersedia dengan mudah untuk mandi obat. Alden.


"Dek, kamu lagi kenapa sih?" Tanya Belden.


"Iya, cerita dong ke kita. Siapa tau kita bisa bantu." Ujar Phia.


"Hah? Maksud kakak apa sih?" Sahut Olive bingung.


"Ya Ampun, kalian berdua tuh lagi kasmaran ya. Awas nanti sampe nggak bisa bedain tempat buat berduaan sama tempat buat perang." Gemas Belden mencubit pipi sebelah Olive.


"Apa sih kakak ini. Nggak ada kasmaran." Ucap Olive menahan semu di pipi nya.


"Kita berdua yakin, Alden yang terbaik untuk kamu. Jadi, apapun keputusan terakhir kamu nantinya akan tetap kami support. Alden mau datang kan ke kamar?" Goda Phia.


"Hehe... iya kak. Kak Alden tadi nawarin mau makan apa, karena aku bosan sama bubur jadi aku mau nasi sama soup. Kebetulan di kantin ada itu." Jujur Olive.


"Yaudah, nanti kalo Alden datang kita pergi cari makan ya dek ke kantin. Kakak nggak mau jadi nyamuk. Haha... " Goda Belden.


"Kakak... " Rengek Olive.


Disisi lain, Gitta bertemu dengan seseorang di sebuah cafe. Orang itu memakai pakaian serba hitam dan tertutup bahkan Gitta tidak tau tampang nya seperti apa.


"Bagaimana?" Tanya Gitta.


"Saya akan bantu anda." Jawab orang itu.


"Kapan di mulai?" Ujar Gitta tak sabar.


"Anda ingin kita bersatu melawan mereka, tapi anda sangat tidak sabar." Sahut orang itu.


"Aku hanya ingin perempuan itu benar-benar lenyap dari sisi Alden. Jika aku tidak bahagia maka perempuan jalan itu juga tidak berhak merasakan bahagia."Tegas Gitta.


"Kau benar-benar tidak kenal takut. Apa kau sadar siapa orang yang akan kau lawan?" Ucap Orang itu.


"Aku tidak peduli." Sahut Gitta.

__ADS_1


"Baiklah. Tapi, sekedar info saja. Perempuan yang anda lawan pernah melawan pasukan saya sebanyak 50 orang, hanya sendiri saat umur dia sekitar 12 tahun. Jadi, saya tidak akan bertanggung jawab jika kau memulai tanpa aba-aba dari saya." Ujar orang itu.


Gitta merinding sekujur tubuhnya, Apa setangguh itu Olive yang dia anggap musuhnya.


"Aku pergi." Kata orang itu meninggalkan cafe.


Gitta mengejarnya untuk tahu siapa namanya, namun sudah hilang tidak ada jejak.


"Tunggu! Hei? Hah? Kemana orang itu cepat sekali hilang nya. Tidak tau sopan santun, tidak memberitahu siapa namanya. Cih!" Kesal Gitta masuk ke dalam cafe lagi.


Di sebuah markas,


"Kak kenapa meninggalkan Yumi disana? Jika Yumi sampai mati aku akan menyalahkan kakak." Kesal Quira.


"Diamlah! Aku sedang memikirkan cara untuk menyelamatkan Yumi disana." Ucap Sam.


"Kenapa tidak sejak tadi saat diberi kesempatan. Sampai yang datang adalah berupa Abu. Aku akan membenci kakak seumur hidupku." Ancam Quira.


"Berisik! Kan sudah kukatakan sejak awal, kalian berdua tetap lah di rumah. Jika sudah begini menyalahkan kakak. Ini salah kalian karena tidak pernah menuruti perkataan kakak." Emosi Sam hingga Quira takut.


"Kalian tidak perlu khawatir. Yumi ada di rumah lama kalian. Tapi, gua nggak tau masih berbentuk manusia atau sudah menjadi abu." Ujar orang itu melerai pertengkaran kakak beradik ini.


"Benarkah? Bagaimana kau tau?" Tanya sam.


"Hanya menebak saja. Tapi, gua yang akan kesana selamatkan Yumi." Sahut orang itu.


"Aku ikut kak." Pinta Quira.


"Tidak usah. Kalian cukup diam di markas saja. Jangan membuat masalah, dengan kalian menyerang kemarin sudah buat gua hampir ketahuan. Kondisi gua masih belum tepat buat penyerangan tapi kalian sudah memulainya lebih dulu. Bodoh! Kalo sampai ketahuan kalian akan mati di tanganku." Marah orang itu.


Quira dan Sam merinding takut dengan ancaman orang itu. Walaupun mereka terkenal dekat, tapi jika berbuat salah. Orang itu tidak akan segan membunuh mereka nantinya.


Orang itu bersiap menuju lokasi dengan pakaian normalnya dan beberapa pengawal. Di tempat Olive yang sedang makan bersama Alden, tiba-tiba mendapat notif. Olive langsung membuka itu dan tersambung pada cctv di rumah lama keluarga Clarke. Alden ikut melihatnya juga.


Olive langsung mengenali dengan melihat tatto yang ada di punggung kiri orang itu. Tangan Olive mengepal menahan amarahnya. Rasa marah Olive ingin meledak dan pergi ke lokasi untuk menghabisi orang itu sekarang juga. Tidak peduli dengan kondisinya.

__ADS_1


"Kau! Berani sekali muncul seperti itu." Marah Olive sambil mengertakkan giginya.


Alden yang tau amarah Olive akan menggebu, perlahan membuka kepalan tangan Olive.


"Aku harus pergi sekarang." Ucap Olive namun segera di tahan oleh Alden.


"Jangan. Olive tenang lah." Ujar Alden.


Sementara orang itu tidak tau jika ada kamera tersembunyi disana. Yumi juga tidak tau, karena di pakaikan penutup mata serta penutup mulut.


"Jangan menghalangiku!" Marah Olive.


Phia dan Belden yang mendengar teriakkan Olive saat di koridor setelah dari kantin langsung masuk ke kamar.


"Tenanglah. Lihat kondisi kamu sangat tidak memungkinkan untuk melawannya sekarang. Aku mengerti kamu sangat ingin membunuhnya tapi tenanglah, pulihkan dulu dengan sempurna kondisi mu lalu aku tidak akan menghalangimu lagi nanti." Kata Alden.


"Ada apa ini?" Tanya Belden.


"Kak Lihat, orang itu muncul dengan sendirinya. Selama 4 sampai 5 tahun ini aku selalu memukulnya dalam otakku. Lihat, dia muncul kembali kak. Aku harus pergi ya." Ucap Olive.


Zet masuk kamar.


"Zet pinjam kan aku senjata lengkap milikmu. Aku akan membunuhnya saat ini juga." Kata Olive.


"Olive! Tenangkan fikiranmu. Aku tau kamu sakit hati sekali dengan kejadian itu, kami berdua pun sama. Kamu selama ini selalu bertanya-tanya apakah orang itu masih hidup, lihatlah pertanyaanmu terjawab tapi belum saatnya kita balas dendam." Jelas Belden yang sudah mengerti suasana.


"Zet keluarlah. Jaga di depan, lapor setelah keadaan Via stabil." Perintah Phia.


"Aki tidak peduli! Aku mati terbunuh pun hari ini tak masalah yang penting aku sudah berusaha keras membalas kematian Robert! Aku tidak akan memberinya kesempatan untuk hidup lagi." Ujar Olive dengan muka merah menahan amarahnya.


"Via! Jaga ucapan mu. Kamu akan meninggalkan kakak sendirian lagi? Setelah kamu selamatkan aku berjuang selama tiga tahun ini? Untuk apa aku kembali jika kamu pergi! Kendalikan dirimu, kita sama-sama merasa kehilangan dan ingin balas dendam. Aku yakin Oma juga merasakan itu, tapi lihatlah kondisi kita sekarang masih belum stabil. Kamu harus mengasah kembali kemampuan kamu, lebih baik lagi jika kamu lebih meningkatkannya lagi. Itu akan lebih menguntungkan untuk kita terlebih untuk kamu jika berhasil membunuhnya akan ada kepuasan disana. Jika sudah tiba saatnya kami tidak akan menghalangimu." Jelas Phia yang akhirnya berhasil membuat Olive sadar.


"Kami memang tidak ada saat kejadian, tapi kami sangat mengerti rasa itu. Percayalah dan tunggu waktu yang tepat untuk membalas ini. Robert tidak akan suka dengan sikapmu seperti ini. Kamu sangat tahu itu bukan? Tenangkan dirimu. Kita ikuti dulu apa mau nya sekarang. Mungkin penyerangan kemarin adalah kecerobohan dari Clarke bersaudara. Bukan rencana mereka sesungguh nya dan kamu harus mempersiapkan itu di saat waktu yang tepat untuk menghadapinya." Lanjut Phia.


Olive duduk kembali di pinggir kasurnya. Ucapan Alden dan kedua kakak nya benar. Olive tidak boleh bertindak gegabah seperti dulu. Olive akan menunggu waktu yang tepat untuk balas dendamnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2