Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 90 - Permintaan yang Sulit


__ADS_3

Alden menuju lantai dasar, para bawahan Fausta dan Nugraha lebih dominan di banding anak buah dari Sam Clarke.


"Panggil bos kalian kesini! Gua ledakin tempat ini sampai tuan lu gak turun." Teriak Sam Clarke.


"Tuan disana lihat." Tunjuk anak buah Sam.


Ada Nel dan Zet memantau keadaan. Di persembunyian ada Alden, Rafa, Ryan, Firo, Cenan dan Kevan sedang memantau juga namun yang terlihat hanya Nel dan Zet saja.


"Mana Tuan dan Nona kalian? Mati?" Ucap Sam Clarke.


Dari jauh pintu masuk rumah sakit ada Shakila dan Nisha sambil mendorong tempat untuk alat operasi yang dia isi dengan obat bakar semalam. Mereka menyamar jadi suster dan sengaja menabrak Sam Clarke.


"Aduh! Maaf tuan, maaf tidak sengaja." Ujar Shakila menumpahkan obat itu di baju depan Sam.


Rafa dan Ryan menyadari jika itu adalah gebetan mereka. Kali ini giliran Shakila. Shakila pura-pura tersandung dan menyiram kaki sam.


"Aduh, maaf tuan. Tadi kesandung, tidak sengaja." Ujar Shakila.


Niesha dan Shakila segera pergi setelah melakukan ide nya. Saat ingin berteriak meminta pertanggungjawaban Sam merasa tubuhnya dan kaki nya panas. Shakila dan Niesha memakai sarung tangan pelindung.


"Aaakh!!! Panas!" Teriak Sam Clarke.


Yumi dan Quira yang mendengar itu keluar dari tempat persembunyian tanpa alas kaki. Menginjak cairan obat itu dan merasa kaki nya terbakar melepuh kemudian berteriak.


"Aaakh!!! Tolong! Panas! Kak panas! Aakkkh!" Teriak Yumi Quira bersamaan.


Shakila dan Niesha tidak tau jika Alden dan yang lain ada di persembunyian belakang Zet Nel. Mereka ber tos ria setelah rencana nya berhasil, kemudian mereka di kagetkan dengan munculnya Alden dan yang lainnya.


"Bagus ya, pantesan tadi tiba-tiba ngilang. Sudah mulai ikut-ikutan kayak Olive ya, bandel banget." Kesal Ryan.


"Tapi kalian hebat beranian." Puji Rafa.


"Lu gimana sih. Gua lagi ngomel lu malah kasih pujian. Ah! gak kompak amat lu." Kesal Ryan.


"Sudah-sudah jangan berdebat lagi, lihat mereka udah kepanasan banget sampe lari kesana-kemari." Ujar Cenan menengahi pertengkaran.


"Kali ini gua jamin mereka bakal kapok." Ucap Shakila.


"Setuju." Sahut Niesha.


"Tapi kalo mereka masih berani muncul di hadapan Olive., gak bakal gua sia-sia in kesempatan buat nyiram satu ember obat itu." Lanjut Shakila.


"Lu lihat kan Olive bagian kaki sebelah aja gimana menderitanya. Apalagi sekarang, tapi gua bakal setuju banget sih sama rencana lu." Jawab Niesha.


"Kalian nggak kasian sama mereka?" Tanya Ryan.


"Kamu pikir deh. Emang mereka pernah merasa kasian sama Olive? Udah hidup tenang bisa kumpul sama keluarga nya lagi malah di usik. Mereka tuh iri sama kebahagiaannya Olive. Karena ulah mereka sendiri juga masang bom bunuh diri, malah nyalahin orang." Kesal Shakila.


"Kalo itu aku setuju. Tapi, lihat kita nggak bertindak apa-apa mereka teriak begitu?" Ucap Ryan.


Sam, Quira dan Yumi berjalan ke arah Alden dan kawan-kawan.


"Tolong kami! Ini rumah sakit! Kenapa tidak ada tindakan sama sekali hah!" Protes+teriak Sam.


"Tadinya gua mau berbaik hati minta dokter terbaik buat rawat kalian. Tapi, karena bicara kasar lu gua lepas tangan deh." Kata Alden.


"Dokter Tomi, Tolongin mereka." Pinta seseorang di belakang Alden dkk.

__ADS_1


Saat Alden menengok, tak di sangka itu adalah Olive.


"Olive!" Panggil Shakila dan Niesha menghampiri Olive yang duduk di kursi roda di dorong oleh Phia.


"Olive, mereka udah jahat banget sama lu. Lu masih punya hati buat nolongin mereka?" Tanya Niesha.


"Dalam kamu seorang Olive, gak ada kata menolong musuh. Tapi, menyiksa musuh. Kalian tenang aja, gua gak akan sebaik itu ke mereka." Ucap Olive penuh penekanan membuat yang mendengar bicaranya merinding.


"Bawa mereka ke ruangan." Perintah Tomi.


Para perawat dengan penutup tubuh membawa Sam, Quira dan Yumi ke sebuah ruangan.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya Alden.


"Menyiksa mereka." Sahut Olive.


"Dengan cara?" Tanya Ryan.


"Aku dan Dokter Tomi dapat stok penawar obat bakar itu dari Zaylee saat kejadian tempo hari. Kemudian karena terlalu sedikit Dokter Tomi berniat untuk memperbanyak dengan mempelajari nya dan hasilnya berhasil." Ujar Olive.


"Lalu?" Tanya Shakila.


"Lalu aku berniat untuk mengobati mereka secara perlahan. Bukan melalui suntikan langsung dan sembuh dalam semalam. Tapi di basuh dan membutuhkan waktu kurang lebih setengah tahun untuk bisa sembuh total sepertiku. Jadi, hidup aku selama setengah tahun kedepan di jamin aman. Bagaimana?" Jelas Olive.


"Ide yang cemerlang. Olive hebat!" Puji Shakila dan Niesha.


"Phia bawa Olive balik ke kamar." Perintah Kevan.


"Oke kak." Sahut Phia.


"Kak tarik mundur!" Perintah Olive.


Dengan cepat Phia menarik mundur kursi roda Olive. Selisih beberapa detik pisau itu menabrak tembok tak jauh dari Olive berada. Alden dan yang lain mengelilingi Olive, Phia, Shakila dan Niesha. Ditambah beberapa bawahan mereka untuk melindungi tuanya.


Olive meminta tolong Alden untuk ambilkan pisau itu. Olive melihat dan seperti tebakannya itu pisau milik Kevino Wiyata.


"Zet, Arah jam 9 waspadalah." Ucap Olive.


Pintu lift terbuka, segera mereka masuk ke dalamnya. Termasuk Olive.


"Siapa tadi dek?" Tanya Firo.


"Kevino Wiyata. Ini pisau miliknya, Zet, periksa pisau ini dengan teliti. Kamu mengerti?" Pinta Olive.


"Baik nona, setelah ada kabar akan segera di laporkan." Sahut Zet.


Olive kembali ke kamar dengan Alden dan lainnya sementara Zet dan Nel menuju kamar di samping nya kamar rawat Olive untuk memeriksa senjata Kevino.


Setelah di teliti dengan sangat baik, Zet menemukan secarik kertas di dalam gagang pisau itu.


Izinkan aku untuk menjaga kakak mu dengan menikahi nya. Aku serius. -Kevino Wiyata-


Zet langsung menatap Nel, mereka saling menatap satu sama lain. Sementara itu Oma dan yang lain pun pulang. Tersisa Alden dan Olive di kamar, Zet ragu untuk memberikan kertas yang di temukannya. Zet mengketuk pintu kemudian masuk ke kamar Olive diikuti Nel.


"Apa yang kalian temukan?" Tanya Alden.


"Itu... Emm... saya tidak yakin ini waktu yang tepat tuan." Sahut Nel.

__ADS_1


"Zet ada apa?" Tanya Olive.


"Nona, sebaiknya tunggu pulih dulu baru kita membicarakan ini. Ini bisa mempengaruhi kesehatan nona ke depannya." Jawab Zet.


"Berikan padaku. Aku tidak apa-apa." Pinta Olive.


Zet pun memberikan secarik kertas itu dan membaca isi nya. Olive membelalakan matanya terkejut dengan tulisan itu. Kemudian ponsel Olive berbunyi tertera nama Kevino Wiyata di layar nya. Olive langsung mengangkat dan memasang speaker.


Kau Gila?


Ini untuk keselamatan kalian. Clarke tidak akan berani mengganggu ketika kita benar bersatu. Hanya cara ini, mereka tidak ada hubungannya dengan Zaylee. Zaylee ada di negara T untuk di tindak lanjuti karena beberapa luka yang dia dapatkan. Aku bersungguh-sungguh.


Tidak Akan! Aku tidak ingin membawa kak Phia ke lubang trauma nya! Kau gila Vino!


Jika kau tidak ingin kakak mu menikah dengan ku bagaimana denganmu?


Gila kau! Olive hanya milikku.


Sekarang kalian pilih, hidup kalian akan selalu terusik dengan Clarke atau membiarkan mereka berhenti mengusik kalian. Aku bersungguh-sungguh. Baiklah, tidak menikah dengan cepat. Kenalan, kemudian tunangan lalu menikah seperti pada umumnya. Bagaimana?


Tidak! Aku tidak akan mengorbankan kak phia untuk orang bejat sepertimu.


Hei nona, kau mengira aku sama seperti Sam? Baiklah, dengarkan aku. Aku masih perjaka dan aku akan bertanggung jawab atas kesalahan ku terdahulu hingga menyebabkan Phia menjadi trauma. Aku akan memberikan waktu 3 hari, kalian pikirkan dengan baik.


Aku setuju!


Tiba-tiba Phia muncul dari arah pintu. Membuat Zet, Nel, Alden dan Olive sangat terkejut. Dengan cepat Olive mematikan Speaker nya.


Hubungi 7 Hari lagi!


Kemudian Olive mematikan sambungan teleponnya.


"Kakak kenapa disini? Sejak kapan? Apa ada yang tertinggal?" Tanya Olive.


"Dek! Jangan mengalihkan topik. Tatap mataku." Pinta Phia.


Olive terus menghindar, ia tidak ingin menatap kakak nya. Akhirnya Phia menahan wajah Olive dan mereka saling tatap. Olive mulai berkaca-kaca matanya, Olive memejamkan matanya.


"Kevino Wiyata bukan orang jahat. Dia hanya di hasut oleh Clarke untuk berbuat jahat kepada kita. Niat dia sudah sangat baik untuk kita hem?" Kata Phia.


"Tapi bukan begini cara nya kak. Aku nggak mau dengan cara ini, oma dan yang lain juga tidak akan setuju. Tidak mungkin ini terjadi kak. Jangan berkorban lagi, bisakah?" Pinta Olive.


Phia memeluk Olive. Tangis Olive pecah, Olive menangis di pelukan Phia.


"Kita bicarakan setelah kamu di bolehkan pulang dari rumah sakit dan aku pastikan oma serta yang lain sudah setuju juga dengan permintaanku ini. Cepet sembuh sayang." Ucap Phia mencium kening Olive kemudian pergi.


"Kak! Kak Phia! Zet kejar kak Phia. Sekarang!" Perintah Olive.


Zet langsung mengejar Phia namun pintu lift sudah tertutup rapat dan membawa Phia ke lantai dasar. Olive berusaha memaksa untuk turun dari kasur mengejar Phia namun di tahan Alden.


"Olive!" Panggil Alden membuat Olive yang tadinya gusar menjadi diam.


"Alden, ku mohon hentikan kak Phia. Hiks... hiks... aku... aku... "


Olive pingsan karena saking histerisnya. Alden meminta Nel untuk memanggil Tomi. Dokter Tomi datang dan memeriksa keadaan Olive.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2