
Tak lama kemudian mereka sampai di pekarangan markas Nugraha. Para pasukan memberi hormat kepada Olive dan Alden. Saat Olive membuka pintu nya, Olive langsung menunjukkan gigi nya. Oma nya sudah menunggu di depan sambil memegang sebuah sapu.
"Kau ini... " Ujar Oma.
Olive berlari memasuki markas.
"Oma... Oma ampun! Janji bener ini terakhir... huaaa oma... " Teriak Olive berlari menjauhi oma nya.
Alden yang melihat itu terkejut lalu tertawa.
"Olive, sini." Perintah Oma nya.
"Huaaa... Oma... beneran tadi terakhir nggak-nggak lagi. Zet! Awas kau yaaa." Teriak Olive menghindari kejaran Oma nya.
"Oma perlu bantuan?" Tawar Alden.
"Hah? Kak, oh ayolah... ya, kalian tidak mau membatu ku?" Ujar Olive pada pasukannya.
"Kau meminta bantuan kepada pasukanku sayang? Hooh! No No ya. Selama oma ada di markas ini mereka akan menuruti perintah oma. Tentu saja kamu boleh membantuku nak." Ucap Oma.
"Wah, oma curang. Aaaa... " Teriak Olive yang menghindari kejaran oma dan Alden.
"Maaf nona." Kata pasukan Nugraha.
Opa Nugraha datang dari arah pintu kamar. Olive segera meminta perlindungan.
"Opaa... opa tolong aku... aaaa... Oma itu... " Ucap Olive bersembunyi di balik Opa.
"Ehhh ada apa ini? Aduh, sayang jangan di puterin opa nya pusing." Keluh Opa.
"Opa, lihatlah. Oma menyeramkan membawa sapu begitu. Apa opa tidak mengerti?" Ujar Olive yang masih waspada.
"Mah, hentikanlah sudah. Lagian Olive sudah lama tidak seperti itu. Anggaplah sebagai latihannya." Kata Opa dan Olive mengangguk karena mendapat pembelaan.
"Hooo... Kau ini selalu membantu cucu mu. Benar-benar ya kau." Ucap Oma yang mulai memukul Opa dan Opa berlarian.
"Wahh... Sayang bukan begitu. Aduh! Sayang... Maksudku... " Kata Opa mengaduh sambil lari mengelilingi markas.
Olive tertawa melihat Opa nya yang menjadi korban pukul Oma.
"Hem, urusan kita belum selesai Nona." Ujar Alden membuat Olive berhenti tertawa.
"Hehe... kak, aku kan sudah janji. Itu benar-benar yang terakhir." Sahut Olive sambil berjalan mundur siap untuk lari.
"Aku tidak yakin jika belum memberimu pelajaran." Ucap Alden yang mulai mengejar Olive.
Dengan cepat Olive lari keluar markas, tepatnya di halaman belakang.
"Huaaaa.... " Olive kabur.
Alden mengejar Olive. Alden sempat kewalahan dengan kecepatan lari Olive.
"Ya! Kenapa jadi luas sekali tempat lari nya?" Teriak Alden merasa tidak adil.
__ADS_1
"Aku butuh tempat yang sangat luas untuk menghindarimu kak. Jika tidak, ahhh... tidak jadi." Goda Olive sambil jalan mundur.
"Kamu ini... " kejar Alden.
"Hahaha.... aku bercanda... Ya! Aku hanya bercanda." Berlari ke arah pepohonan untuk menghindari Alden.
Oma dan Opa yang sudah kelelahan pun duduk di sofa. Langsung di suguhi minuman oleh pelayan. Mereka baru sadar jika Olive dan Alden tidak ada di dalam markas.
"Kemana Olive dan Alden?" Tanya Oma kepada salah satu pasukannya.
"Disana nyonya." Sahut pasukan itu menunjuk ke arah Olive Alden yang masih berlarian di halaman belakang.
"Pa, lihatlah. Mereka mengingatkan Oma ketika Olive dan Robert berlarian seperti itu dulu. Mama jadi kangen robert pah. Seandainya dulu kita bisa lebih cepat mungkin tidak akan jadi seperti ini." Ucap Oma menyesal.
"Jangan menyalahkan diri, lihat hasil didikan kita lebih tahan banting. Walaupun dia harus berkali-kali menerima kenyataan yang pahit tapi dia masih tersenyum bahagia sekarang. Robert selalu bilang sama Opa dia ingin keluarga nya normal. Hanya ada perselisihan keluarga bukan dengan orang luar. Sebelum kejadian Robert opa yakin cucu kita tidak akan menuruni kita sebagai mafia. Tapi ternyata, kita masih memiliki satu. Kita bahkan melatihnya dengan baik, untung tadi dia tidak membunuh atau melukai siapa pun. Walau dia sangat marah dia masih memiliki hati yang baik, jika itu aku sudah pasti aku akan menembaki nya tanpa ampun. Benar bukan?" Sahut Opa.
"Kamu benar pah, untung kita membimbing nya dengan baik. Oma juga berharap mereka bisa bersatu, tapi kalo nggak pun juga nggak masalah." Ujar Oma.
"Opa juga berharap begitu, mereka terlihat serasi dan bahagia. Bahkan aku tidak pernah lupa kapan terakhir kali Olive benar-benar sebahagia ini. Robert dan kemudian Alden mengembalikan kebahagiaannya lagi." Ucap Opa.
Sementara di sekolah, Niesha dan Shakila khawatir jika ada apa-apa terjadi kepada Olive Alden. Padahal Olive Alden sedang main kejar-kejaran.
"Haaah! Kak aku nyerah. Huuf... Huff... Aku beneran janji tadi yang terakhir. Aku juga tidak akan membawa senjata api lagi, hanya pisau belati. Sudah, aku lelah." Ujar Olive tergeletak di rerumputan, tiduran sambil melihat awan langit.
"Huuf... Hufff... " Nafas Alden yang juga kelelahan dan ikut tiduran di samping Olive.
"Kita harus kembali ke sekolah. Ini sudah lebih dari sejam, pasti mereka sangat khawatir." Kata Olive bangun untuk duduk.
Saat bibir mereka sudah tinggal beberapa centi lagi saling bersentuhan, tiba-tiba ada air menjatuhi mereka. Ternyata hujan turun, untuk menyadarkan mereka.
Olive langsung duduk menutup wajahnya. Alden pun tertawa kecil melihat salah tingkah Olive. Para pasukan datang membawa payung menghampiri mereka. Alden langsung berdiri, lalu menarik Olive agar berdiri.
"Bersikaplah normal, oma opa sedang melihat kita." Bisik Alden membuat Olive mencubit tangan Alden.
Alden mengaduh dan tertawa mendapat respon itu. Mereka kembali ke dalam markas sambil di payungin pasukan.
"Mandi gih kalian, Nanti bisa sakit kalo tidak segera mandi." Ucap Oma membuat Olive terbatuk.
Alden tersenyum.
"Hem! Maksud Oma, kalian mandi lalu sudah oma sediakan baju seragam yang bisa kalian pakai. Tentu saja di kamar yang berbeda." Jelas Opa.
"Ish! Opa kenapa di perjelas." Cemberut Olive lalu naik ke kamar nya yang di lantai dua.
"heum? Apa aku salah?" Tanya Opa.
"Hadeuh, kau ini. Nak, pergilah kelantai dua. Ada kamar nanti di tunjuki oleh pelayan disini. Nanti kamu sakit." Ujar Oma.
"Baik oma, terima kasih." Sahut Alden pamit ke atas.
Oma tersenyum. Olive masuk kamar dan mengunci kamarnya. Olive segera masuk ke dalam kamar mandi menyiapkan air hangat. Dia akan berendam sebentar lalu mandi. Setelah Olive selesai mandi, ia menuju wardrobe nya dan memakai baju sekolah yang sama.
Ponsel nya berdering, tertera di layar Niesha dan Olive langsung mengangkatnya sambil keluar dari kamar sambil di loudspeaker.
__ADS_1
Kamu dimana?
Gua masih di markas. Ada apa? Apa kalian di kepung?
Tidak. Gua sama kila cuman takut lu sama kak Alden yang di kepung di jalan.
Nggak kok. Kalian tenang aja gua---
DORRR!
Halo? Sha? Itu suara apa?
Shakila! Niesha! Kita berlindung ke markas Fausta! Hayo cepat!
Ada apa kak? Tadi suara apa?
Keluarga Clarke lagi, yang kemarin mengepung Alden Olive di jalan. Kita harus pergi dari sini. Cepat!
Halo?
Liv, nanti gue telepon lagi kalo situasi aman. Lu ajak kak Alden ke markas fausta. Please, gua mohon jangan ke sekolah ya. Gua mohon, janji sama kita.
Gua nggak bisa.
Liv, please udah cukup lu bikin kita ketakutan kayak tadi. Udah ya, mereka terlalu banyak.
Oke, gue ke markas fausta.
Gua tunggu sejam lu di sana dari sekarang. Please, gua sama Kila nggak mau lu kenapa-napa. Oke?
Iya, gua ke otw sekarang. Kalian berhati-hatilah saat keluar dari sekolah.
Oke, bye!
Olive melihat Oma nya dan Oma langsung menggeleng.
"Nggak. Oma nggak mau denger, udah oma mau istirahat. Ayo pa, kita ke kamar." Ajak Oma.
"Opa, please." Mohon Olive.
"Cukup sayang, mereka tidak akan ada habisnya. Biarkan dulu sampai mereka lelah. Kalo begini kita harus merubah tempat untuk acara promnight. Alden, bawa Olive langsung ke markas. Jangan biarkan dia untuk melakukan perlawanan lagi. Besok Opa akan memberi perhitungan dengan mereka, agar kamu bisa beristirahat." Ujar Opa tanpa sengaja menepuk tepat luka jahit Olive.
"Aawww!" Rintih Olive dan Opa terkejut langsung menaikkan baju lengan sampai ke pundak.
"Siapa yang melakukan ini?" Tanya Opa marah.
Opa muka nya merah karena marah lalu Oma keluar dari kamar.
"Ada apa teriak-teriak?" Ujar Oma.
"Lihat! Cucu ku terkena luka tembak. Olive kasih tau Opa siapa orang nya. Cepat!" Ucap opa.
Bersambung...
__ADS_1