Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 70 - Pembuktian Sebuah Cinta


__ADS_3

"Kalian sudah baik banget sama keluarga gua. Gua nggak tau harus gimana balas kebaikan kalian." Ucap Belden.


"Bro! Lu itu udah kayak saudara gua sendiri. Nggak perlu deh ngerasa gak enak gitu. Gua sama yang lain dulu juga banyak ngerepotin lu ini balasan buat kebaikan lu juga." Kata Barel.


"Iya, lagian ini nggak seberapa dengan bantuan lu selama ini. Lu benar-benar lagi di serang sama orang-orang yang gak ngerti Mafia baik. Jadi, kalo ada apapun jangan pernah sungkan. Terutama tadi, Kevan di serang langsung gua kirim pasukan gua buat jagain dari jauh. Gua dan yang lain nggak akan ikut campur masalah keluarga. Tapi, kita bakal lindungin lu dan keluarga lu apapun resikonya." Ujar Firo.


"Kamu jangan ikut-ikutan bantuin. Bahaya tau, udah biar aku aja." Ucap Kevan kepada Luna.


"Aku itu lindungin oma, mama, phia dan Via. Kan jadinya adil, kalian bikin pelindung dari luar aku bagian pelapis tebal nya di dalam. Tapi, dapat laporan ada bercak darah di kamar mama dek?" Ujar Luna dan Olive mengangguk.


"Aku nggak tahu siapa, aku cuman takut kak Phia sama mama yang jadi korban disini." Sahut Olive.


Tiba-tiba ponsel Olive berbunyi, telepon dari Zet.


Nona.


Ada apa? Siapa dalang nya?


Nona, di rumah sedang ada yang tidak beres sebaiknya nona tidak pulang ke rumah dan berada di markas Faustan dengan tuan Alden.


Kak phia gimana? Apa semua aman?


Kami sedang sembunyi di ruang bawah dan akan segera keluar lewat pintu belakang.


Bagaimana bisa? Siapa yang memimpin? Clarke? Wiyata?


Clarke, nona. Mereka sudah masuk ke pekarangan rumah.


Zet, dimana senjata ku?


Maaf nona. Nyonya besar tidak mengizinkannya.


Zet, kalian akan terus dalam bahaya disana. Aku hanya akan mengalihkannya.


Maaf nona, Nyonya besar tidak mengizinkan anda untuk datang dengan jarak 1 KM.


Olive kesal dan mematikan teleponnya sepihak.


"Ada apa?" Tanya Alden.


"Pinjam senjata kamu." Ujar Olive.


"Tidak. Ceritakan dulu." Sahut Alden.


"Rumahku di kepung oleh Clarke. Aku Heran kenapa banyak yang memberi bantuan kepada mereka? Pasukan mereka seharusnya sudah habis. Siapa yang membantunya selain Wiyata?" Kesal Olive.


"Cassano." Sahut Kevan.


"Cassano? Apa yang mereka inginkan? Maksudku, aku hanya punya masalah dengan Clarke dan Wiyata. Tunggu, Cassano? Musuh papa?" Tebak Olive dan Kevan mengangguk.


Dengan gerakan cepat Olive mengambil belati di kantong Cenan dan berlari keluar Bar. Namun pengawalan Oma menghalanginya.


"Nona kedua, maaf kami harus mengantar anda ke tempat aman." Ucap Pengawal itu.


Belden yang lain pun keluar dari Bar dan terkejut dengan pengawal kiriman Oma untuk mereka.


"Haruskah aku menyakiti kalian? Kalian tau itu bukan?" Marah Olive.


"Olive tenangkan dirimu. Kami disini akan membantu." Ucap Kevan.


Kevan, Luna, Cenan, Firo dan Barel mengirim pengawal ke rumah Nugraha untuk meredakan pengepungan disana.

__ADS_1


"Olive, kita mohon jangan nekat. Ini berbahaya, demi kami." Ucap Nisya.


"Iya Olive. Tenang ya sesegera kita bakal dapat kabar baik." Ujar Shakila.


Olive akhirnya mengikuti kemauan kedua sahabat tersayang nya itu. Tapi, Olive tidak bisa diam. Ia terus berjalan mondar-mandir menunggu telepon dari Zet. Luna akhirnya memeluk Olive untuk memberikan ketenangan.


"Via stop overthinking sayang. Phia dan semua akan baik-baik aja, kamu nggak akan kehilangan phia untuk kedua kalinya." Ucap Luna dan Olive mengangguk.


Tak lama itu, ponsel Belden berbunyi.


Tuan. Kami semua aman sekarang.


Dimana kalian?


Kami di bawa ke markas tuan Cenan.


Baik. Aku mengerti, apa Phia baik-baik saja?


Nona Phia, masih dalam keadaan pingsan tuan karena shocked. Sudah ada dokter dari tuan Cenan yang datang. Semua sudah terkendali.


Baiklah kalau begitu, laporkan terus keadaan disana dan pastikan Phia baik-baik saja.


Baik tuan saya mengerti


Belden menutup teleponnya, Olive langsung menghampiri sang kakak.


"Gimana? Semua baik-baik saja?" Tanya Olive.


"Semua terkendali. Kamu bisa tenang sekarang karena Phia ada di markas Cenan." Sahut Belden.


Olive hilang keseimbangan untung Alden cepat tangkap berdiri di belakang Olive.


"Kita masuk sekarang. Jangan fikirkan hal lain. Beristirahat saja." Ajak Alden masuk ke dalam Bar bersama Olive.


Suprise! Ternyata rumah kediaman Nugraha menarik juga. Apa? Ada darah di lantai kamar? Hahaha! Setidaknya aku berhasil menakutimu. Walaupun kau langsung meminta bantuan kepada teman-teman mu itu.


Huh! Membosankan. Sudah? Ini tidak penting. Terimakasih surprisenya.


Olive mematikan teleponnya membuat Yumi Clarke emosi dan menelepon Olive lagi. Saat Olive menghitung sampai 3 ponselnya kembali berdering dengan nomor yang sama. Olive mendiamkannya sampai 2x dan untuk yang ketiga kalinya Olive mengangkatnya.


*KAU JA*ANG! BERANI NYA TIDAK MENGANGKAT TELEPON KU*!


Wow! Teriakan nu sampe tembus antartika. Santai saja yumi Clarke, aku sudah mengirimkan sesuatu kepadamu sebagai balasannya.


Tiba-tiba terdengar suara ledakan sebanyak tiga kali tidak jauh dari markas Yumi Clark.


Ahhh... sepertinya tidak sesuai ekspektasi ku. Harusnya panggilannya terputus.


"Nona Yumi kita harus keluar dari sini! Ini sangat berbahaya! Cepat Nona!" Ujar Tri asisten kepercayaan Yumi.


Sialan!!! Awas kau---


Olive mematikan teleponnya sepihak. Lalu Zet menelepon.


Bagaimana? Kalian sudah benar aman?


Kami sudah aman nona. Kami benar-benar di markas tuan Cenan. Rumah juga sedang dalam pengamanan evaluasi, pengecekan seluruh isi rumah dengan detail dan merombak pengawal. Terdapat 5 tersangka.


5 orang? Wah! Jago juga mereka menyusup. Seperti biasa, bawa mereka ke gudang itu sisa nya biar aku yang membereskan.


Maaf nona, kali ini Nyonya besar sudah turun tangan lebih dulu. 5 tersangka itu sudah babak belur tidak bertenaga. Nyonya besar juga menambahkan granat sebanyak 10 di sekitar markas Wiyata dan Clarke.

__ADS_1


Hei! Oma mendahuluiku.


Maaf sayang, tangan oma sudah terlalu gatal untuk membunuh mereka secara halus. Jika mereka tidak berubah oma akan menyerang secara intens.


Apakah oma lupa umur oma hem? Biarkan kami saja yang mengurusnya.


Tidak. Oma akan tetap ikut andil walaupun jarak jauh. Oma tidak rela jika anak dan cucu dan keturunannya nanti tidak damai hidupnya. Cukup sampai kamu aja.


Aku akan pulang malam ke rumah utama nugraha. Kita ketemu disana.


Ahhh, kamu sedang di luar ternyata?


Ya, aku di Bar milik kakak.


Oma kira kamu ada di markas Fausta karena oma sudah mengirim pengawalan berlapis buat kamu.


Terimakasih atas kejutannya oma tersayang, aku hampir membunuh mereka.


Jika kamu berani membunuh mereka berarti kamu harus siap untuk di asingkan. Ingat perjanjiannya sayang, kita sudah sepakat.


Huufft! Oma benar juga.


Dek, ajak luna kesini ya.


Kak Luna akan berkunjung jika kakak cepat sehat kembali.


Ahhh, baiklah aku menurut.


Kabarin kami jika ada apapun disana. Mengerti?


Tentu. Kami akan menjaga diri disini. Bye sayang!


Bye!


Olive mematikan telepon itu. Di benaknya sedang memikirkan berbagai cara agar dirinya bisa lolos dari keadaan saat ini. Olive tidak ingin menambah korban lagi, walaupun keluarganya sudah berkumpul kembali tapi sekarang sahabatnya yang akan menjadi target baru musuhnya itu.


"Sut! Apa yang kamu pikirkan?" Bisik Alden dan Olive langsung geleng cepat.


"Tidak ada. Aku hanya lelah saja. Kamu lanjut mengobrol saja dengan yang lain." Ucap Olive.


"Alden! Ayo, main billiard. Biarkan Olive beristirahat dia tidak akan bisa kemana-mana." Ajak Kenan.


"Sana bersenang-senanglah. Aku akan istirahat disini." Ujar Olive.


"Berjanjilah tidak melakukan apapun padaku, tidak akan membahayakan dirimu." Kata Alden dan Olive tersenyum mengangguk.


"Aku janji." Sahut Olive.


Alden pun bergabung dengan yang lain bermain billiard. Tak lama itu pelayan datang membawa pesanan Olive dan yang lainnya. Shakila dan Niesha juga bergabung disana dengan Luna juga. Olive hanya sendiri di meja bar itu. Olive memakan pesanan nya setelah selesai ia pun tidur di kursi panjang dengan badan yang meringkuk.


Satu jam berlalu, Alden memutuskan kembali ke meja dan melihat Olive tertidur lelap. Alden melepaskan jaket dan melampirkan ke pundak Olive untuk jadi selimut. Belden dan yang lain melihat ketulusan Alden kepada Olive, mereka sangat terharu.


"Bro! Akhirnya ada yang bisa jadi pawang adik lu. Baru kali ini gua lihat Olive jadi penurut, dulu dia paling takut sama Robert sekarang ada penerus Robert. Jadi, lu nggak perlu khawatir lagi." Ucap Barel.


"Gua setuju sama Barel, lu tenang aja kita nggak akan lepas tangan begitu aja. Kita bakal tetap pantau kemana aja mereka pergi. Walaupun udah ketahuan sih, tapi gua yakin Alden bisa jaga Olive kayak kita dan Robert jaga Olive juga dulu." Lanjut Cenan.


"Tapi, ada yang ganjel buat gua bro! Gua takut disaat Cinta masa kecilnya datang Olive bakal di tinggal gitu aja. Itu bakal jadi trauma baru buat Olive. Sekali lu bikin goresan nggak akan ada kesempatan kedua." Ujar Belden.


"Kakak tenang aja, kita berdua bakal ingatin Alden terus kalo dia berani sakitin Olive." Sahut Ryan.


"Kita juga bakal maju kak buat lindungin Olive." Sambung Niesha.

__ADS_1


"Senang lihatnya, banyak yang sayang Olive sekarang. Coba Robert bisa lihat ini pasti bahagia banget kakak preman nya udah dapat pawang baru. Robert pasti bakal cemburu." Tutur Luna terharu.


Bersambung...


__ADS_2