Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 85 - Harapan bersama-Mu


__ADS_3

Alden menekan tombol memanggil suster. Tak menunggu lama dokter dan beberapa suster memasuki kamar rawat Olive.


"Lain kali pasang alarm, tuan. Jadi saya tidak merasa mengganggu kalian." Protes Dokter.


"Siapa yang minta pemeriksaan di awal jam." Omel Alden.


Olive mencubit kecil pinggang Alden.


"Aduh, sakit sayang." Kesal Alden.


"Diam. Aku yang minta periksa awal, karena kan ada latihan jalan juga." Ucap Olive.


"Latihan jalan? Belum juga 2 hari udah mau latihan jalan. Gak ada tawar menawar pulang lebih cepat dari prediksi dokter." Omel Alden.


"Tapi aku kan nggak apa kak." Sahut Olive.


"Kamu nggak apa, tapi hati aku sakit lihat kamu terus terluka kayak gini." Kata Alden.


Olive terkejut dengan perkataan Alden yang sangat menyentuh hatinya.


"Sudah bisa dilakukan pemeriksaan?" Tanya dokter dengan nada sedikit kesal.


"Periksa aja." Jawab Alden kemudian duduk di sofa tak jauh dari kasur Olive.


Dokter tomi memeriksa Olive dan meminta suster mengganti perban jahitan. Setelah menunggu beberapa saat Olive sudah selesai diperiksa. Dokter pamit undur diri. Alden masih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


"Alden." Panggil Olive.


"Apa?" Sahut Alden dingin.


"Maaf." Ucap Olive.


"Besok juga di ulang lagi." Jawab Alden.


"Nggak. Aku nggak bakal ngulangin, janji." Ujar Olive.


Alden tidak merespon. Olive berniat untuk turun dari kasur dan menghampiri Alden.


"Aku turun nih. Beneran... " Kata Olive.


Kaki Olive sudah menyentuh lantai, Alden mulai melirik dan khawatir Olive jatuh.


"Kak, aku mau makan suapin. Aku jalan nih kesana." Ucap Olive.


Olive mulai berdiri tegak tapi masih pegangan dengan kasur dan meja nakas. Sesekali Olive hampir jatuh namun Alden masih berusaha terliha tenang. Olive jalan agak di seret karena jahitannya mulai merasa sakit.


"Kak, aku lepas nih. Kalo aku jatuh jangan marah ya." Kata Olive memperingatkan.


Olive mulai melepas tangan kanan dari kasur lalu tangan kiri dari nakas. Baru maju selangkah kaki kanan rasanya tubuh Olive seperti jelly. Olive berteriak dan memejamkan mata. Tapi Olive tidak merasa dia jatuh ke lantai. Saat membuka mata nya, Alden sudah menopang tubuh Olive. Olive tersenyum namun malah mendapat sentil di kening. Kemudian Alden menggendong Olive kembali ke kasur.


"Kak maaf." Ucap Olive.


Karena kesal tidak mendapat respon dari Alden. Olive pun menarik meja makan di kasur pasien dan mengambil nampan berisi semangkuk bubur hambar, soup hambar dan susu. Alden kaget dengan gerakan cepat Olive.


"Sana pulang aja. Aku bisa ngurus sendiri." Ujar Olive mulai makan.


Sekarang bergantian Olive yang memilih untuk tidak berbicara. Alden duduk di pinggir kasur sisi kiri Olive. Olive menghindar dan melanjutkan makan.


"Pelan makan nya nanti tersedak." Ucap Alden dan Olive tidak merespon.


Alden mengambil mangkuk bubur. Olive makan soup nya. Alden ambil mangkuk soup. Olive meminum susu nya kemudian di taruh di nakas melipat meja kemudian tidur membelakangi Alden.

__ADS_1


"Makan nya belum selesai kok udah tidur. Lanjutin lagi dong makan nya, masa dikit banget." Kata Alden dan tidak ada respon dari Olive.


Alden menekan tombol agar kasur pasien menjadi setengah naik. Alden menyuap bubur kedalam mulutnya. Karena Olive merasa tidak nyaman dengan posisi kasur yang setengah naik hendak protes.


"Alden turunin ka---"


Alden menyuapi Olive melalui mulutnya yang berujung menjadi ciuman. Alden melepas ciumannya dan melihat Olive yang masih terkejut.


"Mau di suapin lagi atau makan sendiri?" Tanya Alden.


Tanpa merespon, Olive menekan tombol agar kasurnya turun kembali.


"Udah kenyang." Tolak Olive.


"Ouh, mau kuat-kuat an ngambek. Hayuk! Siapa takut." Ucap Alden.


Alden menarik meja di kasur pasien kemudian meletakkan soup dan bubur di atas meja.


"Duduk terus makan." Pinta Alden.


"Nggak kak. Aku beneran udah kenyang." Sahut Olive.


"Habisin sayang buburnya sama soup. Ayo dong." Bujuk Alden.


"Nggak mau kak. Terlalu hambar aku gak suka." Tolak Olive.


"Beneran terlalu hambar? Bukan karena minta disuapin kayak tadi?" Tanya+Goda Alden.


"Ish! Nyebelin banget sih." Kesal Olive kemudian perlahan duduk dan memakan bubur+soup.


"Pelan makan nya." Ucap Alden mengambil sendok dari tangan Olive.


"Masih hambar nggak?" Tanya Alden.


"Nggak tau." Ketus Olive.


Alden menyuap bubur ke dalam mulutnya kemudian mencium Olive, menyuapinya melalui mulut. Alden mengusap mulut Olive yang belepotan dengan jemarinya.


"Masih hambar deh kayaknya. Coba sekali lagi." Ujar Alden yang ingin menyuap bubur ke dalam mulutnya namun di tahan Oleh Olive.


"Sudah. Aku bisa sendiri." Kata Olive.


"Yakin?" Tanya Alden.


"Ya." Ketus Olive.


Saat Olive ingin menyuap buburnya tiba-tiba Alden mencium bibir Olive, awalnya Olive memberontak tapi berakhir ikut hanyut. Sampai mereka kehabisan oksigen.


"Dari tadi aku diam, biar kamu makan banyak nyebut aku *Kak* ternyata emang di sengaja ya." Ucap Alden.


Olive menggeleng. Olive memegang ujung baju Alden dan menariknya membuat Alden tersenyum dan gemas.


"Apa?" Tanya Alden.


"Aku beneran nggak ngulangin lagi, ya?" Mohon Olive.


"Yaudah iya. Aku percaya sama kamu. Sini aku suapin lagi." Kata Alden.


"Nggak, aku makan sendiri aja." Sahut Olive sambil senyum malu.


"Di suap pake sendok kok. Bibir kamu udah bengkak, nanti kalo oma lihat bisa gawat aku." Uxap Alden.

__ADS_1


Olive mencubit kecil perut Alden.


"Dasar bener-bener mesum." Sahut Olive.


"Tapi kalo masih mau lagi gak apa, aku gak nolak." Ujar Alden bersiap menyuap bubur kedalam mulutnya namun langsung dibelokkan oleh Olive masuk ke dalam mulutnya.


Alden masih menggodanya hingga tanpa sadar keluarga mereka sudah cukup lama menunggu di luar sampai terdengar suara tawa mereka berdua. Setelah makan+susu sudah habis duduk di kasur Olive sedangkan Olive bersandar di pundaknya.


"Kamu mau buah?" Tawar Alden dan Olive mengangguk.


Alden mengupas buah jeruk dan menyuapi Olive.


"Asem gak?" Tanya Alden.


"Manis." Sahut Olive.


Alden menyicipi jeruk itu dan ternyata sangat asam membuat Olive tertawa namun sambil merasa sakit karena jahitannya.


"Ouh, kamu udah berani ya ngerjain aku." Ucap Alden.


"Nggak kak, iyaya maaf. Beneran nggak." Sahut Olive masih menahan tawa nya.


"Aku harap nggak ada yang bisa misahin kita. Kalo kamu mau pergi atau tiba-tiba kamu lihat aku, aku mohon dengar penjelasan aku dulu. Karena belum tentu apa yang kamu lihat sesuai sama kejadian itu." Harap Alden.


"Semoga gak ada kesalahpahaman di antara kita." Sahut Olive.


Alden mencium kening Olive.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2