Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 91 - Tidak Ada Jalan


__ADS_3

Melalui infusan Olive diberikan obat penenang dan obat tidur. Olive akan bangun pagi hari.


"Bagaimana?" Tanya Alden.


"Nona butuh istirahat tuan. Saya memberi obat penenang dan obat tidur. Untuk sekarang itu adalah yang terbaik." Sahut Dokter Tomi.


"Aku mengerti, lanjutkan pekerjaanmu dan terimakasih. Zet Nel kalian beristirahatlah lebih awal." Ujar Alden.


"Baik tuan, kami permisi." Pamit Nel diikuti Zet.


Alden duduk di pinggir kasur menatap Olive yang sedang tertidur lelap. Sesekali kening nya berkerut dan Alden akan mengelusnya untuk menenangkan.


"Semua akan baik-baik saja sayang. Percayalah." Bisik Alden.


Alden mencium kening Olive kemudian pergi ke sofa untuk tidur. Alden tidak ingin meninggalkan Olive.


Keesokan paginya~


Rumah sakit 07:00


Olive bangun lebih awal melihat ke sisi kanan dan sisi kiri kamar itu hingga menemukan Alden tertidur di sofa. Olive berpikir bagaimana Alden bisa tidur di kursi sofa yang sempit itu sedangkan badannya cukup panjang.


Seketika ia teringat dengan kejadian kemarin tentang Kevino dan Phia. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar dan masuklah dokter tomi serta suster. Olive meminta agar tidak berisik supaya tidak membangunkan Alden.


"Lakukan dengan perlahan, jangan membuatnya terbangun." Pinta Olive.


"Baik nona." Sahut Dokter Tomi.


Dokter Tomi serta suster mengganti perban dan menyuntik obat dengan segera. Mereka menyelesaikan dengan cepat.


"Nona, datanglah ke ruang latihan jalan jam 9 ini." Kata Dokter.


"Baik Dokter terimakasih. Ahh, untuk makan bisakah aku memesan nasi goreng?" Ucap Olive.


"Tentu saja. Nanti suster yang akan mengantarnya." Sahut Dokter.


"Terimakasih. Kembalilah bekerja." Ujar Olive.


Dokter dan suster pamit dari kamar. Olive menatap Alden yang masih tertidur pulas kemudian menatap keluar jendela.


'Apa yang harus aku lakukan. Benarkan Kevino orang yang tepat untuk kak Phia atau haruskah aku yang melakukannya. Tapi, bagaimana dengan Alden. Aku tidak dapat memikirkan caranya jika hanya diam seperti ini.' Bathin Olive.


Ponsel Olive berdering, Oling langsung mengangkatnya. Memutar badan membelakangi Alden yang sedang tertidur.


Ya?


Kamu sudah tahu tentang Phia?


Hmm


Lalu apa yang akan kamu lakukan?


Aku tidak tahu kak. Aku tidak dapat berpikir jika hanya berdiam di rumah sakit seperti ini.


Kamu menyetujui nya?

__ADS_1


Tentu saja tidak. Memang bukan kevino yang melakukan hal bejat itu tapi dia mengirim kak phia pada Sam bahkan... ah sudahlah.


Phia baru saja meneleponku dan mengatakan hal itu sepagi ini. Dia berencana untuk mengumpulkan sanak keluarga untuk mengumumkan nya hari sabtu. Aku merasa seperti tersambar petir.


Mau ku bantu mengabulkannya lewat setruman listrik kak? Haha..


Kau ini. Aku serius tahu.


Aku tahu. Hari sabtu mungkin kevino juga akan tiba-tiba muncul di hadapan keluarga. Kak, aku butuh bantuan. Jangan sampai kak phia bertemu dengan kevino. Tolong awasi dan kabari aku jika itu terjadi.


Jika aku mengabarimu, kamu tidak akan bisa langsung menemui mereka. Pawangmu tidak akan mengizinkan itu. Sudahlah, kamu fokus saja beristirahat.


Ya memang benar. Tapi, tetap kabari aku jika itu terjadi. Aku mohon dan awasi juga pergerakan Kevino. Entah ini cuman curigaku atau apa. Tapi, aku memiliki firasat buruk kak. Kakak tahu kan aku tidak ingin kehilangan lagi.


Baiklah. Aku akan meminta Kevan, Firo dan Cenan juga untuk hal ini. Kamu tidak perlu khawatir. Cepatlah sembuh dan jangan keluar masuk rumah sakit sayang. Kulitmu bisa rusak karena bolak-balik di suntik.


Ini terakhir. Aku akan pastikan kita bisa duel seperti dulu kak hehe...


Kamu gila dek, jangan bercanda. Eh, ada telepon dari Belden masuk. Sudah dulu ya.


Aish! Dasar bucin. Kakak lebih memilih kak belden ketimbang aku?


Tentu saja. Bye adik ipar ku.


Bye! Love kak.


Olive memutuskan sambungan teleponnya. Tiba-tiba ada tangan yang memeluknya dari belakang membuat Olive terkejut dan mematung di tempat.


"Apa yang kamu rencanakan sayang?" Bisik Alden.


"Ti... T.. Tidak ada. Aku tidak memiliki rencana apapun untuk sekarang. Sungguh." Jawab Olive.


"Alden hentikan. Geli." Protes Olive.


Alden mencium pundak Olive dan tersenyum.


"Morning sayang... Apa tidur mu nyenyak?" Tanya Alden.


Olive membalikkan badan dan menghadap Alden. Kemudian mencium pipi kanan Alden.


"Morning. Aku tidur lumayan nyenyak, apa semalam aku pingsan?" Ujar Olive.


"Ya. Lalu aku meminta dokter untuk memberi obat agar kamu tenang dan bisa tidur nyenyak lebih lama. Kamu harus fokus pada kesehatanmu terlebih dahulu, kita singkirkan sebentar masalah Phia. Aku sangat mengkhawatirkan mu." Sahut Alden.


"Aku mengerti. Tadi kak Luna juga bicara begitu di telepon, ah apakah aku membangunkanmu?" Tanya Olive.


"Bukankah aku sudah pernah mengatakan jika hanya kamu yang bisa membangunkanku sepagi ini. Terlebih ini adalah hari selasa." Jawab Alden.


"Kalau begitu lanjutkan tidurmu, sebentar lagi suster akan masuk mengantar makanan kemudian aku akan ke ruang latih jalan jam 9 ini." Ucap Olive.


"Aku ingin menemanimu. Aku tidak keberatan jika selalu dibangunkan tiap pagi olehmu. Karena di masa depan itu akan selalu terjadi, bukan begitu Nyonya muda Alden?" Goda Alden.


"Dasar mesum! Nyebelin." Sahut Olive tapi tersenyum malu sambil memeluk Alden.


"Alden, apa yang harus aku lakukan? Aku sangat takut. Aku tidak bisa melindungi kalian, yang ada aku membuat kalian dalam bahaya seperti ini karena keegoisanku. Aku benar-benar takut." Ucap Olive sedikit gemetar.

__ADS_1


"Aku akan membantumu. Aku akan menyelidiki latar belakang kevino dengan baik. Setelah itu baru kita akan putuskan rencana berikutnya. Lalu, aku juga meminta bawahan untuk mengawasi 3 orang itu dan melaporkan setiap perkembangannya. Sekarang, pikirkan kesehatanmu. Aku akan selalu ada di sampingmu." Jelas Alden dan Olive mengangguk.


Olive merasa lebih tenang setelah mendengar rencana yang Alden sampaikan. Alden memang penolongnya. Alden mencium pucuk kepala Olive. Tak lama itu sarapan Olive datang. Alden dan Olive makan bersama satu piring berdua. Sembari canda tawa dan saling menyuapi. Akankah kebahagian selalu berada di pihak mereka?


Tidak ada yang pernah mengetahui itu. Akan kah berakhir bahagia pun kita tidak akan pernah tahu. Benar bukan?


"Yang pasti aku tidak akan mengizinkanmu untuk menggantikan posisi Phia. Itu yang di otakku sekarang." Ucap Alden membuat Olive menegakkan kepala nya menghadap Alden.


"Aku juga tidak ingin dan kak Phia juga tidak akan mengizinkan itu. Dia mungkin akan selangkah lebih maju di banding aku sekarang. Bisakah kita benar-benar bahagia?" Tanya Olive.


"Tentu saja. Setelah masalah ini semua selesai dan kamu sudah menyelesaikan kuliahmu. Aku akan membawamu pergi jauh dari negara ini, aku tidak ingin kamu terkurung disini." Sahut Alden.


"Benarkah? Kebetulan aku ingin keliling dunia. Aku ingin mengecek bagaimana perusahaan Nugraha di berbagai negara yang sudah kakek dan Opa tanamkan." Ujar Olive.


"Baiklah. Aku akan tambahkan rute bulan madu kita jadi lebih lama." Jawab Alden.


"Bulan madu? Ya! Kamu.... "


Alden mencium bibir lembut Olive sekilas kemudian tersenyum.


"Mesum!" Bisik Olive dengan muka memerah semu.


Olive mengumpatkan wajahnya sambil memeluk Alden membuat Alden tertawa. Jam sudah menunjukkan pukul 8:50 Alden membawa Olive menuju ruang latih jalan. Perkembangannya sangat baik. Bahkan Olive seperti sudah bisa jalan kembali walaupun sesekali mungkin akan terjatuh.


Alden dan Dokter Tomi tersenyum senang melihat perkembangan Olive yang sangat pesat. Sudah 1 jam berlalu.


"Bagaimana?" Tanya Olive.


"Sangat baik nona. Nona tidak memerlukan kursi roda lagi, tapi tetap selalu bawa tongkat ini. Karena walaupun kelihatannya nona sudah bisa jalan kembali tapi itu belum sempurna. Nona bisa melakukan latih jalan sendiri di taman ataupun di kamar. Hari ini sudah boleh pulang, Selamat nona." Jelas Dokter Tomi.


"Yes! Benarkah? Akhirnya... "


"Ehem! Tetap harus istirahat. Nggak ada masuk sekolah sampai benar-benar pulih. Lagi pula sekolah libur seminggu ini. Senin depan baru masuk." Potong Alden.


"Kan itu kamu yang libur, kelas 3 bukan kelas 1 tahu. Baru pindah beberapa bulan tapi udah banyak bolong gak enak." Kesal Olive.


"Baiklah. Kamu pilih, aku pergi samperin kevino sekarang atau kamu nurut perkataanku?" Kata Alden membuat pilihan.


"Hah? Kamu mau ngapain ketemu Kevino?" Tanya Olive.


"Buat bunuh dia lah. Karena dia, kamu jadi kayak gini. Dikit-dikit tarung, dikit-dikit tarung. Belum sembuh total tarung. Hufft!" Protes Alden.


"Iyaya. Aku nurut. Tapi, kamu harus janji jangan bertindak sendiri. Harus bilang dan minta persetujuan aku dulu. Aku juga akan begitu." Sahut Olive.


"Okay. Tapi, karena kebetulan besok aku ada hal penting di sekolah jadi kita ke sekolah bareng deh." Ucap Alden.


"Serius? Yes! Yaudah, sekarang kita siap-siap pulang yuk. Aku istirahat dirumah aja." Rengek Olive.


"Ok!" Sahut Alden.


Alden menuntun Olive berjalan dengan tongkat. Saat sampai dikamar ada Phia sedang berdiri menghadap keluar jendela.


"Kak Phia, ada apa? Kakak datang sama siapa? Kok sendiri aja?" Tanya Olive.


Phia melihat ke belakang Olive dan Alden. Ada seseorang dibelakang mereka, bukan. Bukan Zet dan Nel. Saat Olive Alden menengok mereka terkejut itu adalah Kevino.

__ADS_1


"Aku memintanya untuk datang." Ucap Phia.


Bersambung...


__ADS_2