Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 111 - Interogasi dan Restu keluarga


__ADS_3

Di dalam Mansion Nugraha,


"Ada apa ini? Tumben hari ini ramai begini, apa ada hal penting yang kalian bicarakan?" Tanya Olive.


"Kamu sudah pulang sayang, syukurlah tidak terjadi apa-apa kan di perjalanan?" Ujar mama.


"Emm, sebenernya aku bertemu dengan Kevino. Tentu saja, itu yang palsu. Dia mengutus bawahannya untuk mencegatku tapi tenang saja tidak terjadi pertempuran. Tanya saja Zet jika tidak percaya, benarkan Zet?" Ucap Olive yang masih berdiri.


Semua mata mengarah ke Zet, menunggu jawaban dari Zet.


"Itu benar tuan Nyonya, nona kedua hanya beradu debat saja dan berhasil memancing kevino palsu agar terbongkar di depan Clarke yang selama ini melayani kevino palsu." Sahut Zet membela nona majikannya.


"Lalu apa yang terjadi?" Tanya Belden.


"Dia mengatakan bahwa dirinya ada di TKP kejadian saat kecelakaan Robert tapi dia tida bilang jika bertemu denganku, dia mengatakan bahwa ada 4 mobil dia berada di salah satu mobil itu. Lantas, kaki siapa yang aku caci maki saat itu kalo bukan dia? Sam sudah curigai hal itu, aku yakin mereka akan saling mencurigai sekarang." Jelas Olive.


"Jadi, kalian sudah bisa percayakan dengan Vino yang ada di depan mata kalian ini? Lagi pula, jika dia memang Vino palsu tidak akan berani muncul di depan kita secara terang-terangan seperti ini. Aku tidak akan menikah dengan tenang jika kalian masih mencurigai nya seperti ini, percayalah aku akan bahagia dengannya." Kata Sophia.


"Mama dan papa sudah menyerahkan keputusan kepa oma dan opa mu. Jika mereka setuju maka kamu akan langsung mendapatkan 4 restu." Ucap Mama.


"Itu benar sayang, kamu tahu. Apa yang terjadi pada pamanmu sekarang karena terlalu mengikuti cintanya daripada mengikuti perkataan orang tua. Papa tidak ingin kamu menyesal dan menjadi istri yang tidak di terima terlebih di perlakukan tidak baik oleh keluarga suami mu nanti nya." Lanjut papa.


"Phia mengerti, phia juga tidak akan memaksakan takdir. Walaupun Phia masih menutup rapat hati phia untuk Vino tapi Phia mau tetap berusaha untuk buka hati. Takut pasti ada tapi itu adalah resiko dari apa yang aku pilih dan aku akan terima itu dengan ikhlas." Kata Phia.


"Sebenarnya oma dan opa sudah memutuskan harus bagaimana memberi restu atau tidak. Tapi, opa ingin mendengar pendapat dari Via. Bagaimana menurut kamu sayang?" Tanya Opa.


"Hemm... kak bukannya aku nggak mau memberi restu buat kakak dan aku juga tahu kalo Vino sama sekali nggak ada hubungan dengan kecelakaan Robert. Tapi, bisakah kakak tunggu sampai keadaan sedikit lebih stabil? Aku masih belum bisa menebak gerakan apa yang akan musuh kita pakai nantinya. Aku merestui kakak untuk menikah dengan Vino tapi tidak dalam waktu dekat." Jelas Via


Sophia memeluk Via dan mengucap terimakasih dengan mata berkaca-kaca.


"Kakak mengerti ketakutan kamu dek, kakak akan sampaikan ke Vino nanti." Tutur Phia.


"Tidak perlu, itu orangnya ada di depan pintu sejak tadi." Goda Via.


"Uhhh... kamu dek." Malu-malu Phia.


"Kalo gitu, opa juga setuju dan merestui pernikahan Phia Vino dengan catatan tunggu situasi stabil dulu. Opa juga tidak ingin kecolongan ada kejadian apa-apa yang terjadi saat pernikahan cucu opa." Tegas Opa.


"Oma juga akan bicarakan dengan keluarga fausta." Ucap Oma membuat Olive kaget.


"Hah?! Kok keluarga fausta ikuta dibawa? Ouh mau ngundang mereka?" Tebak Olive sambil minum.


"Bicarakan tentang peernikahan kamu dan Alden. Dua anak ini sangat berbahaya, keluar rumah sendiri balik-balik bisa berduaan aja." Omel Oma membuat Olive tersedak.

__ADS_1


"Huk... uhuk...! Oma... aku nggakk berdua doang sama Alden. Kalian tuh ya, mau tetap pura-pura nggak tahu apa gimana sih nyebelin deh." Ambek Olive.


"Bukannya senang dek, jadi nikah cepet sama Alden?" Goda Belden.


"Bukan masalah itu kak, aku sama Alden masih sama-sama pengin raih impian. Soalnya kalo aku udah nikah nanti nggak boleh kerja, kan gak asik gitu cuman boleh mantau." Kesel Olive.


"Wah! Pembicaraan kalian udah sampai sana aja. Padahal aku sama Vino yang mau nikah gak lama lagi setelah situasi stabil." Goda Phia.


"Aish! Kakak ni, jangan goda aku. Pah, tuh lihat anak-anak papa jahil kan." Adu Olive.


"Wah! Aku nggak ikut-ikutan juga, mau di tambahin gak? Jangan suka jalan berdua di mobil kaca jendela gelap ya kak, apalagi kalo setir mobil di pencet jadi otomatis." Goda Robert.


Bantal sofa melayang ke arah Robert dari Olive.


"Sudah-sudah kalian tidak ada hari tanpa berantam ya kalo ketemu. Kalo lagi jauh-jauhan aja kangen, rengek minta suruh pada ngumpul hadeuh." Lerai Oma.


"Vino, kamu duduk tuh masa mau berdiri aja. Selamat datang di keluarga Nugraha, kamu sudah resmi jadi bagian keluarga kami jadi tidak perlu sungkan lagi." Ucap Opa.


Telepon Mansion berdering, Olive yang duduk dekat telepon pun mengangkatnya hanya dengan 1 deringan.


Halo selamat siang, dengan Mansion Nugraha ada yang bisa di bantu?


Olive, hai apa kabar?


Olive, tolong jangan tutup teleponnya dan dengarkan penjelasan paman. Bisa kan?


Olive sama sekali tidak menyahut pembicaraan pamannya, karena shock.


"Siapa dek yang telepon, kok diam aja?" Tanya Belden.


"Paman Tio." Sahut Olive bungkam.


Dengan cepat Opa menyambar telepon itu,


Untuk apa kamu menelepon ke sini?


Hai pah, Tio kangen sama papa dan mama. Kalian sehat kan?


Untuk apa kamu menanyakan kabar kami? Kemana saja kamu selama ini, kamu sudah menjadi pengkhianat untuk keluarga Tio.


Pah, jangan bicara seperti itu, itu semua fitnah. Tio nggak mungkin membunuh ponakan Tio sendiri. Tio sangat menyayangi Robert, papa tahu kan sela tidak bisa punya  anak. Sejak kak Adlan menitipkan Robert Tio sangat bahagia pah, sungguh.


Fitnah? Fitnah apa yang kamu maksudkan?

__ADS_1


Bisakah kita beralih ke panggilan video? Tio ingin melihat kalian, Tio kangen sekali dan ada hal penting yang harus Tio ceritakan sebagai bentuk penyesalan karena tidak mendengarkan omongan papa dan mama. Bolehkah?


Boleh!


"Yogi sambungkan ke layar, Tio ingin video call." Perintah Opa.


"Baik tuan." Sahut Yogi.


Sambungan telepon biasa berubah menjadi Video call. Tio akhirnya bisa melihat keluarganya kembali setelah 5 tahun tidak saling berkabar. Namun, Tio kaget dengan 2 orang yang terlihat hadir disana. Robert keponakan tersayangnya masih hidup lalu ada Vino musuh keluarga nya.


Pah, itu Robert... dia masih hidup?


Paman bisakah langsung to the point saja? Aku akan mengirimkan file lengkap kenapa Robert dan Vino ada disini. Paman ingin memberikan penjelasan apa pada kami tentang pengkhianatan yang telah paman lakukan.


Olive, paman berani bersumpah. Paman tidak tahu apa-apa tentang kecelakaan Robert dan penculikan kamu serta Phia. Kalian keluarga paman satu-satunya yang paman miliki, paman nggak mungkin tega mencelakai kalian. For Information aja, Paman tidak di rumah. Paman ada di hotel malam ini karena paman merasa aneh dengan pemasukan  yang paman dapatkan beberapa tahun terakhir ini. Sela mengatakan bahwa dia ada di Jepang, namun Felix mengatakan bahwa Sela ada di negara yang sama dengan paman dan paman merasa bahwa sela sudah mengkhianati paman. Dia tidak pernah menerima telepon video call paman. Percayalah, aku mohon pada kalian.


Tio, kamu sedang tidak berbohong kan?


Kak percayalah padaku, aku sangat menyayangi keponakanku. Bahkan aku sangat senang ketika kakak dulu selalu menitipkan Robert padaku kakak bisa merasakan ketulusanku menyayangi mereka. Ok, aku memang belum bisa membuktikan bahwa Sela mengkhianatiku. Tapi, cukup aneh bagiku ketika dia tidak ingin aku menyusulnya ke tempat dia kerja. Dulu, dia selalu ingin aku datang dan aku akan kirimkan rekaman suara asli antara aku dan Sela belum lama selang beberapa jam ini teleponan. Kalian bisa mengartikan sendiri kenapa dia menjawab ku dengan terbata-bata.


Aku tidak menyangka jika bibi akan melakukan hal seperti itu, apakah dia juga bekerja sama dengan musuh seperti Clarke?


Clarke? Jangankan Clarke paman saja bingung bagaimana bisa Wiyata Kevino bisa ada bersama kalian.


Aku baru saja mengirimkan video kepada paman. Ini alasan kenapa kami menjadi bermusuhan dengan keluarga Wiyata dan juga ingin menjauhi paman. Paman seperti berada di TKP tempat aku kecelakaan 8 tahun yang lalu, Awalnya aku sangat kecewa, tapi aku tahu dengan benar bahwa dulu paman sangat menyayangiku seperti anak paman sendiri. Jadi, tidak mungkin paman tega melakukan hal itu untuk mencelakai aku.


Aku merasa terharu kamu masih mengingat ketulusanku, terimakasih nak. Itu sudah cukup untukku, Bisakah kita kembali ke topik awal. Jadi, aku berencana untuk pulang kesana tanpa ada yang tahu. Bisakah kalian menjamin itu, kita harus bekerja sama agar bisa menangkap siapa pelaku sebenarnya dan benarkah Sela mengkhianati aku selama ini.


Kamu akan baik-baik saja setelah nanti tahu kalau Sela benar-benar yang mengkhianati mu?


Tentu saja aku akan terluka, tapi lebih baik aku yang terluka daripada aku melihat kalian menderita. Ouh, satu hal lagi. Aku baru tahu tentang kecelakaan Robert dari Felix kemarin, sebelum itu Felix selalu mendapat informasi tentang kalian dari kaki tangan Sela dan ini sudah cukup membuat aku semakin curiga padanya.


Bagaimana jika dia meminta kesempatan kedua padamu dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, Kami sangat tahu bahwa kamu sangat mencintainya sejak awal.


Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Jika dia hanya menyakitiku itu mungkin aku masih bisa memaafkan dan memberikan kesempatan kedua. Tapi, jika dia sudah berani untuk menyakiti anggota keluargaku. Tidak akan ada kesempatan untuk memperbaiki atau memutar balik keadaan seperti dulu lagi. Itu adalah janjiku kepada diriku sendiri sebelum aku menikah bahkan sebelum aku bertemu dengannya, itu aku jadikan pajangan di kamar kantor di rumahku dan hanya Felix serta kuasa hukum ku yang tahu itu. Kalian tenang saja, itu bahkan bertanda tangan di atas materai. Mah Pah, aku minta maaf tidak mempercayai kalian dulu. Aku salah, tolong maafkan aku. Kak, maafkan aku karena Sela kakak jadi menderita beberapa tahun ini. Aku benar-benar tulus meminta maaf pada kalian.


Ucap Tio sampai menitikkan airmata karena merasa bersalah dengan keluarga nya.


Paman, jangan menangis. Aku tidak mungkin terbang kesana sekarang juga. Mungkin aku langsung benar-benar mati dalam perjalanan. Aku sangat ingin memeluk paman, terima kasih sudah merawatku. Itu adalah kata-kata yang ingin aku ucapkan sebelum papa membawaku kembali kesini.


Suasana semakin menjadi haru.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2