
Olive duduk di pinggir kasur menghadap jendela yang masih tertutup gorden. Olive mengambil remote di atas nakas dan menekan tombol untuk membuka gorden yang menampilkan pemandangan kota dan gedung-gedung tinggi. Langitnya cerah malam ini, ada Bintang dan bulan.
Olive berpikir untuk ke rooftop. Olive menekan tombol memanggil suster. Ternyata yang datang suster dokter dan Zet ikut panik.
"Ada apa nona? Apa baik-baik saja?" Tanya dokter.
"Aku tidak apa-apa. Dokter aku ingin ke rooftop apakah boleh?" Ujar Olive.
"Tengah malam begini mau ke rooftop? Apa yang akan nona lakukan? Aku akan telepon tuan Alden sekarang." Ucap Zet.
"Eh, jangan. Aku hanya ingin melihat Bintang dan bulan lebih dekat menjelang pergantian umurku. Jangan laporkan pada Alden, Dokter apakah boleh?" Pinta Olive.
"Hanya sebentar tidak apa. Zet kamu bisa menemani nona pergi ke rooftop." Perintah Dokter.
"Baiklah." Sahut Zet.
"Kalo begitu saya akan siapkan kursi roda nya." Tawar suster itu.
Tak membutuhkan waktu lama, suster kembali dengan membawa kursi roda. Dokter dan Zet bersamaan memindahkan Olive ke kursi roda. Olive di dorong keluar kamar menuju lift. Saat dokter ingin meninggalkan kamar Olive, tiba-tiba Alden muncul dari kamar ruang tunggu.
"Tuan muda, mengagetkan saja. Tapi, tadi... "
"Aku bersembunyi untuk memberikan kejutan. Tak ku kira malah mengizinkan ke rooftop." Ucap Alden.
"Ini saya izinkan karena mewakilkan saya mengucapkan ulang tahun pada nona. Hanya sebentar nona di atas." Sahut dokter.
"Baiklah. Aku akan menyusulnya ke rooftop saja." Ujar Alden.
Alden pergi ke lift untuk menuju rooftop dan tidak membawa kue. Sementara Olive sudah berada di rooftop, pemandangan kota masih lumayan ramai karena weekend.
"Zet, tinggalkan aku sendiri. Janji gak akan kemana-mana, boleh? Bentar aja 10 menit cukup setelah itu kita kembali ke kamar." Pinta Olive.
"Baiklah. Aku tunggu di sebelah sana." Ucap Zet menunjuk ke pojok rooftop.
Olive memandang ke arah langit dan tersenyum kemudian menunduk seperti sedang berdoa. Olive memejamkan mata, Tiba-tiba ada beda yang terpasang di leher Olive. Olive membuka matanya.
"Happy Birtday sayang." Bisik Alden.
Olive meraba kalung yang dipakaikan Oleh Alden.
"Kamu bukannya lagi di Bar?" Tanya Olive.
"Nggak. Daritadi aku di kamar ruang tunggu lihatin kamu." Sahut Alden.
"Kalungnya bentuk bulan Bintang?" Ujar Olive.
"Emm... aku mengibaratkan jika bulan itu kamu sedangkan Bintang adalah orang-orang sekitar yang sayang sama kamu. Akan selalu ada saat kamu suka maupun duka. Termasuk aku." Sahut Alden.
"Apakah cocok untukku?" Tanya Olive.
"Sangat cantik. Kamu suka?" Tutur Alden.
"Suka. Makasih ya." Jawab Olive.
"Sama-sama sayang. Sekarang bisa balik ke kamar? Angin malam gak baik buat kesehatan tau." Ujar Alden.
"Sebentar lagi." Mohon Olive.
"Yasudah, aku temenin deh." Tawar Alden.
Mereka saling genggam tangan, rasanya seperti aneh jika tidak gandeng tangan. Sudah 5 menit berlalu.
'Aku harap kita bisa selama nya bersama tanpa ada kata putus. Bisakah tuhan selalu berpihak baik kepada kita tanpa memberi cobaan? Terima kasih sudah menghadirkan sosok Alden di samping aku.' Bathin Olive.
"Alden ayo kita masuk." Ajak Olive.
" Siap!" Sahut Alden.
Zet melihat nona nya sangat bahagia dan semoga selalu bahagia. Tapi, Cinta tak seindah itu.
"Semoga nona dan tuan selalu diberikan jalan untuk menyelesaikan masalahnya tanpa harus melukai hati satu sama lain." Gumam Zet.
Kemudian Zet menyusul Olive Alden kembali ke kamar. Alden menggotong Olive kembali ke atas kasur dan memasangkan selimut. Kemudian Olive menepuk sampingnya, meminta Alden untuk tidur di samping nya.
"Sebelum tidur aku masih ada sesuatu buat kamu." Ucap Alden.
"Apa?" Tanya Olive.
"Sebentar." Pinta Alden.
Alden pergi ke kamar ruang tunggu kemudian mengambil kue dan menyalakan lilin di atas kue lalu menyanyikan Happy Birthday untuk Olive. Olive sangat terharu, lalu menatap Alden lekat.
"Kok malah natap aku? Ini make a wish setelah itu tiup lilin nya." Ujar Alden.
"Iya." Jawab Alden.
Olive pun berdoa untuk hari ultah nya kemudian meniupkan lilinnya di bantu Alden. Olive mengambil pisau dan memotong nya, menyendok kue ingin memakannya namun di tahan Alden.
"Ehhh! Kamu lagi dimana ini, gak boleh dimakan sayang. Kamu masih harus minum obat dan ikutin prosedur anjuran dokter. Suapin aku aja." Larang Alden.
"Sedikit aja Alden." Mohon Olive.
"Maaf sayang, tidak bisa." Sahut Alden.
Alden menggenggam tangan Olive dan menyuapi dirinya. Lalu menyimpan kembali kue itu di kulkas. Olive cemberut karena tidak boleh makan kue manis dan itu membuat Alden gemas.
__ADS_1
"Kenapa sayang?" Tanya Alden.
"Kamu nyebelin, aku gak dibolehin makan kue nya." Kesal Olive.
Alden duduk di pinggir kasur Olive kemudian tersenyum.
"Kamu mau?" Tawar Alden.
"Boleh?" Sahut Olive berbinar.
"Boleh." Ucap Alden.
"Yeay! Buruan ambil... " Rengek Olive.
"Ini aja... " Ujar Alden.
Alden mencium bibir olive lembut. Kemudian menyudahinya.
"Manis nggak?" Tanya Alden lalu Olive mengangguk.
"Manis. Boleh lagi?" Pinta Olive.
"Waktunya tidur." Goda Alden.
"Ish! Nyebelin." Kesal Olive tiduran di kasur dan memejamkan mata.
"Suut!" Panggil Alden.
Olive tidak merespon. Akhirnya Alden mendekati wajahnya, saat Olive membuka mata. Alden langsung mencium bibir Olive dengan lembut membuat Olive terhanyut. Sampai akhirnya mereka menyudahi dan memutuskan untuk tidur sambil berpelukan.
Keesokkan paginya~
Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Alden bangun lebih awal lalu menatap wajah tidur cantik Olive. Kemudian mencium kening Olive membuat Olive tersenyum. Olive membuka matanya.
"Kamu bangun terlalu pagi." Ucap Olive.
"Ini sudah jam 8 sayang. Bukankah seharusnya sebentar lagi dokter datang untuk memeriksa?" Pikir Alden.
"Sepertinya tidak, karena dokter tidak ingin kejadian kemarin terulang kembali. Pasti dokter agak terlambat sekarang." Jawab Olive.
"Benar juga. Kalau begitu haruskah kita tidur kembali?" Goda Alden.
"Tidak. Aku ingin bangun sekarang." Tolak Olive.
"Baiklah." Sahut Alden.
CUP!
"Morning kiss dari aku." Bisik Alden.
"Aku juga!" Sahut Alden ikut masuk ke dalam selimut.
Olive Alden tertawa. Dibawah selimut itu Alden juga mencium bibir lembut Olive. Sampai nafas mereka habis dan memburu. Mereka menyudahi itu, Alden turun dari kasur rawat pergi ke kamar mandi. Sedangkan Olive senyum-senyum di atas kasur.
Dokter datang dengan beberapa suster untuk memeriksa.
"Nona sendirian?" Tanya Dokter.
"Nggak." Jawab Olive.
"Tuan... " Tanya Dokter.
Olive menunjuk ke arah kamar mandi. Dokter tomi mengerti dan melakukan pemeriksaan pada Olive.
"Apakah ada kemajuan setelah minum obat itu?' Tanya Olive.
"Nona bisa merasakan itu, jika tertawa luka nona sudah tidak sakit kan?" Ujar Dokter.
"Ahhh, bener juga. Terus berarti aku sudah boleh pulang?" Tanya Olive.
"Belum nona. Kalo nanti siang nona minum sekali lagi, besok nona tidak perlu minum obat pahit tinggal terapi jalan. Nanti nona dijadwalkan jam 10 ini." Jelas Dokter.
"Jam 10? Baiklah dokter." Sahut Olive.
Alden keluar dari kamar mandi.
"Gimana?" Tanya Alden.
"Semua baik tuan. Nona bisa sembuh lebih cepat, nanti jam 10 nona akan terapi jalan." jawab dokter.
"Apakah luka nya sudah baik-baik saja?" Tanya Alden.
"Sudah mulai menutup dengan kulit yang baru tuan." Sahut Dokter.
"Ouh ya, dokter aku udah boleh bebas makan kan?" Tanya Olive.
"Sudah nona, tapi untuk hari ini tetap mengikuti prosedur rumah sakit dulu. Karena nona masih harus minum obat sekali lagi." Jelas Dokter.
"Baik dokter, saya mengerti." Sahut Olive.
Dokter pun pamit keluar kamar rawat Olive dan melanjutkan tugasnya.
"Alden aku pinjam ponsel." Ucap Olive.
"Mau telepon siapa?" Tanya Alden.
"Oma. Aku mau minta ponsel aku lagi. Terus juga Robert, aku cuman butuh belati aja." Sahut Olive.
__ADS_1
Alden memberikan ponselnya, Olive menelepon Robert lebih dulu.
Halo? Kak Alden.
Halo?
Kak nanti dulu ya, aku lagi darurat.
Ehhh! Ada apa?
Dikepung.
Kamu sama siapa? Di mana?
Di jalan kak, sama kak belden, kak cenan kak firo kak kevan kak Luna.
Kamu bawa alat-alat kakak? Di sana ada racun yang bisa bikin kalian bebas. Cepat.
Kak nanti aja, bye!
Hal---
"Di Matiin lagi." Kesal Olive.
"Kamu yakin aja, Robert kan gak sendirian. Aku yakin mereka bisa selesaikan dalam waktu singkat. Kamu tau kan bawahan kak Firo, kak cenan, kak kevan sebanyak apa? Udah jangan khawatir lagi." Ucap Alden menenangkan Olive.
"Kamu bener juga. Yaudah, kita ke tempat terapi jalan." Pinta Olive.
"Siap." Sahut Alden.
"Ehh!" Tahan Olive.
"Kenapa sayang?" Tanya Alden.
"Kamu... bisa... bantu aku... Emm... " Ucap Olive sambil memegang rambutnya.
"Bisa." Jawab Alden.
Alden membantu Olive keramasi rambutnya dengan lembut dan telaten. Setelah di keramasi, Alden mengeringkan rambut Olive dengan hair dryer. Selesai, mereka pun menuju ruang terapi jalan.
"Gimana puas nggak?" Tanya Alden.
"Emm... Kamu terbiasa?" Ujar Olive.
"Dulu, aku sering main salon²an sama Delia. Jadi, faham tentang ini. Aku juga kan yang antar bunda sama Delia ke salon sebelum aku tau opa mafia. Sebenernya agak kebalik sih aku sama Delia. Dia tomboy banget sama kayak kamu gak takut apapun, sampai kejadian kamu di culik terus kejadian Robert juga. Aku yang berubah jadi harus berdiri di garda depan buat keluarga aku." Jelas Alden.
"Ahhh! Jadi yang di maksud kak Andreas itu kamu." Sahut Olive.
"Kamu kenal kak Andreas? Wah! Pantesan aku gak asing sama tekhnik pembelajaran atur nafas. Ternyata kita dari guru yang sama." Tutur Alden.
"Em... kak andreas banyak cerita tentang kamu hehe. Aku gak ngira bakal ketemu orang nya langsung kayak gini." Jawab Olive.
"Sekarang kak Andreas dimana ya? Nggak ada kabarnya." Kata Alden.
"Dia di negara M kejar pujaan hati nya. Katanya Akhir tahun bakal main kesini, nanti kita ketemu bareng aja." Ucap Olive.
"Okay deh." Sahut Alden.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1