Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 118 - Sedikit Terbuka


__ADS_3

Sementara di Bar, Bara dan Firo telah berhasil merentas Link yang diberikan Robert.


"Belden." Panggil Firo.


Belden yang merasa di panggil langsung menghampiri ke meja seberang nya.


"Lu tahu ini kan?" Tanya Bara.


"Ini di Negara Spain, salah satu bangunan tua kuno disana. Kenapa? Kalian sudah berhasil melacaknya?" Ujar Belden di angguki kedua sahabatnya.


"Berdasarkan pelacak ini, menyambung ke salah satu bangunan tua disana. Kayak nya lu pernah deh foto di depannya kan?" Tanya Firo.


Belden langsung membuka galeri nya, Benar saja. Belden ingat dulu bersama keluarga nya pergi ke Spain dan mengunjungi bangunan tua itu berkat ajakan Opa nya dulu saat masih berusia 10 Tahun.


"Hubungi Robert apakah dia juga berhasil merentas Link nya." Pinta Belden pada Olive.


Olive segera menelepon Robert yang masih merasa tidak asing dengan lokasi itu.


Ya Kak, apa ada sesuatu?


Kak Bara dan Kak Firo berhasil menemukan lokasi pelacak itu. Kalian sebutkan bersama-sama nama negara nya okay? 1 2 3!


***SPAIN! *SPAIN!


Sebut Robert dan Belden bersamaan dan semua terkejut dan saling tatap satuu sama lain.


"Paman Tio dalam bahaya kak, kita harus segera membawa paman kembali kesini. Paman bisa mati disana." Ujar Olive.


"Bagaimana caranya dek? Pasti Paman sangat dijaga oleh bibi dan orang ini. Kita juga akan membuka celah musuh menyerang." Sahut Belden.


Tiba-tiba ponsel Belden berbunyi, tanpa melihat siapa yang menelepon. Olive langsung mengangkatnya.


Halo...


Pulang sekarang.


Baik Oma. Setelah memastikan Vina aman aku akan segera pulang.


Oma sudah tahu siapa yangg membunuh Kakek Nenek dari Nugraha. Benar tebakan kalian mereka ada di spain satu negara dengan Tio. Orang ini menjadi kan Sera kaki tangan nya sehingga bisa membuat penyusup mudah masuk ke dalam wilayah kita.


Siapa oma, siapa orang itu? Kenapa sangat ini menghancurkan kita?


Ibrano. Dia memalsukan kematiannya, saat itu dia memang ada di lokasi bunuh diri. Lalu ada yang menyelamatkannya, rela bertukar nyawa dengannya.


Sudah dipastikan itu alasan karena cinta.


Kamu benar. Dia Loly Bratawijaya.


Tunggu. Kok informasi dari Oma lengkap banget sih? Oma tahu darimana aku sama yang lain lagi ngurus...


Kak, tolong aku cepatlah pulang sekarang.


Aku mengerti sekarang, Robert jadi sanderaan Oma. Baik-baik kami pulang Oma.


1 Jam dari sekarang belum sampai, oma cabut fasilitas kalian semua.


Baik Oma.

__ADS_1


Lalu telepon terputus dari Oma. Akhirnya rapat di Bar terpaksa di bubarkan. Mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Firo mengurus keperluan Vina untuk pindah ke hotel Bara dalam pengawalan yang ketat. Awalnyya Liam bingung, ada apa calon istri nya datang dengan banyak pengawalan. Tapi sesaat munculnya Firo, Liam langsung mengerti jika Bos nya yang meminta mereka untuk pindah segera.


Keesokkan harinya...


Ponsel Olive berdering, Olive yang masih tertidur meraba kasur nya mencari dimana ponsel itu berada. Lalu mengangkat tanpa tahu siapa yang menelepon.


Halo...


Kamu belum bangun?


Eumm... aku baru pulang sampe rumah jam setengah 12 malam. Aku menemukan banyak bukti, ada apa Alden?


Ada hal yang mau aku diskusikan dengan kamu. Ini soal Reina, maaf aku mengawasinya tanpa memberitahu kamu. Tapi, ini sangat penting bisakah kamu turun sekarang?


Turun? Kamu ada di Mansion ku?


Iya, sudah setengah jam yang lalu sebenarnya. Tapi, kalo kamu masih mau beristirahat gak apa-apa. Biar aku yang kekamar kamu, tadi oma juga menyarankan itu sebenarnya cuman aku takut mengganggu tidurmu.


Ahhh... tidak! Tunggu aku 20 menit, aku akan segera turun. Jangan naik ke kamarku.


Heum... aku mengerti.


Berhenti meledekku tuan muda Fausta. Menyebalkan.


Lalu Olive mematikan ponselnya. Kenpa dia menolak Alden masuk kamar karena Olive hanya tidur dengan baju daster panjang putih sebatas betisnya. Olive segera menuju kamar mandi untuk mandi secepatnya, kemudian menggunakan cream pagi hari senatural mungkin memilih baju ruumahan yang simple untuk di gunakan. Kemudian mengambil ponselnya menuju pintu kamar. Tapi saat membuka kamarnya Olive terkejut karena Alden sudah menunggu di depan kamarnya sambil bersandar ke tiang pembatas.


"Alden... ! Kamu ngagetin aja sih?" Kesal Olive yang langsung memegang jantungnya.


Alden tersenyum menunjukkan gigi nya.


"Selamat pagi Nyonya Alden Fausta." Sapa Alden dengan tersenyum.


"Ayo!" Ajak Alden sambil menggandeng tangan Olive dan menuntun Olive menuruni tangga.


Di Meja makan sudah ada Oma, Opa dan juga Robert.


"Pagi sayang." Sapa Opa.


"Pagi." Sapa Olive sambil mencium pipi Opa Oma nya.


"Gimana kaki kamu?" Tanya Oma.


"Hem... sudah lumayan lebih baik sih oma. Ah, besok aku ada kontrol sih ke rumah sakit." Ucap Olive.


"Kok kamu nggak kasih tahu aku?" Tutur Alden.


"Karena kalo kak Via kasih tahu kakak, bisa-bisa kakak bolos sekolah. Kakak tenang aja, besok aku yang bakal nemenin kak Via kontrol." Ujar Robert di angguki oleh Olive.


"Iya Nak Alden kamu sekolah aja, nanti ada phia juga sekalian check kesehatan. Mungkin bakal ada Belden juga, jadi nggak perlu khawatir." Sambung Opa.


"Baik Oma Opa, aku cuman nambahin ketat penjagaan extra aja buat mereka. Oiya, karena udah kumpul kita mulai makan nya. Setelah makan ada yang mau aku omongin." Ujar Alden.


"Kak, kakak nggak bakal ngedahuluin kak Via kan? Di lamar duluan?" Bisik Robert membuat Olive salah tingkah.


"Apa sih, diam deh." Bisik Malu Olive.


Akhirnya mereka memakan sarapan nya, selesai makan 20 menit kemudian mereka berkumpul di ruang keluarga.

__ADS_1


"Sebelumnya, ini data yang udah aku kumpulkan selama seminggu ini." Ujar Alden sambil memberikan beberapa dokumen yang sudah di print dan di jadikan banyak copy.


"Ini... Kakak ngawasin Reina? Maksudnya apa ini?" Protes Robert tak terima.


"Semua sudah jelas Robert disini juga di sertai foto sebagai bukti." Kata Opa.


"Aku tahu Reina salah, tapi dia bisa aja melakukan semua ini karena di ancam." Bela Robert


"Semua nya tenang dulu, Jangan saling menyela seperti ini. Biarkan Alden bercerita dulu seperti apa kenyataannya." Ucap Olive.


"Sebelumnya aku minta maaf karena melakukan penyelidikan seperti ini diam-diam. Tapi, berdasarkan bukti yang sudah aku kumpulkan dengan tim lainnya ini mengaju pada Reina yang sudah berpihak pada kelompok ular yang kalian ketahui ini adalah mafia gelap dari Ibrano. Dia memang sempat di beritakan meninggal, namun ini masih dalam penyelidikan siapa yang menutupi dan ikut menyelamatkan bahkan rela tukar nyawa dengan Ibrano detik-detik bom bunuh diri saat itu. Singkatnya aku cuman pengin Robert waspada aja untuk sementara dari Reina." Jelas Alden.


"Yang kakak jelaskan memang masuk di akal, tapi aku tidak merasa ada yang mencurigakan di Reina kak. Bahkan dia berusaha untuk bantu aku umpetin menyadap suara di sekitar warung kecilnya." Ujar Robert.


"Kamu percaya jika di taman itu tidak ada cctv yang sengaja mereka pasang? Oke, memang bukan Reina yang pasang. Reina mungkin juga gak tahu kalo ternyata disitu ada cctv. Tapi, mungkin gak sih udah 7th dalam tawanan mereka Reina gak bisa mempelajari gerak gerik dari kelompok Ibrano ini? Kamu tahu kan kalo Reina sejak kamu dinyatakan meninggal saat itu dia jadi belajar beladiri sepertiku?" Tanya Olive.


"Kakak benar juga, tapi..."


Zet datang dengan membawa sesuatu.


"Nona ini rekaman cctv yang nona inginkan." Ujar Zet.


"Langsung tampilkan saja." Pinta Olive.


Di dalam rekaman terdapat Reina 7 tahun yang lalu datang berlari dari arah rumah nya dan berhenti tepat di depan rumah kediaman Nugraha. Robert dan yang lain melihat ada yang Reina khawatirkan hingga membuatnya ragu untuk memencett bel rumah. Terlihat dalam video itu Reina memainkan jemari tangannya dan berulang-ulang menenangkan hati serta fikirannya. Saat Reina mau pergi, Reina balik lagi dan menaruh sesuatu di pot luar rumah. Robert langsung meminta Zet untuk memeriksa nya.


Tak lama itu Zet kembali membawa selembaran kertas lusuh jaman dulu dan memberikannya kepada Olive.


[Kak, apapun yang aku katakan jangan percaya. Jangan melakukan apapun untukku, Kak Reno kabur entah kemana dengan teman-temannya dan aku memutuskan untuk bekerja sama dengan kelompok ular. Aku bukan berkhianat kak, semoga kakak mengerti posisi aku sekarang. Sampaikan maafku ke Robert kalau kakak datang ke makam, aku menyerah untuk berjuang.]


Tak lama itu ponsel Robert berbunyi tertera di layar ponselnya nama Reina. Robert menyembunyikan ponselnya dan pamit untuk mengangkat telepon dari karyawan di markas.


"Opa, Oma, Kak... aku ke markas dulu ada yang harus aku urus. Kalian lanjutkan saja, nanti aku segera kembali. Tidak akan lama." Pamit Robert memasuki pintu yang menembus ke markas.


Olive dan Alden saling menatap kemudian langsung berdiri.


"Eh, kalian mau kemana?" Tanya Oma.


"Robert bukan dapet telepon dari karyawan markas. Dia---"


"Tuan besar! Nyonya besar! Lapor tuan nyonya... itu---"


"Ada apa yogi? Katakan saja." Ujar Opa.


"Tuan muda kecil pergi dengan mobil jeep tuan besar." Lapor Yogi.


"Apa?! Lacak mobil ku, temukan sebelum cucu ku benar-benar dalam bahaya kemudian masukan Olive ke kamar nya dan jangan ada yang membuka kan pintu." Perintah Opa.


Olive langsung menggenggam tangan Alden. Alden bingung.


"Alden, antar Olive ke kamar nya. Hari ini kalian tidak di bolehkan keluar dari wilayah markas. Segera temukan Robert sekarang!" Perintah Oma.


"Baik!" Sahut pengikut Nugraha.


"Kalian tunggu apalagi? Kamu ingin di ruang bawah tanah atau menurut diam di kamar sayang?" Bujuk Oma.


"Oma, aku ikut cari Robert. Aku tahu Robert kemana, hanya itu tujuan dia. Aku berjanji hanya menunjukkan lokasi tempatnya. Aku akan pergi dengan Alden juga Zet. Mereka akan menjagaku, aku tidak akan bertindak apapun." Pinta Olive sambil menggenggam tangan Alden.

__ADS_1


Oma dan Opa saling menatap satu sama lain. Memikirkan dengan baik, solusi apa yang akan mereka pilih saat seperti ini.


Bersambung...


__ADS_2