
Di perpustakaan, Olive sedang membereskan buku-buku menata nya sesuai daftar yang tertera. Tiba-tiba ia merasa kepala nya sakit, pandangan mulai kabur serta ada rasa mual. Olive menghiraukan dan duduk beristirahat sebentar. Olive menyadari jika akhir-akhir ini dia cepat sekali lelah. Padahal dirinya selalu berolahraga.
'Apa ini adalah gejala nya? Apa aku beneran sakit tumor stadium awal?' Bathin Olive berkaca-kaca.
"Olive, lu kenapa?" Tanya Niesha.
"Lu sakit ya? Cerita dong sama kita jangan di rasa sendiri." Ujar Shakila.
Perpustakaan lagi kosong. Penjaga perpus juga sedang keluar hanya ada mereka bertiga di dalam perpustakaan sekarang.
"Gue nggak mau bikin kalian khawatir." Jawab Olive.
"Liv, lu kenapa sebenernya?" Tanya Niesha.
"Gue kemarin lusa di antar kak Alden ke rumah sakit untuk check luka di leher. Terus juga kak Alden minta sekalian untuk di ronsen scan seluruh tubuh. CT Scan gitu." Jelas Olive.
"Hasilnya baik-baik aja kan?" Tanya Shakila khawatir dan Olive menggeleng.
"Tulang gue retak karena mungkin mukul nya nggak tepat di posisi terus juga barusan gue dapet kabar lagi dari dokter tomi kalo gue... " Ucap Olive terhenti.
"Lu kenapa? Kita bakal bantu sebisa kita buat lu liv." Ujar Niesha.
"Gue ada tumor otak stadium satu dan di sarankan untuk operasi segera untuk pengangkatan menyeluruh." Tangis Olive pecah.
Shakila dan Niesha terkejut lalu memeluk Olive untuk menenangkan nya. Tubuh Olive gemetar menangis sesegukan di pelukan kedua sahabatnya. Hingga merasa sudah sedikit lebih tenang, Olive menghentikan tangisan nya.
"Gue takut." Lirih Olive berkaca-kaca menahan tangis nya.
"Kita bakal nemenin lu, semua akan baik-baik aja. Ikutin kata dokter, mungkin itu yang terbaik." Ucap Shakila.
"Kita bakal selalu disamping lu suka maupun duka. Kita nggak akan ninggalin lu sendirian. Ikutin kata dokter ya, lu bisa lewatin semua ini." Ujar Niesha.
Kedua sahabatnya juga ikut menahan tangis, mereka merasakan sakit ketika tau sahabatnya ini ada penyakit serius.
"Apa kak Alden tahu?" Tanya Niesha dan Olive menggeleng.
"Belum ada yang tahu kecuali kalian. Gue takut semua bakal pergi, terlebih kak Alden cuman anggap gue nggak lebih dari teman sedangkan gue sudah tanpa sadar mengharapkan lebih dari itu. Maka nya kali ini gue benar-benar jaga jarak sama dia." Jelas Olive.
"Pilihan lu tepat, dengan begini lu nggak akan terlalu sakit hati nanti nya. Gue bingung, kenapa malah orang sebaik lu bisa dapet cobaan hebat kayak gini. Tapi, gue yakin lu bisa melewati ini." Ucap Shakila.
Olive merasa lebih tenang.
__ADS_1
"Thanks ya, gue udah merasa lebih baik. Sekarang gue lagi mikir gimana caranya kasih tau kak Belden dan orang tua gue. Apalagi besok ada makan malam bareng sama keluarga Fausta. Kepala gue rasanya mau pecah mikirin jalan keluarnya." Ujar Olive.
"Pelan-pelan kasih tau nya, terlebih ada oma lu besok. Gue yakin mereka bakal ngerti. Lu udah ada rencana buat operasi kecil secepatnya?" Tanya Niesha dan Olive mengangguk.
"Hari senin, kalian bisa jenguk gue setelah pulang sekolah. Tenang aja, gue bakal baik-baik aja." Sahut Olive.
Bel pulang berbunyi, seperti biasa. Olive menunggu kak Belden untuk menjemputnya. Saat sedang menunggu di depan gerbang rasanya Olive seperti ingin jatuh kebelakang. Untungnya ada seseorang yang menopang nya.
"Kak Alden." Ucap Olive kemudian membenarkan berdiri nya kembali.
"Kamu kenapa?" Tanya Alden.
"Nggak apa kak, mungkin karena capek aja tadi beberes buku di perpus." Jawab Olive bohong.
"Yakin?" Tanya Alden memastikan.
" Iya kak, kakak nggak bawa kendaraan?" Ucap Olive mengalihkan topik pembicaraan.
"Nggak. Nebeng sama Rafa." Sahut Alden.
Lalu terdengar klakson dari mobil kak Belden. Olive pamit ke Alden.
Padahal baik Alden maupun Olive masih ingin mengobrol lebih banyak lagi seperti waktu di rumah Olive. Entah kenapa Alden merasa Olive menjauhinya perlahan. Ada rasa sakit di hatinya.
Di mobil, Olive diam saja. Biasanya dia akan memulai obrolan sampai rumah namun kali ini Olive menjadi pendiam. Belden merasa aneh dengan sikap adik nya.
"Kak, ada yang mau aku omongin. Boleh minggirin mobil nya sebentar nggak?" Pinta Olive dan Belden mengangguk.
Belden menepikan mobilnya tepat di sebuah taman yang cukup ramai.
"Ada apa dek? Cerita aja sama kakak, kalo bisa pasti akan di bantu." Ucap Belden.
"Kakak janji jangan kasih tau siapa-siapa tentang ini. Aku nggak mau banyak orang jadi khawatir karena aku terus kerjaan kalian jadi terhambat karena aku." Sahut Olive serius.
Belden merasa tambah aneh tidak biasanya adik ini berbicara serius seperti ini. Tapi, Belden mengangguk setuju.
"Ada dua hal yang mau aku bicarain ke kakak. Pertama, Tentang luka yang di leher pundak aku. Sebenarnya ada keretakan tulang disana, aku disarankan untuk terapi." Ucap Olive.
"Terus kamu mau kan jalanin terapi itu?" Tanya Belden khawatir dan Olive mengangguk.
"Iya kak, aku bakal jalanin itu. Secepatnya aku bakal hubungi dokter Tomi." Jawab Olive.
__ADS_1
"Lalu apa yang kedua?" Tanya Belden.
"Yang kedua, tadi saat istirahat aku dapat telepon dari dokter tomi kalo dia baru sadar masih ada satu hal yang aku harus tau yaitu aku ada tumor di otak stadium awal kak." Sahut Olive menunduk dan mata berkaca-kaca.
Belden merasa seperti terhantam puluhan jarum di hatinya. Belden tidak menyangka jika adiknya akan mengalami hal sehebat ini. Belden diam dan menatap lurus ke Olive yang masih menunduk menahan tangisnya agar tidak pecah.
"Aku baru sadar kalo akhir-akhir ini aku cepat lelah, terus kadang aku merasa mual dan aku jadi moody banget. Aku takut kak. Aku cari di internet mengenai tumor otak dan gejala nya sama persis seperti yang aku alami sekarang." Lirih Olive.
Belden memeluk adik tersayang nya dan tangis mereka pun pecah. Cukup lama mereka menangis.
"Dek, dengar kakak. Kakak bakal nemenin kamu, kamu mau kapan di operasi? Lebih cepat lebih baik." Ucap Belden.
"Senin kak. Aku berharap bisa bertahan sampai senin. Aku nggak mau ada orang yang curiga dan jadi khawatir sama aku." Sahut Olive.
"Oke, kakak bakal bantu kamu persiapkan semua nya. Kakak yakin, kamu bisa lewatin semua ini. Kakak cuman bisa berdoa, bisa nggak sih semua penderitaan kamu yang serba mendadak ini berpindah ke kakak aja. Kakak nggak tega kamu merasa sakit itu sendirian dek. Kakak bingung harus melakukan apa buat kamu." Ujar Belden lirih.
"Kakak jangan ngomong gitu. Kalo pun ternyata takdir aku harus pergi lebih cepat pun aku siap kak. Ada kakak yang bakal jagain mama papa oma dan opa di dunia ini." Sahut Olive.
"Sutt! Jangan ngomong itu, sekarang kamu harus persiapkan fisik kamu dengan benar. Walaupun operasi kecil pasti perlu perjuangan yang besar. Hem?" Ucap Belden dan Olive mengangguk.
"Kakak janji jangan kasih tau siapa pun ya, yang baru tahu tentang ini cuman kakak, Niesha dan Shakila. Cukup kalian aja." Sahut Olive dan Belden mengangguk.
Belden pun mulai mengendarai kembali menuju rumah. Sesampainya di rumah Belden langsung mengantar Olive ke kamarnya untuk beristirahat.
Mama dan papa merasa aneh dengan kedua anak nya itu. Saat melihat belden turun, papa memanggil belden untuk menanyakan hal tersebut.
"Adik mu kenapa? Kok beberapa hari ini aneh sekali nggak seceria biasanya? Lagi marahan sama Alden?" Tanya papa.
"Nggak tau pah, adek cuman bilang capek aja hari ini pengin istirahat." Jawab Belden.
"Sakit lagi? Demam?" Tanya mama khawatir.
"Nggak mah. Mungkin karena banyak fikiran tugas sekolah aja kali, walaupun nggak efektif kan dia tetap belajar sendiri di perpustakaan." Sahut Belden bohong.
"Ouh gitu, yaudah deh. Nanti di bangunin aja pas mau makan malam biarin aja istirahat." Ujar papa.
"Iya pah, yaudah aku mau buatin adek jeruk nipis hangat dulu." Sahut Belden dan orang tua itu menyetujui.
Dirumah keluarga Fausta juga merasa aneh dengan sikap Alden yang menjadi pendiam dan tidak fokus seperti biasanya.
Bersambung...
__ADS_1