
Tetapi Alden kembali teringat dengan curhatan Olive bahwa Alden tidak bisa menganggap hubungan mereka lebih dari sahabat. Terserah mereka sajalah. Yang penting mereka tau resiko nanti jika sakit hati.
Phia menyentuh kening Olive, masih hangat.
"Dokter apa Olive sudah minum obat?" Tanya Phia.
"Sudah nona, tadi tuan muda membantu nona kedua meminum obatnya."Jawab Dokter Tomi.
"Kak Phia, dingin." Lirih Olive.
"Iya sayang, sini peluk." Sahut Phia.
Olive tidur di pelukan Phia, dokter selesai mengobati sakit Olive pada kaki.
"Nona, saya sudah selesai mengobati kaki nya. Jika ada apa-apa panggil saja, tidak perlu sungkan." Ujar Dokter Tomi.
"Baik, terima kasih dokter."Jawab Phia.
Dokter meninggalkan ruangan kamar itu untuk menemui tuan muda nya. Sementara zet tetap berjaga disana.
"Zet, kau beristirahatlah. Isi tenagamu, aku takut mungkin nanti kita akan mendapat serangan seperti kemarin dan kondisi mu tidak stabil." Perintah Phia.
"Baik nona, karena di depan sudah ada tuan saya akan pamit untuk istirahat. Ouh, nona sebaiknya nona harus tau ini. Baik nona olive serta tuan Alden mereka saling mencintai. Tetapi semua itu masih terlihat abu-abu karena tuan Alden ingin menunggu seseorang atau bisa di bilang teman masa kecilnya. Aku mencari informasi semua itu tanpa sepengetahuan nona Olive. Maaf karena lancang nona." Ucap Zet.
"Tidak apa, sekarang aku semakin mengerti situasi kedua nya. Terimakasih sudah melaporkannya padaku." Ujar Phia.
"Kalo gitu saya pamit undur diri." Sahut Zet memberi hormat kemudian meninggalkan ruangan itu.
Phia merasa sakit hati karena tau perasaan kembarannya sedang di gantung. Tapi di sisi lain, ia tau jika Olive sama seperti diri nya tidak ingin ada yang ikut campur masalah percintaannya. Phia yakin kembarannya bisa melewati semua ini.
"Kak, bagaimana jika kita pergi saja? Rasanya setengah nyawa ku sudah hilang saat merasakan seperti terbakar itu. Sangat sakit kak. Aku tidak sanggup hiks... hiks... " Tangis Olive.
__ADS_1
Sifat Olive yang manja seperti ini hanya ia tunjukkan di depan orang yang Olive benar-benar sayangi sepenuh hati.
"Hei... jangan berbicara seperti itu. Kakak yakin kamu bisa melewati semua itu. Bukankah kakak sudah berhasil melewati masa koma selama 3 tahun. Lihatlah tidak ada yang berubah, kakak tetap jadi incaran juga. Terlebih jika kita kabur mereka akan merasa menang. Oma akan menyalahi diri nya karena kehilangan kita. Oma dan mama akan menderita serta tidak bahagia, kamu mau melihat itu?" Nasihat Phia dan Olive menggelengkan kepala.
"Tapi, aku tidak sanggup lagi harus merasakan suhu tubuh yang bentrok kak. Tubuh ku terasa dingin tapi hanya bagian kaki kanan ku yang terasa panas seperti terbakar. Ini terlalu menyiksaku." Lirih Olive yang masih sesegukan.
"Kamu bisa melewatinya, banyak yang mendukungmu disini untuk melewati masa kesakitan itu. Jika aku tidak salah ingat penyiksaan itu hanya sampai besok. Jadi bertahanlah sayang." Ujar Phia mengelus Puncak kepala Olive dengan sayang.
Olive memeluk Phia erat.
"Kak bagaimana keadaan di rumah? Apa semua baik-baik saja? Kalian tidak ada yang terluka bukan?" Tanya Olive khawatir.
Phia mencubit hidung adiknya.
"Berhentilah mengkhawatirkan keadaan sekitarmu. Lihatlah dirimu sendiri dulu. Bagaimana kamu bisa tidak menceritakan hal ini padaku, hem?" Gemas Phia.
"Tapi kak---"
Olive seketika memerah wajahnya karena merasa ketahuan.
"Kakak... diamlah." Malu Olive.
"Kalian di takdirkan bersama. Tetapi, kalian harus melewati cobaan yang terberat dulu. Kakak yakin dia yang terbaik untuk kamu. Buktinya dia tidak ragu membantumu agar hangat, jujur aku sangat kaget tadi melihat kalian di satu selimut. Aku hampir saja mengutuk Alden." Goda Phia.
"Kak Phia berhentilah menggoda ku... "Rengek Olive.
"Hahaha... Baiklah. Aku berhenti, tapi apakah pelukannya nyaman?" Goda Phia sambil tertawa.
"Kak... " Rengek Olive namun tertawa.
Alden, Belden, Zet dan dokter Tomi yang mendengar suara ceria Kembali merasa tenang. Terutama Belden, adik nya sudah kembali ceria seperti duku sebelum kejadian penculikan itu.
__ADS_1
"Senangnya mendengar keceriaan nona lagi. Semoga besok efek nya benar-benar hilang. Karena mungkin besok adalah klimaksnya rasa penyiksaan itu. Setelah itu nona akan kembali normal." Ujar Dokter Tomi.
"Apa maksudmu *******?" Tanya Belden.
"Rasanya seluruh badan akan panas tuan, Benar-benar seperti terbakar. Untuk mengantisipasi itu saya menyarankan agar nona merendamkan kaki nya nanti sore dan malam. Sehingga besok pagi mungkin tidak akan semenyiksa aslinya." Jelas Dokter tomi.
"Sebenarnya minyak apa yang bisa membuatnya seperti itu? Apa tidak ada cara lain sehingga sembuh sekarang?" Tanya Alden.
"Kami sudah 3 tahun meneliti itu dan belum menemukan jalannya tuan, hanya untuk mencegah agak berkurang saja. Mungkin bisa dicoba dengan nona berendam diberi obat tetesan itu. Minyak itu seperti alkohol yang di siramkan ke luka secara sengaja. Rasa sakitnya seperti itu kurang lebih." Jelas Dokter Tomi.
"Aku akan membicarakannya nanti dengan Olive. Sekarang Oma sudah meminta agar penjagaan rumah sakit di perketat 5x lipat. Disetiap pintu masuk rumah sakit akan dipasang alarm yang bisa bunyi ketika ada orang yang membawa barang mencurigakan. Oma tidak ingin kebobolan lagi, bahkan aku kesini di kawal dengan 30 mobil yang berisikan 8 orang 1 mobil. Sepertinya Oma sudah marah dengan situasi ini, jika beliau tau tentang Olive yang seperti ini. Aku tidak menjamin jika keluarga Clarke benar-benar akan selamat dalam hitungan satu malam. Karena Olive adalah cucu tersayangnya, setelah kejadian menimpa Phia sangat membuatnya terpukul sehingga dia sangat protektif terhadap Olive. Maka dari itu, Olive sangat pandai bela diri dan memancing emosi musuh. Sepertinya sudah terlambat mengatakan itu, karena pasti kemarin kau sangat terkejut dengan kemampuan Olive." Ucap Belden panjang lebar.
"Sangat terkejut. Apa dia mengikuti kursus atau pelatihan?" Tanya Alden.
"Tidak. Dia melatih nya sendiri di ruang arena milik Opa Nugraha. Di sana sudah lengkap dengan peralatan dari pedang hingga tangan kosong. Dari sejata api paling mematikan hingga bisa melawan dengan tangan kosong. Olive melatihnya sediri setiap hari pulang sekolah sejak umur 5 tahun. Ah, bahkan aku ingat papa kewalahan karena sistem keamanan komputer nya berhasil di rentas olehnya, saat itu dia berumur 7tahun." Cerita Belden yang membuat Alden dan dokter Tomi kagum dengan kemampuan Olive.
"Wah! Nona sehebat itu?" Kagum Dokter Tomi.
"Bahkan ada satu waktu Olive meminta aku, papa dan Opa secara bergilir untuk melawannya. Hasilnya kami bertiga di kalahkan. Kami kalah dengan anak yang baru berumur 10 tahun. Itu pengalaman yang memalukan untuk kami bertiga. Tapi, lu bisa mengontrol kemampuan nya. Gua takut jika dia bertemu dengan musuh yang membuat adik nya mati mungkin dia akan menggila tanpa memperdulikan situasi lagi." Jelas Belden.
"Adik? Olive mempunyai adik?" Tanya Alden dan Belden mengangguk.
"Robert, dia adik laki-laki ku pertama. Dia mati karena dibunuh oleh---"
Ponsel Belden berdering tertera nama Phia di layarnya. Belden langsung berdiri dan mengangkat telepon nya.
Apa terjadi sesuatu? Haruskah kakak masuk?
Tidak. Kecilkan suara kakak. Jika Via mendengarnya tentang adik, kakak tidak akan bisa menahannya. Ingat hari itu? Via menghancurkan semua nya, membunuh tanpa memandang musuhnya manusia lagi. Pelankan suara kakak.
"Ada apa kak? Olive sakit lagi?" Khawatir Alden.
__ADS_1
Bersambung...