
Kemudian, mereka melakukan rencana yang sudah di diskusikan tadi. Olive dan Luna turun ke ruang bawah tanah di kawal oleh 5 anak buah tidak termasuk Zet.
"Nona Gardapati. Apa yang sedang nona lakukan?" Tanya Olive membuat itu terkejut karena tidak ada suara terdengar saat mereka datang.
"Zet buka pintunya." Pinta Luna.
Olive masuk ke dalam sana.
"Kau sedang memberikan sinyal? Silahkan saja. Ruangan ini tidak akan bisa di tembus oleh sinyal itu. Keluarga Nugraha tidak sebodoh itu nona." Ucap Olive.
"Kau pikir keluarga Gardapati jjuga sebodoh yang kau pikirkan? Haha... aku sedang memainkan game offline. Untuk apa aku memberi sinyal kepada kak Rio jika mereka sudah tahu jika aku di ruang bawah tanah mansion Nugraha. Apa hanya ini yang bisa kalian lakukan?" Ujar Gadis itu memancing amarah Olive.
"Kau..."
"Kak... jangan terpancing dengan ucapannya. Itu akan membuang banyak tenaga kakak, kita harus lebih tenang dan santai. Jika apa yang dikatakan gadis itu benar berarti Dir gagal mendapatkan makan enak hari ini." Tutur Olive sambil tersenyum smirk.
"Dir? Ouh, sekarang dia ada di pulau itu? Wah... bukankah Dir akan sangat bahagia mendapatkan daging segar." Lanjut Luna membuat gadis itu penasaran siapa itu Dir.
"Kenapa? Kau penasaran siapa Dir? Dia salah satu peliharaanku yang paling lincah dalam membunuh musuh yang mengganggu majikannya. Bentuknya? Tingginya 3-4 meter memiliki taring 4 atas bawah masing-masing ada 2. Dia tidak akan melepaskan mangsanya jika aku tidak memintanya. Jadi berdoalah semoga kabar bahwwa pesawat yang di tumpangi kakak mu dan gebetan kebangganmu iitu benar sudah lepas landas dari pulau. Karena jam 3 sore dini hari waktunya dia makan." Jelas Olive sambil melihat matanya yang gemetar.
"Nona, saya dapat kabar bahwa orang pusat sudah tiba. Kita kembali ke atas." Lapor Zet.
"Cepat juga. Baiklah, salah satu dari kalian seperti biasa beri tahanan untuk makan dengan level yang sama. Nanti jika lelaki kebanggannya datang dan melihatnya kurus di kira aku tidak memberinya makan." Perintah Olive.
"Baik nona." Sahut anak buah itu.
"Apakah ini perlakuan sesungguhnya dari keluarga Nugraha? Bukankah seharusnya kau memberikan para tahanan makanan sisa kalian? Jangan bersikap baik kepadaku jika tahanan lain kalian buat kelaparan hingga mati." Kesal Viera.
"Kau benar-benar tidak ada sopan santun sama sekali." Ucap Luna terpancing emosi.
"Kak, sudahlah. Zet, turuti apa yang dia katakan. Berikan saja sisa makanan." Perintah Olive.
"Tapi nona..."
"Itu yang dia dapatkan gosip dari luar sana. Biar dia bahagia apa yang di omong orang luar benar adanya, nanti kalo kita suguhkan yang mewah di nolak nggak mau makan. Sudah kasih saja, turuti apa yang dia mau." Ujar Olive membuat Viera kaget.
"Wah dek, kamu hebat bisa tidak terpancing emosi dengan gadis itu." Puji Luna.
"Untuk apa emosi kepada pion berharga musuh. Lebih baik tundukkan raja nya langsung. Hayo kak, kita udah di tunggu di atas." Sahut Olive.
Viera Gardapati terdiam. Olive Luna dan Zet kembali ke ruang tengah.
"Bagaimana?" Tanya Olive.
"Semua sudah siap." Sahut Alden.
"Kamu yakin mau sendiri? Aku nggak boleh ikut?" Tanya Olive.
__ADS_1
"Yakin. Pokoknya jangan nekat ya selama aku pergi dan aku janji bakal balik dengan keadaan selamat utuh berdiri di hadapan kamu tanpa luka sedikitpun." Janji Alden.
"Bener?" Tanya Olive meyakinkan lagi.
"Benar sayang. Aku janji, setelah ini kelar kita bakal masuk sekolah dengan aman tanpa teror apapun lagi. Aku bakal tuntasin semua sampai akar nggak ada yang bisa sakitin kamu." Ucap Alden.
"Ehem! Sudah kali pacarannya keadaan genting ini." Ujar Kevan.
"Tau nih dek, keadaan bahaya masih sempet aja." Protes Barel.
"Ish! Dasar manusia iri, maka nya cari pacar jangan cari musuh wle!" Tukas Olive sambil memeluk Alden lalu menjulurkan lidah ke arah kevan dan Barel.
"Kamu..."
"Kamu jagain Olive, Reina sama Robert buat aku. Bisakan?" Tutur Belden ke Luna.
"Aku bakal jagain mereka tanpa kamu minta sayang. Tapi, perasaan aku nggak enak. Gimana kalo kamu disini aja? Atau gimana kalo kita rubah rencana nya jangan kayak gini. Bisa?" Tanya Luna yang khawatir.
"Kita sudah siap dengan rencana yang di susun Olive, ini udah mepet banget. Gimana kalau ternyata musuh udah dekat pas kita ganti formasi? Pokoknya aku janji akan datang ke kamu dengan keadaan selamat berdiri tegak tanpa luka apapun. Kamu tahu kan aku gimana?" Ucap Belden.
"Yaudah, tapi kamu beneran jaga jarak ya jangan gegabah atau kepancing emosi. Musuh yang kita atau kamu mau lawan ini benar-benar..."
"Licik dan banyak akal. Aku tahu sayang, maka dari itu aku larang kalian buat turun. Robert kamu nggak usah ikut, jaga markas tetap dalam kondisi aman. Lapor apapun keadaan sekitar markas dan mansion dalam jarak 1 KM ke kami." Pesan Belden.
"Ini tugas pertama kamu sebagai anggota mafia di Nugraha." Ucap Firo.
"Oke kak. Aku ngerti dan pasti aku kabarin terus kalian." Sahut Robert.
"Tunggu sebentar." Bisik Olive kemudian pergi ke arah lemari laci dan mengambil sesuatu.
"Apa ini?" Tanya Alden saat Olive memberikan benda itu.
"Ini bom asap buat waktu mepet kalian buat kabur dari musuh. Aku cuman bawa 3 sisa nya ada di beberapa villa tersembunyi aku. Aku kira gak akan secepat ini buat waktu perang, kan tahu gitu aku minta kirim semua." Sahut Olive.
"Nggak apa, ini cukup kok. Makasih ya sayang." Ucap Alden sambil mengusap pipi Olive lembut.
"Gaes! Kita harus pergi sekarang." Kata Barel.
Akhirnya mereka pun pergi menyisakan Olive, Reina, Luna dan Robert yang langsung menuju markas dengan beberapa bawahannya. Kevino menjaga para orang tua dengan Sophia. Zet berencana untuk ikut dengan Alden di mobil yang sama sesuai perintah dari nona kembar kedua Nugraha. Tetapi Alden menolaknya.
"Kamu tidak perlu iktu. Jaga Olive saja disini, dia lebih membutuhkanmu dari aku. Aku tidak bisa menjamin bahwa kita sama-sama berada di tempat yang aman, jadi tolong pastikan bahwa Olive aman dibawah pengawasanmu. Mengerti?" Tegas Alden.
"Baik tuan, saya mengerti." Sahut Zet.
Tak memerlukan waktu lama rombongan Alden sudah berangkat menuju lokasi. Zet kembali ke markas, Sedangkan Olive tetap memantau musuhnya melalui pelacak yang sempat ia tembakan pada pesawat yang di tumpangi Clarke.
Di tempat Clarke~
__ADS_1
"Bagaimana? Apakah sudah memastikan aman? Tidak ada yang hidup?" Tanya Ibrano.
"Aman tuan." Sahut anak buahnya.
"Kita lanjut ketingkat berikutnya, ingat jangan lengah dan tetap waspada kita berada di wilayah musuh yang paling berbahaya. Mengerti?" Ucap Rio.
"Mengerti!" Sahut anak buah nya kompak.
"Kak, kita cuman bawa pasukan 50 orang. Apakah kita tidak terlallu nekat?" Tanya Sam.
"Iya kak, lawan kita bukan sekelompok orang bodoh yang bisa kita tipu. Terlebih kalo perempuan gila itu ikut turun berperang melawan kita nanti." Protes Quira.
"Kalian tenang saja. Kita tidak akan perang sekarang, aku hanya ingin memancing mereka agar keluar dari markas. Nanti setelah itu aku akan menyusup masuk ke dalam mansion dan membebaskan Viera." Rencana Rio.
"Kau gila? Bagaimana jika ternyata mereka memasak jebakan bom granat di sekitar rumahnya atau mungkin tidak semua keluar dari mansion untuk turun berperang disini?" Ujar Ibrano.
"Mereka akan terpancing. Kau tenang saja, aku tidak akan memintamu untuk menolong adikku karena aku tahu yang kau pikirkan hanyalah perempuan gila yang sudah membuat kita terkapar seperti sekarang. Akuu juga tidak akan menyakitinya jika perempuan itu berjaga di mansion mereka." Sahut Rio.
"Kak pikirkan ulang apa yang sudah kakak rencanakan. Jika kakak berhasil masuk kesana tanpa ketahuan itu bagus tapi bagaimana jika saat keluar malah kakak ikut jadi tahanan mereka?" Tanya Yumi.
"Aku sudah memikirkan semua dengan matang. Jika salah satu dari kalian ingin ikut silahkan, tapi jika tidak juga tidak apa-apa." Sahut Rio.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...