Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 12 - Rumah Sakit


__ADS_3

Alden merasa hatinya menghangat setelah mengobrol dengan Olive. Diri nya juga merasakan apa yang di bicarakan, di takutin oleh adik kelas bahkan kakak kelas pun segan untuk menegur. Alden sangat mengerti itu, ia juga tidak suka dengan cara langsung mengusir dalang. Harus diberi pelajaran dahulu agar dalang belajar dari kesalahan nya.


Sejak mereka berdua ngobrol sebenarnya Belden sudah ada di depan pintu kamar rawat Olive. Setelah merasa kedua nya selesai berbicara barulah Belden masuk dengan mengetuk pintu.


Tok Tok


Belden langsung membuka pintu dan masuk kedalamnya. Alden langsung berdiri mempersilahkan Belden untuk duduk.


"Kakak? Tahu dari mana? Mama papa datang juga?" Tanya Olive panik.


"Nggak, kakak bilang kamu ada kerja kelompok dan kamu izin buat nginep di rumah temen. Kamu beneran nggak apa-apa? Siapa yang bikin kamu begini?" Ujar Belden.


"Udahlah kak, aku pengin ngerasain jadi siswi normal yang nggak ada kekuasaan sana sini. Aku akan lebih hati-hati lagi." Jawabku.


"Ini... "


"Aku Alden kak, kakak kelasnya Olive." Sahut Alden.


"Ouh ini yang namanya Alden. Ayah Bunda kamu main ke rumah kemarin, Aku belden. Kalo ada apa-apa bilang aja ya. Kita sama-sama anak yayasan kan." Ucap Belden.


"Kak." Kesal Olive.


"Iya kak, mungkin minta solusi kali ya buat bikin dalang kejahilan jera gitu. Aku bakal minta nasehat sama kak belden." Sahut Alden membuat Olive memutar bola mata nya.


Entah kenapa sikap kesalnya Olive sangat lucu di mata Alden. Lagi-lagi Alden.


"Kakak ada apa kesini? Jangan kasih tau mama papa ya? Bener ini yang terakhir." Ucap Olive.


"Dari dulu juga ngomong nya begitu. Kamu jangan terlalu baik dek, sabar itu ada batasan nya. Kamu harus tau mana yang harus di lawan mana yang harus musuh jadi teman. Baru juga hari kedua masuk sekolah udah berakhir di rumah sakit. Gimana kamu bulan depan. Kakak tahun depan udah nggak bisa selalu nemenin dan jagain kamu. Papa minta kakak buat terusin perusahaan di negara S jadi kamu harus bener-bener bisa jaga diri dek." Nasihat Belden.


"Iya, Tapi kan pasti ada jalan lain kak selain kekerasan dibalas kekerasan. Bukan nya aku pasrah di giniin tuh, Nggak. Aku punya cara aku sendiri buat bikin mereka benar jera. Aku tahu batas kesabaran aku dan menurut aku ini belum seberapa karena kakak tahu kan aku pernah ngalamin hal serupa dan berakhir di rumah sakit juga kayak sekarang. Aku cuman pengin ngukur aja kak, dari SMP aku selalu begini terus begini berarti pembullyan di sekolah itu nggak pernah ada kemajuan. cara tangan harus dibalas dengan ucapan dan bukti kak. Aku nggak akan semudah itu buat mau di giniin. Pak Firman itu teliti selalu mantau murid nya, aku yakin besok pak Firman bakal bertindak." Ucap Olive.


"Eh? Iya, tadi mobil pak Firman belum pulang." Ujar Alden.


"Tanpa kita bertindak, pasti udah ada yang lebih dulu bertindak. Terlebih, pak Firman salah satu sahabat papa juga. Walaupun yang melakukan itu anaknya." Sahutku membuat Alden terkejut.


"Pak Firman bokap nya Gitta?" Tanya Alden.


"Bokap kandung kak, cuman karena beberapa alasan pak Firman ninggalin kak Gitta sedari kecil. Pas tahu, kak Gitta masuk sekolah itu. Sejujurnya kak Gitta kurang nyaman tapi karena merasa ada yang melindungi dia berani melakukan itu. Kita lihat aja besok, kira-kira pak Firman bakal bela anak nya atau bela aku anak dari sahabatnya. Feeling aku, beliau bakal kubur kasus ini." Jelas Olive.


"Tapi, omong-omong soal cctv. Kan papa juga bisa mantau kamu di sekolah dek dari ponsel atau ruang kerja. Cepat atau lambat mama papa pasti bakal tahu masalah ini." Ujar Belden yang di angguki Olive.


"Maka nya, aku selalu pasrah kalo udah ketahuan. Lagi dan lagi aku cuman bisa lari minta bantuan kalo nggak kakak ya oma. Hehe... " Sahutku.


"Ish! Kamu itu." Gemas Belden.

__ADS_1


Sebenarnya Alden tak kalah gemas dengan setiap tutur kata Olive dan ada benarnya juga yang di ucapkan. Tiba-tiba saja pintu terbuka.


"Kak Alden---"


Masuklah seorang gadis kecil cantik ke kamar itu di susul sepasang paruh baya. Alden merutuki tidak mengancam Tomi bila bilang-bilang ke ayah dan bunda.


"Om tante." Sapa Olive dan Belden.


"Lho? Ya ampun kamu kenapa sayang? Bunda kira Alden yang masuk rumah sakit. Kok jadi kamu? Kamu di usilin ya sama Alden? Sampe masuk rumah sakit?" Ujar Bunda.


"Nggak tante, tadi... tadi aku nggak hati-hati pas turun tangga kepeleset terus nggak sengaja juga ketemu kak alden pas sekolah udah sepi. Jadi, langsung dibawa kesini." Bohong Olive.


"Ya ampun, terus gimana? Kaki nya sakit? Tapi nggak apa kan?" Tanya bunda.


"Nggak apa tante, besok udah boleh pulang." Sahut Olive.


"Mama papa kamu udah tau?" Tanya Ayah.


"Ahh, jangan kasih tau mereka. Mereka bisa lebih panik dari ini. Aku nggak apa kok, cuman perlu nginep semalam doang." Tolak Olive.


"Iya tante, lagian mama sama papa jam segini udah tidur. Mereka pasti capek banget." Sambung Belden.


Tiba-tiba anak-anak yang beli lauk makan malam kembali. Kaget dengan situasinya.


Olive dan Alden menepuk kening nya, kali ini mereka merutukin masing-masing sabahatnya.


"Eh ada kalian juga?"Ucap Ayah.


"Malam om tante." Sapa Ryan Rafa shakila dan Niesha.


Olive mengkode agar mereka segera mencairkan suasana. Supaya tidak menanyakan kejadian hari ini detail.


"Om sama tante tenang aja, aku udah minta teman sekelas aku Shakila sama Niesha buat jaga in malam ini. Kan kak belden harus kerja besok. Kak Alden, kak Rafa sama kak Ryan juga kesekolah besok." Ucap Olive.


"Iya tante tenang aja, ada kita berdua. Pasti bakal kabarin om sama tante kalo ada apa-apa." Sambung Shakila di angguki Niesha.


"Yaudah dek, karena udah malam kaka pulang deh takut mama papa cariin. Besok kakak jemput ya, kabarin aja." Ucap Belden pamit memeluk adik nya.


"Good luck rapat sama calon mertua." Bisik Belden yang membuat Olive terkejut namun langsung tersenyum paksa.


'Sial! Kak Belden, awas aja besok di rumah ya.' Bathin Olive merutuki bisikan Belden. Untungnya kakak nya langsung pergi.


"Kakak. Kakak sakit apa?" Tanya gadis kecil yang tadi hanya diam.


"Ouh, cuman keseleo aja." Jawab Olive.

__ADS_1


Gadis kecil yang ternya adik dari Alden yaitu Delia mengeluarkan sesuatu dari tas mungil kesayangannya. Handsaplast bergambar Princess kemudian menempelkan nya pada sikut Olive yang sedikit tergores.


"Cepet sembuh kak." Ujar Delia ke arah tangan Olive yang di hansaplast.


"Terimakasih, Siapa nama kamu?" Tanya Olive.


"Delia kak, adiknya kakak Alden. Ouh kakak yang mau jadi kakak ipar aku ya?" Ujar Delia membuat Olive dan yang yang lain panik.


"Delia sayang, Kita pulang yuk. Kakak Olive nya mau istirahat." Ajak bunda.


"Besok kesini lagi ya bunda, aku mau tengok kakak cantik terus." Sahut Delia.


"Gimana kalo hari sabtu kakak main ke rumah. Kita main bareng, oke?" Usul Olive agar Delia besok tidak datang.


Alden bingung melihat adiknya bisa cepat akrab dengan Olive. Lagi dan lagi Olive adalah orang kedua yang bisa meluluhkan adiknya dengan cepat.


"Hemm... Oke deh. Tapi janji ya beneran datang, ouh nanti biar kakak aja yang jemput. Ya kak?" Pinta Delia pada Alden.


"Iya. Sekarang kita pulang ya." Sahut Alden.


"Bye kakak cantik." Pamit Delia.


"Ayah sama Bunda pulang dulu ya." Pamit Bunda.


"Iya tante, hati-hati di jalan." Sahut olive.


Alden kode akan mengantar orang tua nya dulu hingga lobby. Setelah kepergian keluarga Fausta, Olive langsung di hampiri oleh dua pasang ini.


"Dalam rangka apa kok bisa calon mertua datang?" Tanya Niesha.


"Nggak. Tadi, dikira nya kak belden yang di rawat. Ternyata malah gue. Gitu lho." Jelas Olive.


"Udah ngobrol sampe ke hal apa? Baju pernikahan?" Tanya Ryan.


"Aish! Ngaco kakak nih. Nggak ada, cuman seputar aku kenapa nya aja." Kesal Olive.


Introgasi tak kunjung kelar sampai akhirnya Alden datang.


"Eh makan dulu abis itu kita bertiga balik, nggak usah ngomongin yang macam-macam." Ucap Alden.


Akhirnya mereka makan dan Olive hanya melihat saja sampai akhirnya dia merasa kantuk menyerang dan efek obat juga. Sedari tadi Olive hanya menyimak lelucon dari Ryan dan Rafa hingga akhirnya tertidur. Alden yang sadar Olive tertidur pun meminta sahabatnya itu untuk diam.


Tak lama itu mereka langsung pulang, tersisalah Shakila dan juga Niesha yang menjaga Olive.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2