
Perjalanan menuju ruang terapi jalan.
"Waktu itu aku pernah kasih kamu kalung juga, kamu gak pake?" Tanya Alden.
"Aku gak biasa pake accessories. Aku bakal pakai kalo ke acara-acara tertentu aja." Sahut Olive.
"Ide yang Bagus. Aku setuju sama kamu, tapi kalo kamu butuh apapun bilang sama aku." Ujar Alden.
"Aku mau gunung everest jadi milik aku, bisa?" Tanya Olive.
"Mana bisa, kamu ada-ada aja." Jawab Alden sambil tertawa diikuti Olive.
"Kan kamu yang nawarin wle... " Goda Olive.
Alden mengacak rambut Olive gemas. Mereka tiba di ruang terapi jalan. Olive belajar step by step. Dokter tomi dan Alden mengamati dari jauh agar tidak mengganggu pembelajaran Olive
"Gimana?" tanya Alden.
"Besok mungkin sudah bisa jalan dengan tongkat tuan, nona kedua sangat memiliki semangat untuk kembali jalan. Bukan berarti dia lumpuh mungkin karena dalam fikirannya dia juga sudah terlalu lelah hingga membutuhkan waktu seperti ini." Jelas Tomi.
"Aku mengerti. Jika aku di posisinya aku juga akan memilih untuk mati. Setiap orang memiliki keterbatasan kesabaran masing-masing." Sahut Alden.
Olive sudah selesai terapi jalan selama 1 jam. Dokter memutuskan untuk menyudahi dan lanjutkan lagi besok. Akhirnya Olive di bawa kembali ke kamar rawat nya saat membuka pintu tiba-tiba di sambut oleh keluarga kejutan+nyanyian Happy Birthday.
Olive dan Alden terkejut karena suprise itu. Terutama Olive merasa terharu.
"Sayang, selamat ulang tahun. Semoga apapun keinginan dan harapan kamu bisa terwujud satu persatu. Pesan mama cuman satu." Ucap mama.
"Apa?" Tanya Olive.
"Sekolah nomor satu baru pacaran. Paham?" Tutur mama sambil mencubit hidung Olive dan menggoda nya.
"Hehehe... pasti kok mah. Mama kan juga tau aku mau buka cafe sendiri tanpa bantuan kalian." Sahut Olive.
"Kalo gitu mama sama papa sumbang toko nya buat kamu. Kamu bisa pilih di mana aja nanti kita beliin." Ujar papa.
"Kakak nyumbang perabotan deh, bareng Firo cenan kevan luna juga." Ucap Belden.
"Kakak bagian rekrutmen. Kakak yang bakal interview karyawan kamu." Lanjut Phia.
"Aku? Aku bakal turunin bawahan bayangan buat ngawasin kakak dan toko kakak 24 jam non stop." Kata Robert.
"Ehhh! Stop. Aku nggak terima. Kan aku udah bilang mau usaha sendiri berarti semua harus dari uang yang aku hasilin. Kok malah jadi sumbang menyumbang gini." Cemberut Olive.
"Yah, padahal oma tadinya mau nyumbang senjata yang kamu penginin banget. Nggak jadi deh kalo gitu." Ucap Oma.
Olive langsung mengayunkan roda menggunakan tangannya mendekat ke oma.
"Omaa. Oma cantik deh... kalo itu Olive gak bakalan nolak, Olive bakal terima dengan sepenuh hati. Beneran." Sahut Olive dengan mata puppy nya.
Pletak!
"Ahhh! Sakit." Keluh Olive.
"Dasar kamu tuh! Kalo senjata bahaya gitu aja cepet. Nggak ada, Opa gak izinin kamu pegang senjata lagi." Ujar Opa.
"Oma, lihat tuh opa masa cucu nya di jitakin." Adu Olive.
"Ya kalo yang di omongin opa sih Oma setuju aja." Sahut Oma.
"What? Ish nyebelin!" Ambek Olive dan memutar kursi roda membelakangi Oma Opa.
Opa mengeluarkan belati dan ponsel Olive dari kantung celana nya. Lalu Opa letakkan di atas kaki Olive. Olive terkejut.
"Ini beneran?" Tanya Olive.
"Iya. Oma Opa aneh lihat kamu gak pegang belati sehari... rasanya nggak tenang walaupun kamu di samping Zet dan Alden." Sahut Oma.
Olive memutar kursi roda nya.
"Olive janji, kali ini benar untuk lindungin diri. Karena masalah Wiyata dan Clarke udah selesai jadi kita belum ada musuh lagi." Ujar Olive.
Oma siap ingin menjitak Olive.
"Maksud Olive udah nggak ada musuh, iya. Itu maksudnya." Ucap Olive sambil cengengesan.
"Awas kalo sampai Oma dapat laporan yang berbeda dari ucapan kamu." Ujar Oma.
'Tapi emang seharusnya urusan Wiyata&Clarke emang belum selesai. Karena Yumi dan Quira kabur.' Bathin Olive.
"Mikirin apa kamu?" Tanya Oma.
"Emm... gak ada. Aku cuman senang banget akhirnya bisa ngerayain ulang tahun dengan anggota lengkap. 8th ini perjalanan yang sangat panjang dan gak akan aku lupain gimana perjuangan aku buat sampai di titik ini. Walaupun dendam tidak terbalaskan, tapi udah cukup senang bisa kasih hadiah ke mereka. Hadiah itu tidak akan pernah hilang." Jelas Olive.
__ADS_1
Tiba-tiba Zet datang memasuki kamar rawat Olive dengan gelisah tanpa melihat ada keluarga lain.
"Nona tuan lapor. Nona Zaylee ada di perjalanan menuju rumah sakit dan 3 orang itu berhasil kabur. Ternyata selama ini nona Zaylee di khianati oleh bawahannya dan keluarganya." Lapor Zet.
Setelah Zet tidak mendengar tanggapan dari Nona dan Tuan nya, Zet menegakkan kepala nya dan terkejut.
"Maaf Tuan Besar Nyonya Besar. Saya... "
Zet bingung harus berkata apa.
"Zet, keluarlah dulu. Setelah selesai mengobrol kerahkan pengawalan buat antar mereka pulang. Kamu juga antar bunda ayah pulang." Ucap Olive.
"Kamu sama siapa? Zet kamu jaga Olive." Pinta Alden.
"Olive jangan khawatirkan keluarga kamu. Pasti akan aman sama kita, aku bakal minta extra bawahan sama perusahaan." Ujar Cenan.
"Bener tuh. Zet sama Alden jagain Olive di rumah sakit, kita juga bakal kerahin penjagaan ketat buat kalian di rumah sakit." Lanjut Luna.
"Stop! Kali ini biar Oma yang pegang alih. Kalian ikutin perintah oma saja jangan bikin perintah sendiri." Ucap Oma Nugraha.
Semua terdiam tidak ada yang protes. Setelah Oma menyusun rencana dengan matang lalu membagi tugas.
"Zet kamu tetap disini jaga Olive. Alden kamu ikut pulang sementara waktu jagain rumah dan markas. Untuk di perjalanan, Oma sudah mempersiapkan sebaik mungkin. Jangan ada yang melakukan sesuatu di luar rencana Oma. Mengerti?" Rencana Oma Nugraha.
"Baik Oma." Sahut Semua kecuali Olive.
"Heh! Kamu denger gak? Jangan punya rencana sendiri." Ujar Oma.
"Iyaya Oma aku paham. Tapi, Oma bisa kah bantu aku untuk menyembunyikan Zaylee? Aku akan menengoknya ketika sembuh nanti." Pinta Olive.
"Kamu... "
"Oma, Zaylee masih di bawah umur dan sangat butuh perlindungan. Orang tua bahkan saudara nya berkhianat kepada dia dan meninggalkannya begitu saja. Kali ini aja, aku janji gak akan ngapa-ngapain. Zet akan jadi saksi kalo aku selalu dikamar dan aku akan istirahat gak akan memikirkan apapun. Please lakukan apa yang aku pinta." Mohon Olive.
"Baiklah. Oma akan minta tolong Franklie untuk rawat Zaylee di rumah persembunyian tepi laut yang jauh dari keramaian." Jawab Oma.
"Makasih Oma. Setelah ini aku tidak akan ikut campur atau turun tangan sebelum Oma memberi perintah, aku janji." Janji Olive sungguh-sungguh.
Ponsel Olive berbunyi, Olive melihat ke layar hanya nomor saja. Tanpa menunggu lama Olive langsung mengangkat telepon itu.
Halo?
Halo sayang...
Belum ada 24jam, kita bertemu kamu udah lupa.
Iya. Kebetulan tadi ke pentok mobil jadi lupa ingatan. Langsung to the point gua gak ada waktu. Gua kasih lu waktu 3 menit buat ngomong.
Yumi. Pengin ngajak lu duel.
What? Duel? Lu udah siapin tempat buat nabur abu lu nanti? Yakin lu mau duel?
Sialan! Kalo lu takut bilang aja.
Eh suara lu yang gemetar. Lu gak lihat apa akibatnya ke kevino dan Sam? Nggak kapok lu.
Pasti lu pake ilmu sihir. Mereka nggak akan semudah itu buat dikalahkan.
Duh! Gua malas debat gak penting ya. Tunggu kabar dari gua, gua kirim tempat dan hari serta jam nya. Kalo masih mau berubah fikiran sekarang. Setelah telepon mati, gua gak akan kasih lu hidup kedua kali nya. Gua hitung sampai 3 kita Deal or Not? 1....2....
Tunggu!
Kenapa? Nggak jadi?
Gua bakal hadir tapi dengan satu syarat. Hanya kita berdua, nggak boleh ajak yang lain.
Woiii! Lu kira gua bodoh? Lu takut gua curang? Yang ada lu tuh yang main curang. Oke! Gua gak takut, sampai lu yang ingkar janji jangan harap gua kasih kesempatan lu buat hidup.
Sial! Aw--
Olive mematikan sambungan telepon nya. Semua menatap Olive membuat Olive mematung di tempat.
"Hem... siapa yang telepon? Kok nantang kamu?" Tanya Opa Nugraha.
"Itu... bukan siapa-siapa opa. Aku juga gak bakal mau, aku bakal nolak kok tenang aja." Sahut Olive.
"Biarkan saja pa. Oma sudah terlalu capek mengurusi Olive jika hanya sekedar janji saja. Paling dia akan tetap berduel dengan lawannya itu tanpa sepengetahuan kita." Ujar Oma.
"Oma tidak percaya padaku? Baiklah terserah oma saja." Jawab Olive.
Kali ini Nel yang masuk ke ruangan tanpa melihat kondisi.
"Tuan muda lapor, ada sekelompok orang dibawah mengobrak-abrik bagian dasar. Lalu--"
__ADS_1
"Lanjutkan, kenapa berhenti?" Tanya Opa Fausta.
Nel melihat Alden yang sudah menunduk sambil menggelengkan kepala.
"Maafkan saya tuan besar. Saya tidak tau jika---"
"Lanjutkan omongan kamu tadi." Potong opa.
"Emm... di bawah dari komplotan Sam Clarke datang tuan besar." Jelas Nel.
"Aku akan mengurusnya Opa. Kalian disini saja, ayo nel." Ajak Alden namun ditahan Olive.
"Jangan terluka." Kata Olive.
"Aku akan hati-hati, kamu juga jaga diri." Pesan Alden.
Genggaman Olive tidak melepaskan Alden.
"Tidak bisakah tidak pergi saja? Seharusnya urusan kita sudah selesai. Tidak perlu meladeni mereka lagi. Lagipula hari ini adalah ulang tahunku, tidak bisakah kamu tetap disini?" Pinta Olive.
"Aku kebawah hanya mengecek keadaan. Aku janji akan segera kembali, aku tidak akan memulai perkelahian tanpa izin dari kamu." Ucap Alden.
"Baiklah. Zet, kak Kevan, kak firo, kak cenan ikut turun dengan Alden ya. Zet, jangan biarkan Alden berkelahi terutama dengan Sam." Perintah Olive.
"Wah! Kalian ini udah mesra-mesraan di depan kita ya. Hemm... Alden ingat baik-baik tuh pesan Olive." Ujar Ayah.
"Siap ayah." Sahut Alden.
Saat Alden sudah balik badan membelakangi Olive, Alden memutar badannya kembali dan mencium pucuk kepala Olive agak lama kemudian pergi. Olive yang di perlakukan begitu di depan orang tua dan semua nya merasa malu. Pipi nya merah merona.
"Dek, kenapa?" Goda Belden.
"Diam." Sahut Olive.
Mereka pun tertawa melihat salah tingkahnya Olive.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
&
**
*.*
**
*
*
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...