
Olive masuk ke kamar dan mengunci pintu. Olive langsung mandi dan memakai baju tidur rumah nya. Kemudian Olive memilih buku untuk pelajaran besok lalu tidur. Tapi, saat ingin tidur ada telepon masuk di ponsel Olive.
Tertera di layar Niesha dan Olive langsung mengangkat telepon itu.
Lu udah pulang? Gimana keadaan lu?
Gua baik-baik aja. Udah merasa lebih baik.
Gua denger lu ikut perang? Lu bener-bener nggak takut mati ya? Kita khawatir banget sama lu beberapa hari ini nggak ada kabar.
Iya, gua ikut perang dua kali. Di rumah sakit yang gua larang kalian datang terus sama tadi pas jalan pulang kerumah, gua di kepung. Tapi, sekarang gue udah di rumah.
Terus gimana keadaan lu? Gua juga denger lu menderita kayak kepanasan gitu kaki lu sebelah doang? Kok bisa?
Ada musuh yang berhasil lolos dari pemeriksaan. Dia nyamar jadi suster. Ya jadilah begitu.
Emang kak Alden kemana, kok nggak jagain lu?
Hahaha... Emang gua siapa nya dijagain 24 jam. Dia istirahat di kamar tamu.
Sekamar dong? Kalian...
Intinya gue tidur di kasur pasien dia di dalam kamar tamu. Ouh satu lagi, besok kita ketemu di sekolah. Gua udah di bolehin sekolah sama dokter.
Lu nggak takut kalo kejadian kemarin terulang kembali? Sumpah penembak lu kemarin aja belum ke tangkap lho. Lu yakin nggak mau belajar dirumah aja yang lebih aman gitu?
Nggak. Mau sampai kapan gue sembunyi, toh cepat atau lambat gua juga bakal jadi target mereka. Yaudah istirahat kalian, lanjut cerita besok di kelas aja. Oke?
Bye!
Olive mematikan panggilannya, lalu dia tidur. Hingga keesokkan harinya, Olive sudah siap dengan seragam sekolah sejak pukul setengah enam pagi. Olive menyempatkan untuk membantu mama dan bibik memasaj di dapur Membuatkan kopi untuk papa dan menata sarapan di meja makan.
Tok Tok Tok
"Ada apa kak? Aku di bawah." Teriak Olive.
Belden langsung menengok ke arah sumber suara. Phia yang baru membuka pintu juga langsung menengok ke bawah dimana Olive berada.
"Kamu udah bangun?" Tanya Phia.
"Memang kenapa kak? Aku susah tidur akhir-akhir ini. Jadi tidur telat bangun cepat. Daripada aku nelamun di kamar lebih baik bantu mama dan bibik." Sahut Olive.
Phia dan Belden saling menatap lalu mengangkat bahu mereka. Entah, adiknya kenapa bisa seperti sekarang. Phia dan Belden turun menuju meja makan lalu memakan sarapan mereka.
"Hari ini aku berangkat sama Zet aja. Jadi kalo kakak mau tidur lagi, silahkan." Ucap Olive.
"Kok tiba-tiba Zet yang antar kamu?" Tanya Belden.
"Untuk aman in sekitar sekolah kak, kan penembak yang targetin aku belum ke tangkap. Siapa tau dia muncul lagi ya kan?" Ujar Olive.
__ADS_1
"Kok kamu tau dia bakal muncul lagi?" Tanya Phia.
"Karena aku tau siapa yang menyuruhnya. Tapi, aku ingin tetap diam sampai ia muncul dengan sendiri nya." Sahut Olive.
"Caranya?" Tanya Belden.
"Jika aku memberitahu kalian akan langsung melarang ku untuk sekolah. Lebih baik kalian tidak perlu tau dan aku pastikan bahwa kalian tidak perlu khawatir. Karena ada Zet yang lindungin aku selama di sekolah." Ucap Olive.
"Sayang ini jam enam kurang lima belas. Tadi jam berapa kamu janjian dengan Zet?" Tanya Papa.
"Oh God! Aku lupa, Bye semua have a nice day!" Pamit Olive sambil mencium pipi mama, papa, Belden dan Phia lalu pergi begitu saja.
Selama di perjalanan, Olive belajar menggunakan buku catatan Alden yang mudah di mengerti untuk nya. Jika Olive tidak mengerti ia akan cari referensi di perpustakaan dan jika masih tidak mengerti barulah dia meminta bantuan dari Alden.
"Nona kita sudah sampai." Ujar Zet.
Olive saking fokus nya belajar sampai tidak sadar jika dirinya sudah tiba di sekolah yang masih sangat sepi.
"Ouh! Baiklah, ah Zet pastikan jangan sampai ketahuan jika di sekolah ada pengawal bayangan. Ouh ya, kemarin posisi penembak nya ada di pohon itu. Coba kamu tebak kira-kira selanjutnya ada di posisi mana. Setelah menangkapnya bawa ke markas Nugraha. Aku ingin memastikan sesuatu." Perintah Olive.
"Baik nona, oh ya nona itu... sudah ada yang menunggu di koridor sepertinya." Ucap Zet.
Olive melihat ke arah koridor dan benar di sana ada yang menunggu nya, Olive tersenyum dia adalah Alden. Olive langsung turun dari mobil menuju pos satpam meminta kunci perpustakaan seperti biasanya.
"Pak, seperti biasa. Kunci perpustakaan." Pinta Olive.
"Eh, non Olive. Waduh, non telat itu kunci nya sudah di den Alden." Ucap Pak satpam sambil menunjuk Alden yang sedang menunjukkan kunci nya menggantung di tangan.
Alden mulai berjalan mundur menuju perpus yang tepat berada di belakang nya tapi masih agak jauh.
"Berhentilah." Mohon Olive yang mulai berjalan cepat untuk mengambil kunci perpus yang ada di tangan Alden.
"Ambil kalo bisa." Ujar Alden.
Olive melihat sekeliling, takut jika ada anak sekolah yang datang.
"Awas kak tembok!" Ucap Olive tiba-tiba namun itu tidak berpengaruh untuk Alden.
"Hei nona, anda meragukan saya yang hafal akan jalanan koridor?" Ledek Alden dan tertawa karena respon olive cemberut.
"Bagaimana jika aku bilang dibelakang sana ada penjaga perpustakaan?" Ujar Olive.
"Tidak mungkin. Tuh beliau baru saja turun dari angkutan umum di depan gerbang." Sahut Alden dengan santai dan Olive mengangguk.
"Jika aku bilang, ada tersangka penembakan tempo hari yang menargetkan aku bagaimana? Disana." Ucap Olive sambil menunjuk dan tetap jalan.
Alden berhenti dan menengok ke belakang. Tepat saat itu Olive berlari ke Alden namun dengan cepat Alden menghindar hingga akhirnya Olive hampir jatuh namun Alden dengan cepat memegang tangan Olive dan menariknya hingga membentur dada bidang milik Alden.
Mata mereka saling bertemu, sampai tidak menyadari anak-anak sekolah sudah mulai berdatangan sehingga tiba-tiba saja.
__ADS_1
"Alden. Olive." Panggil petugas perpus yang membuat Olive alden mundur beberapa langkah memberi jarak.
"Iya bu?" Sahut Olive gugup.
"Kamu baru sampai? Belum merapihkan buku? Kemana saja kamu beberapa hari ini tidak masuk sekolah?" Ujar petugas perpustakaan.
"Iya bu, saya langsung bereskan." Ucap Olive merebut kunci perpus dari tangan Alden lalu berlari ke arah yang berlawanan ke arah perpus.
"Olive, perpus ke arah sana." Kata penjaga perpus membuat Olive berhenti dan berbalik arah.
Alden tersenyum sambil menahan tawa nya.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu nggak akan bantu dia?" Ujar Petugas perpus.
"Eh, iya bu." Sahut Alden yang langsung menyusul Olive.
"Mereka benar-benar tidak pacaran? Kenapa sangat ketara kalau mereka saling salah tingkah. Hemm, Alden." Gumam petugas perpus.
Olive langsung mengambil buku-buku yang tersisa di meja dan menyusunnya di alat pengangkut barang. Lalu mendorong alat itu.
"Sudah biar aku aja yang dorong. Kamu arahkan." Ucap Alden yang mengagetkan Olive dan Olive hanya mengangguk kemudian berjalan ke sisi rak yang di tuju.
Olive menghindar tatapan dengan Alden. Olive berharap kedua teman nya cepat datang ke perpus untuk membantunya sekarang.
"Olive!" Teriak Shakila yang langsung menutup mulutnya mengingat ia memasuki perpus.
Olive diam-diam tersenyum yang ternyata di ketahui oleh Alden.
"Ouh, curang. Awas nanti." Ujar Alden sedikit berbisik.
Olive hanya menjulurkan lidah 😝 Kemudian berlari menghampiri kedua sahabatnya. Mereka langsung berpelukan sampai lupa jika Olive masih ada sedikit luka dan membuat Olive meringis sakit.
"Ups! Sorry-sorry gua lupa kalo lu masih ada luka. Nggak apa kan?" Ujar Niesha.
"Nggak apa, santai aja. Gua juga lupa masih punya luka hehe... " Sahut Olive.
"Lu sendirian kan? Kita nggak ganggu lu lagi sama---"
Alden tiba-tiba muncul dari balik rak, pura-pura tak mengetahui apa-apa.
"Eh, ada kalian." Sapa Alden.
"Hehe... kak Alden. Liv, gua sama Shakila baru ingat harus ke ruang guru. Kemarin janji sebelum bel masuk sama bu Sarah." Ucap Niesha.
"Ah, bener tuh. Jadi, kita nggak bisa bantu nih. Lu sama kak Alden aja ya. Bye!" Ujar Shakila yang langsung pergi begitu saja menarik Niesha.
"Eh kalian--- yah udah hilang." Gerutu Olive.
Saat Olive berbalik badan ia tanpa sengaja menabrak dada bidang Alden lagi.
__ADS_1
Bersambung...