
Alden menikmati sarapannya dengan mood yang baik hari ini.
"Alden." Panggil Bunda.
"Ya bun, kenapa?" Tanya Alden.
"Gimana keadaan Olive dirumah sakit? Dia udah siuman semalam?" Ucap Bunda.
"Sudah siuman bunda. Olive juga udah di copot alat-alat bantu yang dipasang di badannya. Tersisa infusan aja dan hari ini dia mulai terapi jalan." Jawab Alden.
"Kakak tau banget sih? Lagi chattingan ya sama kak olive?" Tebak Delia.
"Nggak. Aku minta dokter tomi buat laporan setiap perkembangan Olive di rumah sakit." Ngelak Alden.
"Terus hari ini kamu ada rencana ke rumah sakit nggak?" Tanya Ayah.
"Ada Yah, oma sama opa pengin jenguk Olive katanya. Bunda, Ayah sama Delia mau ikut?" Ajak Alden.
"Kami nanti saja, setelah makan siang. Oma sama Opa juga kayak nya mundur abis makan siang deh." Ujar Bunda.
"Yaudah coba nanti aku tanya lagi, soalnya Alden janjian sama Rafa Ryan di rumah sakit jam setengah sepuluh." Ucap Alden.
"Kak, jujur deh sama Delia. Kakak khawatir kan sama kak Olive?" Tanya Delia.
"Iyalah. Sebagai teman pasti khawatir dek." Sahut Alden.
"Bukan sebagai teman kak. Tapi khawatir yang khusus, kakak bisa ngerasain apa yang kak Olive rasain kan? Kak, kalo kakak cuman perhatian sama kak Olive sebagai teman kakak mending jaga jarak atau satu hari nanti kakak bakal kehilangan kak olive karena perhatian kakak sebenernya lebih dari teman yang kakak kira." Ujar Delia.
Alden terdiam mendengar perkataan adiknya. Bukan Alden tidak menyadari rasa itu tapi dia berusaha untuk tidak pedulikan rasa itu. Alden sangat sadar jika perasaan nya pada Olive sangat nyata. Tapi, Alden selalu berfikir bahwa mereka teman.
"Aku bukan bermaksud ikut campur tapi dari tatapan kak Olive ke kakak itu beda kak. Bukan sekedar teman biasa, lebih dari itu. Tapi, terserah kakak aja. Aku cuman ngingatin aja biar kakak nggak menyesal nantinya." Lanjut Delia.
Mereka melanjutkan makan dalam diam. Perkataan Delia sangat menusuk hati Alden. Ada rasa bersalah di hatinya karena sudah mempermainkan perasaan Olive. Namun, lagi dan lagi Alden tidak ingin menganggap rasa itu.
Sementara itu Olive sudah menghabiskan sarapan nya, kedua sahabatnya sudah bangun dan bersiap sarapan di kantin.
"Olive, tinggal dulu bentar ya. Ingat jangan bandel." Ucap Shakila.
"Enjoy your breakfast girls!" Sahut Olive.
Setelah kepergian kedua sahabatnya, Olive hanya melamun menatap luar jendela yang menampakkan gedung tinggi dan langit biru cerah. Karena merasa sangat bosan, Olive memanggil suster.
"Ya nona, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Suster.
__ADS_1
"Aku ingin berjemur di taman. Bisakah membantuku?" Ujar Olive.
"Tentu saja nona. Tunggu sebentar saya akan ambilkan kursi roda." Sahut suster.
Suster kembali dengan sebuah kursi roda, kemudian membantu Olive berpindah dari kasur ke kursi roda. Lalu suster membawa nya ke taman rumah sakit yang ada di belakang.
"Disana saja suster." Pinta Olive menunjuk di spot bawah pohon.
"Baik nona." Jawab Suster.
"Suster, bisa tinggalin aja. Nanti ketika sudah saatnya terapi baru jemput saya kembali disini." Ujar Olive.
"Nona benar tidak apa?" Tanya suster.
"Aku tidak akan bisa kabur. Kunci saja kursi roda nya." Sahut Olive.
"Baiklah nona, saya akan kembali sekitar tiga puluh menit lagi." Ucap suster.
"Baik, terima kasih sus." Sahut Olive.
Suster itu meninggalkan olive di bawah pohon yang cukup rindang. Olive melihat pasien yang berlalu-lalang di taman ada yang di temani keluarga, teman juga pasangan mereka. Olive tersenyum melihat sekitarnya, pasien-pasien itu sedang sakit namun mereka tetap tersenyum di depan orang tercinta nya.
Sementara Alden sudah siap menuju rumah sakit. Oma dan Opa tidak jadi ikut karena terlalu pagi, masih ada kegiatan yang harus mereka lakukan. Alden pun ke rumah sakit mengendarai mobil sport nya, tidak lupa ia membawa buku sesuai permintaan Olive juga Alden akan mampir ke pasar swalayan untuk membeli anggur tanpa biji sesuai pesanan Olive.
Alden mengendarai mobil sport membelah jalan dengan kecepatan sedang. Saat tiba di lobby rumah sakit, Alden meminta salah satu satpam untuk memarkirkan mobilnya. Alden langsung masuk menuju kamar Olive.
"Kak Alden?" Ucap Niesha.
"Kalian baru kelar sarapan?" Tanya Alden.
"Iya kak. Terus tadi pas mau masuk kamar suster ngasih tau kalo Olive ada di taman. Dia minta berjemur katanya." Jawab Shakila.
"Ouh, aku kira udah di tempat latihan terapi jalan. Yaudah, kalian mau kesana susul olive?" Tanya Alden.
"Kakak aja nggak apa kan? Kita mau bebersih diri dulu. Kebetulan tadi ada orang rumah yang kirimin kita baju ganti. Boleh kan kak?" Ujar Niesha.
"Yaudah, kalian bebersih aja. Kunci kamarnya ya, soalnya takut Rafa Ryan datang. Mereka suka main buka pintu aja gitu." Sahut Alden.
"Oke kak. Makasih kak sebelumnya." Ucap Shakila.
Kedua sahabat olive kembali ke kamar untuk bebersih diri, mereka mengikuti perkataan Alden untuk mengunci pintu. Olive yang sedang melihat anak-anak rumah sakit sedang bermain sesekali dia tertawa karena tingkah mereka. Seketika Olive sadar jika ada seseorang yang tidak asing sedang berjalan ke arahnya.
"Hah? Kak Alden?" Gumam Olive.
__ADS_1
Olive mengucek mata nya takut salah lihat, namun ternyata memang benar kak Alden yang datang dari kejauhan itu.
"Hai." Sapa Alden.
"Hai kak, kok pagi banget udah kesini aja?" Tanya Olive.
"Iya, di rumah juga nggak ada kerjaan. Oiya, ini bukunya dan ini anggur sesuai pesanan kamu." Ucap Alden.
"Wah! Makasih kak. Emm, kakak keberatan nggak kalo ngejelasin kalo aku masih susah paham?" Ujar Olive.
"Tanyakan aja, kalo aku masih ingat pasti aku bakal jelasin ke kamu." Sahut Alden.
"Oke kak." Jawab Olive.
Lalu olive fokus terhadap buku Alden, penjelasannya sangat detail disana. Catatan nya sangat lengkap namun ada beberapa yang olive tidak mengerti. Tanpa sadar Alden melihati Olive yang sedang belajar dengan serius. Olive melihat jam di ponsel nya.
"Kak, bantu aku ke ruang latihan terapi jalan. Lima menit lagi suster nya pasti datang." Ucap Olive.
"Kamu... "
"Aku nggak mungkin ke taman sendiri. Tangan aku masih lemes tau, tadi aku kesini sama suster terus suster nya janji jemput aku setengah jam lagi. Sisa tiga menit berarti, tuh lihat aku pake timer. Kakak mau bantu atau aku nunggu suster?" Ujar Olive.
Alden menggeleng namun tersenyum. Akhirnya Alden mengantar Olive ke ruang terapi jalan. Untuk hari ini Olive hanya belajar menyeimbangkan berdiri nya. Sesekali Olive akan jatuh namun itulah prosesnya, Olive juga selalu berusaha dan menolak untuk di bantu.
"Oke, cukup untuk hari ini. Nona sangat bekerja keras, ingat kalo bukan waktu nya jangan di paksakan untuk berdiri sendiri ataupun jalan. Terlebih tidak ada yang mengawasi." Pesan Dokter Tomi.
"Tentu dokter. Terima kasih juga sudah memberi kesempatan supaya bangkit sendiri. Kalo gitu saya kembali ke kamar dulu." Pamit Olive.
"Tentu nona." Sahut Dokter Tomi.
Alden pun membawa Olive kembali ke kamar, saat buka pintu sudah ramai dengan teman-teman mereka.
"Gimana latihannya?" Tanya Shakila.
"Lancar kok. Hari ini cuman belajar berdiri sama jaga keseimbangan." Jawab Olive.
"Ini tadi suster nganter obat." Ujar Niesha.
"Iya nanti di minum. Mau belajar dulu bentar." Sahut Olive kembali membuka buku.
"Ehem!" Deham Alden.
"Oke, aku minum." Sahut Olive.
__ADS_1
Setelah Olive minum obat dia lanjut belajar dan rasa kantuk mulai menyerang. Akhirnya dia mensudahi belajarnya. Kak Alden lagi mengerjakan tugas nya entah apa itu sedangkan yang lain sedang membeli cemilan. Olive tertidur sampai jam makan siang.
Bersambung...