Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 128


__ADS_3

Zet segera pergi ketika di minta oleh majikannya kembali ke dalam Villa untuk mengabari bawahannya yang berada di markas Nugraha.


"Ya!" Teriak Luna.


"Kakak, tuh di lihatin sama bawahan nggak malu teriak-teriak?" Usil Olive.


"Kamu itu... "


"Susah di atur, keras kepala, batu, nggak bisa di bilangin, nekatan emmm apalagi ya? Oh, kalo marah semua takut." Lanjut Olive sambil melihat Luna.


"Kak ada apa sih? Kalian daritadi kayak nya ribut banget aku perhatiin dari kamar?" Tanya Robert yang baru bergabung.


Alden melampirkan jaket milik Olive yang tadi sempat ia bawa, karena cuaca di luar cukup dingin seperti akan hujan.


"Kak Kevan, Kak Barell sama Kak Firo mendingan susul Zet ke dalam atau kalian gak bakal nyesel. Aku ngelakuin ini juga supaya nggak banyak korban, tentu saja tenang aja bukan aku yang bakal turun tangan. Hemm, singkatnya kak Luna tau Ibrano kan? Dia ada disini, lebih tepatnya ada di markas Clarke." Jelas Olive.


Barel, Firo, Kevan segera berlari menyusul Zet ke dalam Villa. Olive tersenyum bahwa kakak-kakak nya masih percaya pada dirinya setelah tadi sedikit terkena tipu oleh dirinya. Tiba-tiba Firo kembali menghampiri Olive, mencubit pipi Olive.


"Aaaaa! Sakit." Lirih Olive sambil memegangi pipi nya.


"Itu baru permulaan. Awas nanti ya." Ujar Firo menyusul Barel dan Kevan.


"Apalagi yang kamu ketahui? Jadi selama tadi kamu marah bukannya istirahat malah cari-cari begitu?" Tanya Alden.


"Aku mana bisa tidur kalo paman sudah di lokasi gudang terbengkalai sih. Masih untung aku nggak kabur lewat loteng, tadi rencana nya begitu. Cuman aku keingat janji sama kamu, jadinya rencana B deh yang aku lakuin. Sekarang giliran kalian. Aku udah ngejalanin apa yang aku inginkan." Jelas Olive lagi.


Robert langsung berbalik arah tanpa mengatakan sepatah kata pun kepada Olive. Olive juga tidak menggubrisnya dan berayun di gazebo yang di duduki. Luna yang menyadari situasi segera menyenggol Alden untuk mengajaknya berbicara di belakang sedikit jauh dari Olive.


"Ada apa?" Tanya Luna.


"Intinya mereka saling melindungi kak, cuman di sisi lain mungkin cara nya salah aja. Tadi, Olive langsung ke perbatasan sana pas nyampe disana ternyata ada bawahan paman Tio jadi baru ke villa ini nah kebetulan Robert dapat pemberitahuan kalo Olive datangin garis perbatasan. Terus dari Robert juga dia minta supaya Olive balik karena kesehatannya belum benar pulih terus Robert juga takut Olive tiba-tiba hilang dari pandangan eh ternyata lagi di jalan ke markas musuh kan jadi serba salah kak." Jelas Alden.

__ADS_1


"Aduh anak-anak itu, yasudah biarkan saja nanti juga baikan sendiri." Ujar Luna.


"Kayak nya bakal lama kak, Soalnya bukan masalah itu aja. Tapi, Robert juga menyinggung masalah ini timbul karena dirinya. Robert minta Olive nggak usah ikut campur. Terus Robert juga bilang nggak seharusnya dia muncul di depan kita dalam waktu dekat sebelumnya. Terus disitu Olive kepancing emosi nya dan jadilah seperti sekarang." Jelas Alden lagi.


"Aduh, kok malah jadi makin ribet ya. Hemmm, yaudah nanti biar aku yang ngomongin ke yang lain dulu siapa tahu ada saran dari mereka." Ucap Luna.


"Iya kak, aku juga bakal ngomong ke Olive pelan soal kejadian tadi." Sahut Alden.


'Kalau begini situasinya, aku nggak akan bisa nyelesaikan kecuali terbuka dari mereka nya. Butuh waktu lama.' Bathin Luna.


"Yaudah kalo gitu, kamu mending susul yang lain ke dalam. Mungkin Olive bakal mau cerita kalo sesama perempuan. Paham kan?" Ujar Luna.


"Paham banget kak, apalagi kakak kan lebih kenal lama Olive dibanding aku. Jadi wajar kalo Olive mungkin lebih terbuka pikirannya masalah pribadinya ketimbang sama aku. Yaudah kalo gitu aku ke dalam kak, kalo ada apa-apa panggil aja." Ucap Alden.


"Oke." Sahut Luna.


Alden pun meninggalkan daerah taman bagian depan Villa. Luna menghampiri Olive yang menutup mata nya sambil mengayunkan kaki nya menggantung di gazebo.


"Emang kakak bakal percaya kalo aku ceritain? Emang kakak bakal ngizinin kalo aku cerita yang sebenarnya? Kakak kan tahu, aku selalu bebas apalagi semenjak waktu itu kecelakaan Robert. Jangan salahkan aku kak kalo aku keras kepala begini, tapi keadaan yang salah. Kakak bisa bayangin se pendiam apa aku dulu atau sepenurut apa aku sama kalian, sekarang semenjak kejadian Robert aku jadi anak yang periang tertawa. Tapi, kakak tahu nggak? Aku di kamar selalu nangis. Hehehe... Setiap aku bilang aku nginep di villa yang kalian ketahui, aku berusaha untuk melampiaskan kesalahan itu dengan cara melatih diri sampai kelelahan. Ah, kakak tidak dapat laporan kalo aku sering jatuh sakit kan setelah kejadian Robert. Aku meminta mereka merahasiakannya. Maaf, aku hanya tidak ingin membuat kalian berpikir bahwa aku selalu terpuruk dengan kepergian Robert. Tapi, ya begitulah kak dan sekarang kakak tahu gimana aku sebenarnya. Jangan ceritakan ini kepada siapapun, selain kakak yang menemukan aku menjadi diriku sebenarnya seperti ini ada Alden yang wwaktu itu juga sudah melihat diriku yang terpuruk dan selalu menyalahkan diri." Cerita Olive membuat Luna terdiam.


Olive menatap Luna dengan mata berkaca-kaca.


"Lihat, aku mulai menangis lagi karena menceritakan hal ini. Bahkan kejadian kak Phia yang benar-benar nyata di depan mata aku pu, aku masih belum bisa memafkan diriku. Ditambah dengan kejadian Robert yang tertabrak, terpental itu..."


Olive terdiam dan bibir nya gemetar menahan tangis. Luna memeluk Olive dan menenangkannya dengan di elus punggungnya membuat tangis Olive yang selama ini menyesakkan hati meledak.


"Hei sayang, dengar aku. Mungkin sudah berulang kali kamu mendengar ini, Tapi aku tidak peduli. Berhenti menyalahkan diri sendiri. Bukan hanya kamu mungkin yang terpuruk disini, tapi Belden juga merasakan hal yang sama. Tanggung jawab Belden sebagai kakak tertua juga berat sayang, kamu mau tahu satu rahasia? Belden selalu tidak fokus dalam melakukan pekerjaan di cafe nya semenjak kejadian Phia dan Robert. Maka nya dia selalu gagal dalam buka bar yang dia inginkan sampai akhirnya bertemu denganku, dia mencurahkan semua nya dan aku memberi dia saran yang sama sepertimu. Jika kamu ingin terlepas dari rasa bersalah maka lakukan yang membuat orang itu bahagia. Memang dengan kamu menangis dan selalu terpuruk seperti itu bisa membuat Phia atau Robert kembali seperti sebelum kejadian itu terjadi? Tidak kan. Jadi, Maafkan dirimu dahulu kemudian jangan ada tembok dalam dirimu yang membuat kamu berhenti berjalan mengejar mimpimu." Cerita Luna sambil mengusap airmata di pipi Olive.


Olive sesegukan mendengar cerita Luna. Luna benar, jika Belden memiliki tanggung jawab yang lebih tinggi sebagai kakak tertua untuk melindungi Adik-adiknya. Pasti Belden lebih terpukul walaupun yang menyaksikannya adalah dirinya.


Sementara itu di Gudang terbengkalai~

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2