Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 84 - Masih Promnight (2)


__ADS_3

Olive membelokkan arahan pisaunya sehingga sedikit menggores pada tangannya. Gita yang masih berusaha ingin menusuk perut Olive mengarahkan kembali ke perutnya. Akhirnya Olive memukul tangan Gita hingga membuat pisau itu jatuh lalu menendangnya. Kemudian Olive memelintir tangan Gita ke meja. Tak lama itu Zet dan beberapa bawahan datang mengamankan Gita.


"Lepas! Lepaskan aku! Aku harus membunuhnya! Lepas!" Teriak Gita histeris.


Olive sebenarnya sudah terkena tusuk di bagian perutnya sejak awal, namun di tarik kembali. Untungnya Olive memakai jaket jadi bisa menutupi luka untuk sementara, hanya luka bagian tangan yang terlihat. Alden dan Robert langsung berlari ke arah Olive yang masih menopang diri ke meja.


"Kakak! Kakak gapapa?" Tanya Robert khawatir.


"Luka dikit ini aja." Jawab Olive.


"Tapi muka kakak pucat banget. Kakak beneran gak ada yang luka lagi?" Tanya Robert.


"Nggak." Sahut Olive.


Alden menuntun Olive kembali ke kursinya lalu menerima kotak P3K dari Nel dan langsung mengobati luka tangan Olive.


"Alden beneran udah gak apa. Kalian urus kak Gita aja, aku bisa ngobatin sendiri. Ini cuman luka kecil." Pinta Olive.


"Beneran?" Tanya Alden dan Olive mengangguk.


"Mereka butuh kalian buat jadi saksi. Aku ditinggal aja, beneran." Ucap Olive meyakinkan.


Akhirnya Robert dan Alden meninggalkan Olive. Olive membuka jaketnya dan melihat luka di perutnya yang masih mengalir darah. Lukanya memang tidak dalam tapi darah terus mengalir. Olive semakin lemas tidak bertenaga lalu jatuh dari kursinya tergeletak di lantai.


Tak lama itu Phia masuk ke ruangan setelah mendengar Olive terluka tetapi berteriak ketika menemukan kembarannya sudah tergeletak di lantai tak berdaya.


"Via!!! Via! Yovi! Zet! Siapapun itu!" Teriak Phia.


"Dek bangun... hiks... hiks... " Tangis Phia.


Tak lama itu Cenan, Firo dan Kevan datang keruangan dan langsung membawa Olive ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit. Alden yang melihat itu dari kejauhan langsung menepuk Robert.


"Olive!" Teriak Alden.


Saat Alden ingin mengejar mobil itu tepat saat itu Nel berhenti di depannya. Alden dan Robert langsung masuk ke mobil untuk mengejar mobil yang di kenadarai Firo. Olive sampai di rumah sakit langsung di bawa ke UGD tak lama setelah itu Robert dan Alden sampai.


"Olive kenapa?" Tanya Alden.


"Dia nutupin luka di perut pinggirnya. Tusukannya tidak dalam, tapi darahnya terus mengalir sehingga membuat Olive tak sadarkan diri." Jelas Cenan.


"Sudah kuduga. Tidak mungkin luka sekecil itu bisa bikin kakak pucat. Zet, pastikan kak Via buat gak pegang senjata sama sekali. Cari semua senjata kak Olive dan simpan di Mansion Oma. Kali ini aku gak mau kecolongan lagi, cukup ini jadi yang terakhir." Tegas Robert.


Tak menunggu lama Olive bisa di pindahkan ke kamar rawat. Dokter Tomi, Alden dan Robert keluar. Hanya Phia yang menunggu di kamar sampai Olive bangun.


"Gimana?" Tanya Alden.


"Nona kedua keadaannya stabil. Luka nya tidak dalam karena mungkin setelah tertusuk nona langsung menariknya kembali. Jika saja kekuatan nona seperti efek obat itu masih ada mungkin butuh waktu yang sangat lama atau mungkin kemungkinan kecik bisa menyelamatkan nona kedua." Jelas Dokter.


"Apa efek obat itu masih terdeteksi ditubuh Olive?" Tanya Cenan.


"Tidak tuan. Sepenuhnya menghilang, nona juga sempat meminum obat penangkal itu sebelum jatuh pingsan. Ini obatnya." Sahut Dokter.


Firo memeriksa obat itu.


"Ini obat yang diberikan Zaylee pada Olive?" Tanya Firo.


"Iya kak. Ada vitaminnya juga." Sahut Alden.


"Check obat ini dan berikan padaku detail hasil laboratorium nya." Pinta Firo.


"Baik tuan. Jika ada apapun silahkan panggil, saya undur diri sekarang." Pamit Dokter.


Cenan, Firo, Kevan, Alden dan Robert menunggu di luar ruangan. Di tempat acara, para tamu sudah mulai bubar satu persatu. Hasil nominasi nya akan di umumkan hari senin. Sementara Gita masih histeris dan tidak terima Olive masih hidup. Oma Nugraha mendatangi Gita langsung menamparnya membuat Gita diam gemetar ketakutan.


"Apa salah cucuku pada mu? Jika Alden lebih memilih cucu ku itu tanda nya mata nya memang sudah benar. Bagaimana bisa Alden memilih dirimu yang temperamen seperti ini? Belum menjadi istri sudah minta ini dan itu. Kau ini siapa? Jika bukan karena papa mu teman anak saya, saya tidak akan membantumu lebih dari ini." Marah Oma Nugraha.


"Saya juga tidak sudi menerima kamu sebagai cucu menantu jika perlakuan kamu seperti ini. Sangat memalukan!" Marah Opa Fausta.


"Delia juga gak mau punya ipar begitu. Ish! Mending kakak Olive lah. Walaupun terkenal dengan Mafia nya tapi hati nya murni dan baik." Kesal Delia.


"Bawa dia ke kantor polisi. Tidak ada tawar menawar lagi. Beritahu Firman bahwa anaknya berulah dan di masukkan ke penjara. Lagi pula umurnya sudah pas 17 tahun. Tidak ada masalah dengan itu, berikan bukti kejahatan dia yang berusaha membunuh Olive berkali-kali." Pinta Ayah.


"Baik tuan." Sahut Yovi.


Di dalam hati Gita, tidak ada sedikit pun rasa bersalah. Gita di bawa ke kantor polisi terdekat. Setelah itu seluruh keluarga dan kerabat Olive datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Olive.


"Gimana keadaan Olive?" Tanya Mama.

__ADS_1


"Luka nya nggak dalam mah. Sebentar lagi harusnya sudah siuman. Tapi kak Phia kok belum bereaksi apa-apa ya." Ujar Robert.


"Biar aku check mah." Sahut Luna.


Luna masuk ke dalam kamar rawat. Melihat Phia yang tertidur di pinggir kasur sedangkan Olive sedang mengelus rambut Phia.


"Kak luna." Panggil Olive.


"Gimana keadaan kamu." Tanya Luna.


"Baik kak, aku baik-baik aja. Ini luka kecil buat aku. Kalian nggak perlu khawatir." Sahut Olive.


"Please jangan kayak gini lagi ya. Kamu bisa teriak di kondisi tadi, kamu punya hak buat ngeluh gak harus bahagia yang di paksakan. Paham?" Ujar Luna sambil mengelus rambut Olive.


"Iya kak, aku paham. Maaf bikin kalian khawatir, ini bener yang terakhir. Selanjutnya aku akan menjadi diri aku sendiri." Jawab Olive.


"Phia, Sophia. Bangun sayang." Kata Luna.


"Emm... udah pagi?" Tanya Phia masih memejamkan matanya.


"Kakak lanjut tidur dirumah aja." Ucap Olive.


"Kakak mau nemenin kamu. Jangan minta kakak pulang." Tolak Phia.


"Kakak please. Jangan sampai kakak sakit karena khawatirin aku. Aku udah baik-baik aja." Mohon Olive.


"Phia, jangan ganggu pasangan baru. Kasian mereka udah lama gak barengan." Ledek Luna.


"Kak Luna... " Rengek Olive.


"Tuh kan, tanda nya minta kita pulang biar bisa dua an sama Alden." Goda Luna.


"Ah, kamu bener juga. Yaudah kalo gitu kakak pulang aja." Ucap Phia.


"Hufft! Kalian kalo ngeledek aku bener-bener nomor 1 ya. Nyebelin." Kesal Olive.


Cup!


"Cepet sembuh sayang. Kakak tunggu kabar baiknya... " Senyum menggoda Phia.


"Bye nyonya muda fausta." Ucap Luna dan Phia kompak kemudian keluar dari ruang kamar Olive.


Olive pun mencari ponsel nya namun tidak ketemu. Diluar ruangan Sophia dan Luna menjelaskan keadaan Olive yang sudah membaik kemudian mereka memutuskan untuk pulang.


"Alden, tolong jagain Olive ya. Kamu nggak keberatan kan buat jagain Olive lagi?" Tanya Papa.


"Nggak pah. Aku bakal jagain Olive, lagian juga alat-alat senjata Olive udah disita sama Robert. Terus juga ponsel nya Olive disita juga sama Oma." Sahut Alden.


"Harus disita, kalo nggak otaknya bakal terus berpikir. Kalian harus bener-bener istirahatin otak. Yaudah, kabarin kita ya kalo ada apa-apa." Ujar Oma Nugraha.


"Siap Oma." Jawab Alden.


"Zet Nel titip mereka berdua. Kalo macam-macam biarin aja." Ucap Ayah bercanda.


"Ayah ini... " Rengek Alden.


Semua tertawa kemudian pulang. Alden masuk ke kamar Olive.


"Siapa lag--"


"Kenapa?" Tanya Alden.


Olive diam kemudian memejamkan matanya. Olive berharap dirinya bisa tidur sekarang namun ternyata tidak, saat membuka matanya. Olive terkejut bahwa jarak antara dirinya dan Alden benar-benar dekat. Olive bisa mencium Wangi papermint khas Alden.


"Kamu mau ngapain?" Bisik Olive.


"Hukum kamu." Sahut Alden buat Olive pipinya memerah.


"Tap---"


Alden mencium bibir Olive dengan lembut. Olive yang awalnya terkejut, ikut hanyut. Tak lama, Alden menyudahi ciuman itu. Menyapu bibir Olive yang sedikit bengkak dengan jemarinya.


"Jangan pernah berbohong lagi padaku, mengerti?" Tegas Alden sambil menatap mata Olive.


"Em... ya, aku mengerti." Sahut Olive.


Cup!

__ADS_1


"Tidur yang nyenyak." Ucap Alden setelah mengkecup kening Olive.


"Aku tidak akan bisa tidur." Sahut Olive.


"Kenapa?" Tanya Alden.


"Karena ulah kamu, tadi." Jawab Olive.


Tanpa meminta persetujuan, Alden naik ke kasur rawat Olive membiarkan Olive tidur di lengannya. Alden memeluk Olive.


"Kalo nggak bisa miring, jangan miring. Selamat malam." Ujar Alden.


Olive tersenyum di perlakukan manis oleh Alden. Olive segera menyusul Alden ke alam mimpi. Di pagi hari, posisi mereka sudah saling berpelukan dalam satu selimut. Olive bangun lebih awal dan disambut dengan wajah tampan Alden. Olive merutuki dirinya yang berpikir negatif. Saat sedang meraba raut wajah Alden tiba-tiba...


"Nona, kamu akan dimanjakan oleh wajahku saat kita menikah nanti. Kamu tidak akan kehilangan itu." Ucap Alden membuat Olive mengumpatkan wajahnya di dada bidang Alden.


"Diam." Bisik Olive.


Alden menegakkan wajah Olive dengan memegang dagu nya. Mereka sejajar, dengan cepat Alden mencium bibir Olive sekilas.


"Setelah menikah kamu juga akan mendapatkan morning kiss dari aku setiap hari." Kata Alden.


"Mesum." Rengek Olive.


Alden mencium bibir Olive kali ini lebih lama, Olive terhanyut disana. Sudah merasa kehabisan oksigen Alden menyudahi itu. Alden mengusap bibir Olive dengan jemarinya.


"Bibirmu membengkak, aku harap tidak ada yang mengetahui itu." Vulgar Alden.


"Dasar mesum." Rengek Olive membuat Alden terkekeh.


Alden turun dari kasur dan menyiapkan air putih untuk Olive.


"Minumlah, sebentar lagi dokter akan datang memeriksamu." Ucap Alden.


"Bukankah seharusnya sudah." Sahut Olive sambil menunjuk jam sudah di angka 9.


"Ah, kita ketahuan tidur bersama." Kata Alden.


"Alden... Hentikan." Rengek Olive.


"Baik-baik. Aku akan panggil dokter untuk memeriksamu." Ujar Alden.


"Dimana ponselku?" Tanya Olive.


"Disita. Ponsel dan senjata kamu semuanya disita." Kata Alden.


"Kenap---Hem. Baiklah." Sahut Olive.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2