Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 107 - Kejutan Sunrise


__ADS_3

Semua terdiam, tidak ada yang tahu teka teki ini.


"Begini saja, siapa yang kamu layani? Sebenernya apa yang kalian inginkan dari Nugraha? Hanya harta? Aku akan memberikan kalian waktu 3 hari untuk menanyakan ini kepada bos teratas kalian. Setelah itu, jika kalian bisa memberikan jawaban aku akan berikan setengah hartaku pada kalian. Jika kalian tidak bisa berikan jawaban, aku benar-benar akan lepas kendali. Satu hal lagi, buat pasukan Clarke kalo mau ikutan sayembara dan berkhianat untuk mendapatkan hadiah dariku silahkan. Aku akan tunggu jawaban dari kalian, sekarang kalian menyingkirlah dari pandanganku atau mobilku akan menabrak kalian." Ucap Olive penuh dengan penekanan.


Olive masuk ke kursi belakang diikuti Alden. Zet Nel ikut masuk ke mobil Olive untuk mengantar Bos mereka pulang. Zet memainkan lampu, menyadarkan Sam, Kevino palsu dan pasukannya agar segera menyingkir. Dengan cepat mereka menyingkir tanpa perintah dari kevino maupun Sam. Zet menjalankan mobilnya mengantar Alden dan Nel ke rumah utama Fausta. Dalam perjalanan, Olive memijat kening nya yang terasa pusing karena amarahnya.


Zet memberikan ponsel Olive yang berdering di tas kecil yang selalu dibawa kemanapun. Tanpa melihat siapa yang memanggil, Olive mengangkat telepon itu.


Ya?


Bisakah kita bertemu?


Olive bingung. Setelah melihat nama Vina dilayar, Olive baru menyadari keteledorannya yang lain.


Tentu saja. Dimana kamu ingin bertemu?


Kamu tidak marah denganku?


Aku tidak marah pada kalian. Bagaimana jika bertemu di bar kak Belden?


Baiklah. Akan aku kabari waktunya, sepertinya kamu stress sayang.


Kamu benar. Jika tidak ada Alden di sampingku mungkin aku akan minta di temani olehmu untuk melewati batas minum di luar bar kak Belden.


Hahaha.... Aku juga tidak akan mengizinkanmu nona. Yasudah, beristirahatlah. Jangan pikirkan apapun dan---


Kosongkan pikiran agar bisa tidur nyenyak, aku tahu beb.


Kamuu masih mengingat itu dengan baik tapi saat kemarin bertemu kamu terlihat pucat dan lelah. Dasar tukang bohong.


Ah, aku ketahuan. Haruskah kita minum di luar bar kak Belden malam ini?


"Ya!" Teriak Alden dan Vina bersamaan.


Olive tersenyum dan menjauhkan ponselnya dari telinga kemudian sedikit bergeser karena teriakan Alden.


Baiklah. Aku mengaku kalah dari kalian, em jangan marah pada Alden. Mungkin kemarin aku juga terlalu penat memikirkan masalah di dunia mafia jadi aku memilih kabur dan butuh healing. See you tomorrow beb.


Bye sayang, jaga kesehatanmu.


Kamu ingin terus mengobrol?


Biar aku saja yang mengakhiri panggilan telepon kalian. Bye dek!


Telepon terputus sepihak karena ulah Firo. Olive tersenyum dan sedikit tertawa.


"Si*al, mereka sedang berkumpul ternyata. Aku kena karma." Kesal Olive membuat Alden, Zet dan Nel tersenyum.

__ADS_1


"Sudah tidur saja, perjalanan masih cukup jauh." Ucap Alden yang langsung mendapat cubitan diperutnya.


"Dasar jail." Ambek Olive langsung menjatuhkan kepalanya di paha Alden.


Alden tersenyum dan mengelus rambut Olive lembut. Olive mulai memasuki dunia mimpi karena terlalu lelah tadi.


Keesokkan harinya,


Olive terbangun dari tidur nya karena mendengar suara tabrakan air. Memeriksa jam baru menunjukkan setengah 6 pagi dan dirinya masih berada di mobil. Alden, Zet dan Nel tidak ada di dalam mobil. tiba-tiba ada yang mengetuk jendela kaca membuat Olive terkejut, Terlihat Alden tersenyum lalu membukakan pintu untuk Olive menuntun untuk turun dari mobil.


"Kamu tidak tidur?" Tanya Olive dengan masih setengah nyawa.


"Aku tidur. Zet Nel yang tidak tidur, sekarang mereka sedang beristirahat di resort bersama pengawal pasukan lain." Ujar Alden.


"Kenapa kita ke pantai?" Tanya Olive setelah sadar sepenuhnya.


Alden menggandeng Olive dan membawa ke bibir pantai lalu menunjuk ke arah matahari terbit.


"Aku sudah lama ingin mengajakmu seperti ini, Aku belum sempat memberikan kejutan untukmu di hari ulang tahunmu beberapa hari yang lalu dengan benar dan aku rasa sudah lama kita tidak berkencan jalan berdua." Kata Alden sambil memeluk Olive dari belakang dan menempelkan dagunya di pundak Olive.


Olive tersenyum, merasa bebannya benar-benar hilang karena kehangatan yang diberikan Alden.


"Kita baru kenal sebulan kenapa aku merasa sudah mengenal kamu bertahun-tahun." Heran Olive.


"Aku bersedia untuk itu. Saling mengenal satu sama lain dan saling mencintai sepanjang hidup." Ucap Alden.


"Maaf karena beberapa hari ini sibuk mengkhawatirkan aku. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri tidak akan keluar masuk rumah sakit lagi. Apalagi minum obat, lebih baik tidak sama sekali." Ujar Olive membuat Alden tertawa kecil.


"Benarkah?" Tanya Alden.


Olive mendengakkan kepalanya menghadap Alden dan mengangguk mantap.


"Sungguh. Sepertinya aku trauma dengan obat pahit yang dokter tomi berikan, aku tidak mau bertemu dengan obat apapun lagi." Tutur Olive kembali memeluk Alden dengan erat.


"Tanpa sadar kamu bikin aku khawatir mengenai 3 hari yang akan datang, sayang." Ungkap Alden.


"Itu aku... "


"Bisakah aku yang mengambil alih mengurus semua ini?" Pinta Alden.


Cukup lama menunggu jawaban dari Olive. Lalu kemudian Olive mengangguk menyetujuinya.


"Baiklah, aku akan serahkan ke kamu. Sebenarnya aku berat biarkan kamu untuk ikut turun tangan tentang masalah ini, Karena aku sudah membuat kamu selalu dalam bahaya, tapi aku tahu sekeras apapun aku ingin melakukannya sendiri kamu tidak akan membiarkan itu juga." Kata Olive.


"Kamu mengenal sifatku dengan baik, sayang. Aku terharu." Goda dan Ledek Alden.


"Alden..." Rengek Olive sambil mencubit kecil perut alden.

__ADS_1


"Apa yang salah sayang? Itu benar adanya hahaha..." Tawa Alden sambil kembali memeluk Olive.


Tanpa aba-aba, Olive mencium bibir Alden sekilas kemudian menyembunyikan wajahnya di dada bidang Alden. Alden terkejut dan akan protes.


"Lakukan sekali lagi." Pinta Alden.


"Tidak ada." Sahut Olive.


"Kamu curang, aku belum memba---"


Olive menempelkan bibirnya ke bibir Alden. Berakhir ke ciu*man yang cukup panas sampai mereka kehabisan oksigen. Olive tidak kuasa menatap Alden dan memilih bersembunyi di pelukan Alden.


"Maaf membutuhkan waktu yang lama untuk mengatakan ini dengan benar. Aku mencintaimu Alden, aku menyayangimu dan terima kasih selalu di samping aku di saat bahaya ku. Kamu bisa saja kemarin meninggalkanku karena aku egois meninggalkanmu begitu saja, tapi kamu malah memilih mendatangiku rela menempuh perjalanan panjang dengan motor hanya untuk menjelaskan hal itu. Sungguh, aku minta maaf tentang hal itu." Ucap tulus Olive sambil menatap manik mata Alden dalam dan mulai berkaca-kaca.


Alden mencium bibir Olive dengan lembut, sangat lembut sampai mereka terhanyut di dalamnya. Alden menghentikan ciu*mannya kemudia berbalik meenatap manik mata Olive.


"Aku mencintaimu Olive dan aku juga menyayangimu sepenuh hatiku. Menurutku masalah kemarin adalah murni miss komunikasi dan kesalahan dari aku karena tidak jujur padamu. Kamu sangat penting bagiku, masalah sekecil apapun denganmu menurutku itu sebuah ketakutan untuk berpisah denganmu. Aku minta maaf karena hampir merusak persahabatan kalian, aku tidak berniat untuk itu bahkan aku tidak mengira jika Vina adalah EL sahabat kecilku juga. Mulai hari ini dan detik ini aku berjanji tidak akan ada rahasia lagi di antara kita. Kamu bisa percaya itu?" Tutur Alden ikut berkaca-kaca dan Olive mengangguk.


"Aku percaya padamu." Jawab Olive kembali memeluk Alden karena tangisnya pecah.


Di depan sunrise mereka saling mengutarakan isi hati masing-masing dan berpelukan dengan hatidan pikiran yang tenang. Setelah merasa lebih tenang, Olive melonggarkan pelukannya.


"Ahh! Kamu bikin aku nangis aja... nyebelin." Kesel Olive.


"Lah, kan kamu yang lebih dulu mulai." Tutur Alden.


"Alden, kok Ryan sama rafa dan yang lain bisa nyusul?" Tanya Olive sambil menunjuk ke sisi lain.


Alden menengok namun tidak ada orang, tentu saja dia menyewa pantai sampai jam 10 pagi. Saat Alden menengok ke arah Olive lagi, dengan cepat Olive mencium bibir Alden sekilas kemudian pergi lari menjauh dari Alden.


"Hahaha!" Tawa Olive.


"Kamu berani melawanku?" Tanya Alden dengan nada kesal dan menggodanya sambil berlari kecil mengejar Olive.


"Aaaaa! Hahaha... pelan-pelan aku tidak bisa berlari cepat. Alden... Hahaha!" Teriak Olive sambil berlari menghindari Alden.


"Aku akan menangkapmu dan tidak akan biarkan kamu untuk bisa lepas." Ucap Alden.


"Ouh hai Zet!" Sapa Olive ketika Alden menengok dia segera menjauh dari Alden.


"Ouh! El, kamu datang kesini?" Sapa Alden menatap lurus ke belakang Olive.


Saat Olive menengok, Alden segera mendekat dengan gerakan cepat dan menggendong Olive dari belakang dan berputar.


"Aaaa! Hahaha..." Tawa keduanya.


Dari jauh Zet Nel melihat bos nya sangat bahagia namun Zet mengkhawatirkan tentang apa yang diucapkan oleh Robert sebelum menyusul bos mereka. Apakah kali ini kebahagiaan sudah berpihak kepada bos nya?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2