
"Selamat pagi semuanya, perkenalkan saya Oma Nugraha, salah satu pemegang yayasan sekolah ini dan sekarang menjadi kepala sekolah juga disini. Buat yang belum tahu, disana ada cucu saya yang bernama Olivia Belinda Nugraha." Ucap Oma Nugraha.
Semua murid-murid bertepuk tangan meriah dan Olive cemberut.
"Pantasan aja ngebolehin aku ke sekolah. Karena ini toh. Ish si Oma... " Gumam Olive.
Setelah acara pelantikan kepala sekolah sementara selesai Olive di panggil ke ruang kepala sekolah. Dia pun segera ke ruangan itu. Tanpa menunggu lama, Olive langsung buka pintu dan menuntup pintu serapat mungkin.
"Apa maksud oma? Oma bilang akan kembali ke Negara S beberapa hari lagi? Kenapa jadi kepala sekolah sementara?" Tanya dan Protes Olive.
"Dasar murid tidak sopan. Oma disini kepala sekolah, coba di ulang lagi tata cara bicaranya." tegur Oma.
"Huh! Apaan sih, tidak mau. Jelaskan dulu apa maksud semua ini. Apa oma kurang puas mengawasi ku melalui pengawal bayangan oma dan laporan khusus dari Zet hem?" Ucap Olive.
"Ya. Oma ingin maju untuk melindungi cucu oma sendiri dan oma mau lihat apakah masih ada yang berani mengganggu kamu jika oma yang pegang kendali disini." Jawab Oma.
"Oma Please... " Mohon Olive.
"Sayang, dengarkan oma baik-baik musuhmu Keluarga Clarke telah bersatu dengan musuh perusahaan papa mu. Ini adalah cara terbaik untuk lindungin kamu, untuk Phia itu Opa yang akan melindunginya. Oma dan Opa tidak ingin kehilangan kalian lagi. Kami ingin kalian benar-benar aman terlindungi. Mengerti?" Jelas Oma.
"Tapi bukan dengan cara mengorbankan diri kalian juga. Oke, kita buat kesepakatan. Selama di area sekolah aku akan menuruti semua kemauan Oma. Tapi, jika di luar sekolah oma tidak akan ikut campur kan? Gimana, deal?" Sepakat Olive.
"Sayang, tapi---"
"Kalian tidak mau kehilangan cucu kalian, bagaimana jika yang terjadi adalah sebaliknya? Bagaimana jika ternyata Kalian yang hilang. Kami akan sedih, kami masih butuh pelajaran yang banyak dari kalian." Ucap Olive.
"Baiklah, sepakat." Sahut Oma.
"Yaudah kalo gitu, aku balik ke kelas. Udah ketinggalan pelajaran 15 menit. Bye Oma *Eh Selamat pagi bu, saya pamit kembali ke kelas." Pamit Olive sambil mengedipkan sebelah matanya.
Olive pun kembali ke kelasnya, di koridor ada Gita dan Ilona duduk dibangku koridor. Guru di kelas Alden hanya berikan tugas saja. Saat Olive lewat depan kelas...
"Permisi kak." Sopan Olive.
Gitta berdiri.
"Tunggu!" Ucap Gitta sambil melipat kedua tangannya di dada menghadap Olive yang masih memunggunginya.
Olive pun berhenti dan memutar badannya.
"Lu udah berhasil ya nyingkirin bokap gua dari sekolah ini. Sekarang lu minta perlindungan lebih sama oma lu. Dasar cupu lu!" Tutur kesal Gitta.
Olive hanya tersenyum dan tidak tertarik berdebat. Ketika ia ingin balik badan lagi Gitta menjambak rambut Olive. Ryan dan Rafa yang mendengar suara ribut di depan kelas mengintip dari jendela.
"Bos! Bos... Olive bos! Itu sama Gitta." Lapor Ryan Rafa.
Alden yang tadinya asyik mengerjakan tugas langsung berlari keluar kelas. Segera melerai dan mengamankan Olive di belakangnya. Satu lantai koridor murid-murid nya pada keluar dari kelas karena keributan itu.
"Kamu gapapa sayang?" Tanya Alden khawatir.
"Aku gapapa. Udah jangan di ladenin lagi, Oma ngawasin lewat CCTV kok." Sahut Olive.
"Tapi ini udah kelewat kok bisa sih dia masih di terima sekolah disini setelah mencoba bunuh kamu. Aku harus protes ke Oma." Kesal Alden.
"Nggak perlu. Aku udah janji sama oma buat bersikap baik di sekolah biar Oma yang ngurus semua." Tahan Olive.
"Tapi kamu beneran gapapa?" Tanya Alden sambil ngelus rambut Olive lembut dan Olive menggeleng.
"Ish! Dasar cupu. Berani nya minta perlindungan sana sini! Lu gak akan bisa ngelindungin orang yang lu sayang semua itu tanpa ada korban! Lu yang mati atau salah satu dari mereka yang mati karna lu!" Teriak Gitta.
"Gitt---"
__ADS_1
Plakk!!!
Suara tamparan renyah mendarat di pipi Gitta. Itu bukan Olive ataupun Alden yang menampar.
"Lu udah kelewat batas kak. Selama ini gua nahan tapi sekarang gua gak peduli lagi kesabaran gua udah habis lihat lu selalu menginjak adik kelas kayak gitu! Gua sama anak-anak yang pernah di bully sama lu sepakat buat laporin lu ke kantor polisi buat usut kasus pembullyan di sekolah. Kita bertemu di jalur hukum!" Ucap Fahira salah satu korban bully Gitta juga.
Sorak sorai mendukung Fahira buat Gitta semakin terpojok. Gitta takut diikuti Ilona yang masih tetap Setia menjadi teman Gitta.
"Bukan satu dua orang korban pembullyan lu Git, tapi hampir seluruh kelas itu ada korbannya. Mereka bakal majuin semua ke jalur hukum kalo lu belum berubah juga. Lu kok gak ada takutnya ya, Olive itu masih anak baru sebulan pun dia belum lho karena ulah lu dan musuh nya demi ngelindungin kita dan lu bilang kalo Olive yang bikin kita banyak libur terus ketinggalan pelajaran dari sekolah lain? Enak banget lu nyalahin orang, itu semua gegara lu Git!" Lanjut Rani.
"Mana mungkin dia takut, di depan oma nya Olive aja masih berani nusuk cucu nya pas acara promnight, sekarang masih juga ngebully. Kita sebagai murid yang gak kena bully lu juga capek tiap hari harus berdiri di tengah lapangan, lu? Nyantai diruang kepala sekolah hahaha!" Ujar Jaka.
Tetiba Shakila dan Niesha datang langsung menghampiri Olive.
"Lu gak apa kan liv? Lu diapain lagi?" Tanya Niesha.
"Udah, gua gapapa. Ehm! Semua nya, bukannya aku ngebela kak Gitta. Tapi ini bukan salah kak Gitta sepenuhnya karena sebagian lagi kelalaian dari orang tua nya atau keluarga nya dalam mendidik anak. Kayak kalian aja, sebagian ada orang tua yang ngantar sekolah sampai sekarang atau mungkin tiba-tiba ganti jadi di ganti sopir karena kesibukan full day orang tua. Terus buat korban yang di bully, contohnya kayak gua aja deh. Yang jarang banget bergaul sama anak-anak kelas lain atau jarang bisa mulai interaksi. Semuanya balik ke diri kita masing-masing aja. Kalo ada yang menyendiri itu di rangkul, kalo ada yang punya beban coba cerita atau gak tulis di diary. Siapa tau satu hari nanti kalo kita tiba-tiba gak ada terus keluarga kita nemuin diary itu. Gua yakin mereka bakal nyesel banget udah sia-sia in kalian. Kalo di pendam jatuhnya bakal nyalahin diri sendiri." Jelas Olive.
"Lu benar Liv, setiap anak menerima perhatian dari orang tua atau keluarga yang berbeda-beda. Mungkin menurut orang tua perhatian itu cukup buat modal uang aja, sekedar ketemu pas sarapan dan makan malam, mungkin juga ada orang tua yang protektif kemana pun anak itu pergi di awasin se ketat mungkin atau mungkin ada dari orang tua yang sudah bercerai atau yang punya ibu tiri baik ataupun jahat. Kita beda-beda dan di sekolah harusnya saling cerita, walaupun gak semua orang bisa jaga rahasia. Tapi, kita bisa tau siapa yang bisa sebatas teman siapa yang bisa benar di jadikan sahabat." Ucap Sera.
Tiba-tiba Kepala sekolah datang semua murid membubarkan diri tersisa Olive, Gitta dan Ilona. Saat Olive ingin menyusul Shakila dan Niesha Kepala sekolah memanggilnya.
"Olivia Belinda Nugraha diam di tempat." Pinta Oma.
Olive pun mematung di tempatnya.
"Kamu sudah diberi kesempatan berulang kali masih saja buat masalah di sekolah. Firman sudah saya pecat sementara dan kamu jadi jaminannya masih juga buat masalah. Ini juga satu lagi, kamu tau kan kelakuan buruk temen kamu ini. Kenapa gak kamu tinggalin? Bahkan dia sudah jadi tersangka di kantor polisi kamu masih mau berteman sama dia." Marah Oma.
Gitta dan Ilona terdiam.
"Olive kamu mengatakan semua tadi dari hati kamu?" Tanya Oma.
"Balik badan dan tatap oma." Pinta Oma.
"Oma kita urus masalah ini dirumah aja. Aku mau masuk kelas, ini jam pelajaran." Sahut Olive.
"Kalo begitu temui oma diruangan saat istirahat, tidak ada alasan." Tegas Oma lalu pergi.
Olive hembuskan nafas kesal kemudian kembali ke kelas. Di dalam kelas Olive tidak sabar menunggu bel pulang. Saat jam istirahat Olive menepati janji menemui Oma.
Tok Tok Tok
Olive masuk ke dalam ruangan. Lalu duduk di kursi sofa tersebut.
"Huh! Oma nya gak ada kayak nya." Gumam Olive.
Saat Olive ingin berdiri dan menuju arah pintu untuk kembali ke kelas. Pintu terbuka menampilkan Oma disana bersama Yogi. Olive pun kembali duduk di sofa.
"Jujur sama Oma, kamu bilang kata-kata tadi karena menyesal sudah memiliki keluarga mafia sayang?" Tanya Oma.
"Nggak ada oma. Itu murni aku sampaikan pendapat aku aja, aku tidak menyalahkan leluhur yang memiliki keturunan mafia. Justru aku bangga bisa jadi bagian dari mafia yang baik, bukan yang asal membantai dan perang tanpa alasan yang jelas. Oma jangan pernah menyesali telah menurunkan itu padaku juga, ini pilihanku." Jelas Olive.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan pada sikap Gitta? Dia sudah terlalu, bukan hanya kamu korbannya." Ucap Oma.
"Lanjutkan sesuai peraturan sekolah oma, anak-anak korban lain ingin kasus pembullyan ini masuk ke jalur hukum. Lakukan apa yang mereka inginkan. Toh mereka akan jadi saksi juga." Sahut Olive.
"Terus kamu?" Tanya Oma.
"Nggak. Jujur aku emang nggak suka banget bully baik sama kakak tingkat atau adik tingkat bahkan yang seangkatan. Tapi, balik lagi itu semua karena pengaruh lingkungan yang merubahnya begitu. Tugas aku menghentikan pembullyan di sekolah dengan cara seadil mungkin tanpa kekerasan. Itu yang oma dan Opa ajarkan. Sisa nya aku bakal serahkan ke pihak sekolah bagaimana seharusnya menghukum anak yang seperti itu." Tutur Olive.
Oma tersenyum bangga karena Olive sudah dewasa.
__ADS_1
"Baiklah, kembalilah ke kelas. Ouh, sepertinya masih ada waktu ke kantin. Oma akan perpanjang istirahat 10 menit. Oma bangga kamu semakin dewasa, terima kasih sayang." Ujar Oma.
"Benarkah? Baiklah, sampai jumpa di Mansion oma... sore ini aku jalan hehe." Sahut Olive.
"Oma tahu, berhati-hati lah. Waspada selalu, kamu mengertikan?" Tegas Oma dan Olive mengangguk.
Olive pamit keluar ruangan tiba-tiba saja dikejutkan oleh Alden yang menunggu di depan ruang kepala sekolah.
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Bersambung...
__ADS_1