
Terima telepon dari Via.
Ya kak, ada apa?
Kamu masih di lokasi pertarungan?
Kalo masih aku nggak akan bisa angkat telepon kakak. Ada apa?
Terus sekarang kamu dimana? Kok belum sampai rumah?
Aku lagi makan bakso di abang depan kompleks langganan kita dulu. Kakak mau bungkus?
Boleh deh, kakak kangen bakso disitu.
Aku juga mau dek.
Yehhh ikutan aja nih kak Belden. Yaudah, aku minta bungkus kayak biasa ya.
Siap dek, makasih ya.
Olive mengakhiri telepon nya. Tiba-tiba ada nomor tak di bernama menelepon Olive. Olive dengan santai mengangkat nya dan Loudspeaker.
Halo, selamat malam. Benar ini dengan mbak Olive.
Bukan. Maaf salah sambung.
Kau yakin tidak ingin tau siapa aku?
Kevino Bram Wiyata. It's you, basi tau nggak. Kalo mau lawan ayo satu lawan satu nggak usah ngutus anak buah lu yang lemah itu.
Terlalu cepat.
Cih!
Olive mematikan teleponnya. Vino merasa terpancing karena belum ada yang pernah memutuskan panggilannya. Terlebih seorang perempuan, bahkan mama nya pun tidak melakukan itu. Vino menelepon Olive lagi, namun di tolak oleh Olive.
"Kenapa?" Tanya Alden.
"Sengaja, aku pancing amarahnya. Nanti yang ketiga baru aku akan angkat lagi. Nikmatin dulu aja permainan ini kak." Ucap Olive santai.
Benar. Vino masih berusaha untuk menelepon Olive. Olive pun mengangkat teleponnya.
Ku beri waktu 3 menit dari sekarang. Katakan.
Kau! Kau orang pertama yang mematikan teleponku lebih dulu.
Lalu? Apa aku harus melakukan sesuatu kepada Zaylee?
__ADS_1
Lepaskan Zaylee. Dia anak kecil yang tidak tau apa-apa. Dia tidak berdosa.
Kau fikir adikku berdosa kau suruh orang untuk menabrak nya? Waktu mu tinggal satu setengah menit lagi.
Aku memintamu dengan baik untuk melepaskan Zaylee. Biarkan dia hidup bahagia disana.
Ah! Kau fikir aku akan melakukan penyiksaan sepertimu? Menguliti, memberi goresan-goresan, bahkan memperkosa nya? Hei! Aku tidak akan melakukan hal bejat sepertimu. Derajatmu jauh dibawah, otak mu sangat dangkal jika kau berfikir seperti itu.
Apa kau bilang?
Kau tuli? Ah, waktumu sudah habis. Aku telah membuang waktu 5 menitku yang berharga untuk meladeni orang tak berperasaan sepertimu.
Olive mematikan sambungannya lagi. Bukan hanya Vino yang emosi, ada Yumi, Quira dan Sam disana. Vino masih berusaha untuk menelepon Olive lagi, kali ini Alden merebut ponsel itu dan mengangkatnya.
Bisakah kau berhenti menelepon? Kau sungguh mengganggu bung.
Kau! Kenapa kau---
Apa? Berhenti menelepon atau kau tau nanti akibatnya.
Alden menutup teleponnya. Vino sangat marah, karena baru dua orang ini yang mematikan teleponnya terlebih dahulu. Olive Alden saling bertatap kemudian tertawa.
"Dia pasti sangat sangat dan sangat marah. Bukan sekali di putus sambungan begitu saja tapi sampai tiga kali. Wah! Hahaha, aku sangat puas." Ucap Olive bahagia.
"Ternyata begini rasanya main halus tapi bar-bar. Menyenangkan juga. Sudah larut, aku antar pulang ke rumah sekarang." Ujar Alden ikut puas.
"Kakak." Panggil Reina memeluk Olive.
"Aduh, masih saja manja kau ini. Gimana belajar bela diri nya? Nggak berhenti kan?" Tanya Olive.
"Tentu saja tidak. Aku bahkan sudah sampai sabuk hitam. Ah, aku pernah sekali menolong orang yang di copet." Cerita Reina.
"Pintar, robert pasti sangat bangga padamu di sana. Terima kasih karena masih menjenguk dan membersihkan makam nya selalu." Ucap Olive tulus.
"Sama-sama kak. Kakak dan keluarga sangat baik, semoga kakak dan yang lain selalu sehat. Aku mohon sama kakak satu hal boleh?" Ujar Reina.
"Apa itu?" Tanya Olive.
"Berhenti balas dendam karena kecelakaan robert kak. Aku tau kakak sangat terpukul tentang itu, tapi kakak juga tau kan robert nggak suka para kakak nya terlibat dengan hal mafia itu. Kakak juga ingat bukan, pernah berjanji pada robert untuk tidak ikut menjadi mafia. Apa kakak akan mengingkari janji kakak?" Ucap Reina membuat Olive terdiam.
"Aku hanya mengingatkan kakak tentang itu. Aku tidak akan memaksakan kakak untuk memilih. Robert pernah bilang sama aku waktu dia sehari sebelum kecelakaan, dia berharap keluarga nya bisa hidup normal seperti yang lainnya. Hanya ada pertengkaran di dalam keluarga bukan pertarungan antar mafia. Maaf aku telat menyampaikannya, aku ingin main ke rumah kakak. Tapi, rumah kakak selalu terlihat kosong hingga aku berfikir bahwa kakak telah pindah. Sekarang semua jawaban ada di kakak. Kakak pasti bakal memutuskan yang terbaik, bukan hanya untuk kakak dan masa depan kakak tapi untuk robert juga." Jelas Reina lagi-lagi hanya membuat Olive terdiam.
"Ini pesanan nya Neng." Ucap abang bakso.
Karena tidak ada respon dari Olive. Alden menerima bakso itu.
"Terimakasih bang, ini uang nya. Ambil saja kembalian nya." Ujar Alden menyadarkan lamunan Olive.
__ADS_1
"Wah, den terimakasih banyak." Sahut abang bakso.
Reina memeluk Olive.
"Robert memang sudah pergi kak, tapi dia akan selalu ada di hati kakak kan? Yasudah, aku kembali ke atas untuk bekerja. Kakak jaga diri ya." Pamit Reina.
"Terima kasih." Sahut Olive.
Dalam perjalanan memasuki kompleks Olive hanya diam. Alden pun meminggirkan mobilnya. Alden memegang tangan Olive dan mengelus nya. Olive terkejut dan menatap Alden.
"Aku bingung." Ucap Olive menunduk.
"Jangan menyalahkan dirimu. Kamu tidak salah jika untuk membalaskan dendam itu. Kamu tidak egois, kamu melakukan hal yang benar. Selama kamu tetap berada di jalan yang benar, tidak membunuh tanpa alasan itu semua hal yang benar. Contohnya seperti tadi, kamu masih memiliki rasa iba kepada musuhmu. Mungkin kalo kamu sudah di selimuti untuk balas dendam sepenuhnya, kamu akan membunuh mereka tanpa ampun. Kamu sendiri yang bilang kalo derajat kamu berada diatas mereka, yang selalu memakai sandera. Contoh korbannya adalah Phia. Kamu tidak akan melakukan itu, karena kamu hanya ingin memberi mereka pelajaran. Hanya ingin mereka tau kalo kamu terpukul menyaksikan itu dan kehilangan orang yang kamu sayangi." Jelas Alden membuat Olive berkaca-kaca.
Olive pun menunduk menangis. Alden memeluk Olive untuk menenangkannya.
"Sudah jangan menangis lagi, jika kak Belden melihat nya bisa di kira macam-macam aku. Besok ketemu di sekolah harus senang. Ingat kita harus menghadapi Gitta. Aku tahu selama ini kamu selalu ngikutin kata hati kamu. Saat kamu marah pun kamu mengikuti kata hatimu. Itu hal yang positif, aku tidak akan pernah capek buat ingatin kamu kejalan yang seharusnya. Oke?" Ujar Alden dan Olive mengangguk.
"Makasih kak, aku selalu bersyukur di kelilingi orang yang menyayangi ku dengan tulus." Sahut Olive.
Alden pun melanjutkan perjalanan hingga memasuki halaman rumah Nugraha.
"Ingat langsung bebersih dan tidur." Pesan Alden.
"Iya kak, kakak hati-hati di jalan. Kalo ada apa-apa hubungi aku." Ucap Olive.
"Ke balik. Justru kamu yang kalo ada apa-apa cepet hubungin aku. Udah sana masuk, nanti pesanan ka belden sama Phia dingin." Ujar Alden.
Olive pun turun dari mobil, ada Yovi dan Zet sudah di depan pintu utama.
"Masuklah." Perintah Alden.
"Kakak pergi dulu." Ujar Olive.
"Kamu---"
"Baiklah. Stop, jangan marah lagi oke. Bye!" Pamit Olive memasuki pintu utama.
Olive mengintip dari balik gorden dan mengode untuk Alden segera pulang. Akhirnya Alden pun pergi meninggalkan pekarangan rumah Olive. Saat Olive berbalik, Olive terkejut ternyata ada kedua kakak nya tepat berdiri di belakang nya.
"Ish! Bisa nggak sih yang normal datang nya jangan ngagetin gitu. Nih pesanan kalian." Kesal Olive.
"Tadi seneng banget, tiba-tiba langsung pura-pura kesel. Perlu di telepon nggak nih orang yang bikin kamu seneng?" Ujar Belden.
"Jangan! Ish, yaudah ini kakak-kakak ku tersayang pesanan kalian. Aku mau ke kamar bebersih dan tidur." Sahut Olive lalu pergi ke lantai dua.
Bersambung...
__ADS_1