Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 43 - Belum waktunya


__ADS_3

"Kalian benar. Aku hanya dengan melihat rekaman ini sudah sangat terpancing emosi. Aku harus menyempurnakan strategi untuk melawan Wiyata. Terlebih ada Clarke yang pasti akan melindunginya. Baiklah, kalian menang tetapi jika waktu nya benar-benar sempurna kalian harus melepaskan aku untuk membunuhnya dengan tangan ku sendiri." Ucap Olive.


Alden, Belden dan Phia lega karena Olive sudah tenang kembali. Walaupun ancaman nya tadi tidak main-main membuat sekujur tubuh mereka ikut merinding merasakan aura membunuh Olive.


Oma dan yang lain datang berkunjung melihat Zet menunggu di luar kamar.


"Zet, apa ada yang terjadi? Mengapa kamu sangat gelisah?" Tanya Opa.


"Tuan, Nyonya besar. Begini, Singkatnya kami kemarin berhasil menyandera Yumi Clarke. Lalu, Nona kedua memerintahkan untuk membawanya ke rumah lama Clarke yang jadi tempat penculikan kedua nona. Lalu nona juga meminta memasang kamera tersembunyi disana. Tuan dan Nyonya dapat melihat apa yang akan terjadi kepada nona kedua jika melihat rekaman ini." Jelas Zet menunjukkan rekaman Wiyata dengan santai menunjukkan dirinya.


Oma, Opa, mama dan Papa langsung saling tatap panik lalu membuka pintu kamar untuk memastikan keadaan Olive.


"Oma, Opa, Mama, papa, om dan tante. Ada apa? Kenapa raut wajah kalian sangat panik seperti itu?" Khawatir Olive.


Sedangkan Alden, Belden dan Phia menengok serentak ke arah pintu.


"Kamu nggak akan melakukan hal itu kan? Oma janji akan siapkan dengan matang dulu strategi untuk membaca musuh. Setelah itu kamu bisa melakukannya. Jangan nekat lagi sayang." Ucap Oma Nugraha.


"Kami, akan membantumu. Kita akan melawan mereka setelah keadaan membaik semua nya." Lanjut Opa Nugraha.


"Kalian tenang aja, kali ini aku harus benar-benar siap. Sebenarnya aku sudah tau ini akan terjadi untuk pancingan mereka. Tapi aku kira keluarga Clarke yang akan menolong nya ternyata dia memperlihatkan dirinya seperti tidak bersalah apapun. Aku tidak akan mengulang kejadian yang membuat kalian panik, janji." Janji Olive.


Oma dan mama memeluk Olive.


"Kami juga tidak akan membiarkannya hidup tenang setelah membunuh Robert. Jadi, kamu tidak perlu khawatir untuk itu." Sahut Oma.


"Tidak. Jangan ada yang melakukan apapun, biarkan saja dulu. Kita lihat sampai mana mereka akan berulah. Aku juga sudah memegang kartu AS mereka. Sampai waktunya tiba baru aku akan mengeluarkan itu. Selama menunggu itu, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan mulai mengasah kemampuanku lagi. Aku tidak akan membiarkan nya hidup lagi. Aku sudah memiliki rencana sempurna untuk membuatnya menerima balasan yang setimpal nanti. Siapkan tiket menonton kalian nanti, ah jangan lupa snacknya." Ujar Olive sambil tersenyum Smirk.


Aura membunuh Olive benar-benar membuat yang ada di ruangan itu merinding. Bahkan Oma Nugraha dan Opa Fausta yang sudah banyak pengalaman di dunia mafia belum pernah ketemu dengan orang dengan aura semenyeramkan ini.


Tidak hanya itu, Zet pun ikut merasakan merinding karena ia tau Nona kedua nya tidak main-main lagi dengan musuhnya. Kali ini ia juga harus mempersiapkan diri untuk menghadapi musuh.


"Opa sedikit menyesal menurunkan mafia ini padamu. Padahal kakak dan almarhum adikmu sudah benar tidak ada keturunan itu. Eh, turun ke kamu." Kata Opa Nugraha.


"Iya, harusnya keturunan kita bisa hidup damai tanpa menyentuh dunia mafia. Ya, mau gimana lagi toh ini sudah menurun dari buyut-buyut kita juga." Sambung Opa Fausta.


"Opa jangan merasa menyesal, aku sama sekali tidak terbebani dengan ini." Sahut Alden.

__ADS_1


"Aku malah sangat menikmatinya, kalian sanga tau sekali maksudku." Timpal Olive setuju dengan Alden.


"Sudah-sudah kalian membuat ruangan ini seperti tempat menyeramkan. Yang penting kalian harus janji jangan gegabah melawan musuh kalian, bermain saja boleh tapi tidak dengan hal yang mengerikan. Mengerti?" Pesan Oma Nugraha.


Alden dan Olive mengangguk sepakat.


"Aku tidak bisa membayangkan jika cicitku akan memiliki aura seperti ini juga nantinya. Hufft!" Hela Oma Fausta.


Mereka pun mengganti topik obrolan dengan hal yang membuat mereka tertawa bahagia.


"Ouh ya, ceritakan kepada kami tentang penyerangan itu. Bagaimana bisa itu di mulai?" Tanya Papa.


Alden dan Olive saling menatap satu sama lain. Percuma saja jika Olive menutupi kaki kanan nya jika tetap akan di pertanyakan seperti ini. Olive dengan ragu membuka selimut yang menutupi kaki kanan nya. Betapa terkejutnya para tetua itu.


"Ya Ampun! Siapa yang berani melakukan ini? Tomi! Panggil Tomi apa dia membuat kesalahan obat sehingga membuat kaki Olive seperti ini? Tomi!" Amuk Oma Nugraha.


"Tidak oma. Bukan Dokter Tomi yang melakukan ini, tetapi Yumi Clarke. Dia menyamar menjadi suster saat itu. Awalnya aku tidak menyadari sampai akhirnya aku curiga ada pisau belati di kantong nya. Tapi, agak terlambat karena dia berhasil mengoleskan minyak yang waktu itu sempat meledakkan rumah mereka. Oma Aku sudah tidak apa. Sakitnya tidak seberapa dengan kematian robert terpat di depan mata kepala ku." Sahut Olive menenangkan Oma nya.


"Baiklah jika kamu merasa begitu. Tapi, ingat selalu laporkan apapun. Tanpa terkecuali. Mengerti?" Ucap Oma.


Alden dan Olive diam sesaat kemudian mengangguk. Setidaknya jangan ada yang membahas tentang kejadian itu. Tomi datang untuk waktunya pemeriksaan, dia terkejut jika tuan nyonya besar fausta dan Nugraha ada di kamar. Dia pun memberi hormat.


"Periksalah dokter. Mereka tidak akan memakan dokter jika melakukan dengan benar." Jawab Olive sambil tertawa melihat pucatnya wajah dokter Tomi.


Dokter Tomi melakukan pemeriksaan dengan sangat teliti bahkan ada yang sampai berulang kali.


"Gimana dokter? Ah, terutama kaki kanan nya." Kata papa.


"Untuk kondisi tubuhnya sudah stabil dan nona di perbolehkan untuk pulang. Namun, keadaan kaki nona masih butuh perawatan yang intensif karena mungkin akan sedikit menyiksa rasa panas terbakarnya." Jelas Dokter Tomi.


"Jadi kamu mau pulang apa disini?" Tanya Belden.


"Disini aja kak. Aku nggak tau besok kayak gimana rasa sakitnya. Aku butuh orang yang memang ngerti dan sigap pas saat itu." Jawab Olive.


"Zet, pastikan suster yang masuk saat pemeriksaan kamu periksa terlebih dahulu. Jangan sampai sebelah kanan sembuh nanti menyambar ke tempat lain." Perintah Oma Nugraha.


"Siap Nyonya." Sahut Zet.

__ADS_1


Tiba-tiba langit mendung, hujan sepertinya akan turun sebentar lagi. Olive berfikir, mungkinkah dengan air hujan rasanya akan hilang?


"Dokter! Waktu itu butuh sepuluh pemadam kebakaran dan lebih untuk memadamkannya. Tapi saat turun hujan, api itu langsung sulut. Apa mungkin---"


"Kamu benar dek. Tapi, jangan terlalu lama nanti bisa flu. Dokter apakah mungkin teori nya Olive?" Ujar Belden.


"Sangat mungkin tuan, karena obat yang saya pakai pun sebenarnya air asin. Jika memang benar ampuh maka luka di kaki nona langsung tertutup kembali seperti semula." Jelas dokter.


Hujan pun turun. Olive bingung dia harus ke lantai lobby atau ke lantai 25, karena kamarnya terletak di pertengahan.


"Em... aku akan ke rooftop hanya dengan dokter. Kalian tetaplah disini." Ucap Olive.


"Ajaklah Zet untuk menjaga mu. Kita tidak tau ada apa di atas sana nanti nya." Ujar mama.


"Baiklah." Sahut Olive menurut.


Olive, dokter dan Zet pergi ke rooftop. Tiba-tiba Alden menghilang, dia khawatir jadi Alden ke rooftop menggunakan tangga darurat. Tak lama Olive keluar, Alden pun juga tiba di lantai rooftop.


Olive tidak akan hujan-hujanan, dia hanya membasahi kaki kanan nya. Olive duduk di kursi rodanya lalu mengangkat kaki kanan nya. Benar saja, minyak itu tampak turun mengalir kebawah berwarna hitam. Perlahan luka Olive juga tertutup. Olive menjulurkan tangannya untuk mengambil air hujan. Olive menggosokan kaki nya dengan air hujan. Walau terasa perih sedikit, tak apa.


"Nona, kita berhasil! Nona lihat luka nya hilang dengan sendirinya." Ungkap Zet yang ikut merasa senang.


Olive melihat ke belakang, ia tahu jika Alden akan ikut walaupun dilarang. Alden tersenyum begitupun Olive. Alden mengacungkan jempol nya dan memberi kode ia akan turun lebih dulu.


"Wah! Nona sangat pintar. Aku harus meneliti air hujan." Ucap Dokter Tomi.


"Ouh dokter bagaimana jika aku membuka perban yang lainnya?" Tanya Olive.


"Tidak perlu nona, luma yang lain nya sudah sembuh. Sebenarnya sudah bisa copot perban." Ujar Dokter.


"Baiklah. Ayo, kita kembali ke kamar." Sahut Olive.


Olive, Dokter dan Zet kembali ke kamar.


"Bagaimana? Apakah berhasil?" Tanya Phia.


Olive mengangguk dan tersenyum. Semua yang ada di kamar ikut senang.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2