Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia

Pengagum Rahasia Jadi Pasangan Mafia
Episode 73 - Tempur di perpus


__ADS_3

Mereka memilih spot dekat jendela menghadap lapangan depan sekolah. Mereka saling mengobrol dan canda tawa. Setelah selesai makan,


"Makanan buatan kamu selalu berhasil buat aku makin sayang sama kamu. Makasih untuk sarapan hari ini sayang." Ucap Alden sambil mencubit gemas pipi Olive.


"Syukurlah kalo kamu cocok hehe... sama-sama kamu bisa minta apapun aku bakal coba buat masakin." Ujar Olive.


"Nggak sayang, aku mau makan apapun yang kamu masak. Yang penting beneran kamu yang masak dan itu bakal terjadi sepanjang hidupku ke depan." Tutur Alden.


"Ma maksud kamu?" Tanya Olive.


"Aku mau setiap pagi aku bangun yang pertama aku temuin adalah kamu, yang siapin baju aku juga kamu, bahkan sarapan pun harus kamu dan yang paling penting aku mau kamu jadi mama dari anak-anak aku nanti. Aku mengatakan ini ke kamu sekarang supaya kamu nggak ada pikiran buruk apapun tentang aku, karena aku beneran tulus sama kamu." Jelas Alden sambil menggenggam kedua tangan Olive.


Olive menatap Alden berkaca-kaca, Alden baru saja melamarnya secara tidak langsung dengan kata-katanya yang sangat romantis.


"Apa yang kamu pikirin sekarang? Katakan padaku." Ujar Alden.


"Baju di walk in closet kamar itu, apakah itu milik seseorang?" Tanya Olive.


"Itu milik kamu sayang, aku sudah merombak semua nya. Walaupun bukan aku yang turun tangan langsung beliin buat kamu. Tapi, aku siapin semua buat kamu jadi kamu nggak perlu khawatir kalo mau nginep di mansion aku." Sahut Alden.


"Tapi, kamu tahu kekuatan aku sudah nggak se kuat dulu. Itu akan jadi beban buat kamu lindungin aku dan aku nggak mau kamu sampai kenapa-napa karena aku." Tutur Olive.


"Sayang, dengar aku. Jujur pas tau kamu di kurung di gudang atas dan pingsan harus di bawa ke rumah sakit itu bikin hati aku sakit banget, bodohnya aku selalu mengesampingkan hati. Aku selalu ikutin pikiran aku yang berakhir bikin kamu sakit hati bahkan ngira aku hanya bermain dengan kamu. Aku benar-benar minta maaf untuk itu, nggak seharusnya aku bilang itu di bar. Aku benar-benar merasa terperangkap dalam jebakan aku sendiri. Mau kamu kuat ataupun nggak itu bukan beban buat aku sayang. Aku ini laki-laki sudah seharusnya aku melindungi perempuan apalagi perempuan yang sangat berarti di hidup aku sekarang. Tanpa kamu aku bukan apa-apa. Jadi, stop pikirin apapun yang bikin kamu sakit. Mengerti?" Jelas Alden panjang lebar.


Olive tidak bisa membendung airmata nya lagi. Kali ini hati nya benar-benar jatuh kepada Alden seorang. Olive menunduk dan menangis dalam diam. Alden menariknya ke dalam pelukannya. Setelah Olive tenang tak lama itu bel masuk berbunyi. Olive melepas pelukannya dan menghapus airmatanya asal.


"Pergilah ke kelas, nanti kita ketemu istirahat." Pinta Olive.


"Kamu nggak mau ikut ke kelas aku aja?" Tawar Alden sambil mengelus pipi Olive.


Olive berdiri dan menarik Alden kemudian memberikan tas sekolahnya Alden.


"Semangat belajarnya." Ucap Olive sambil mencium pipi Alden.


Alden yang mendapat hadiah di pagi hari berturut-turut sangat senang dan tersenyum puas.


"Kamu memang jahat nona, mengusirku dengan halus. Yasudah, aku ke kelas. Bye sayang!" Pamit Alden keluar Perpus.


Olive membalas lambaian tangan Alden. Setelah Alden menghilang di belokan, Olive menutup pintu perpus dan memulai rutinitasnya. Karena sebentar lagi perpus akan mulai ramai murid sekolah. Waktu cepat berlalu murid sekolah mulai berdatangan.


"Olive, kamu nggak istirahat? Biar ibu aja yang ngurus selama kamu jajan kekantin." Ucap Penjaga perpus.


"Nggak bu, aku nggak pengin jajan. Aku juga udah ngabarin ke Alden kalo aku nggak ke kantin." Jawab Olive.


"Ouh kamu udah sarapan ya? Kalo gitu ibu boleh minta tolong kan?" Ujar penjaga perpus.


"Tentu saja bu. Apa yang bisa Olive bantu?" Tanya Olive.


"Jagain perpus bentar aja. Ibu mau ke toilet, bisa kan?" Tutur penjaga perpus.

__ADS_1


"Oalah, kirain ibu mau pulang cepet. Bisa banget bu, biar aku yang urus semua selama ibu ke toilet hehe... " Sahut Olive.


Penjaga perpus akhirnya keluar perpus untuk ke toilet khusus guru. Di perpustakaan tidak begitu ramai karena murid lebih tertarik ke kantin saat jam istirahat seperti ini. Tiba-tiba ada seseorang dengan pakaian serba hitam masuk ke dalam perpus dan langsung menutupnya. Membuat Olive dan Murid yang di perpus takut.


Olive langsung meminta para murid untuk tetap berada di belakangnya. Ada sekitar 10 murid di perpus, Olive buntu tidak tahu harus berbuat apa. Orang itu mengeluarkan belatinya, Olive benar-benar melindungi murid-murid itu. Saat mereka mutar, Olive memberi kode agar mereka keluar dari perpustakaan.


"Kakak gimana?" Ucap salah satu adik kelas.


"Tidak perlu khawatir. Yang penting kalian aman. Pergilah!" Pinta Olive.


Sejujurnya mereka tidak tega, namun Olive memohon agar mereka pergi. Akhirnya para murid pergi tersisa Olive dan Orang asing itu. Satu murid menjaga di depan perpus dan ada yang memanggil Alden.


"Siapa yang mengirim kali ini? Wiyata, Clarke atau kak Gitta?" Tanya Olive.


"Kamu tidak perlu tahu siapa yang mengirim." Jawab Orang asing itu.


Tiba-tiba saja dari sela rak buku muncul 2 orang asing yang sama. Kali ini Olive di kelilingi oleh 3 orang.


"Kalian kenapa curang keroyokan begini? Terus melawan perempuan pula, apakah kalian banci?" Ujar Olive kesal.


"Bilang saja kalo kau takut. Biar aku beri tahu, minyak yang di oleskan oleh Nona yumi memang hilang karena air hujan. Tapi, tidak hilang di kepala mu. Apakah kamu mengerti?" Ucap Orang itu membuat Olive terkejut.


Sementara itu di kantin, ada 3 murid yang dari perpus menghampiri meja Alden dan kawan-kawan.


"Alden! Gawat cepat pergi." Ucap teman sekelas Alden.


"Apaan sih dodi. Ngomong yang jelas, apa nya yang gawat?" Tanya Ryan.


Di koridor Alden berpapasan dengan Gitta dan Ilona.


"Alden kamu mau kemana? Aku baru mau nyusul kamu ke kantin." Ajak Gitta.


"Lepasin tangan gua." Ucap Alden.


"Alden ada apa sih? Mumpung Olive nggak masuk aku bisa dong gabung. Kita ke kantin yuk." Tutur Gitta.


"Iya Alden, kita udah lama gak makan bareng satu meja." Sambung Ilona.


Ryan, Rafa, Niesha dan Shakila datang langsung membantu Alden menahan Gitta dan Ilona.


"Pergi! Kita nyusul." Pinta Rafa.


"Thanks bro!" Sahut Alden pergi ke arah perpus.


"Eeh! Alden!" Teriak Gitta.


"Kila sama Niesha pergi sana... biar ini urusan kita. Kasian Olive." Pinta Ryan.


"Oke!" Sahut Shakila dan Niesha menyusul Alden ke arah perpus.

__ADS_1


"Lu berdua udah keterlaluan banget ya. Diam lu jangan ikutan, ini peringatan terakhir. Lu berdua nurut atau gua bikin lu berdua hancur." Ucap Rafa serius.


Gitta dan Ilona takut dan tidak berkutik. Akhirnya Ryan Rafa pergi menuju perpus. Di depan perpus sudah ada satu murid dan penjaga perpus.


"Alden. Kenapa lama sekali? Di dalam sudah bolak balik terdengar suara pecahan. Ibu nggak tahu gimana Olive sendirian di dalam sana." Ucap Penjaga perpus panik.


"Ibu tenang aja." Sahut Alden sambil mengkode pengawal bayangan.


Zet yang mendengar Nona nya dalam bahaya ikut masuk kedalam perpus dengan Alden dan Nel. Di dalam perpus sudah sangat berantakan. Olive sudah terpojok, saat satu orang asing itu ingin menggoreskan belatinya ke arah Olive. Alden, Zet dan Nel masuk. Datang tepat waktu.


"Berhenti kalian!" Teriak Alden.


3 orang asing itu membelakangi Olive ini kesempatan untuk kabur. Tapi, gerakan Olive lagi-lagi terbaca sehingga sekarang Olive menjadi sanderaan dengan belati tepat mengarah ke lehernya. Olive mengkode agar Zet dan Nel menjauh kan 2 orang ini dari orang yang menyanderanya.


Terjadilah 2 lawan 2 tetapi Olive masih menjadi sanderaan. Alden mukanya merah dan rahangnya mengeras, dirinya marah. Lalu....


Bersambung....


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca, Jangan lupa untuk Vote dan Comment ya 😊


__ADS_2